24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 24, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah sebuah sistem yang tidak pernah didesain lewat bahasa mesin untuk memahami sastra.

Sistem ini tidak tahu apa itu ritme kalimat. Ia tidak bisa membedakan antara metafora yang banal dan metafora yang membuka cara baru untuk melihat dunia. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kedalaman karakter, ketegangan naratif yang dibangun dengan sabar, atau momen ketika sebuah novel tiba-tiba membuat pembacanya melihat hidupnya sendiri secara berbeda.

Ia hanya memahami pola. Dari pola, ia bekerja membuat prediksi.

Sistem rekomendasi yang bekerja di balik platform-platform digital, dari toko buku online seperti Gramedia Digital hingga platform novel seperti Wattpad dan KBM,  bekerja melalui dua mekanisme utama yang saling melengkapi.

Pertama adalah collaborative filtering: jika pengguna A dan pengguna B sama-sama menyukai buku X dan Y, maka sistem akan merekomendasikan buku Z yang disukai pengguna B kepada pengguna A. Yang kedua adalah content-based filtering: sistem menganalisis atribut karya (genre, kata kunci, penulis) dan mencocokkannya dengan preferensi historis pengguna. Keduanya bekerja dari data yang sama: apa yang sudah dibaca, sudah diberi rating, sudah diselesaikan, dan sudah dibagikan.

Sistem merekomendasikan apa yang sudah terbukti disukai kepada orang yang sudah terbukti menyukainya. Lingkaran itu terdengar logis, tapi ia mengandung asumsi yang sangat besar dan sangat jarang dipersoalkan, bahwa apa yang sudah disukai seseorang adalah panduan terbaik untuk apa yang perlu mereka baca selanjutnya.

Sastra yang serius hampir tidak pernah bekerja dengan asumsi itu.

Karya yang benar-benar mengubah cara seseorang memandang dunia hampir selalu datang dari arah yang tidak diprediksi oleh preferensi historisnya. Seseorang yang selama ini hanya membaca novel romansa ringan tidak akan mendapat rekomendasi Cala Ibi karya Nukila Amal dari algoritma, karena tidak ada cukup kesamaan pola antara keduanya untuk memicu rekomendasi.

Novel Cala Ibi bekerja menggunakan prosa puitis yang menuntut pembaca memperbarui cara bacanya sebelum teks itu mau membuka diri. Tidak ada genre yang bisa menangkapnya dengan tepat, tidak ada kata kunci yang cukup untuk mewakilinya, dan tidak ada riwayat pembaca novel romansa yang akan memicu sistem untuk memberi rekomendasi ke Cala Ibi.

Algoritma bekerja dengan sangat baik dalam membawa seseorang lebih jauh ke rumpun selera yang sudah ada. Tapi ia sangat buruk dalam membawa seseorang keluar dari selera itu menuju sesuatu yang belum pernah mereka bayangkan. Padahal justru itulah yang selalu dilakukan oleh kurasi yang baik.

Dulu, peran itu dimainkan oleh beberapa institusi sekaligus: editor yang memilih naskah dengan penilaian intelektual, kritikus yang membicarakan karya dalam konteks yang lebih luas dari sekadar selera pribadi, pustakawan yang merekomendasikan buku kepada pembaca berdasarkan percakapan, toko buku yang memajang karya tertentu di etalase berdasarkan keyakinan bahwa karya itu perlu dibaca.

Semua kurasi itu tidak sempurna. Ia membawa bias, eksklusivitas, dan jaringan yang tidak selalu adil. Tapi ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki algoritma: ia bisa membuat penilaian tentang apa yang penting, bukan hanya tentang apa yang disukai.

