“Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita.”
KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya sederhana. Makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan yang sudah lama menjadi bagian dari ingatan banyak orang Tangerang: Rumah Makan Hj. Kokom. Sepiring ayam goreng yang renyah, semangkuk sayur asem yang segar dengan aroma khas kampung, dan ikan bakar yang matang sempurna menjadi alasan perjalanan itu. Kadang-kadang, rasa mampu membawa manusia melakukan perjalanan yang jauh, bukan hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu.
Sesudah makan siang, saya berjalan perlahan menuju tepian danau. Angin sore berembus pelan. Air bergelombang kecil, seolah sedang membaca doa-doa yang diam-diam diucapkan langit. Di kejauhan, beberapa anak tertawa menaiki perahu bebek. Para pemancing duduk tenang, seakan sedang berunding dengan kesabaran. Orang-orang berlari kecil di lintasan jogging, mengejar kesehatan, sementara matahari perlahan belajar menjadi senja.
Semuanya tampak biasa. Namun justru pada hal-hal yang biasa itulah kehidupan sering menyembunyikan keajaibannya.
Entah mengapa, langkah saya tiba-tiba terasa ringan, seolah-olah waktu berhenti berjalan. Danau itu tidak berubah banyak. Airnya masih memantulkan langit, anginnya masih membawa aroma yang sama. Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepinya.
Dahulu, untuk sampai ke Situ Cipondoh, kami harus mengayuh sepeda dari kampung kami di Pabuaran Kilaut. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Bagi anak-anak seusia kami, delapan kilometer bukanlah perjalanan yang pendek. Namun anehnya, tidak pernah terasa melelahkan. Barangkali karena yang kami kayuh bukan hanya roda sepeda, melainkan juga rasa ingin tahu yang sedang tumbuh bersama usia.

Kami berangkat pagi-pagi, sering kali setelah matahari mulai menghangatkan pematang sawah. Sepeda-sepeda kami sederhana, bahkan sebagian sudah berkali-kali ditambal bannya. Tidak ada yang mengeluh. Di sepanjang jalan kami saling bercanda, sesekali berlomba siapa yang lebih dahulu mencapai tikungan berikutnya. Delapan kilometer itu berubah menjadi ruang persahabatan yang tidak pernah kami hitung dengan satuan jarak, melainkan dengan gelak tawa.
Ketika akhirnya sampai di tepian Situ Cipondoh, segala rasa lelah seolah lenyap begitu saja. Hamparan air yang luas, angin yang berembus lembut, dan rindangnya pepohonan menjadi hadiah yang tidak pernah gagal membuat kami ingin kembali pada pekan berikutnya.
Kini, ketika saya berdiri kembali di tepi danau itu, usia tiba-tiba kehilangan maknanya. Yang hadir bukan lagi seorang profesor, bukan pula seorang dosen yang telah puluhan tahun mengajar di ruang-ruang kuliah. Yang berdiri di sana adalah anak kecil dari Pabuaran Kilaut yang pernah mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer hanya untuk bertemu dengan sebuah danau.
Betapa sederhana kebahagiaan masa itu. Kami tidak memiliki telepon genggam untuk memotret setiap momen. Tidak ada media sosial tempat memamerkan perjalanan. Tidak ada istilah “healing”, “selfie”, atau “konten”. Kami hanya membawa sepeda, bekal seadanya, tawa yang tidak dibuat-buat, dan rasa ingin tahu yang begitu besar kepada dunia.
Kami datang bukan untuk mencari tempat yang indah. Kami datang karena dunia masih terasa luas. Kini saya memahami bahwa pada masa kecil itu kami sesungguhnya sedang belajar tentang kebebasan. Angin yang menerpa wajah ketika mengayuh sepeda ternyata sedang mengajarkan arti perjalanan. Jalan yang panjang ternyata sedang melatih ketekunan. Dan Situ Cipondoh diam-diam sedang mengajarkan bahwa air yang tenang pun memiliki pekerjaan besar: menyimpan kehidupan.

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa Situ Cipondoh dibangun pada sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat penampungan air, irigasi sawah, sekaligus pengendali banjir.
Ironisnya, manusia sering hanya melihat fungsi. Padahal setiap tempat juga menyimpan jiwa. Danau bukan sekadar cekungan yang dipenuhi air. Ia adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu. Setiap riaknya membawa cerita. Setiap embus anginnya menyimpan percakapan yang pernah singgah. Ia melihat generasi datang dan pergi, tetapi tidak pernah merasa perlu menceritakan semuanya.
Danau tidak pernah berbicara. Tetapi ia tidak pernah lupa. Kini kawasan Situ Cipondoh berubah menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang untuk berolahraga, memancing, menikmati kuliner, atau menunggu matahari tenggelam. Sebagian menyebutnya “Sydney-nya Tangerang” karena bangunan beratap di tepi danau mengingatkan pada Opera House di Australia. Julukan itu tentu menarik, tetapi sesungguhnya Situ Cipondoh tidak memerlukan perbandingan dengan kota mana pun.
Ia telah memiliki keindahannya sendiri. Keindahan yang lahir bukan dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kesetiaannya menemani waktu.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Situ Cipondoh justru mengajarkan cara melambat. Air tidak pernah tergesa-gesa mencapai hilir. Pohon tidak pernah memaksa daunnya segera gugur. Matahari pun selalu sabar menunggu saat yang tepat untuk tenggelam.

Barangkali hanya manusia yang sering terburu-buru. Kita tergesa mengejar jabatan, mengejar harta, mengejar pengakuan, seakan-akan hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi kenangan dalam ingatan orang lain, sebagaimana masa kecil yang tiba-tiba datang ketika saya berdiri di tepian Situ Cipondoh.
Saya kemudian teringat satu hal yang sering dilupakan manusia. Ingatan ternyata memiliki alamat. Ia tidak tinggal di kepala, melainkan bersembunyi di tempat-tempat yang pernah kita cintai.
Sebuah jalan kampung. Sebatang pohon. Suara burung pada pagi hari. Aroma sayur asem yang baru diangkat dari tungku. Atau sebuah danau yang pernah menjadi tujuan perjalanan sepeda anak-anak pada setiap akhir pekan.
Mungkin itulah sebabnya orang sering merasa damai ketika kembali ke tempat yang pernah dikenalnya. Bukan karena tempat itu masih sama, melainkan karena sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.
Saya pulang menjelang senja. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menari di permukaan air, seolah-olah sedang menulis puisi yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

Saya datang untuk makan siang. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring ayam goreng atau ikan bakar. Saya pulang membawa kembali masa kecil.
Dan saya menyadari, perjalanan yang paling jauh ternyata bukan perjalanan dari rumah menuju Situ Cipondoh. Melainkan perjalanan dari usia kita hari ini menuju anak kecil yang masih diam-diam tinggal di dalam hati.
Sebab waktu memang terus berjalan. Namun tempat-tempat yang pernah kita cintai memiliki cara yang lembut untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang berlalu benar-benar hilang. Sebagian tetap tinggal. Menunggu kita pulang.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole






























