Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi seni tontonan yang menyuguhkan atraksi panggung, tidak sebatas audio, namun visualnya juga semakin “menggila”.
Baleganjur merupakan salah satu bentuk musikal karawitan Bali yang memiliki daya hidup dan kemampuan adaptasi yang sangat kuat. Berawal dari fungsi utamanya sebagai musik prosesi yang mengiringi berbagai kegiatan ritual dan sosial masyarakat Bali, Baleganjur dalam perkembangannya telah mengalami transformasi yang cukup signifikan. Ia tidak lagi hanya hadir sebagai musik pengiring perjalanan atau prosesi, tetapi berkembang menjadi sebuah bentuk seni pertunjukan yang memiliki kekuatan musikal sekaligus visual.
Fenomena perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi”. Kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pengalaman, pengetahuan, dan gagasan kreatif para seniman dengan generasi pelaku Baleganjur masa kini. Workshop dimoderatori oleh I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn., dengan menghadirkan dua tokoh penting dalam perkembangan kreativitas karawitan Bali, yaitu I Ketut Gede Asnawa, S.Skar., M.A. dan I Wayan Widia, S.Skar.
Kegiatan ini tidak semata-mata diarahkan untuk memberikan keterampilan teknis dalam memainkan Baleganjur, tetapi lebih jauh menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana Baleganjur dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisi dan karakter musikalnya.
Kegiatan yang menampilkan identitas “Baleganjur Gejer Mengwi” mempertegas bahwa workshop ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kreativitas Baleganjur di wilayah Mengwi.

I Ketut Gede Asnawa: Membaca Jejak Perjalanan Baleganjur
I Ketut Gede Asnawa merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan karawitan Bali, khususnya dalam wilayah penciptaan musik instrumental dan pengembangan Baleganjur. Lahir di Denpasar pada 26 Desember 1955, perjalanan akademik dan profesionalnya memperlihatkan pengalaman yang panjang, baik dalam pendidikan seni di Bali maupun dalam lingkungan akademik musik internasional.
Ia pernah menjadi pengajar di Kokar Bali/SMKI pada periode 1981–2003. Pengalaman profesionalnya kemudian berkembang hingga ke luar negeri, antara lain sebagai pengajar gamelan di School of Music, Universitas Montreal, Kanada pada 1997, pengajar di School of Music, University of Missouri–Kansas City pada 2003–2006, serta sebagai profesor bidang musikologi di School of Music, University of Illinois Urbana-Champaign pada 2006–2021.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif yang luas dalam melihat perkembangan musik Bali. Dalam konteks Baleganjur, Asnawa dikenal sebagai salah satu tokoh yang turut mendorong perkembangan kreativitas Baleganjur di Kabupaten Badung, termasuk dalam konteks perlombaan Baleganjur. Sejak 1979 hingga 2025, ia telah menghasilkan berbagai karya karawitan instrumental. Dalam catatan yang disampaikan pada workshop, tercatat sekitar 36 karya tabuh instrumental dan 25 jenis iringan tari/dramatari yang telah diciptakannya.
Dalam workshop ini, I Ketut Gede Asnawa menyampaikan materi berjudul “Baleganjur: Jejak dan Perkembangannya hingga Kini.” Materi tersebut tidak hanya menjelaskan sejarah perkembangan Baleganjur, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi musikal dapat mengalami perubahan melalui proses kreativitas, eksperimentasi, kompetisi, dan perubahan selera masyarakat.
Baleganjur: Dari Musik Prosesi Menuju Seni Pertunjukan
Salah satu hal menarik yang muncul dalam workshop adalah pembacaan terhadap perjalanan Baleganjur dari masa ke masa. Baleganjur pada dasarnya memiliki kekuatan musikal yang mampu menginspirasi lahirnya berbagai bentuk kreativitas baru.
