12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
in Cerpen
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain.

Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan pukul setengah dua dini hari, tetapi suasananya seperti waktu yang berhenti berjalan. Lampu putih menyala tanpa ampun. Bau obat-obatan bercampur cairan pembersih memenuhi lorong. Sesekali terdengar langkah cepat perawat, bunyi troli besi yang berderit, atau suara lirih keluarga pasien yang mencoba berbicara pelan agar tidak menambah gaduh suasana.

Fajar duduk di samping ranjang istrinya, Laila. Sudah tiga malam berturut-turut ia menginap di rumah sakit itu.Tubuhnya lelah, matanya panas karena kurang tidur, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar bisa beristirahat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara mesin monitor membuatnya kembali terjaga. Kadang perawat masuk memeriksa tekanan darah. Kadang Laila batuk keras tengah malam. Kadang ia terbangun hanya untuk memastikan dada istrinya masih bergerak naik turun.

Di rumah sakit, tidur bukan lagi soal memejamkan mata.Tetapi soal seberapa lama seseorang bisa melupakan rasa takutnya. Laila membuka mata perlahan.

“Mas… belum tidur?”

Fajar tersenyum kecil meski wajahnya kusut.

“Belum ngantuk.”

“Kamu bohong.”

“Kalau aku tidur, nanti siapa yang jagain kamu?”

Laila memandang suaminya lama.
“Kadang aku merasa bersalah.”

“Kenapa?”

“Karena sakit itu ternyata bukan cuma menyiksa yang sakit. Tapi juga orang yang mencintainya.”

Fajar diam. Kalimat itu menancap dalam kepalanya. Ia menggenggam tangan istrinya perlahan.

“Kalau cinta hanya hadir saat sehat, itu belum cinta.”

Laila tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca.

“Aku takut merepotkan.”

“Semua manusia suatu hari akan saling merepotkan. Waktu kecil kita merepotkan orang tua. Saat tua nanti mungkin kita merepotkan anak-anak. Hidup memang begitu. Tidak ada manusia yang benar-benar kuat sendirian.”

Laila memejamkan mata lagi.

“Aku jadi sadar,” katanya lirih, “selama ini kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bahwa sehat itu kemewahan.”

Fajar menunduk. Ia teringat hari-hari sebelum sakit datang. Mereka sering sibuk bekerja. Makan terburu-buru. Pulang malam. Jarang benar-benar duduk tenang menikmati hidup.

Manusia memang sering baru menghargai sesuatu ketika hampir kehilangannya.

***

Menjelang subuh Fajar keluar menuju mushola kecil di ujung lorong.Di sana selalu ada wajah-wajah yang hampir sama setiap malam. Wajah-wajah lelah dan penuh harap.

Seorang ibu muda tertidur sambil duduk bersandar di tembok. Tangannya masih menggenggam tasbih. Seorang bapak tua membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ada juga seorang pemuda kurus memakai jaket ojek online yang tampak baru selesai menangis.

Rumah sakit adalah tempat di mana status sosial perlahan kehilangan arti. Di sana, direktur perusahaan dan tukang ojek bisa sama-sama duduk di lantai mushola, sama-sama menadahkan tangan meminta kesembuhan untuk orang yang mereka cintai.

Fajar mengambil wudhu. Air dingin menyentuh wajahnya yang letih. Selesai sholat, ia duduk diam cukup lama.

“Bapak nunggu siapa?”

Suara itu datang dari lelaki paruh baya di sebelahnya.

“Istri saya,” jawab Fajar. “Radang paru.”

Lelaki itu mengangguk pelan.

“Anak saya kecelakaan kerja. Sudah delapan hari dirawat.”

Namanya Pak Darto. Mereka lalu terdiam beberapa saat.

Kadang dua orang asing bisa merasa dekat hanya karena sama-sama sedang takut kehilangan.

Pak Darto tersenyum tipis.

“Aneh ya, Pak.”

“Apa?”

“Kita ini di luar rumah sakit sering merasa paling susah hidupnya. Tapi begitu masuk sini, baru sadar ternyata penderitaan manusia itu luas sekali.”

