SAYA bersyukur menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina remaja SMA. Posisi itu sangat strategis dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan budaya dalam konteks mewujudkan SDM Bali Unggul. Salah satu kegiatan ke arah itu adalah Kemah Budaya yang diselenggarakan oleh Kader Pelestari Budaya (KPB) Kabupaten Badung selama tiga hari, Senin – Rabu, 27 – 29 Juli 2026 bertempat di Banjar Menega Desa Adat Jimbaran. Kemah Budaya ini diikuti 52 peserta melibatkan 13 SMA Negeri se-Kabupaten Badung.
Dari spanduk yang terpasang di tempat acara, Kemah Budaya ini sudah memasuki usia 15 tahun, nyaris seusia dengan umur mereka yang berkemah. Menarik dikulik, tema Kemah Budaya XV di Kabupaten Badung : “Sraddha Nirpachati” yang bermakna keteguhan hati yang tulus dalam memperkuat keyakinan luhur untuk memperkuat jati diri sebagai manusia Bali. Di bawah spanduk tertulis : “Tema ini didedikasikan kepada Ida Bagus Made Ari Segara” yang menggagas tema Kemah Budaya Kabupaten Badung Tahun 2026. Beliau adalah akademikus FIB Unud sekaligus kader pembina Budaya Provinsi Bali yang berasal dari Gianyar. Sayangnya, beliau meninggal pada Mei 2026, sebelum Kemah Budaya Badung digelar. Semoga beliau Manunggal ring Sangkan Paraning Dumadi.
Walaupun tema Kemah Budaya ini dikritik oleh Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, Bandesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan, tidak mengurungkan niat remaja SMA ini untuk mundur setapak pun dari arena perkemahan. Menurutnya, sebaiknya tema menggunakan Bahasa Bali, bukan Bahasa Kawi. Ia seraya mencontohkan ogoh-ogoh yang menjadi juara di Badung 2026, berjudul “Maguru Satua” dari Sekaa Teruna Tunas Mekar Banjar Umahanyar Penarungan Mengwi.

Terlepas dari kritik itu, saat Sarasehan Budaya yang berlangsung malam hari, 28 Juli 2026 ditengah dingin menyusup, peserta sangat antusias mengikuti. Bandesa Alitan MDA Kuta Selatan yang menjadi narasumber membeberkan sejarah Jimbaran hingga berdirinya Pura Ulun Swi termasuk pantangan bagi mereka yang berkarya (sastra) tanpa mencantumkan nama sebagai pengarang. Pernyataan itu memancing banyak pertanyaan seputar tradisi dan keunikan Jimbaran dari peserta sebagai tanda tingginya rasa ingin tahu. Bandesa Alitan yang mantan Bandesa Jimbaran dengan cerdas menjawab pertanyaan peserta karena menguasai perkembangan sejarah Jimbaran sebelum dan sesudah pariwisata booming hingga kini menjadi daerah destinasi wisata yang terkenal dengan kuliner ikan bakarnya. Ikan bakar Jimbaran tidak hanya ada di Bali, tetapi juga di Jakarta dan Bandung.
Saya yang memandu diskusi, menambahkan kecenderungan karya seni (sastra) lama bersifat anonim karena karya itu dipandang milik komunal (bersama) sesuai dengan sifat masyarakat lama yang agraris. Saya mencontohkan lagu Ketut Garing, Dadong Dauh, Putri Cening Ayu, Meong-Meong. Semuanya tanpa pengarang. Agar tidak dicuri orang, Pemerintah Provinsi Bali dapat mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI sebagai kekayaan nirbenda. Dengan cara itulah, seni budaya Bali diselamatkan dari plagiasi orang luar yang tidak bertanggung jawab.
Kegiatan Kemah Budaya yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti dengan antusias oleh peserta dari enam Kecamatan di Kabupaten Badung. Diisi dengan Keterampilan Budaya Bali : Ngulat Sengkui bagi laki-laki, membuat tamiang bagi perempuan, lomba berpakaian adat berpasangan ke Pura, Sarasehan Budaya, Lomba ngorta, observasi lapangan dibagi tiga kelompok : Wawancara mendalam ke rumah tokoh masyarakat, Observasi ke Pura Ulun Swi Jimbaran, dan Observasi ke Pantai Jimbaran. Menyaksikan mereka serius bertanya, mendengarkan, dan mencatat dalam observasi lapangan, mencerminkan kesungguhan belajar dengan kesadaran dan bermakna. Dalam konteks pendekatan belajar, inilah yang disebut pembelajaran mendalam (deep learning aproach).

