30 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang kita yakini. Maka ketika pemerintah merancang kebijakan agar seluruh dosen Indonesia berkualifikasi doktor dalam sepuluh tahun ke depan, sebagaimana tercantum dalam RUU Sisdiknas versi 8 Juli 2026, pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana dan berniat baik. Intinya, kualitas dosen harus meningkat agar kualitas pendidikan nasional ikut meningkat.

Akan sulit menemukan orang yang menolak tujuan semulia itu. Lagi pula, siapa yang tidak ingin memiliki dosen yang lebih kompeten, atau siapa juga yang tidak ingin kampus Indonesia menghasilkan lebih banyak ilmuwan. Namun, sejarah kebijakan publik mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan, bahwasanya niat baik tidak selalu menghasilkan dampak baik.

Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar apakah dosen perlu bergelar doktor. Pertanyaannya yang lebih mendasar saya kira adalah, apakah cara kita meningkatkan mutu pendidikan sudah memanusiakan manusia yang menjalankannya?

Latah Pendidikan

Beberapa tahun terakhir, pendidikan Indonesia tampaknya memiliki semacam sistem keyakinan atau bahkan semacam kelatahan sistem di sini. Orang latah itu kalau kaget, dia bergerak spontan tanpa dipikir. Di dunai pendidikan kita latahnya itu kalau ingin mutu meningkat, tambahkan syarat. Kalau ingin profesionalisme meningkat, tambahkan administrasi. Kalau ingin akuntabilitas meningkat, tambahkan laporan. 

Sekarang, kalau ingin kualitas perguruan tinggi meningkat, tambahkan kewajiban S3. Memang semua logika ini tampak masuk akal. Sayangnya, manusia tidak bekerja seperti spreadsheet atau perkakas elekronik. Manusia memiliki keterbatasan waktu, memiliki keluarga, didesak kebutuhan ekonomi, bahkan memiliki kecemasan. Manusia juga memiliki batas kemampuan fisik dan mental.  Di sinilah letak persoalannya. Kita sering kali merancang kebijakan pendidikan seolah-olah semua pendidik hidup dalam kondisi yang sama.

Padahal realitasnya sangat beragam. Ironisnya, Indonesia sebenarnya pernah mempunyai pengalaman serupa. Ketika berbagai kebijakan administrasi pendidikan diperkenalkan, harapan mulianya yaitu tata kelola menjadi lebih baik, kinerja lebih terukur, mutu meningkat. 

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit guru maupun dosen yang mengeluhkan bahwa waktu mereka justru habis untuk mengisi formulir, menyusun laporan, memperbarui data sistem dan aplikasi ini itu, dan memenuhi berbagai indikator administratif. Akibatnya, energi yang semestinya digunakan untuk membaca, berdiskusi, menyiapkan pembelajaran, atau membimbing mahasiswa justru terserap ke pekerjaan birokratis. 

Belajar pada Jenjang Doktor Bukan Sekadar Duduk di Ruang Kuliah

Tetapi ketika administrasi mulai mengambil alih esensi pendidikan, maka yang lahir bukan peningkatan mutu, melainkan perpindahan fokus. Sebagian jiwa dan nafas para pendidik perlahan berubah menjadi administrator. Kini muncul kebijakan baru mengenai kewajiban studi doktoral.  Sekali lagi, tujuan kebijakannya patut diapresiasi. 

Namun, bagaimana nasib dosen yang harus kuliah kembali, sementara mereka tetap memiliki tanggung jawab mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, mengejar publikasi, memenuhi target kinerja, sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya? Saat studi S3, dibutuhan konsentrasi penuh untuk membaca ratusan artikel ilmiah, menulis proposal, melakukan penelitian, menghadapi seminar. Belum harus revisi disertasi, ikut publikasi internasional sementara waktu untuk studi lanjut selalu bersaing dengan kebutuhan hidup, karena selama studi sebagian hak finansial dihilangkan.

Diskusi mengenai kesejahteraan dosen semakin mengemuka setelah muncul polemik mengenai besaran penghasilan dosen dalam sidang  Mahkamah Konstitusi. Pernyataan mengenai rata-rata take home pay dosen memunculkan tanggapan dari banyak dosen yang merasa angka tersebut tidak mencerminkan kenyataan mereka sehari-hari. Menariknya, perdebatan ini bukan terutama soal siapa yang benar. 

Yang menarik adalah soal bagaimana statistik dan pengalaman hidup berbicara dalam bahasa yang berbeda. Rata-rata memang penting. Tetapi manusia tidak pernah hidup sebagai rata-rata.  Seseorang bisa saja berada jauh di bawah angka rata-rata, yang lain berada jauh di atasnya.  Ketika kebijakan dibangun hanya berdasarkan angka agregat, sering kali pengalaman nyata individu malah menghilang dari diskusi. Padahal kebijakan pendidikan dijalankan bukan oleh statistik, tapi oleh manusia. 

Pemikir pendidikan Brasil, Paulo Freire, pernah mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah humanisasi, proses memanusiakan manusia. Dalam Pedagogy of the Oppressed, ia mengkritik pendidikan yang memperlakukan peserta didik sebagai “rekening kosong” yang tinggal diisi informasi. Pendidikan, menurut Freire, harus membangun kesadaran, kebebasan berpikir, dan martabat manusia.

