25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

Gede Sidi Artajaya by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
in Opini
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature biografi, prosedur, kritik-esai, hingga resensi novel. Rentang genre ini tampak kaya. Namun Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia tidak terutama menanyakan apakah siswa hafal struktur sebuah genre. TKA menguji apakah siswa sanggup membaca secara cermat, menyimpulkan yang tersirat, menilai akurasi gagasan, dan memberi respons terhadap bahasa serta dunia yang dibangun teks. Di titik inilah relevansi kurikulum perlu dibaca ulang: bukan sekadar ‘materinya sama atau tidak’, melainkan ‘apakah materi itu dilatih pada kedalaman berpikir yang sama dengan asesmennya’.

Tesis

Secara substantif, klasifikasi materi Bahasa Indonesia kelas X-XII sudah sangat relevan sebagai fondasi TKA, karena menyediakan dua ekosistem bacaan yang juga menjadi muatan TKA: teks informasi dan teks fiksi. Akan tetapi, relevansi itu belum otomatis menjamin kesiapan siswa. Persoalan utamanya terletak pada pergeseran orientasi: pembelajaran di kelas masih mudah terjebak pada identifikasi struktur, ciri kebahasaan, dan produksi genre secara terpisah, sedangkan TKA menuntut transfer kemampuan membaca ke teks baru, teks jamak, istilah lintas bidang, hubungan antargagasan, inferensi, evaluasi fakta-opini, serta apresiasi sastra.

Kerangka resmi TKA Bahasa Indonesia SMA menegaskan bahwa keterampilan yang difokuskan adalah membaca. Muatannya berupa teks informasi tunggal maupun jamak dan teks fiksi. Teks informasi dapat memuat fakta, konsep, prosedur, dan metakognisi dari berbagai bidang atau topik, genre, konteks, serta skala lokal, nasional, dan global. Kompetensinya dikelompokkan menjadi tiga: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Dengan demikian, menyebut TKA hanya berfokus pada ‘pemahaman tekstual’ kurang lengkap; pemahaman tekstual adalah lapis pertama, bukan keseluruhan bangunan kompetensi TKA.

Bagan 1. Arsitektur kompetensi TKA Bahasa Indonesia SMA berdasarkan kerangka resmi Pusmendik

Argumentasi

1. Peta materi SMA: kaya genre, tetapi harus dibaca sebagai ekosistem literasi

Jika 16 unit materi yang disebutkan untuk kelas X-XII dipetakan secara fungsional, terlihat keseimbangan antara teks informasional/pragmatik dan teks sastra atau hibrida. Laporan hasil observasi, biografi, argumentasi, berita, karya ilmiah, feature biografi, dan prosedur menyediakan medan untuk membaca fakta, konsep, urutan, hubungan sebab-akibat, serta kredibilitas informasi. Hikayat, cerpen, puisi, drama, dan resensi novel membuka ruang bagi pembacaan tokoh, konflik, latar, nilai, gaya bahasa, efek estetik, dan respons pembaca. Anekdot, negosiasi, kritik, dan esai berada di wilayah peralihan karena menggabungkan fungsi sosial, retorika, evaluasi, bahkan unsur literer.

Grafik 1. Klasifikasi analitis 16 unit materi Bahasa Indonesia SMA yang dikaji dalam esai ini