Pada sekitar tahun 1984, musikalitas Baleganjur menjadi salah satu sumber inspirasi dalam penciptaan Gamelan Adi Merdangga oleh ASTI. Hal ini menunjukkan bahwa Baleganjur tidak hanya memiliki fungsi sebagai perangkat musik prosesi, tetapi juga memiliki potensi musikal yang dapat dikembangkan menjadi sumber penciptaan bentuk-bentuk baru dalam karawitan Bali. Perkembangan berikutnya terlihat semakin jelas ketika Baleganjur mulai memasuki ruang perlombaan. Menurut paparan dalam workshop, perkembangan lomba Baleganjur di Kabupaten Badung mulai berlangsung pada 1986, dimotori oleh Himpunan Seniman Remaja Kabupaten Badung dan diprakarsai oleh I Nyoman Sugama dalam rangka memperingati HUT Puputan Badung ke-80.
Pada masa tersebut, I Ketut Gede Asnawa turut berperan sebagai salah satu konseptor kegiatan. Perlombaan dilaksanakan melalui beberapa titik pertunjukan, antara lain di depan Kodam Udayana, depan Bali Hotel, dan depan Pura Jagatnatha. Juara pertama diraih Sekaa Baleganjur Belaluan Sad Merta, juara kedua Sekaa Gong Kalingga Jaya Banjar Kaliungu, dan juara ketiga Sekaa Gong Kayu Mas.
Peristiwa tersebut penting dalam sejarah perkembangan Baleganjur karena perlombaan menciptakan ruang kompetisi sekaligus ruang eksperimen. Sekaa-sekaa tidak lagi hanya dituntut untuk memainkan Baleganjur sebagaimana fungsi tradisionalnya, tetapi mulai memikirkan bentuk penyajian, struktur musikal, teknik permainan, serta cara membangun daya tarik pertunjukan.
Rekaman karya Sekaa Gong Kalingga Jaya pada masa tersebut juga menjadi salah satu dokumentasi penting yang kemudian dapat menjadi rujukan bagi perkembangan kreativitas karya-karya Baleganjur berikutnya.
Eksperimentasi Teknik dan Perkembangan Bahasa Musikal
Salah satu contoh penting mengenai proses kreativitas disampaikan melalui pengalaman I Ketut Gede Asnawa dalam mengeksplorasi ceng-ceng Baleganjur. Pada praktik tradisional, ceng-ceng memiliki teknik permainan tertentu yang telah menjadi bagian dari karakter musikal Baleganjur. Asnawa kemudian mencoba memperluas kemungkinan bunyi instrumen tersebut dengan memainkan ceng-ceng melalui posisi miring dan menggunakan panggul dengan teknik tertentu untuk menghasilkan kontur suara yang berbeda.Eksperimentasi tersebut kemudian dituangkan dalam karya “Kosong” pada 1984.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa inovasi musikal tidak selalu harus dilakukan dengan mengganti instrumen atau menghilangkan karakter tradisi. Inovasi dapat muncul dari cara memperlakukan instrumen yang sudah ada. Dengan demikian, tradisi dan kreativitas tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan, tetapi sebagai dua unsur yang dapat saling memperkuat.
Baleganjur kemudian semakin mendapatkan respons dari masyarakat. Sekaa-sekaa yang sebelumnya memainkan Baleganjur dalam konteks tradisional mulai melakukan penataan baru. Muncul kelompok-kelompok baru, repertoar baru, serta pola penyajian yang semakin beragam.
Dari Audio Menuju Visual: Perubahan Orientasi Pertunjukan
Perkembangan perlombaan Baleganjur kemudian membawa konsekuensi terhadap bentuk penyajiannya. Selain musikalitas, mulai muncul perhatian yang semakin besar terhadap gerak penabuh, koreografi, kostum, teatrikal, dan unsur visual lainnya.
Menurut paparan dalam workshop, perkembangan tersebut semakin terlihat dalam berbagai perlombaan Baleganjur, termasuk dalam rangkaian kegiatan HUT Puputan Badung. Pengalaman mengikuti lomba pada periode 1997–2003 menunjukkan bahwa Baleganjur semakin berkembang sebagai sebuah bentuk pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan audio.