Antusiasme juga tampak saat mereka mendiskusikan dan merefleksikan hasil wawancaranya dalam kelompok. Dinamika kelompok hidup. Komunikasi berjalan santun. Humanis. Parameter komunikasi dipraktikkan dengan baik. Etika dan estetika komunikasi mencerminkan kompetensi peserta. Secara keseluruhan, Kemah Budaya ini salah satu wadah pembentukan SDM Bali Unggul sesuai dengan visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Seluruh peserta tampak bermental jengah malajah : semangat juang yang kuat, kompetitif, pantang menyerah, tidak mudah puas untuk memajukan diri. Semangat belajar sepanjang hayat.
Dari Kemah Budaya ini, banyak hal yang didapat peserta. Pengalaman belajar yang baru, teman baru dari berbagai sekolah, membangun kekompakan kelompok, melatih kemandirian, kesempatan bertanya sebagai strategi belajar, bertemu tokoh adat dan budaya, mengenal lingkungan Jimbaran dengan dinamika dan tantangannya. Mereka juga mengenal sejarah Jimbaran masa lalu, kini, dan harapan nanti. Semua itu diperoleh peserta secara gratis ala pasraman. Duduk melingkar secara setara. Tanpa sekat antara yang dinobatkan sebagai narasumber dengan peserta. Model belajar demikian identik dengan cara Ki Hadjar Dewantara dalam tradisi Selasa Kliwonan yang digelar rutin setiap 35 hari di Perguruan Tamansiswa, tempo doeloe.
Kemah Budaya XV Badung ini dibuka dengan Tari Sekar Jepun dibawakan oleh peserta kemah mendapat sambutan hangat dari para undangan. Dalam sambutannya, I Komang Pande Daniawan selaku Koordinator Umum KPB (2026-2027) mengatakan Kemah Budaya XV ini diinisiasi untuk melunasi tiga janji Kader Budaya : Melestarikan budaya Bali, mendidik krama akan pentingnya penguatan budaya, serta menjaga nama baik diri dan lembaga. “Tiga janji utama saking Kader Pelestari Budaya inggih punika : ngelestariang budaya Bali, ngawerdiang krama indik mabuatnyane pelestarian budaya, lan ngajegang parab sane becik saking raga lan organisasi”, baos Daniawan sisya SMA Negeri 2 Kuta Utara.
Kristina, S.Pd. yang mewakili Koordinator Pembina KPB Bali, mengajak peserta dan undangan untuk bahu-membahu mengajegkan budaya Bali sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas menurut swadarma masing-masing. “Ketika masih SMA, dikukuhkan bersama 6 anggota sebagai KPB Provinsi Bali pada 2012, saya menanggung beban berat. Namun, saya nikmati prosesnya. Itulah yang menginspirasi saya untuk menjadikan kebudayaan sebagai dasar berpikir, berkata, dan bertindak. Kebudayaan mengalir dalam darah kita untuk mengambil keputusan strategis”, demikian harapan Kristina sebagai senior kepada peserta yang masih yunior duduk di bangku SMA.


Harapan Kristina, guru Biologi SMA Negeri 2 Kuta Selatan itu didukung oleh Drs. I Wayan Bengkur, petajuh Bandesa Desa Adat Jimbaran. “Kami mendukung kegiatan Kemah Budaya XV di Banjar Menega Jimbaran. Bila ada hal-hal yang diperlukan, silakan datang ke Sekretariat Desa Adat Jimbaran. Untuk memperkuat jati diri manusia Bali, kita perlu memperkuat budayanya. Kami akan all out untuk itu di tengah turbulensi budaya, lebih-lebih di Jimbaran kini. Salam Budaya ; Lestarikan !”, tandas petajuh Bandesa Jimbaran mewakili Bandesa yang berhalangan hadir seraya membuka Kemah Budaya dengan Pemukulan Gong didampingi panitia dan Perwakilan Balai Pelestari Budaya Provinsi Bali.
Secara keseluruhan Kemah Budaya selama tiga hari di Jimbaran berjalan lancar. Sebelum penutupan, diumumkan Juara Lomba yang digelar selama Kemah berlangsung. Juara Umum 1 SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Juara Umum 2 SMA Negeri 1 Kuta Utara, dan Juara Umum 3 SMA Negeri 2 Kuta. Kemah ditutup oleh Dewa Eka selaku pembina. “Secara keseluruhan, Kemah Budaya XV di Kabupaten Badung berjalan lancar berkat panitia yang siaga dan solid bergerak. Saya berharap Kemah Budaya ke depan berdampak langsung dengan hasil karya nyata untuk pelestarian budaya khususnya di Badung. Selanjutnya, jalinan silaturahmi ini jangan sampai putus. Tingkatkan kolaborasi sebagai Kader Penggerak Budaya”, kata Dewa Eka seraya menyatakan Kemah Budaya XV Kabupaten Badung ditutup secara resmi.
Peserta Kemah Budaya XV Badung pulang membawa berita dan cerita indah berbaur sedih, mungkin. Namun, pengalaman berharga ini tetap milik mereka yang mengalami prosesnya. Pendidikan adalah proses menjadi. Tidak sekali jadi, Tidak lalah tabia, begitu digigit terasa pedasnya. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, nikmatnya hasil setelah puluhan tahun. Begitulah, Pendidikan yang berkebudayaan dengan akar kuat berkat Kemah Budaya yang memberdayakan. Kemah Budaya adalah ajang penguatan SDM Bali Unggul.

Sayangnya, KPB belum terbentuk di semua Kabupaten/Kota se-Bali. KPB yang belum terbentuk adalah Buleleng, Bangli, Klungkung, dan Karangasem. KPB yang sudah terbentuk dan aktif bergerak adalah Badung, Denpasar, Tabanan, Gianyar, dan Jembrana. “Diperlukan mental baja dengan semangat menyala untuk pembentukan KPB di masing-masing Kabupaten/Kota. Apalagi organiasi ini bersifat independen. Diperlukan orang-orang yang sungguh-sungguh untuk mengabdi pada kebudayaan”, kata Kristina yang sudah 15 tahun berperan aktif sebagai KPB Provinsi Bali.
Salam Budaya ; Lestarikan !






