KelasSem.MateriKlasifikasiPotensi Kompetensi TKARelevansi
XITeks Laporan Hasil ObservasiInformasiFakta/konsepSangat kuat
XITeks AnekdotFiksi/hibridaNaratif, kritik sosialKuat
XIHikayatFiksiProsa klasikKuat
XIITeks NegosiasiInformasi/pragmatikArgumentasi & relasi maknaKuat
XIIBiografiInformasi/naratif faktualFakta, tokoh, kronologiSangat kuat
XIIPuisiFiksi/sastraBahasa figuratif & apresiasiSangat kuat
XIITeks ArgumentasiInformasiGagasan, fakta, opiniSangat kuat
XIIBeritaInformasiFakta, akurasi, relevansiSangat kuat
XIICerpenFiksi/sastraTokoh, konflik, latar, nilaiSangat kuat
XIIIPuisiFiksi/sastraInferensi & apresiasiSangat kuat
XIIIDramaFiksi/sastraTokoh, konflik, bahasaSangat kuat
XIIIPenulisan Karya IlmiahInformasi/akademikFakta, konsep, logika, sumberSangat kuat
XII–Feature Biografi/Tokoh InspiratifInformasi/naratif faktualFakta, tokoh, sudut pandangSangat kuat
XII–Teks Prosedur: Wirausaha MudaInformasiProsedur lintas bidangSangat kuat
XII–Kritik dan EsaiInformasi-kritis/sastraEvaluasi gagasan & bahasaSangat kuat
XII–Resensi Karya Sastra (Novel)Sastra-kritisEvaluasi & apresiasiSangat kuat

Tabel 1. Pemetaan materi SMA terhadap karakter bacaan dan potensi kompetensi TKA. Kategori relevansi merupakan analisis penulis

2. Kelas X: fondasi genre sudah tepat, tantangannya mengubah ‘mengenali’ menjadi ‘menalar’

Laporan hasil observasi sangat dekat dengan karakter teks informasi TKA karena siswa berhadapan dengan objek, klasifikasi, fakta, istilah, dan hubungan antarbagian. Materi ini akan lebih bernilai bagi TKA jika latihan tidak berhenti pada mencari definisi umum dan deskripsi bagian, tetapi meminta siswa membandingkan dua laporan, menemukan ketidakcukupan data, menilai ketepatan istilah teknis, atau mengubah informasi menjadi bagan.

Anekdot dan hikayat memberi latihan yang berbeda. Anekdot memungkinkan siswa membaca kritik sosial yang tidak selalu dinyatakan secara literal; hikayat menuntut pembaca menafsirkan karakter, nilai, latar budaya, serta pilihan bahasa. Keduanya relevan dengan pemahaman inferensial. Pada semester II, negosiasi melatih relasi gagasan, tujuan penutur, dan strategi bahasa; biografi menguatkan kronologi, fakta, keteladanan, dan inferensi karakter; puisi langsung beririsan dengan evaluasi dan apresiasi, termasuk respons emosional terhadap unsur puisi.

3. Kelas XI: titik paling kuat untuk membangun literasi tingkat tinggi

Argumentasi, berita, dan karya ilmiah merupakan tiga materi strategis untuk TKA. Teks argumentasi dapat digunakan untuk membedakan klaim, alasan, bukti, fakta, dan opini. Berita menyediakan laboratorium untuk menguji akurasi, kecukupan informasi, sudut pandang, serta relevansi. Karya ilmiah memperkenalkan siswa pada register akademik, istilah teknis, koherensi, data, dan disiplin sumber. Jika ketiganya dipadukan, siswa tidak hanya belajar bentuk teks, tetapi belajar epistemologi sederhana: dari mana sebuah klaim berasal, seberapa kuat buktinya, dan kapan sebuah simpulan dapat dipercaya.

Cerpen, puisi, dan drama sama pentingnya. Kerangka TKA secara eksplisit mengukur kemampuan menyimpulkan tokoh, peristiwa, latar, konflik, nilai, hubungan makna, prediksi lanjutan cerita, ketepatan bagian teks dalam menggambarkan unsur fiksi, serta respons emosional terhadap puisi, prosa, dan drama. Artinya, sastra bukan ornamen dalam persiapan TKA. Sastra justru menjadi arena autentik untuk melatih inferensi, toleransi terhadap ambiguitas, pembacaan konotasi, dan penilaian estetik.

4. Kelas XII: relevan, tetapi jangan berubah menjadi kursus ‘menebak soal TKA’

Materi kelas XII juga memiliki korespondensi yang kuat. Feature biografi menghadirkan fakta dalam teknik naratif; teks prosedur bertema wirausaha muda membawa siswa ke bacaan lintas bidang ekonomi dan kewirausahaan; kritik dan esai mengaktifkan penilaian gagasan; resensi novel menggabungkan pemahaman karya dengan evaluasi dan argumentasi. Empat materi ini dapat menjadi jembatan yang sangat baik menuju TKA apabila teks sumbernya diperluas dan tugas membacanya dibuat lintas genre.