Perkembangan berikutnya semakin kuat ketika Baleganjur hadir dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Lomba Baleganjur di PKB mulai berlangsung pada 2013. PKB kemudian dipandang sebagai salah satu “laboratorium kreativitas” yang memungkinkan seniman terus melakukan eksperimen dan melahirkan inovasi baru. Dari proses tersebut kemudian muncul fenomena baru: unsur visual semakin dominan dalam pertunjukan Baleganjur. Gerak teatrikal, kostum, koreografi, formasi pemain, dan efek kejutan menjadi bagian penting dari strategi penyajian.
Baleganjur kemudian tidak hanya “didengar”, tetapi juga “dilihat”.Perubahan ini memperlihatkan bahwa Baleganjur telah mengalami perluasan fungsi estetis. Musik tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berada dalam sebuah kesatuan pertunjukan yang melibatkan berbagai unsur seni. Namun demikian, perkembangan tersebut juga melahirkan pertanyaan mendasar: apakah kekuatan visual yang semakin dominan justru berpotensi menggeser kekuatan musikal Baleganjur?
“Sajikan dan Nikmati Baleganjur dari Audionya” Salah satu pesan penting I Ketut Gede Asnawa dalam workshop adalah perlunya mengembalikan perhatian terhadap kekuatan musikal Baleganjur.
“Sajikan dan nikmati Baleganjur dari audionya, jangan menonjolkan visualnya.”
Pernyataan tersebut bukan berarti menolak penggunaan unsur visual. Sebaliknya, visual tetap dapat digunakan sebagai bagian dari penyajian, tetapi harus ditempatkan sebagai penguat konsep musikal, bukan sebagai pengganti musikalitas.
Dalam konteks ini, terdapat dua kecenderungan estetika yang dapat diamati dalam perkembangan Baleganjur, yaitu estetika minimalis dan estetika maksimalis. Keduanya dapat menjadi pilihan artistik sesuai dengan gagasan, tema, tujuan, dan konteks pertunjukan. Baleganjur juga berkembang dalam berbagai bentuk situasional, seperti Baleganjur Ngarap, Baleganjur Bebarongan, dan Baleganjur tematik. Setiap bentuk memiliki kebutuhan artistik dan tujuan penyajian yang berbeda.
Karena itu, seorang komposer harus terlebih dahulu memahami mengapa sebuah karya diciptakan, untuk siapa karya tersebut disajikan, dan gagasan apa yang hendak dibangun melalui karya tersebut.
Sedangkan I Wayan Widia menyampaikan materi: Kreativitas, Uger-Uger, dan Batasan.
I Wayan Widia, S.Skar., seorang komposer yang memiliki kiprah panjang dalam perkembangan karawitan Bali di Kabupaten Badung dan Bali secara lebih luas. Lahir di Badung pada 31 Desember 1963, perjalanan kekaryaannya telah berlangsung sejak dekade 1980-an. Pada 1988, ia menciptakan karya Gending Baleganjur di Kabupaten Badung.
Dalam workshop, I Wayan Widia menyampaikan materi “Kreativitas Mencipta Gending Baleganjur: Uger-Uger, Pondasi, dan Batasan.” Penekanannya terletak pada pentingnya memahami fondasi musikal Baleganjur sebelum seorang komposer melakukan inovasi. Kreativitas, menurut pemikirannya, tidak berarti meninggalkan seluruh aturan dan karakter tradisi, tetapi justru berangkat dari pemahaman yang kuat terhadap akar musikal yang telah diwariskan.
Menjaga “Wed/Wit”: Kembali kepada Akar Tradisi
Pesan yang sangat kuat dalam workshop adalah pentingnya menjaga wed/wit, yakni asal-usul dan karakteristik dasar musikal Baleganjur. I Wayan Widia menegaskan bahwa perkembangan kreativitas tidak boleh menyebabkan Baleganjur kehilangan identitas musikalnya. Seorang komposer harus mengetahui sumber dan akar tradisi sebelum melakukan inovasi.
