31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
in Khas
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Moderator dan narasumber Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi” | Dokumentasi Tim Listibya Kecamatan Mengwi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi seni tontonan yang menyuguhkan atraksi panggung, tidak sebatas audio, namun visualnya juga semakin “menggila”.

Baleganjur merupakan salah satu bentuk musikal karawitan Bali yang memiliki daya hidup dan kemampuan adaptasi yang sangat kuat. Berawal dari fungsi utamanya sebagai musik prosesi yang mengiringi berbagai kegiatan ritual dan sosial masyarakat Bali, Baleganjur dalam perkembangannya telah mengalami transformasi yang cukup signifikan. Ia tidak lagi hanya hadir sebagai musik pengiring perjalanan atau prosesi, tetapi berkembang menjadi sebuah bentuk seni pertunjukan yang memiliki kekuatan musikal sekaligus visual.

Fenomena perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi”. Kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pengalaman, pengetahuan, dan gagasan kreatif para seniman dengan generasi pelaku Baleganjur masa kini. Workshop dimoderatori oleh I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn., dengan menghadirkan dua tokoh penting dalam perkembangan kreativitas karawitan Bali, yaitu I Ketut Gede Asnawa, S.Skar., M.A. dan I Wayan Widia, S.Skar.

Kegiatan ini tidak semata-mata diarahkan untuk memberikan keterampilan teknis dalam memainkan Baleganjur, tetapi lebih jauh menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana Baleganjur dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisi dan karakter musikalnya.

Kegiatan yang menampilkan identitas “Baleganjur Gejer Mengwi” mempertegas bahwa workshop ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kreativitas Baleganjur di wilayah Mengwi.

Moderator dan narasumber Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi” | Dokumentasi Tim Listibya Kecamatan Mengwi

I Ketut Gede Asnawa: Membaca Jejak Perjalanan Baleganjur

I Ketut Gede Asnawa merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan karawitan Bali, khususnya dalam wilayah penciptaan musik instrumental dan pengembangan Baleganjur. Lahir di Denpasar pada 26 Desember 1955, perjalanan akademik dan profesionalnya memperlihatkan pengalaman yang panjang, baik dalam pendidikan seni di Bali maupun dalam lingkungan akademik musik internasional.

Ia pernah menjadi pengajar di Kokar Bali/SMKI pada periode 1981–2003. Pengalaman profesionalnya kemudian berkembang hingga ke luar negeri, antara lain sebagai pengajar gamelan di School of Music, Universitas Montreal, Kanada pada 1997, pengajar di School of Music, University of Missouri–Kansas City pada 2003–2006, serta sebagai profesor bidang musikologi di School of Music, University of Illinois Urbana-Champaign pada 2006–2021.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif yang luas dalam melihat perkembangan musik Bali. Dalam konteks Baleganjur, Asnawa dikenal sebagai salah satu tokoh yang turut mendorong perkembangan kreativitas Baleganjur di Kabupaten Badung, termasuk dalam konteks perlombaan Baleganjur. Sejak 1979 hingga 2025, ia telah menghasilkan berbagai karya karawitan instrumental. Dalam catatan yang disampaikan pada workshop, tercatat sekitar 36 karya tabuh instrumental dan 25 jenis iringan tari/dramatari yang telah diciptakannya.

Dalam workshop ini, I Ketut Gede Asnawa menyampaikan materi berjudul “Baleganjur: Jejak dan Perkembangannya hingga Kini.” Materi tersebut tidak hanya menjelaskan sejarah perkembangan Baleganjur, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi musikal dapat mengalami perubahan melalui proses kreativitas, eksperimentasi, kompetisi, dan perubahan selera masyarakat.

Baleganjur: Dari Musik Prosesi Menuju Seni Pertunjukan

Salah satu hal menarik yang muncul dalam workshop adalah pembacaan terhadap perjalanan Baleganjur dari masa ke masa. Baleganjur pada dasarnya memiliki kekuatan musikal yang mampu menginspirasi lahirnya berbagai bentuk kreativitas baru.