Fajar mengangguk.

“Benar.”

Pak Darto melanjutkan,

“Saya dulu sering marah pada hidup. Merasa rezeki kurang, pekerjaan berat, anak banyak kebutuhan. Tapi setelah seminggu di sini saya sadar… ternyata nikmat terbesar bukan uang.”

“Lalu apa?”

“Kesempatan pulang bersama keluarga.”

Kalimat itu membuat Fajar terdiam lama. Pak Darto memandang langit-langit mushola.

“Manusia sering sibuk mencari tambahan hidup. Padahal yang paling penting justru menjaga yang sudah ada.”

***

Pagi hari, warung kopi depan rumah sakit mulai ramai. Para penunggu pasien datang dengan wajah kusut dan mata merah. Mereka seperti komunitas sementara yang dipersatukan oleh kecemasan.

Fajar duduk bersama Pak Darto sambil meminum kopi hitam panas. Di meja sebelah, seorang ibu sedang menghitung uang receh untuk membeli sarapan. Anaknya yang masih kecil tertidur di kursi panjang.

Pak Darto memperhatikan lalu berkata pelan,
“Rumah sakit itu tempat manusia diuji dua hal: sabar dan ikhlas.”

“Apa bedanya?”

Pak Darto tersenyum.

“Sabar itu bertahan menghadapi keadaan. Ikhlas itu menerima bahwa tidak semua bisa kita kendalikan.”

Fajar mengangguk pelan.

“Kadang saya merasa takut sekali.”

“Takut kehilangan?”

“Iya.”

Pak Darto menyeruput kopinya pelan.

“Cinta memang selalu membawa kemungkinan kehilangan. Tapi manusia tetap memilih mencintai.”

“Kenapa?”

“Karena tanpa cinta hidup cuma jadi daftar kewajiban.”

Fajar tersenyum tipis. Lalu tiba-tiba seorang ibu muda menghampiri meja mereka.

“Maaf Pak… boleh pinjam charger?”

“Tentu, Bu,” jawab Fajar cepat.

Ibu itu tersenyum lega. Hal-hal kecil seperti itu sering terjadi di rumah sakit. Saling meminjam kabel, menjaga barang saat ke toilet, berbagi makanan, bahkan berbagi cerita.

Penderitaan ternyata bisa membuat manusia lebih manusiawi.

***

Malam keempat menjadi malam yang berat. Laila mendadak sesak napas. Perawat datang cepat. Dokter dipanggil. Fajar berdiri gemetar di sudut ruangan. Mesin monitor berbunyi cepat.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Ketika orang yang kita cintai kesakitan, kita baru sadar betapa tidak berdayanya manusia.

“Mas…”

Suara Laila lemah.

Fajar mendekat.

“Aku takut.”

Fajar menggenggam tangannya erat.

“Jangan bicara begitu.”

“Aku takut kalau suatu hari aku pergi duluan.”

Air mata Fajar jatuh tanpa bisa ditahan.

“Kalau memang hidup hanya sementara,” kata Laila lirih, “aku bersyukur pernah hidup bersamamu.”

“Sudah… jangan bicara macam-macam.”

“Tapi dengarkan aku dulu.”

Fajar menunduk. Laila tersenyum kecil meski napasnya berat.

“Kalau nanti aku sembuh, kita jangan hidup terburu-buru lagi.”

Fajar diam.

“Kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa menikmati pagi, lupa ngobrol lama, lupa tertawa sederhana.”

Air mata Fajar makin deras. Laila melanjutkan pelan,
“Ternyata bahagia itu bukan punya segalanya. Tapi masih diberi waktu bersama orang-orang yang kita cintai.”

Tak lama kemudian kondisi Laila mulai stabil kembali. Dokter keluar dan berkata,
“Keadaannya membaik. Tapi pasien harus tetap tenang.”

Fajar mengangguk lemas. Keluar dari ruangan, ia duduk di lorong sambil menutupi wajahnya. Pak Darto datang membawa dua gelas teh hangat.