Ungkapan yang digunakan dalam workshop sangat relevan untuk menggambarkan prinsip tersebut:
“Jangan lupa pada akar untuk menumbuhkan pohon yang subur.”
Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa kreativitas yang kuat justru tumbuh dari pemahaman yang kuat terhadap tradisi. Sebuah karya boleh berubah dalam bentuk penyajian, teknik, struktur, maupun visual, tetapi perubahan tersebut seharusnya tetap memiliki hubungan dengan karakter musikal Baleganjur. Dengan demikian, inovasi bukanlah tindakan memutus hubungan dengan masa lalu. Inovasi merupakan proses menafsirkan kembali tradisi dalam konteks kekinian.
Tri Angga sebagai Pondasi Penciptaan
Dalam proses penciptaan Baleganjur, I Wayan Widia juga menekankan pentingnya memahami konsep Tri Angga sebagai salah satu fondasi struktur karya.
Struktur musikal dipahami melalui hubungan antara bagian-bagian yang membangun sebuah kesatuan komposisi. Kawitan dapat dipahami sebagai bagian awal atau pendahuluan yang membuka ruang musikal. Pengawak menjadi bagian yang mengembangkan dan menonjolkan unsur musikal, sementara bagian akhir memberikan penyelesaian terhadap keseluruhan gagasan musikal. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa sebuah komposisi tidak cukup hanya mengandalkan kumpulan motif atau permainan instrumen yang rumit. Sebuah karya harus memiliki arah, struktur, dinamika, intensitas, dan penyelesaian.
Dalam analogi tubuh manusia yang disampaikan Widia, kepala, badan, jantung, hati, dan kaki menjadi simbol hubungan antara ide, musikalitas, irama, rasa, serta daya gerak. Konsep tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya seni dipandang sebagai organisme yang memiliki hubungan antarbagiannya.
Menurut I Wayan Widia, “Gamelan adalah orkestra yg multi fungsi. Penyajian Baleganjur, ada teknik permainan: sesuai pakem, pukulam. teknik bermain: mengacu pada daya kreatif, dasarnya ide gagasan, vokal yang baik, berkonsep. Misalkan implementasi sarana ritual, lingkaran: kepala (pada komposisi disebut pendahuluan, kawitan). Pengawak; menonjolkan unsur musikal disimbolkan sebagai segiempat. Apa yg ada dalam pikiran itu diturunkan kebadan. Jantung sebagai irama, hati simbol rasa, dan bagian yg paling bawah adalah kaki disimbulkan dengan segita. Bayu, sabda, idep. Paling bawah membawa daya tarik. buatkan nafas dan bawa ke hati. Pentingnya tiga dibawah tri; sebagai dasar. Siklus yang wajib diperhatikan yg mengatur kekuatan. Jika dihubungkan dengan garis. Pertikal naik turun wujud persembahan, dan ke samping simbol keseimbangan. Konsep penyajian untuk persembahan terutama kepada penikmat dan juri”.
Garapan harus seimbang, ada trik yang disampaikan. Tidak cukup hanya menampilkan audio namun diperkuat dengan gerak. Bagaimana ngigelin tabuh. Gerak persentasenya sedikit, yang penting kesimbangannya, penuangan ide, divisualisasikan dengan gerak sesuai dengan konteks ide. Gerak hanya sebagi penajaman konsep. Gerak harus beretika, berlogika, berestetika. Dengan demikian, penciptaan Baleganjur tidak hanya berbicara mengenai teknik pukulan, tetapi juga mengenai ide, rasa, struktur, keseimbangan, dan cara menyampaikan gagasan kepada penonton.
Audio sebagai Dasar, Visual sebagai Penguat
Salah satu persoalan penting dalam perkembangan Baleganjur kontemporer adalah hubungan antara audio dan visual. Gerak penabuh, kostum, formasi, dan teatrikal memang dapat meningkatkan daya tarik pertunjukan. Namun, menurut para narasumber, unsur visual seharusnya tidak mengambil alih fungsi utama musik.