Pada sekitar tahun 1984, musikalitas Baleganjur menjadi salah satu sumber inspirasi dalam penciptaan Gamelan Adi Merdangga oleh ASTI. Hal ini menunjukkan bahwa Baleganjur tidak hanya memiliki fungsi sebagai perangkat musik prosesi, tetapi juga memiliki potensi musikal yang dapat dikembangkan menjadi sumber penciptaan bentuk-bentuk baru dalam karawitan Bali. Perkembangan berikutnya terlihat semakin jelas ketika Baleganjur mulai memasuki ruang perlombaan. Menurut paparan dalam workshop, perkembangan lomba Baleganjur di Kabupaten Badung mulai berlangsung pada 1986, dimotori oleh Himpunan Seniman Remaja Kabupaten Badung dan diprakarsai oleh I Nyoman Sugama dalam rangka memperingati HUT Puputan Badung ke-80.

Pada masa tersebut, I Ketut Gede Asnawa turut berperan sebagai salah satu konseptor kegiatan. Perlombaan dilaksanakan melalui beberapa titik pertunjukan, antara lain di depan Kodam Udayana, depan Bali Hotel, dan depan Pura Jagatnatha. Juara pertama diraih Sekaa Baleganjur Belaluan Sad Merta, juara kedua Sekaa Gong Kalingga Jaya Banjar Kaliungu, dan juara ketiga Sekaa Gong Kayu Mas.

Peristiwa tersebut penting dalam sejarah perkembangan Baleganjur karena perlombaan menciptakan ruang kompetisi sekaligus ruang eksperimen. Sekaa-sekaa tidak lagi hanya dituntut untuk memainkan Baleganjur sebagaimana fungsi tradisionalnya, tetapi mulai memikirkan bentuk penyajian, struktur musikal, teknik permainan, serta cara membangun daya tarik pertunjukan.

Rekaman karya Sekaa Gong Kalingga Jaya pada masa tersebut juga menjadi salah satu dokumentasi penting yang kemudian dapat menjadi rujukan bagi perkembangan kreativitas karya-karya Baleganjur berikutnya.

Eksperimentasi Teknik dan Perkembangan Bahasa Musikal

Salah satu contoh penting mengenai proses kreativitas disampaikan melalui pengalaman I Ketut Gede Asnawa dalam mengeksplorasi ceng-ceng Baleganjur. Pada praktik tradisional, ceng-ceng memiliki teknik permainan tertentu yang telah menjadi bagian dari karakter musikal Baleganjur. Asnawa kemudian mencoba memperluas kemungkinan bunyi instrumen tersebut dengan memainkan ceng-ceng melalui posisi miring dan menggunakan panggul dengan teknik tertentu untuk menghasilkan kontur suara yang berbeda.Eksperimentasi tersebut kemudian dituangkan dalam karya “Kosong” pada 1984.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa inovasi musikal tidak selalu harus dilakukan dengan mengganti instrumen atau menghilangkan karakter tradisi. Inovasi dapat muncul dari cara memperlakukan instrumen yang sudah ada. Dengan demikian, tradisi dan kreativitas tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan, tetapi sebagai dua unsur yang dapat saling memperkuat.

Baleganjur kemudian semakin mendapatkan respons dari masyarakat. Sekaa-sekaa yang sebelumnya memainkan Baleganjur dalam konteks tradisional mulai melakukan penataan baru. Muncul kelompok-kelompok baru, repertoar baru, serta pola penyajian yang semakin beragam.

Dari Audio Menuju Visual: Perubahan Orientasi Pertunjukan

Perkembangan perlombaan Baleganjur kemudian membawa konsekuensi terhadap bentuk penyajiannya. Selain musikalitas, mulai muncul perhatian yang semakin besar terhadap gerak penabuh, koreografi, kostum, teatrikal, dan unsur visual lainnya.

Menurut paparan dalam workshop, perkembangan tersebut semakin terlihat dalam berbagai perlombaan Baleganjur, termasuk dalam rangkaian kegiatan HUT Puputan Badung. Pengalaman mengikuti lomba pada periode 1997–2003 menunjukkan bahwa Baleganjur semakin berkembang sebagai sebuah bentuk pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan audio.

