DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Mereka tidak selalu berada di panggung. Sebagian menjalani keseharian sebagai pengrawit, seniman tari, perupa, maupun penggiat sastra. Namun, dari tangan dan pengalaman merekalah berbagai pengetahuan budaya tetap berjalan di tengah perubahan Kuta.
Seniman bukan hanya pencipta karya seni. Di balik karya yang lahir dari kreativitas dan keterampilan mereka, terdapat nilai, pengetahuan, serta identitas budaya yang terus diwariskan kepada masyarakat. Karena itu, penghargaan kepada seniman menjadi salah satu bentuk apresiasi atas jasa, dedikasi, dan pengabdian mereka dalam menjaga, melestarikan, sekaligus memperkaya kebudayaan.
Penghormatan tersebut menjadi dasar Listibiya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan) Kecamatan Kuta bersama Pemerintah Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, memberikan penghargaan kepada para seniman melalui program Abdi Budaya Nugraha 2026. Penghargaan tersebut diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026.
Enam seniman dari sejumlah desa adat di Kecamatan Kuta menerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian mereka dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.

“Penyerahan penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya membangun kesadaran bersama bahwa keberlangsungan budaya membutuhkan penghormatan terhadap para pelaku yang telah berjuang selama bertahun-tahun,” kata Ketua Listibiya Kecamatan Kuta, Dr. I Gusti Darma Putra.
Di tengah pesatnya perkembangan Kuta sebagai kawasan pariwisata dunia, keberadaan para seniman menjadi bagian penting dalam menjaga akar budaya masyarakat. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengakuan terhadap perjalanan panjang para pelaku seni yang selama ini berperan sebagai penjaga, penggerak, dan pewaris kebudayaan.
Abdi Budaya Nugraha tahun ini merupakan pelaksanaan keempat sejak pertama kali digelar pada 2023. Program tersebut tidak sekadar menjadi ruang penghormatan kepada para seniman, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang berkelanjutan dengan menempatkan seniman sebagai salah satu pusat kehidupan kebudayaan.
Mereka yang Mengabdikan Diri
Gung Ade Dalang, sapaan akrab I Gusti Darma Putra, mengatakan keberadaan seniman merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. “Budaya tidak hanya tentang karya yang dipentaskan, tetapi tentang manusia yang merawat dan mewariskan nilai-nilai di dalamnya. Karena itu, para seniman yang telah mengabdikan hidupnya harus mendapatkan penghargaan dan perhatian,” ungkapnya.
Penghargaan tersebut bukan hanya untuk mengenang jasa para penerima, tetapi juga untuk memastikan pengetahuan dan nilai budaya yang mereka miliki dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. “Kami ingin menjaga, bukan hanya nama para penerima penghargaan, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, dan nilai budaya yang mereka wariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Pada pelaksanaan 2026, enam seniman dari desa adat di wilayah Kecamatan Kuta menerima apresiasi Abdi Budaya Nugraha. Mereka adalah Alm. I Wayan Suja, pengabdi seni karawitan dari Desa Adat Kelan; I Made Suamba, pengabdi seni karawitan dari Desa Adat Kuta; AA. Made Oka Fariana, pengabdi seni rupa Bali dari Desa Adat Legian; Ni Wayan Luteri, pengabdi seni tari dari Desa Adat Seminyak; I Ketut Ediana, pengabdi seni karawitan dan sastra dari Desa Adat Tuban; serta I Ketut Wita, pengabdi seni karawitan dari Desa Adat Kedonganan.
Para penerima penghargaan dipilih berdasarkan rekam jejak pengabdian, dedikasi, kontribusi kepada masyarakat, serta peran mereka dalam pembinaan dan regenerasi seni budaya.

Nama-nama tersebut mewakili perjalanan seni yang berlangsung di desa-desa adat Kuta. Ada karawitan, seni rupa, tari, dan sastra. Bidangnya berbeda, tetapi masing-masing memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat dan proses pewarisan pengetahuan budaya.
Gung Ade Dalang menambahkan, pembangunan kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Listibiya bersama pemerintah, menurutnya, memiliki peran untuk membuka ruang komunikasi sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung keberlangsungan kehidupan seni.
“Listibiya membawa perspektif masyarakat seni, sementara pemerintah memiliki peran dalam memberikan dukungan dan fasilitasi. Ketika keduanya berjalan bersama, maka ekosistem budaya akan semakin kuat,” ujar Gung Ade Dalang.
Budaya di Tengah Pertumbuhan Kuta
Penghormatan terhadap seniman juga berkaitan dengan perubahan yang berlangsung di Kuta. Kawasan ini berkembang sebagai salah satu pusat pariwisata Bali, dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus berjalan. Di tengah perubahan tersebut, kehidupan seni dan budaya masyarakat tetap membutuhkan ruang.
Camat Kuta I Made Agus Suantara, S.E., M.A.P., menyampaikan apresiasi terhadap program yang memberikan ruang penghormatan kepada para seniman tersebut.
Pembangunan Kuta tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, tetapi juga bagaimana menjaga identitas budaya masyarakat di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
“Kuta berkembang sangat cepat. Namun perkembangan tersebut harus tetap berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Para seniman adalah bagian penting yang menjaga karakter dan jati diri masyarakat Kuta,” ujarnya.
Camat Kuta I Made Agus Suantara menegaskan, Pemerintah Kecamatan Kuta akan terus mendukung program kebudayaan melalui berbagai langkah, mulai dari pemberian apresiasi, pembinaan dan regenerasi, hingga penciptaan ruang kreativitas bagi generasi muda.
Bagi para seniman, ruang tersebut penting karena kebudayaan tidak berhenti pada karya yang sudah ada. Pengetahuan tentang memainkan gamelan, menari, membuat karya rupa, maupun memahami sastra perlu terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses itu membutuhkan orang-orang yang bersedia mengajarkan, mendampingi, dan menjaga keberlangsungannya.
Abdi Budaya Nugraha 2026 pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertunjukan seni dan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat, terdapat perjalanan panjang para seniman yang dengan tekun menjaga warisan budaya.
Enam nama yang menerima penghargaan tahun ini tidak hanya membawa rekam jejak pribadi. Mereka juga membawa cerita tentang desa adat, sanggar, kelompok seni, proses belajar, dan pengetahuan yang selama bertahun-tahun tumbuh bersama masyarakat Kuta.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu cara untuk menyebut kembali peran mereka di tengah perubahan kawasan. Bersamaan dengan itu, tanggung jawab untuk meneruskan pengetahuan dan memberi ruang kepada generasi berikutnya tetap menjadi pekerjaan bersama.
Melalui kolaborasi Listibiya dan Pemerintah Kecamatan Kuta, penghormatan kepada para seniman diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan. Apresiasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ruang bagi seni, memperkuat regenerasi, dan memastikan kebudayaan Kuta tetap hidup di tengah perkembangan kotanya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto











![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-75x75.png)









![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