Gerak perlu ditempatkan sebagai penajaman konsep. Gerak harus memiliki hubungan dengan ide musikal dan tema yang dibangun. Karena itu, gerak tidak boleh hadir semata-mata untuk menunjukkan atraksi.
Dalam workshop ditegaskan bahwa gerak harus memenuhi tiga prinsip, yaitu:beretika, berlogika, dan berestetika. Artinya, gerak harus memiliki kepantasan, memiliki alasan konseptual, serta menghasilkan kualitas keindahan yang mendukung keseluruhan karya.
Dengan demikian, urutan penciptaan yang ideal adalah membangun kekuatan audio terlebih dahulu, kemudian memperkuatnya dengan visual.
Membangun Imajinasi Penonton
I Ketut Gede Asnawa memberikan penekanan menarik mengenai hubungan antara karya dan penonton. Sebuah karya seni tidak harus selalu menjelaskan gagasannya secara harfiah. Sebaliknya, karya dapat memberikan ruang bagi penonton untuk membangun interpretasinya sendiri. Karena itu, komposer perlu memiliki kemampuan membaca unsur-unsur intrinsik musikal dari sebuah konsep dan imajinasi. Musik, gerak, dan visual harus disusun secara unity, sebagai sebuah kesatuan garapan.
Karya yang terlalu literal atau terlalu riil justru dapat mempersempit ruang imajinasi penonton. Sebaliknya, karya yang memberikan ruang interpretasi memungkinkan penonton membangun pengalaman estetiknya sendiri. Dengan demikian, keberhasilan sebuah pertunjukan Baleganjur bukan hanya ditentukan oleh seberapa rumit teknik yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan komposer membangun intensitas, kemantapan, penjiwaan, serta cara penyampaian gagasan.
Workshop sebagai Ruang Regenerasi
Kehadiran peserta dari berbagai latar menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya merupakan forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antargenerasi.
Dalam konteks pelestarian seni tradisi, keberadaan forum seperti ini memiliki arti penting. Tradisi tidak dapat dipertahankan hanya melalui dokumentasi atau penyimpanan artefak. Tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, keterampilan, nilai, dan cara berpikirnya terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya.
Workshop menjadi salah satu bentuk transmisi tersebut. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang bagaimana memainkan Baleganjur, tetapi juga diajak memahami mengapa Baleganjur memiliki karakter tertentu, bagaimana perkembangannya, serta ke mana arah kreativitasnya dapat dibawa.

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi” pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai Baleganjur sebagai bentuk musik, tetapi juga mengenai persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana tradisi dapat terus tumbuh dalam menghadapi perubahan zaman.
Perjalanan Baleganjur memperlihatkan bahwa tradisi memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Dari musik prosesi, Baleganjur berkembang menjadi musik kreasi dan seni pertunjukan dengan kekuatan musikal, koreografis, teatrikal, dan visual. Perkembangan tersebut menunjukkan vitalitas tradisi sekaligus memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi oleh generasi pencipta masa kini.
Kreativitas diperlukan agar Baleganjur tidak berhenti sebagai bentuk masa lalu. Namun, kreativitas juga membutuhkan batas agar perkembangan tidak menyebabkan hilangnya karakter dasar musikalnya. Karena itu, pesan utama workshop dapat dirangkum dalam satu prinsip: semakin tinggi pohon kreativitas tumbuh, semakin kuat pula akar tradisinya harus dipelihara.
Baleganjur boleh berkembang, berinovasi, bereksperimen, dan memasuki ruang pertunjukan baru. Akan tetapi, wed/wit, karakter musikal, struktur, teknik permainan, rasa, dan filosofi yang menjadi akar Baleganjur harus tetap dipahami dan dirawat.
Dengan cara demikian, regenerasi tidak sekadar menghasilkan pemain atau komposer baru, tetapi melahirkan generasi seniman yang mampu memahami tradisi, membaca perubahan zaman, dan menciptakan kebaruan tanpa kehilangan identitas musikalnya. [T]






























