ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang yang biasanya menjadi tempat aktivitas para tamu hotel itu seolah berubah menjadi taman bermain sekaligus ruang belajar bagi anak-anak usia 3–6 tahun.
Wajah anak-anak itu betul-betul lepas. Jika sebelumnya mereka berekspresi di atas panggung, selanjutnya mereka berkreativitas bersama di halaman hijau. Suasananya akrab, penuh kebersamaan, dan terasa seperti berada di tengah keluarga besar yang damai.
Gambaran itulah yang terasa dalam kegiatan Gelar Karya bertajuk “Lihat Kebunku” yang dilaksanakan Bimba Rainbow Taman Giri di Alindra Villas & Spa, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali, Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-3 Bimba Rainbow Taman Giri yang berlokasi di Kelurahan Benoa itu.

Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun, acara yang mengusung tema “Lihat Kebunku” itu memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi bagian dari proses pendidikan anak usia dini. Di balik setiap penampilan terdapat proses pembelajaran yang menempatkan seni sebagai sarana untuk membangun keberanian, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, sekaligus mengenalkan nilai keberagaman sejak usia dini.
“Kami sengaja memilih tema “Lihat Kebunku” karena filosofi, bahwa setiap anak memiliki karakter dan potensi masing-masing untuk tumbuh dan berkembang. Kami menganggap anak-anak semua sebagai bunga. Mereka berbunga dan berbuah, sehingga nantinya bisa membanggakan orang tua dan negara,” ujar Pengelola Bimba Rainbow Taman Giri, Michelle Natasha Lois, di sela-sela acara.
Seni sebagai Ruang Tumbuh
Gagasan tentang setiap anak yang memiliki karakter dan potensi berbeda itu kemudian terlihat dalam berbagai penampilan yang disuguhkan. Sebanyak 105 dari 157 siswa ambil bagian dalam gelar karya tersebut. Mereka menampilkan berbagai karya seni yang diciptakan dan dipersiapkan bersama para tutor. Pertunjukan diawali dengan gerak dan lagu, kemudian dilanjutkan drama mini musikal bertema “Maukah Kamu Berteman Denganku”. Pertunjukan tersebut mengangkat pesan sederhana, namun penting bagi anak-anak, yakni belajar menerima perbedaan dan membuka diri untuk berteman dengan siapa saja.
Pesan tentang keberagaman juga hadir melalui penampilan berikutnya. Ada pula penampilan menyanyi dengan tema “Lihat Kebunku”. Anak-anak tampil sebagai bunga matahari, bunga lili, lebah, dan berbagai karakter lainnya. Keberagaman peran dan kostum tersebut bukan sekadar unsur visual pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan bahwa setiap anak memiliki karakter dan keunikan masing-masing.

Menariknya, dalam proses tersebut, anak-anak tidak dibebani tuntutan untuk tampil sempurna. Yang lebih penting adalah keberanian mereka untuk mencoba. “Dalam penyajian anak-anak itu, bukan dituntut masalah benar dan salah, sempurna atau tidak sempurna, tetapi lebih kepada menuntut rasa berani,” sebut Michelle.
Keberanian itu kemudian terlihat dalam penampilan sejumlah anak yang tampil secara mandiri di hadapan penonton. Ada yang menyanyikan lagu dengan iringan gitar hingga membacakan teks Pancasila. Bagi orang dewasa, penampilan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak usia dini, berdiri di atas panggung, berbicara di depan banyak orang, dan menyelesaikan penampilan merupakan proses penting dalam membangun kepercayaan diri. “Ada juga yang berani tampil sendiri membawakan sebuah lagu dengan diiringi sebuah gitar, sampai membacakan teks Pancasila,” ujarnya.
Keberanian yang tumbuh melalui pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan anak usia dini tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung. Di Bimba Rainbow Taman Giri, proses belajar menggunakan pendekatan Play-Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis bermain.
Melalui permainan dan aktivitas kreatif, anak mendapatkan stimulasi terhadap berbagai aspek perkembangan, mulai dari sosial, emosional, kognitif, bahasa, hingga kemampuan motorik kasar dan halus. “Anak-anak di sini tidak hanya sekadar datang, kemudian mengerjakan lembar soal lalu pulang. Kami mengajak mereka belajar sambil bermain dan bermakna. Makanya tagar kami adalah belajar, bermain, dan bermakna,” jelas Michelle.
Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, proses pendidikan tidak dapat diseragamkan begitu saja. Pendekatan personal menjadi bagian penting agar setiap anak memperoleh ruang untuk berkembang sesuai potensinya.