Perbedaan antara penting dan disukai adalah perbedaan yang paling mendasar dalam sejarah sastra. Banyak karya yang kita akui sebagai penting hari ini tidak langsung menemukan pembacanya melalui pasar. Seperti Cantik Itu Luka yang memerlukan sekitar satu dekade untuk bisa diakui. Perjalanan itu hanya mungkin karena ada kurasi manusia yang aktif. Ada penerjemah, editor asing, dan kritikus internasional yang memperkenalkan karya itu kepada pembaca yang belum tahu bahwa mereka membutuhkannya.

Dalam ekosistem yang sepenuhnya bergantung pada algoritma, perjalanan semacam itu tidak akan pernah terjadi. Karya yang tidak menghasilkan engagement dalam bulan-bulan pertama akan tenggelam sebelum sempat ditemukan oleh siapa pun.

Algoritma tidak bisa melakukan pekerjaan itu. Ia hanya bisa memperkuat apa yang sudah ada. Ketika yang sudah ada itu didominasi genre tertentu seperti romance, thriller ringan, atau fiksi islami populer, maka algoritma akan memastikan bahwa dominasi itu semakin kuat. Ia tidak memiliki mekanisme koreksi dari dalam.

Dampak algoritma tidak berhenti pada distribusi. Ia juga masuk ke dalam produksi. Di sinilah pengaruhnya paling dalam dan paling sulit dilawan. Penulis yang hidup cukup lama dalam ekosistem digital belajar membaca sinyal: karya seperti apa yang mendapat banyak komentar, jenis pembukaan apa yang membuat pembaca tidak berhenti di bab pertama, emosi apa yang paling konsisten memancing respons.

Lama-lama, penulis mulai menginternalisasi logika itu ke dalam proses kreatifnya sendiri, jauh sebelum kata pertama ditulis. Inilah perbedaan yang paling mendasar antara editor dan algoritma sebagai kurator. Editor menolak naskah setelah selesai, tanpa mempengaruhi proses penulisannya. Algoritma mengirim sinyal sebelum proses menulis berlangsung, membentuk imajinasi naratif penulis dari dalam, sampai logika engagement terasa seperti intuisi estetik yang alami.

Karya-karya yang tidak masuk ke dalam lingkaran itu, misalkan karya yang terlalu lambat untuk segera menghasilkan engagement tinggi, yang terlalu asing untuk langsung dikenali oleh sistem collaborative filtering, dan yang membutuhkan konteks yang tidak bisa ditangkap oleh pencocokan kata kunci, tidak akan direkomendasikan. Karena karya-karya semacam itu tidak terlihat oleh sistem. Dalam ekosistem digital, tidak terlihat adalah bentuk ketiadaan yang paling sempurna.

 Ini adalah pergeseran yang lebih fundamental dari yang biasanya disadari. Ketika kritik sastra masih berfungsi, ketika ada institusi, jurnal, dan individu yang dipercaya untuk mengatakan “karya ini penting dan mengapa”, ada mekanisme yang memungkinkan karya yang sulit untuk menemukan pembacanya melalui jalur yang berbeda dari jalur pasar. Karya bisa gagal secara komersial tapi tetap masuk ke dalam percakapan intelektual yang membuatnya hidup. Ia bisa menunggu, bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade, untuk ditemukan kembali oleh generasi pembaca yang berbeda.

Algoritma tidak memberi ruang untuk menunggu. Karya yang tidak menghasilkan engagement dalam waktu singkat akan tenggelam di bawah volume konten baru yang terus mengalir. Tidak ada arsip digital yang berfungsi seperti rak perpustakaan, tempat seseorang bisa tersesat secara kebetulan dan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia cari. Hanya tersedia feed yang terus diperbarui, rekomendasi yang muncul melalui notifikasi, dan perhatian yang terus diarahkan kepada apa yang sudah terbukti bekerja kemarin.

Dalam ekosistem seperti itu, sastra yang membutuhkan waktu untuk dipahami bukan hanya tidak populer. Ia secara struktural tidak mungkin ditemukan. Ketika sesuatu secara struktural tidak mungkin ditemukan, pada akhirnya ia berhenti ditulis. [T][Bersambung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastrasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co