Yang perlu dihindari ialah reduksi pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi latihan soal. TKA dirancang untuk memperoleh informasi capaian akademik yang terstandar dan mendorong penilaian berkualitas. Karena itu, respons pendidikan yang lebih sehat bukan mempersempit kurikulum agar menyerupai format tes, melainkan memperdalam kualitas membaca pada setiap materi yang memang sudah ada.

5. Di mana letak kesenjangan antara materi SMA dan tuntutan TKA?

Kesenjangan pertama adalah teks jamak. Siswa sering membaca satu teks untuk satu kompetensi, padahal TKA membuka ruang bagi teks informasi tunggal maupun jamak. Pembelajaran perlu membiasakan siswa mempertemukan dua sumber: misalnya berita dengan infografik, laporan observasi dengan artikel sains populer, biografi dengan arsip wawancara, atau resensi dengan penggalan novel.

Kesenjangan kedua adalah lintas bidang ilmu. TKA tidak membatasi teks informasi pada topik kebahasaan. Teks dapat mengangkat sains, lingkungan, ekonomi, teknologi, kesehatan publik, budaya, atau isu global. Konsekuensinya, guru Bahasa Indonesia tidak perlu mengajarkan isi semua disiplin, tetapi perlu mengajarkan strategi menghadapi istilah teknis, struktur penjelasan, data, dan argumen dari disiplin yang berbeda.

Kesenjangan ketiga adalah kedalaman kognitif. Pertanyaan ‘apa struktur teks ini?’ berada pada level yang berbeda dengan ‘apakah informasi ini cukup untuk mendukung simpulan?’, ‘apa asumsi yang tidak dinyatakan?’, atau ‘bagian mana yang paling efektif membangun karakter?’. TKA menuntut gerak dari menemukan informasi menuju menghubungkan, menyimpulkan, menguji, dan menilai.

Kesenjangan keempat adalah bahasa sebagai bukti, bukan sekadar daftar kaidah. Kerangka TKA memuat kata serapan, kosakata yang menandai latar atau fenomena, hubungan makna antarkalimat/paragraf, serta ketepatan penggunaan bahasa. Maka pembelajaran kebahasaan seharusnya ditempatkan di dalam konteks bacaan: siswa menjelaskan bagaimana pilihan kata, konjungsi, kalimat kompleks, atau nuansa makna mengubah pemahaman terhadap teks.

Grafik 2. Peta relevansi analitis. Nilai bukan bobot resmi TKA, melainkan indeks pemetaan penulis untuk menunjukkan area yang sudah kuat dan area yang perlu diperkuat

6. Matriks komparatif: dari materi menuju praktik asesmen

AspekPembelajaran SMATKA Bahasa IndonesiaImplikasi
OrientasiGenre, fungsi sosial, struktur, kebahasaan, produksi teksMembaca dan transfer pemahaman pada teks baruUbah genre menjadi wahana latihan membaca tingkat tinggi
KontenLHO, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, puisi, argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature, prosedur, kritik-esai, resensiTeks informasi tunggal/jamak dan teks fiksiSecara konten sangat kompatibel
KognitifSering bervariasi dari identifikasi hingga produksiTekstual, inferensial, evaluasi-apresiasiPerbanyak soal alasan, bukti, inferensi, evaluasi
KonteksSering mengikuti tema buku/modulBerbagai bidang; lokal, nasional, globalGunakan bacaan lintas disiplin dan isu aktual
Bentuk sumberDominan teks tunggalTeks informasi tunggal maupun jamakBiasakan intertekstualitas dan multimodal
SastraHikayat, cerpen, puisi, drama, novel/resensiTeks fiksi + apresiasiPertahankan sastra sebagai latihan inferensi dan estetika