Perkembangan berikutnya semakin kuat ketika Baleganjur hadir dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Lomba Baleganjur di PKB mulai berlangsung pada 2013. PKB kemudian dipandang sebagai salah satu “laboratorium kreativitas” yang memungkinkan seniman terus melakukan eksperimen dan melahirkan inovasi baru. Dari proses tersebut kemudian muncul fenomena baru: unsur visual semakin dominan dalam pertunjukan Baleganjur. Gerak teatrikal, kostum, koreografi, formasi pemain, dan efek kejutan menjadi bagian penting dari strategi penyajian.

Baleganjur kemudian tidak hanya “didengar”, tetapi juga “dilihat”.Perubahan ini memperlihatkan bahwa Baleganjur telah mengalami perluasan fungsi estetis. Musik tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berada dalam sebuah kesatuan pertunjukan yang melibatkan berbagai unsur seni. Namun demikian, perkembangan tersebut juga melahirkan pertanyaan mendasar: apakah kekuatan visual yang semakin dominan justru berpotensi menggeser kekuatan musikal Baleganjur?

“Sajikan dan Nikmati Baleganjur dari Audionya” Salah satu pesan penting I Ketut Gede Asnawa dalam workshop adalah perlunya mengembalikan perhatian terhadap kekuatan musikal Baleganjur.

“Sajikan dan nikmati Baleganjur dari audionya, jangan menonjolkan visualnya.”

Pernyataan tersebut bukan berarti menolak penggunaan unsur visual. Sebaliknya, visual tetap dapat digunakan sebagai bagian dari penyajian, tetapi harus ditempatkan sebagai penguat konsep musikal, bukan sebagai pengganti musikalitas.

Dalam konteks ini, terdapat dua kecenderungan estetika yang dapat diamati dalam perkembangan Baleganjur, yaitu estetika minimalis dan estetika maksimalis. Keduanya dapat menjadi pilihan artistik sesuai dengan gagasan, tema, tujuan, dan konteks pertunjukan. Baleganjur juga berkembang dalam berbagai bentuk situasional, seperti Baleganjur Ngarap, Baleganjur Bebarongan, dan Baleganjur tematik. Setiap bentuk memiliki kebutuhan artistik dan tujuan penyajian yang berbeda.

Karena itu, seorang komposer harus terlebih dahulu memahami mengapa sebuah karya diciptakan, untuk siapa karya tersebut disajikan, dan gagasan apa yang hendak dibangun melalui karya tersebut.

Sedangkan I Wayan Widia menyampaikan materi: Kreativitas, Uger-Uger, dan Batasan.

I Wayan Widia, S.Skar., seorang komposer yang memiliki kiprah panjang dalam perkembangan karawitan Bali di Kabupaten Badung dan Bali secara lebih luas. Lahir di Badung pada 31 Desember 1963, perjalanan kekaryaannya telah berlangsung sejak dekade 1980-an. Pada 1988, ia menciptakan karya Gending Baleganjur di Kabupaten Badung.

Dalam workshop, I Wayan Widia menyampaikan materi “Kreativitas Mencipta Gending Baleganjur: Uger-Uger, Pondasi, dan Batasan.” Penekanannya terletak pada pentingnya memahami fondasi musikal Baleganjur sebelum seorang komposer melakukan inovasi. Kreativitas, menurut pemikirannya, tidak berarti meninggalkan seluruh aturan dan karakter tradisi, tetapi justru berangkat dari pemahaman yang kuat terhadap akar musikal yang telah diwariskan.

Menjaga “Wed/Wit”: Kembali kepada Akar Tradisi

Pesan yang sangat kuat dalam workshop adalah pentingnya menjaga wed/wit, yakni asal-usul dan karakteristik dasar musikal Baleganjur. I Wayan Widia menegaskan bahwa perkembangan kreativitas tidak boleh menyebabkan Baleganjur kehilangan identitas musikalnya. Seorang komposer harus mengetahui sumber dan akar tradisi sebelum melakukan inovasi.

