AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya penasaran dengan penulis satu ini. Bukan hanya dari namanya, tapi dari karya-karya yang dia ciptakan.
Sehingga anggaplah suatu hari, teman saya yang suka menulis cerita dan tertarik pada fantasi, dongeng, memberi tahu saya soal novel berjudul Di Tanah Lada. Dengan perasaan aneh, sebelum saya tidak sengaja membeli buku tersebut dan malah kecewa membacanya, saya bertanya pada teman saya “Apakah ini cerita dongeng?” begitu kata saya.
“Tidak.” katanya dengan tegas. Akhirnya, dengan bermodalkan rasa ingin tahu, saya mengunjungi Gramedia Jalan Ahmad Yani, dan langsung membeli bukunya. Lebih tertarik lagi saya ketika melihat keterangan bahwa buku ini mengandung tema ‘Kekerasan terhadap anak-anak’ dan Oh, tambah penasaran jadinya.
Selama kurang dari seminggu saya melahap buku ini, dan sebelum membaca saya membawa perasaan biasa saja, setelah membaca mulut saya yang menganga. Ya, Begitulah basabasi dan cerita saya. Mari lanjut dengan sedikit membahas novel ini.
‘Tanah’ permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali. ‘Lada’ biji-biji yang memiliki rasa pedas, atau bisa menghangatkan. Sebuah gambaran dari apa yang ada pada novel ini. Atau mungkin sebuah penguin yang tepat menjadi perhatian bagi saya.
Ava atau biasa disebut Salva atau Saliva yang berarti ludah karena tidak berguna, terpaksa pindah dari rumahnya karena Kakeknya meninggal. Bersama keluarganya dia pindah ke sebuah rusuh. Di sana di bertemu anak bernama P. Setelahnya mereka berpetualang, selesai, dan sesederhana itu saja ceritanya? Tentu tidak.
Ziggy yang merupakan penulis dari cerita ini berhasil mengambil sudut pandang anak-anak secara cukup rumit. Penggambaran Ava, sebagai tokoh utama memiliki apa yang biasanya anak-anak inginkan. Yaitu, kebebasan dan ingin didengar.
Anak-anak adalah makhluk polos, yang akan mengikuti apa keinginan mereka. Kalau lapar ya makan, kalau mengantuk ya tidur. Sesederhana itu sebenarnya pikiran mereka menurut saya pribadi. Tapi ketika mereka dibawa masuk ke dunia dewasa secara tiba-tiba, di sanalah masalahnya.
Ava dan P dipaksakan dewasa lebih cepat. Bahkan saat mereka belum mengalami fase pubertas. Dengan ini mereka ingin memahami dunia yang mereka injak, sehingga apapun yang terjadi disekitarnya selalu dipertanyakan oleh mereka. Ava karena memiliki kamus, selalu mencari kata yang tidak diketahui. P dengan tameng ‘mental’ yang dia miliki.
Maka seperti sebuah kanvas polos dan halus, yang dituangi cat jelek dan tidak layak pakai, terciptalah lukisan absurd, abstrak, dan aneh, dari kanvas murni itu. Ava dan P seperti itu saya pikir. Ketika mereka percaya bahwa memang begitulah kehidupan, mereka akan tetap percaya bahwa itulah hidup yang harus mereka jalani. Memang agak susah mendeskripsikannya.
Tujuan dan konflik mereka juga satu. Yaitu kebebasan dan ingin didengar seperti yang saya katakan sekali lagi. Ava hanya ingin hidup dengan P, dan ingin orang dewasa termasuk Papa, Mama, Tante, Om, siapapun itu mengerti bahwa anak juga punya ‘Ego’ dan konfliknya terjadi ketika orang dewasa tersebut menolak untuk mengerti pikiran Ava dan P.
Kemudian Ziggy menambahkan umpama jika manusia menjadi penguin. Beberapa anak suka penguin, karena lucu dan menggemaskan. Dalam novel ini penguin adalah simbol dari kesetiaan pasangan dan harapan panjang umur. Meski kenyataannya tidak sepenuhnya benar, karena penguin hewan sosial yang berkelompok.
Tapi ini unik bagaimana penulis mengaitkannya dengan Ava dan P. Juga persoalan arti Tanah Lada akan terungkap seiring berjalannya cerita. Secara singkat artinya Tanah yang hangat, dan metafora penguin yang hidup di daerah dingin juga memerlukan kehangatan karena dia hewan berdarah panas yang bisa mati kedinginan. Apakah ini sebuah kebetulan?
Secara kurang atau lebihnya novel ini sangat bergantung pada pembaca. Jika dikatakan kurangnya dari novel ini karena gaya bahasa menurut saya, gaya bahasa justru yang menjadi poin paling menyakitkan. Juga dari kelebihannya terletak pada sudut pandang atau penggambaran setiap tokoh. Setiap tokoh punya tujuan, ego, ketakutan, kekurangan dan kekuatannya masing-masing.
Entah mengapa saya susah menemukan kekurangan, terlebih karena pacing atau tempo ceritanya tergolong Slow Burn. Bisa dikatakan cukup pelan dan bukan yang meledak-ledak, buru-buru, berfokus pada psikologis, sehingga emosi dari anak-anak itu masuk ke dalam tubuh saya. Rasanya berbeda ketika membaca cerita yang lain.
Saya jadi teringat dengan perkataan Ava. “Kalau aku reinkarnasi, aku mau jadi penguin.” begitulah kira-kira kata yang saya ingat, dan tambah iba saya kepada anak-anak yang mengalami KDRT.
Ya, seperti itu saja. Novel ini memiliki rating usia 15+ dan sekadar penjelasan singkat bahwasanya Ziggy sering mengambil tema keluarga dan anak-anak. Dari beberapa bukunya seperti trilogi cerita Kita Pergi Hari ini, Mari Pergi Lebih Jauh, dan Ketika Anak-Anak Pergi. Atau White Wedding yang lebih menekankan rasa tidak percaya diri, dan keterasingan. Prinsipnya hampir sama semua, berisi fantasi pastinya dan anak kecil, mungkin itu ciri khas Ziggy. Karena dulu dia sempat berkeinginan menjadi penulis buku anak. [T]
Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole































