SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang pertama disebut pasukan upacara. Yang kedua biasanya pejabat dan tamu kehormatan. Keduanya sama-sama hadir mengikuti upacara. Bedanya, yang satu berpeluh, yang lain berteduh.
Matahari tidak mengenal pangkat. Panasnya tidak membedakan jenderal dengan prajurit, bupati dengan pegawai, pejabat dengan rakyat. Siapa pun yang berdiri di lapangan akan merasakan sengatnya. Keringat akan tetap keluar, tenggorokan tetap kering, dan kaki tetap terasa pegal meskipun yang berdiri itu seorang pejabat tinggi.
Pasukan upacara berdiri berbaris di lapangan. Mereka harus tegak, tertib, dan mengikuti setiap aba-aba. Selama upacara berlangsung, tidak banyak pilihan selain bertahan. Peluh boleh mengalir, wajah boleh memerah, tetapi barisan harus tetap rapi.
Di sisi lain, para pejabat dan tamu undangan berada di bawah tenda. Kursi tersedia. Atap melindungi dari panas. Kadang-kadang kipas atau pendingin udara juga sudah disiapkan.
Pemandangan itu begitu lumrah sehingga hampir tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Padahal upacara adalah sebuah seremoni yang penuh simbol. Ada penghormatan kepada bendera. Ada penghormatan kepada pahlawan. Ada pembacaan teks yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan. Ada pesan tentang pengabdian, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab.
Tentu tidak ada yang salah dengan tenda. Pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan. Mereka bisa memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam keadaan tertentu, berteduh bahkan merupakan kebutuhan, bukan kemewahan.
Masalahnya bukan pada tenda. Masalahnya adalah ketika kenyamanan selalu menjadi hak orang-orang yang berada di atas, sedangkan ketahanan selalu menjadi kewajiban orang-orang yang berada di bawah.
Pasukan upacara tidak datang sekadar untuk menjadi latar belakang sebuah seremoni. Mereka adalah bagian penting dari upacara. Mereka yang berdiri berjam-jam, menjaga formasi, mengikuti aba-aba, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka mungkin tidak memberikan pidato. Tidak ada kamera yang secara khusus menyorot wajah mereka ketika keringat mengalir. Nama mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Namun tanpa mereka, upacara tidak akan menjadi upacara.
Pejabat pun memiliki peran. Mereka hadir sebagai pemimpin, inspektur upacara, atau tamu kehormatan. Kehadiran mereka memberi makna terhadap seremoni. Karena itu, justru dari merekalah keteladanan seharusnya terlihat.
Pemimpin tidak harus selalu melakukan hal yang sama persis dengan orang yang dipimpinnya. Tetapi seorang pemimpin semestinya tidak terlalu jauh dari pengalaman mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pasukan berdiri, sesekali pemimpin bisa berdiri bersama mereka. Kalau mereka berpeluh, pemimpin tidak harus selalu buru-buru mencari tempat teduh.
Bukan karena panas harus dirasakan semua orang. Bukan pula karena berteduh adalah sebuah kesalahan. Melainkan karena ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan, yaitu kebersamaan.
Sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu berada di tempat nyaman. Para pejuang berjalan jauh, tidur seadanya, kekurangan makanan, dan menghadapi berbagai bahaya. Mereka tidak mengenal pendingin udara. Mereka tidak punya kursi empuk untuk menunggu perjuangan selesai.
Tentu zaman sudah berubah. Kita tidak mungkin meminta semua pejabat hidup seperti pejuang pada masa lalu. Negara membutuhkan ruang kerja yang layak, kendaraan yang memadai, dan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Tetapi jangan sampai fasilitas membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya berdiri bersama orang-orang yang dilayaninya.
Sebab jarak antara pemimpin dan rakyat terkadang tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia bisa terlihat dari hal kecil. Dari tempat duduk. Dari pagar pembatas. Dari kendaraan yang datang lebih dulu. Dari ruang khusus. Atau dari sebuah tenda yang berdiri di tengah lapangan.
Barangkali karena itulah upacara selalu menarik untuk direnungkan. Di sana semua orang datang membawa jabatan, pangkat, seragam, dan kedudukan masing-masing. Namun ketika bendera dikibarkan, semuanya berdiri untuk penghormatan yang sama.
Bendera tidak punya jabatan. Lagu kebangsaan tidak punya pangkat. Tanah tempat upacara berlangsung juga tidak mengenal siapa yang pejabat dan siapa yang pasukan. Hanya manusia yang terkadang membuat jarak.
Upacara selesai. Pasukan membubarkan barisan. Mereka mengusap peluh dan kembali menjalankan tugas. Tenda-tenda mulai dibongkar. Kursi-kursi diangkut. Pejabat meninggalkan lokasi dan kembali ke ruang kerja masing-masing.
Barangkali setelah itu tidak ada lagi yang memikirkan siapa yang kepanasan dan siapa yang berteduh. Namun barangkali ada baiknya sesekali kita memikirkannya.
Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara tentang pengorbanan. Terkadang cukup berdiri bersama orang-orang yang sedang berkorban. Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu slogan. Cukup keluar dari tempat teduh, berdiri di bawah matahari, dan merasakan sebentar peluh orang-orang yang selama ini berdiri untuk menjalankan upacara.
Pasukan boleh berpeluh. Pejabat boleh berteduh. Tetapi jangan sampai jarak antara peluh dan teduh menjadi jarak antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