Ungkapan yang digunakan dalam workshop sangat relevan untuk menggambarkan prinsip tersebut:

“Jangan lupa pada akar untuk menumbuhkan pohon yang subur.”

Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa kreativitas yang kuat justru tumbuh dari pemahaman yang kuat terhadap tradisi. Sebuah karya boleh berubah dalam bentuk penyajian, teknik, struktur, maupun visual, tetapi perubahan tersebut seharusnya tetap memiliki hubungan dengan karakter musikal Baleganjur. Dengan demikian, inovasi bukanlah tindakan memutus hubungan dengan masa lalu. Inovasi merupakan proses menafsirkan kembali tradisi dalam konteks kekinian.

Tri Angga sebagai Pondasi Penciptaan

Dalam proses penciptaan Baleganjur, I Wayan Widia juga menekankan pentingnya memahami konsep Tri Angga sebagai salah satu fondasi struktur karya.

Struktur musikal dipahami melalui hubungan antara bagian-bagian yang membangun sebuah kesatuan komposisi. Kawitan dapat dipahami sebagai bagian awal atau pendahuluan yang membuka ruang musikal. Pengawak menjadi bagian yang mengembangkan dan menonjolkan unsur musikal, sementara bagian akhir memberikan penyelesaian terhadap keseluruhan gagasan musikal. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa sebuah komposisi tidak cukup hanya mengandalkan kumpulan motif atau permainan instrumen yang rumit. Sebuah karya harus memiliki arah, struktur, dinamika, intensitas, dan penyelesaian.

Dalam analogi tubuh manusia yang disampaikan Widia, kepala, badan, jantung, hati, dan kaki menjadi simbol hubungan antara ide, musikalitas, irama, rasa, serta daya gerak. Konsep tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya seni dipandang sebagai organisme yang memiliki hubungan antarbagiannya.

Menurut I Wayan Widia, “Gamelan adalah orkestra yg multi fungsi. Penyajian Baleganjur, ada teknik permainan: sesuai pakem, pukulam. teknik bermain: mengacu pada daya kreatif, dasarnya ide gagasan, vokal yang baik, berkonsep. Misalkan implementasi sarana ritual, lingkaran: kepala (pada komposisi disebut pendahuluan, kawitan). Pengawak; menonjolkan unsur musikal disimbolkan sebagai segiempat. Apa yg ada dalam pikiran itu diturunkan kebadan. Jantung sebagai irama, hati simbol rasa, dan bagian yg paling bawah adalah kaki disimbulkan dengan segita. Bayu, sabda, idep. Paling bawah membawa daya tarik. buatkan nafas dan bawa ke hati. Pentingnya tiga dibawah tri; sebagai dasar. Siklus yang wajib diperhatikan yg mengatur kekuatan. Jika dihubungkan dengan garis. Pertikal naik turun wujud persembahan, dan ke samping simbol keseimbangan. Konsep penyajian untuk persembahan terutama kepada penikmat dan juri”.

Garapan harus seimbang, ada trik yang disampaikan. Tidak cukup hanya menampilkan audio namun diperkuat dengan gerak. Bagaimana ngigelin tabuh. Gerak persentasenya sedikit, yang penting kesimbangannya, penuangan ide, divisualisasikan dengan gerak sesuai dengan konteks ide. Gerak hanya sebagi penajaman konsep. Gerak harus beretika, berlogika, berestetika. Dengan demikian, penciptaan Baleganjur tidak hanya berbicara mengenai teknik pukulan, tetapi juga mengenai ide, rasa, struktur, keseimbangan, dan cara menyampaikan gagasan kepada penonton.

Audio sebagai Dasar, Visual sebagai Penguat

Salah satu persoalan penting dalam perkembangan Baleganjur kontemporer adalah hubungan antara audio dan visual. Gerak penabuh, kostum, formasi, dan teatrikal memang dapat meningkatkan daya tarik pertunjukan. Namun, menurut para narasumber, unsur visual seharusnya tidak mengambil alih fungsi utama musik.

Gerak perlu ditempatkan sebagai penajaman konsep. Gerak harus memiliki hubungan dengan ide musikal dan tema yang dibangun. Karena itu, gerak tidak boleh hadir semata-mata untuk menunjukkan atraksi.