“Minum dulu.”

Fajar menerima gelas itu.

Tangannya gemetar.

“Saya takut kehilangan dia, Pak.”

Pak Darto duduk di sebelahnya.

“Kita semua yang di sini sedang belajar satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.”

Fajar menoleh.

“Kita cuma dititipi,” lanjut Pak Darto. “Pasangan, anak, orang tua, bahkan tubuh kita sendiri.”

“Kalau begitu kenapa kehilangan terasa begitu menyakitkan?”

Pak Darto tersenyum tipis.

“Karena hati manusia diciptakan untuk mencintai.”

Mereka terdiam lama. Lorong rumah sakit tetap sibuk. Namun di tengah segala suara itu, ada kesunyian yang hanya dimengerti orang-orang yang sedang menunggu kabar keselamatan.

***

Hari-hari berikutnya kondisi Laila mulai membaik. Ia sudah bisa duduk lebih lama dan makan sendiri. Suatu sore, saat hujan turun di luar jendela rumah sakit, Laila berkata pelan,

“Mas.”

“Iya?”

“Menurutmu kenapa Tuhan memberi manusia sakit?”

Fajar berpikir cukup lama sebelum menjawab.

“Mungkin supaya manusia berhenti sejenak.”

“Berhenti?”

“Iya. Kita ini sering terlalu yakin pada diri sendiri. Merasa kuat, merasa punya waktu panjang, merasa bisa mengatur semuanya. Lalu sakit datang dan mengingatkan bahwa kita rapuh.”

Laila tersenyum tipis.

“Jadi sakit itu pengingat?”

“Mungkin.”

Laila memandang hujan di luar.

“Kalau dipikir-pikir, manusia modern itu aneh ya.”

“Kenapa?”

“Kita bisa mengirim pesan dalam hitungan detik ke seluruh dunia. Tapi sering lupa menanyakan kabar orang serumah.”

Fajar tertawa kecil.

“Itu sindiran buat aku?”

“Buat kita.”

Mereka tertawa pelan. Sudah lama mereka tidak tertawa setenang itu.

Malam terakhir sebelum pulang, Fajar kembali ke mushola. Ia melihat banyak wajah baru. Tetapi ekspresinya tetap sama.

Lelah. Cemas. Penuh harap. Ia lalu sadar…Rumah sakit mungkin satu-satunya tempat di mana manusia paling jujur kepada Tuhan. Tidak ada kesombongan di sana. Tidak ada pencitraan. Semua datang sebagai manusia yang rapuh.

Pak Darto menghampirinya dengan wajah cerah.

“Anak saya sudah sadar.”

Fajar langsung memeluknya.

“Alhamdulillah.”

Pak Darto tertawa kecil sambil mengusap matanya.

“Saya baru sadar satu hal, Pak.”

“Apa?”

“Kebahagiaan ternyata sederhana sekali.”

“Seperti apa?”

“Melihat orang yang kita sayangi membuka mata.”

Fajar tersenyum.

Malam itu ia memandang lorong rumah sakit lebih lama dari biasanya. Tempat itu memang dipenuhi rasa sakit. Tetapi juga dipenuhi cinta yang bekerja diam-diam. Cinta seorang ibu yang tidak tidur menjaga anaknya. Cinta seorang suami yang rela duduk berhari-hari di kursi plastik. Cinta seorang ayah yang tetap kuat meski hatinya runtuh. Dan cinta orang-orang asing yang saling membantu meski tidak saling mengenal.

Keesokan paginya Laila diperbolehkan pulang. Saat kursi roda didorong menuju pintu keluar, Fajar menoleh sekali lagi ke belakang. Beberapa keluarga masih duduk menunggu kabar dengan mata penuh doa. Fajar menarik napas panjang.

Lalu dalam hati ia berkata,

“Hidup ternyata bukan tentang siapa yang paling kaya, paling hebat, atau paling sibuk.
Tetapi tentang siapa yang tetap mampu mencintai, bersabar, dan saling menguatkan ketika hidup sedang paling berat.” [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Next Post

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co