Konsep pendidikan holistik tersebut menempatkan perkembangan anak secara lebih utuh. Anak tidak hanya diarahkan untuk memiliki kemampuan akademis, tetapi juga belajar bersosialisasi, mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, bekerja sama, serta memahami lingkungan di sekitarnya.
Dalam proses seperti itu, seni memiliki ruang yang cukup penting. Bernyanyi, menari, bermain drama, atau sekadar tampil di depan orang lain dapat menjadi media belajar yang menyenangkan. Anak belajar berkomunikasi, mendengarkan, mengikuti aturan, mengingat peran, menunggu giliran, dan menghargai teman.
Keberanian yang Tumbuh dari Bermain
Semua proses tersebut tentu membutuhkan pendampingan yang tidak sedikit. Mendampingi anak usia 3–6 tahun bukan pekerjaan sederhana. Pada usia tersebut, anak sedang berada dalam fase penting pembentukan karakter dan perkembangan berbagai kemampuan dasar.
Michelle mengakui terdapat suka dan duka dalam mendampingi mereka. Salah satu momen yang terasa berat adalah ketika harus berpisah dengan anak-anak yang telah mendapatkan bimbingan di Bimba Rainbow Taman Giri karena mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.


“Dukanya mungkin saat ditinggal mereka. Kami akui, untuk meng-handle anak-anak usia 3–6 tahun itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah,” ungkapnya.
Karena itu, peran tutor tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan materi. Tutor juga dituntut memiliki kesabaran, kepedulian, dan kecintaan terhadap dunia anak. “Acara sukses hari ini juga berkat miss-miss-nya atau tutor, selain kerja sama dengan anak-anak dan orang tuanya,” jelas Michelle.
Selain tutor, orang tua memiliki peran yang tidak kalah penting. Kolaborasi antara tutor dan orang tua menjadi bagian dari proses tersebut. Pendidikan anak usia dini tidak hanya berlangsung di ruang belajar, tetapi juga berlanjut di rumah dan lingkungan sosial anak.
Apa yang dilakukan para tutor kemudian dapat dilihat dari pengalaman orang tua yang mengikuti perkembangan anak-anak mereka. Pengalaman tersebut dirasakan pula oleh orang tua peserta. Mama Greta dan Greya mengaku melihat perubahan pada keberanian dan kemampuan sosial anak setelah mengikuti proses pembelajaran di Bimba Rainbow Taman Giri.
Menurutnya, anak-anak kini lebih menikmati kegiatan bersama dan tidak lagi mudah merasa malu ketika harus tampil di hadapan banyak orang. “Kegiatan gelar karya membuat si anak sangat berani. Mereka tidak ada lagi rasa enggan atau malu saat tampil. Tidak ada wajah sedih, mereka bermain-main saja dan sangat enjoy dalam kegiatan ini,” akunya polos.
Ia juga melihat, pembelajaran yang diberikan tidak berhenti pada kemampuan akademis. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar berinteraksi, mengenal karakter orang lain, dan membangun hubungan sosial. “Mereka tidak belajar menulis dan membaca saja, tetapi juga belajar karakter. Mereka di sini semuanya mau bergaul dengan siapa saja, tidak memilih-milih teman dan mereka aktif,” akunya.

“Lihat Kebunku” pun tidak berhenti sebagai pertunjukan anak-anak di atas panggung. Setelah penampilan selesai, halaman hijau itu kembali menjadi tempat mereka bermain dan berinteraksi. Namun, pengalaman yang mereka jalani selama proses latihan dan pertunjukan telah memberi ruang untuk mencoba, tampil, bekerja sama, dan mengenal teman-temannya.
Setiap anak seperti bunga di dalam sebuah kebun. Ada yang tumbuh cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani tampil di depan, ada pula yang masih membutuhkan pendampingan. Namun semuanya memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Melalui seni, bermain, dan interaksi sosial, anak-anak belajar mengenal dirinya sekaligus belajar memahami orang lain.
Pagi itu, halaman hijau Alindra Villas & Spa menjadi ruang bagi mereka untuk mencoba. Ada yang bernyanyi, bermain peran, membacakan Pancasila, dan tampil dengan gitar. Ada pula yang mungkin masih malu-malu. Semua mendapat kesempatan untuk berada di tengah teman-temannya dan menikmati prosesnya.
Seperti kebun yang dirawat dengan cara berbeda untuk setiap tanamannya, anak-anak pun membutuhkan ruang tumbuh yang sesuai dengan karakter dan potensinya. Tugas orang dewasa adalah menemani proses itu, memberi kesempatan, dan membiarkan mereka berkembang tanpa harus menjadi sama.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























