MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman saya, Jembrana. Jalan yang macet, penuh jebakan, dan penuh asap truk pengangkut barang itu saya terpaksa tempuh dalam kurun waktu 4 jam, karena ada truk terguling di daerah Soka, Tabanan.
Tapi, penat saya terbayar setelah saya memasuki gapura “Selamat datang di Kota Negara”, gapura yang tetap menjadi patokan saya bahwa rumah sudah diujung hidung.
Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya terkejut. Mendapati saya yang tiba-tiba pulang dengan kondisi wajah hitam penuh debu dan noda asap knalpot truk.
Tanpa lala-lele saya langsung cuci muka, ngaturang rarapan, dan duduk diteras sembari merokok.
Di teras rumah, saya sedikit berbincang dengan bapak saya membahas soal festival perayaan HUT Kota Negara yang digelar bulan ini, saya mengeluh karena banyak pementasan kesenian yang harus saya skip akibat terhalang hari kerja. Tiba tiba kakek saya dengan wangi minyak urut yang semerbak datang menghampiri dan nyeletuk, “Pekak pidan nak taen mase pentas dadi janger!” Kakek dulu juga pernah pentas janger.
Saya hanya bisa mengingat sekelebat tentang kakek saya yang dulunya penari janger, yang saya bisa ingat hanya foto kakek saya dengan almarhum nenek pertama saya, dengan kostum janger yang sederhana. Saya meminta kakek untuk menceritakan bagaimana awal mula ia ikut menjadi penari janger. Dia tidak ingat semuanya, maklum umurnya hampir kepala 7, tapi yang dia ceritakan membuat saya seakan pergi menjelajahi waktu.
Di era 1992/1993 adalah awal mula terbentuknya Sekaa Janger di Banjar Keladian, Jembrana. Sekaa ini tebentuk melalui instruksi dari Bupati Jembrana di tahun itu.
Kata kakek saya seperti ini kira-kira instruksi Sang Bupati. “Keladian coba bikin sekaa janger, nanti saya kasi sumbangan satu set gamelan baleganjur!”
Kakek menirukan instruksi Bupati dalam bahasa Bali.
Maka terbentuklah sekaa janger di Keladian. Sekaa janger pada saat itu beranggotakan 5 pasang suami istri berumur matang, bahkan kakek saya sudah punya 3 anak pada saat itu.
Saya lalu mempertanyakan gambelan apa yang digunakan mengiringi penari janger pada saat itu, karena setahu saya Banjar Keladian tidak punya jegog atau gambelan untuk mengiringi janger. Saya bertanya seperti itu, barangkali karena referensi janger di kepala saya adalah janger yang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), seperti Janger Pegok, Janger Kedaton, dan yang lainnya.
Tapi ternyata, pada saat itu, sebagaimana dituturkan kakek, di banjar saya pentas janger menggunakan sepasang kendang janger (dugaan saya itu adalah kendang krumpungan), satu kecek, dua suling, satu kajar bambu, dan 3 rebana. Cukup sederhana jika saya bayangkan, alat-alat yang cukup minimalis dan ringkas, tidak sebanyak apa yang saya bayangkan.
Tetabuhannya hanya, “Pung. pung prung pung-pung deg dug byar”, kata kakek saya. Saya sempat tertawa melihat kakek saya memperagakan gerakannya pada saat menjadi janger. Tapi, tentu saja, pada masanya, menjadi penari janger, pasti membuatnya merasa keren.

Kakek saya lanjut menuturkan tentang perhelatan janger yang pernah jaya di era-nya. Pentas di Pendopo Kesari, sebuah gedung pementasan di tengah kota, adalah hal yang paling diingat kakek saya. Kata dia, pentas di Pendopo saat itu sudah seperti pentas di PKB, ditonton banyak orang, mendapat upah, dan atensi dari masyarakat.
Setelah kakek saya menceritakan hal itu, bapak saya menyambar dengan kata
“Bapak pidan di lapangan Dauhwaru taen pentas!” Bapak dulu di lapangan Dauhwaru pernah pentas!
“Hah? Pentas ape?” sahut saya bertanya tentang apa yang dipentaskan saat itu.
“Dadi janger anak-anak,” sahut bapak saya dengan bangga. Menjadi janger anak-anak.

Dan, ya. Ternyata bapak saya juga penari janger anak-anak. Bapak adalah salah satu saksi keberlajutan ekosistem janger di Banjar Keladian. Dia dulu dipilih menjadi janger dengan teman-teman sepermainannya di rumah. Seingat dia, Bapak dipilih menjadi janger pada saat umur 13 atau 14 tahun, pada saat ia masih SMP.
Bapak lanjut menuturkan bahwa ia awalnya disuruh menjadi Dag, pemimpin pementasan dengan pakaian seperti tentara Jepang, dan dengan hiasan seperti bondres. Mungkin karena dia tidak lucu, jadi, dia menjadi kecak janger.


Penabuh pengiringnya diambil dari sekha janger bapak-bapak, kakek saya salah satunya. Dia menjadi penabuh rebana yang paling besar, konyolnya, kakek saya hanya memukul rebana disetiap akhir kalimat gending.
“Nak kene beneh. Blarrr!” kata kakek saya sembari memperagakan gayanya menabuh.

Penabuh rebana pada Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian
Bapak menceritakan pada saat dia pentas di lapangan Dauhwaru. Kata Bapak, dia pentas ditonton puluhan sampai ratusan orang, dengan kakek saya sebagai penabuh pengiringnya. Bahkan dia sempat ditaksir teman sekolahnya karena ia penari janger. Zaman itu memang beda. Jadi penari janger saja bisa langsung ditaksir perempuan.
Dan pada akhirnya, generasi janger Keladian hanya bertahan sampai tahun 1999/2000-an. Entah apa yang menyebabkan generasinya kutung/putus, tapi, yang jelas Keladian pernah punya nama yang harum dengan Jangernya.
Cerita dari dua orang penari janger ini saya sampaikan pada idola saya, Bli Gus Onet (koreografer baleganjur Jembrana). Karena, saya anggap ia lebih tahu tentang janger daripada saya. Dia menanggapi bahwa janger di Jembrana awalnya adalah sebagai media untuk propaganda, melawan penjajahan Jepang pada saat itu. Lalu ia juga sempat menyebut tentang pengaruh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada ekosistem janger di Jembrana.
Cerita itu membuat saya ingin melanjutkan pembahasan ini, menuju hal kelam, tentang Janger, LEKRA, dan cerita di baliknya. Tunggu saja. [T]
Penulis: I Putu Ega Surya Mahendra
Editor: Adnyana Ole

























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)



