31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Ega Surya Mahendra by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
in Khas
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian, Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman saya, Jembrana. Jalan yang macet, penuh jebakan, dan penuh asap truk pengangkut barang itu saya terpaksa tempuh dalam kurun waktu 4 jam, karena ada truk terguling di daerah Soka, Tabanan.

Tapi, penat saya terbayar setelah saya memasuki gapura “Selamat datang di Kota Negara”, gapura yang tetap menjadi patokan saya bahwa rumah sudah diujung hidung.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya terkejut. Mendapati saya yang tiba-tiba pulang dengan kondisi wajah hitam penuh debu dan noda asap knalpot truk.

Tanpa lala-lele saya langsung cuci muka, ngaturang rarapan, dan duduk diteras sembari merokok.

Di teras rumah, saya sedikit berbincang dengan bapak saya membahas soal festival perayaan HUT Kota Negara yang digelar bulan ini, saya mengeluh karena banyak pementasan kesenian yang harus saya skip akibat terhalang hari kerja. Tiba tiba kakek saya dengan wangi minyak urut yang semerbak datang menghampiri dan nyeletuk, “Pekak pidan nak taen mase pentas dadi janger!” Kakek dulu juga pernah pentas janger.

Saya hanya bisa mengingat sekelebat tentang kakek saya yang dulunya penari janger, yang saya bisa ingat hanya foto kakek saya dengan almarhum nenek pertama saya, dengan kostum janger yang sederhana. Saya meminta kakek untuk menceritakan bagaimana awal mula ia ikut menjadi penari janger. Dia tidak ingat semuanya, maklum umurnya hampir kepala 7, tapi yang dia ceritakan membuat saya seakan pergi menjelajahi waktu.

Di era 1992/1993 adalah awal mula terbentuknya Sekaa Janger di Banjar Keladian, Jembrana. Sekaa ini tebentuk melalui instruksi dari Bupati Jembrana di tahun itu.

Kata kakek saya seperti ini kira-kira instruksi Sang Bupati. “Keladian coba bikin sekaa janger, nanti saya kasi sumbangan satu set gamelan baleganjur!”

Kakek menirukan instruksi Bupati dalam bahasa Bali.

Maka terbentuklah sekaa janger di Keladian. Sekaa janger pada saat itu beranggotakan 5 pasang suami istri berumur matang, bahkan kakek saya sudah punya 3 anak pada saat itu.

Saya lalu mempertanyakan gambelan apa yang digunakan mengiringi penari janger pada saat itu, karena setahu saya Banjar Keladian tidak punya jegog atau gambelan untuk mengiringi janger. Saya bertanya seperti itu, barangkali karena referensi janger di kepala saya adalah janger yang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), seperti Janger Pegok, Janger Kedaton, dan yang lainnya.

Tapi ternyata, pada saat itu, sebagaimana dituturkan kakek, di banjar saya pentas janger menggunakan sepasang kendang janger (dugaan saya itu adalah kendang krumpungan), satu kecek, dua suling, satu kajar bambu, dan 3 rebana. Cukup sederhana jika saya bayangkan, alat-alat yang cukup minimalis dan ringkas, tidak sebanyak apa yang saya bayangkan.

Tetabuhannya hanya, “Pung. pung prung pung-pung deg dug byar”, kata kakek saya. Saya sempat tertawa melihat kakek saya memperagakan gerakannya pada saat menjadi janger. Tapi, tentu saja, pada masanya, menjadi penari janger, pasti membuatnya merasa keren.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Kakek saya lanjut menuturkan tentang perhelatan janger yang pernah jaya di era-nya. Pentas di Pendopo Kesari, sebuah gedung pementasan di tengah kota, adalah hal yang paling diingat kakek saya. Kata dia, pentas di Pendopo saat itu sudah seperti pentas di PKB, ditonton banyak orang, mendapat upah, dan atensi dari masyarakat.

Setelah kakek saya menceritakan hal itu, bapak saya menyambar dengan kata

“Bapak pidan di lapangan Dauhwaru taen pentas!” Bapak dulu di lapangan Dauhwaru pernah pentas!

“Hah? Pentas ape?” sahut saya bertanya tentang apa yang dipentaskan saat itu.

“Dadi janger anak-anak,” sahut bapak saya dengan bangga. Menjadi janger anak-anak.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Dan, ya. Ternyata bapak saya juga penari janger anak-anak. Bapak adalah salah satu saksi keberlajutan ekosistem janger di Banjar Keladian. Dia dulu dipilih menjadi janger dengan teman-teman sepermainannya di rumah. Seingat dia, Bapak dipilih menjadi janger pada saat umur 13 atau 14 tahun, pada saat ia masih SMP.

Bapak lanjut menuturkan bahwa ia awalnya disuruh menjadi Dag, pemimpin pementasan dengan pakaian seperti tentara Jepang, dan dengan hiasan seperti bondres. Mungkin karena dia tidak lucu, jadi, dia menjadi kecak janger.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

 Penabuh pengiringnya diambil dari sekha janger bapak-bapak, kakek saya salah satunya. Dia menjadi penabuh rebana yang paling besar, konyolnya, kakek saya hanya memukul rebana disetiap akhir kalimat gending.

“Nak kene beneh. Blarrr!” kata kakek saya sembari memperagakan gayanya menabuh.


Penabuh rebana pada Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Bapak menceritakan pada saat dia pentas di lapangan Dauhwaru. Kata Bapak, dia pentas ditonton puluhan sampai ratusan orang, dengan kakek saya sebagai penabuh pengiringnya. Bahkan dia sempat ditaksir teman sekolahnya karena ia penari janger. Zaman itu memang beda. Jadi penari janger saja bisa langsung ditaksir perempuan.

Dan pada akhirnya, generasi janger Keladian hanya bertahan sampai tahun 1999/2000-an. Entah apa yang menyebabkan generasinya kutung/putus, tapi, yang jelas Keladian pernah punya nama yang harum dengan Jangernya.

Cerita dari dua orang penari janger ini saya sampaikan pada idola saya, Bli Gus Onet (koreografer baleganjur Jembrana). Karena, saya anggap ia lebih tahu tentang janger daripada saya. Dia menanggapi bahwa janger di Jembrana awalnya adalah sebagai media untuk propaganda, melawan penjajahan Jepang pada saat itu. Lalu ia juga sempat menyebut tentang pengaruh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada ekosistem janger di Jembrana.

Cerita itu membuat saya ingin melanjutkan pembahasan ini, menuju hal kelam, tentang Janger, LEKRA, dan cerita di baliknya. Tunggu saja. [T]

Penulis: I Putu Ega Surya Mahendra
Editor: Adnyana Ole

Tags: jangerjanger balijembranakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

Next Post

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ega Surya Mahendra

Ega Surya Mahendra

I Putu Ega Surya Mahendra. Lahir di Keladian,Jembrana. Suka kegiatan kesenian. Pegawai swasta yang bergantung pada pariwisata.

Related Posts

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails
Next Post
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co