Dalam workshop ditegaskan bahwa gerak harus memenuhi tiga prinsip, yaitu:beretika, berlogika, dan berestetika. Artinya, gerak harus memiliki kepantasan, memiliki alasan konseptual, serta menghasilkan kualitas keindahan yang mendukung keseluruhan karya.

Dengan demikian, urutan penciptaan yang ideal adalah membangun kekuatan audio terlebih dahulu, kemudian memperkuatnya dengan visual.

Membangun Imajinasi Penonton

I Ketut Gede Asnawa memberikan penekanan menarik mengenai hubungan antara karya dan penonton. Sebuah karya seni tidak harus selalu menjelaskan gagasannya secara harfiah. Sebaliknya, karya dapat memberikan ruang bagi penonton untuk membangun interpretasinya sendiri. Karena itu, komposer perlu memiliki kemampuan membaca unsur-unsur intrinsik musikal dari sebuah konsep dan imajinasi. Musik, gerak, dan visual harus disusun secara unity, sebagai sebuah kesatuan garapan.

Karya yang terlalu literal atau terlalu riil justru dapat mempersempit ruang imajinasi penonton. Sebaliknya, karya yang memberikan ruang interpretasi memungkinkan penonton membangun pengalaman estetiknya sendiri. Dengan demikian, keberhasilan sebuah pertunjukan Baleganjur bukan hanya ditentukan oleh seberapa rumit teknik yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan komposer membangun intensitas, kemantapan, penjiwaan, serta cara penyampaian gagasan.

Workshop sebagai Ruang Regenerasi

Kehadiran peserta dari berbagai latar menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya merupakan forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antargenerasi.

Dalam konteks pelestarian seni tradisi, keberadaan forum seperti ini memiliki arti penting. Tradisi tidak dapat dipertahankan hanya melalui dokumentasi atau penyimpanan artefak. Tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, keterampilan, nilai, dan cara berpikirnya terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya.

Workshop menjadi salah satu bentuk transmisi tersebut. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang bagaimana memainkan Baleganjur, tetapi juga diajak memahami mengapa Baleganjur memiliki karakter tertentu, bagaimana perkembangannya, serta ke mana arah kreativitasnya dapat dibawa.

Listibya Kecamatan Mengwi bersama para peserta Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi” | Sumber: Dokumentasi Tim Listibya Kecamatan Mengwi.

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi” pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai Baleganjur sebagai bentuk musik, tetapi juga mengenai persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana tradisi dapat terus tumbuh dalam menghadapi perubahan zaman.

Perjalanan Baleganjur memperlihatkan bahwa tradisi memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Dari musik prosesi, Baleganjur berkembang menjadi musik kreasi dan seni pertunjukan dengan kekuatan musikal, koreografis, teatrikal, dan visual. Perkembangan tersebut menunjukkan vitalitas tradisi sekaligus memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi oleh generasi pencipta masa kini.

Kreativitas diperlukan agar Baleganjur tidak berhenti sebagai bentuk masa lalu. Namun, kreativitas juga membutuhkan batas agar perkembangan tidak menyebabkan hilangnya karakter dasar musikalnya. Karena itu, pesan utama workshop dapat dirangkum dalam satu prinsip: semakin tinggi pohon kreativitas tumbuh, semakin kuat pula akar tradisinya harus dipelihara.

Baleganjur boleh berkembang, berinovasi, bereksperimen, dan memasuki ruang pertunjukan baru. Akan tetapi, wed/wit, karakter musikal, struktur, teknik permainan, rasa, dan filosofi yang menjadi akar Baleganjur harus tetap dipahami dan dirawat.

Dengan cara demikian, regenerasi tidak sekadar menghasilkan pemain atau komposer baru, tetapi melahirkan generasi seniman yang mampu memahami tradisi, membaca perubahan zaman, dan menciptakan kebaruan tanpa kehilangan identitas musikalnya. [T]

Tags: baleganjurkarawitanMengwimusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

Next Post

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co