Tabel 2. Komparasi orientasi materi SMA dan kerangka TKA Bahasa Indonesia

7. Model penguatan: satu materi, tiga lapis membaca

Agar pembelajaran tidak tercerabut dari kurikulum, guru dapat memakai pola sederhana pada setiap genre. Lapis pertama adalah tekstual: siswa menemukan dan menata kembali informasi eksplisit. Lapis kedua adalah inferensial: siswa menghubungkan petunjuk, menjelaskan relasi, menarik simpulan, atau memprediksi. Lapis ketiga adalah evaluatif-apresiatif: siswa menguji akurasi dan kecukupan informasi, menilai pilihan bahasa, mengaitkan peristiwa dengan konteks, atau merumuskan respons estetik. Dengan pola ini, persiapan TKA tidak membutuhkan ‘materi baru’; yang dibutuhkan terutama adalah rekayasa pertanyaan dan pengalaman membaca yang lebih dalam.

Contohnya, pada berita tentang perubahan iklim, siswa mula-mula mengidentifikasi fakta dan istilah; kemudian menyimpulkan hubungan sebab-akibat; lalu membandingkan berita dengan data atau teks kedua untuk menilai kecukupan informasi. Pada cerpen, siswa mengidentifikasi peristiwa; menyimpulkan perubahan karakter dari petunjuk tidak langsung; kemudian menilai bagian teks yang paling efektif membangun konflik. Pada puisi, siswa bergerak dari mengenali citraan menuju menafsirkan hubungan antarsimbol dan akhirnya merumuskan respons emosional-estetik dengan bukti tekstual.

Kesimpulan

Materi Bahasa Indonesia SMA kelas X-XII pada dasarnya relevan, bahkan kaya, untuk menopang TKA. Laporan observasi, argumentasi, berita, karya ilmiah, biografi, prosedur, kritik-esai, serta teks sastra menyediakan hampir seluruh medan yang diperlukan untuk membangun kemampuan membaca. Karena itu, problem utamanya bukan kekurangan genre. Problem yang lebih menentukan adalah apakah genre tersebut diajarkan sebagai pengetahuan tentang teks atau sebagai alat untuk berpikir melalui teks.

TKA menggeser pusat gravitasi pembelajaran dari ‘siswa tahu nama dan struktur teks’ menuju ‘siswa mampu menggunakan teks untuk memahami, menyimpulkan, memeriksa, dan menilai’. Pergeseran ini seharusnya tidak membuat sastra tersisih. Sebaliknya, hikayat, cerpen, puisi, drama, dan novel adalah ruang penting untuk mengembangkan inferensi, kepekaan bahasa, imajinasi, dan apresiasi—kompetensi yang secara eksplisit hadir dalam kerangka TKA.

Maka pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi: apakah materi SMA sudah sesuai dengan TKA? Jawabannya: secara konten, sebagian besar sudah. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apakah cara kita mengajarkannya sudah membentuk pembaca yang sanggup berpindah dari informasi tersurat ke makna tersirat, dari opini ke bukti, dari satu teks ke teks lain, dan dari bahasa ke penilaian kritis? Di situlah pekerjaan besar pembelajaran Bahasa Indonesia menjelang TKA sebenarnya berada.

Sumber Faktual Utama

• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Kerangka/laman TKA Bahasa Indonesia SMA: fokus keterampilan membaca, muatan teks informasi dan teks fiksi, serta kompetensi tekstual, inferensial, evaluasi dan apresiasi. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/tka/view/mata-pelajaran-wajib/sma/bahasa-indonesia

• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Halaman unduhan regulasi TKA, termasuk Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025, Perka BSKAP 45-H-AN-2025, dan Kepmendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/page/download

• Kemendikdasmen. Siaran Pers 7 Juli 2026: pendaftaran TKA 2026 jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK ditetapkan 27 Juli-27 September 2026.

• Klasifikasi materi kelas X-XII dalam esai ini mengikuti daftar materi yang diberikan penulis/pengguna; pengelompokan dan indeks relevansi pada tabel/grafik merupakan analisis komparatif, bukan bobot resmi TKA.

Tags: Bahasa IndonesiaPendidikanTes Kemampuan AkademikUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

Next Post

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

Gede Sidi Artajaya

Gede Sidi Artajaya

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co