29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
in Ulas Buku
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Sampul novel "Lasmi" karya Nusya Kuswantin

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali kulit berwarna coklat yang melilit di pergelangan lengan kirinya. Bahkan, di kedua daun telinganya tak tampak perhiasan anting.

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, Lasmi bisa saja mengenakan berbagai perhiasan emas sebagai simbol orang berpunya. Namun ia sadar, ia tidak suka pamer materi di tengah masyarakat di desanya yang mayoritas hidup kekurangan.

Lasmi mempunyai rasa empatik terhadap orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung dirinya, dan ia tak segan mengekspresikan empatinya dengan perbuatan yang kongkret, seperti mengajar anak-anak kecil di beranda tiap pagi, serta menyelenggarakan program menuju melek huruf bagi orang dewasa di sore harinya.

Setelah menikah dengan Sutikno—pemuda yang menjadi guru tugas di kampungnya—, Lasmi mendirikan taman kanak-kanak yang diberi nama TK Tunas. Dalam masa pengembangan, ia mengalami kesulitan pendanaan untuk pembiayaan operasional sekolahnya. Lasmi kemudian bertemu dengan aktivis Gerwani. Dan dari sinilah kisah pergerakan Lasmi dimulai.

***

Keterlibatan Lasmi dengan Gerwani sebenarnya untuk menyalurkan berbagai gagasan sosialnya. Sehingga warga yang sebelumnya hanya diajarkan cara membaca dan menulis, kemudian juga membahas perkara-perkara yang diangap penting, Semisal memperjuangkan prosentase bagi hasil bagi para petani penggarap, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan sekolah taman kanak-kanak yang dirintisnya, Lasmi mengambil keputusan untuk menggabungkannya dengan Yayasan Melati yang berafiliasi dengan Gerwani. Sebagai konsekuens, sekolah yang sebelumnya bernama TK Tunas berubah menjadi TK Melati.

Aktivitas Lasmi di Gerwani semakin intens. Ia makin sering meninggalkan rumah untuk mengahadiri berbagai pertemuan dan rapat-rapat. Tak jarang ia dikirim sebagai wakil dari kabupaten untuk menghadiri sejumlah pertemuan di tingkat provinsi bahkan pernah di tingkat nasional. Untung saja, Lasmi memiliki Suami yang sangat pengertian, memberikan keleluasaan bagi aktivitas sang istri, karena ia meyakini hal itu untuk kepentingan orang banyak.

Kisah berlanjut. Bagian tragis sekaligus sedih dari novel ini ialah ketika situasi tiba-tiba berubah pasca tragedi 30 September. Dalam waktu yang singkat, di daerah-daerah sudah terbentuk KAP Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September 30). Apalagi, kabar yang beredar di Radio, pelaku pembunuhan para jendral adalah bukan nama seseorang melainkan organisasi Gerwani dan Pemuda Rakyat yang keduanya merupakan underbow PKI.

Tak berselang lama, dalam sebuah malam, TK Melati dilempari oleh segerombolan orang yang membawa pentungan dan klewang. Bangunan sekolah itu jelas menjadi sasaran. Sebab di depan bangunan terpampang tiga papan nama TK Melati, Gerwani, dan BTI.

Akhirnya, Lasmi beserta suami dan anaknya dengan cepat menyelamatkan diri meninggalkan rumah mereka. Jelas, massa sedang memburu Lasmi sebagai penggerak utama organisasi Gerwani dan BTI di kampungnya.

Dalam persembunyian di rumah pamannya, ia mendapat kabar jika teman-teman seperjuangan di kampungnya sudah diculik, dibunuh dengan cara-cara keji. Yang paling mengharukan, ada anak berusia lima tahun memanggil-manggil ibunya karena kelaparan, sementara ibunya tergantung dikerekan sumur. Perempuan tersebut diduga dibunuh karena ia anggota Gerwani.

Tak sampai di situ, saat berpindah-pindah dalam persembunyian, anak Lasmi, Bagong Dewandaru yang berusia 5 tahun, jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Dalam situasi seperti itu, Lasmi semakin murung dan pilu, sebab ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk anak tercintanya karena keadaan yang tertekan. Dalam kemurungannya, tiba-tiba Lasmi mengambil keputusan untuk menyerahkan diri. Suami yang begitu menyayanginya terkejut dengan sikap Lasmi itu, namun ia tak bisa menghalangi. Bagi Lasmi, ini bukan menyerah, tapi sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Satu syarat yang diajukan Lasmi saat hendak dieksekusi aparat, ia minta semua pengurus organisasi-organisasi yang berada di kecamatan tempat tinggalnya untuk dihadirkan menyaksikan dirinya dieksekusi. Ia ingin mati dengan sisa harga diri. Lasmi menemui takdirnya, mayatnya dilempar ke sumur kering, lantas ditimbunnya dengan tanah, batu, dedaunan serta serpihan reruntuhan. Ia dieksekusi dipenghujung tahun 1965, dalam usia yang belum genap 33 tahun.

Sementara itu, sang suami menemukan kertas surat Lasmi yang ditujukan ke dirinya, bagitu panjang Lasmi mengurai permohonan maaf dan alasan kenapa ia harus menyerahkan diri.

“Aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu, Sut, tentu aku tidak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya, Sut, aku tak ingin mengambil risiko sebesar itu. Sungguh, engkau pun tahu, aku menyukai kegiatan yang membuat masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita.” (Hal.210)

“Dengan nasib warga desa yang menjadi seburuk itu lantaran pengaruhku, maka adalah aib bila aku terus terusan bersembunyi dan melarikan diri. Adalah tidak adil bila orang-orang yang perannya jauh lebih kecil dari peranku harus mati, sementara aku tetap hidup. Adalah tidak adil apabila orang-orang yang sekadar mengikuti jejakku harus menderita dan binasa, sementara aku yang mereka anggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas keikutsertaan mereka tetap hidup.” (Hal.213)

Meski novel (berdasar kisah nyata) yang ditulis Nusya Kuswantin ini terbit pada tahun 2009, namun sangat menarik untuk dijadikan media menyentuh sisi kemanusiaan pembaca. Paling tidak, penulis novel  ingin menggugah rasa kemanusiaan, rasa keadilan, dan menggugah rasa keadaban. Penggambaran tentang sosok Lasmi dalam novel ini untuk memunculkan kisah yang terkalahkan dari narasi besar bunuh-membunuh pasca tragedi September 1965. Lasmi yang secara personal sangat disegani dan dihormati karena telah berbuat banyak untuk memajukan kampungnya, harus terhempas dan tertumpas karena ia tergabung dalam organiasi sayap sebuah partai yang dituduh melakukan aksi kudeta di Jakarta.[T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Jaswanto

Tags: GerwaniKAP GestapuNovel LasmiNusya KuswantinPKI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co