Namun gagasan Freire hari ini saya kira layak diperluas. Bukan hanya peserta didik yang perlu dimanusiakan. Pendidiknya pun demikian.  Tidak mungkin kita berharap dosen membangun manusia yang merdeka, apabila mereka sendiri menjalani sistem yang membuat ruang berpikirnya semakin sempit.

Sosiolog Jerman, Max Weber, sejak awal abad ke-20 telah mengingatkan tentang bahaya apa yang ia sebut sebagai iron cage alias sangkar besi birokrasi. Ketika rasionalitas administratif menjadi tujuan, manusia perlahan berubah menjadi pelaksana prosedur. Yang dihitung bukan lagi kualitas pemikiran, melainkan kepatuhan terhadap indikator. 

Seratus tahun kemudian, filsuf Byung-Chul Han memberikan kritik yang berbeda tetapi terasa sangat relevan. Dalam The Burnout Society, ia menjelaskan bahwa masyarakat modern bukan lagi masyarakat disiplin, melainkan masyarakat prestasi. Kita didorong untuk terus meningkatkan diri, terus produktif, terus mencapai target, sampai akhirnya kelelahan menjadi sesuatu yang dianggap normal.

Dunia Akademik Mulai Menunjukkan Gejala yang Serupa

Publikasi harus bertambah, sitasi harus meningkat, indeks harus naik, jabatan akademik harus segera dicapai. Dan sekarang, gelar doktor pun harus segera diselesaikan. Tidak ada satu pun target itu yang keliru. Yang patut dipertanyakan adalah apakah semuanya dirancang dalam batas kemampuan manusia. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun” segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. 

Kita sering mengutip kalimat itu ketika berbicara tentang peserta didik. Tapi kita kini harus bertanya, apakah para penuntun itu selamat dan berbahagia? Apakah sistem memastikan bahwa guru dan dosen juga memiliki ruang untuk bertumbuh?  Sebab seorang pendidik yang hidup dalam kecemasan ekonomi, tekanan administratif, dan tuntutan akademik yang bertumpuk akan kesulitan menghadirkan pendidikan yang benar-benar membebaskan.

Di sinilah, menurut saya, muncul konsep yang perlu mulai kita bicarakan secara serius, yaitu humanisasi kebijakan pendidikan. Selama ini, kita banyak berbicara mengenai humanisasi pembelajaran, humanisasi kurikulum sampai pada humanisasi peserta didik. Padahal, persoalan sering kali ada pada akarnya, pada desain kebijakannya. 

Humanisasi kebijakan berarti setiap kebijakan pendidikan tidak hanya diuji berdasarkan target yang ingin dicapai, tetapi juga berdasarkan kajian yang lebih mendasar. Musti dikaji apakah kebijakan ini menjaga martabat manusia yang menjalankannya, apakah cukup memberi ruang untuk belajar, memperhatikan kesejahteraan, lebih jauh lagi apakah memungkinkan dosen benar-benar menjadi ilmuwan, bukan sekadar pemburu indikator? Karena kualitas pendidikan tidak pernah lahir hanya dari regulasi. Ia lahir dari manusia yang memiliki kesempatan berpikir.

Ekosistem Kecemasan

Tentu, bukan berarti kewajiban S3 harus ditolak. Justru sebaliknya. Karena semua dosen, semuanya, pasti haus akan pendidikan yang lebih tinggi. Indonesia memang membutuhkan lebih banyak doktor, peneliti, inovasi, dan ilmuwan yang mampu bersaing di tingkat global. Tetapi kebijakan seambisius itu memerlukan ekosistem yang sama besarnya. Sebut saja beasiswa yang memadai serta penghasilan yang tetap layak selama studi. 

Perlu juga sistem pengurangan beban kerja yang realistis, dukungan keluarga, dan fleksibilitas institusi. Tanpa itu semua, kewajiban belajar berpotensi berubah menjadi mode bertahan hidup. Dan ketika seseorang lebih sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan ekonominya daripada memikirkan disertasinya, maka yang sedang kita bangun bukanlah ekosistem akademik, melainkan ekosistem kecemasan dan stress.

Barangkali sudah saatnya kita mengubah cara berpikir latah dan percaya bahwa kualitas pendidikan meningkat jika syarat pendidikan ditambah. Mungkin kita perlu mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Bahwa kualitas pendidikan justru meningkat ketika manusia yang menjalankannya diberi kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya ini yang saya tangkap dari banyak curhatan para dosen di luar sana.

Sebab pada akhirnya, universitas tidak dibangun oleh beton, peraturan, apalagi oleh indikator. Universitas harus dibangun oleh pikiran-pikiran yang memiliki antusiasme untuk membaca, keberanian untuk bertanya, dan ketenangan untuk berpikir. Bukan oleh latah pendidikan yang mencemaskan. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: PendidikanRUU Sisdiknas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer
Ulas Rupa

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

by Hartanto
July 30, 2026
Sasih Karo Kehilangan Made Taro
Esai

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co