TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih kaku karena belum sempat dicuci berkali-kali. Ada sepatu yang masih putih bersih, Ada pula orang tua yang tiba-tiba berubah menjadi fotografer profesional demi mengabadikan hari pertama sekolah anaknya. Media sosial pun mendadak dipenuhi unggahan bertagar back to school. Rasanya, negeri ini seperti baru saja menggelar pesta pendidikan.
Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) pun telah usai. Tahun ini, pemerintah mengusung tema MPLS Ramah. Sebuah tema yang sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat mendalam. Sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan rumah kedua yang menyenangkan bagi setiap peserta didik.
Namun, setelah gema tepuk tangan MPLS berakhir dan spanduk penyambutan mulai diturunkan, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai. Sekolah kembali mengemban tugas yang tidak ringan: membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter.
Persoalannya, membangun karakter ternyata jauh lebih rumit daripada membangun gedung sekolah. Gedung cukup membutuhkan gambar, semen, batu, dan tukang. Karakter membutuhkan keteladanan, kesabaran, konsistensi, dan… doa yang tidak putus-putus.
Hari ini hampir semua pihak sepakat bahwa dunia usaha dan dunia industri tidak hanya mencari lulusan yang pintar. Nilai rapor memang penting, tetapi sikap jauh lebih menentukan. Perusahaan dapat melatih seseorang mengoperasikan mesin dalam beberapa minggu. Namun melatih kejujuran, disiplin, tanggung jawab, atau kemampuan menghargai orang lain, sering kali membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Maka dari itu, muncullah istilah yang kini akrab di telinga kita: soft skills dan hard skills. Anehnya, ketika terjadi persoalan di rung publik, yang sering ditanyakan bukan lagi, “Mengapa ini bisa terjadi?” melainkan, “Sekolahnya dulu di mana?”
Kalau ada remaja tawuran, sekolah disorot. Kalau anak melakukan perundungan, sekolah dipanggil. Kalau orang dewasa korupsi, entah bagaimana logikanya, ada juga yang bertanya, “Dulu waktu sekolah dia diajari apa?” Boleh jadi, kalau ada tetangga lupa mengembalikan wadah sayur, jangan-jangan sekolahnya juga ikut dimintai klarifikasi.
Bahkan, ketika muncul kasus kriminal yang sedang ramai, misalnya pencurian ayam yang kemudian berujung pada aksi persekusi, jagat maya seketika berubah menjadi ruang sidang terbuka. Perang opini pun tak terelakkan. Ada yang membela korban pencurian, ada yang mengecam tindakan persekusi, sementara sebagian lainnya sibuk mencari siapa yang paling layak disalahkan.
Dari itu, pandangan insan pendidikan pun tidak selalu seirama. Dalam situasi seperti ini, sekolah sering berada pada posisi yang serba sulit. Diam dianggap tidak peduli, bersuara dikhawatirkan ditafsirkan memihak. Tugas utama sekolah bukan menjadi hakim atas setiap peristiwa sosial. Sekolah wajib untuk terus menanamkan nilai-nilai kejujuran, empati, penghormatan terhadap hukum, dan kemanusiaan. Hal ini sangat penting agar peserta didik kelak mampu menyikapi persoalan dengan akal sehat, hati nurani, dan karakter yang baik.
Sekolah memang sering menjadi “tersangka favorit”. Padahal, kalau kita jujur, karakter manusia tidak dibentuk hanya selama enam atau tujuh jam di sekolah. Masih ada sekitar delapan belas jam lainnya yang dihabiskan di rumah, di lingkungan pergaulan, di media sosial, di dunia digital, bahkan di kolom komentar yang kadang memanaskan musim dingin di bulan Juli. Di sinilah persoalan pendidikan karakter menjadi semakin kompleks.
Dulu, guru cukup berhadapan dengan papan tulis. Sekarang guru harus berhadapan dengan papan tulis, gawai, media sosial, algoritma, influencer, konten viral, bahkan komentar netizen yang datang lebih cepat daripada bel masuk sekolah.
Belum selesai guru menjelaskan pentingnya berkata sopan, peserta didik sudah membuka media sosial yang mempertontonkan orang terkenal saling menghina demi jumlah penonton. Belum selesai guru mengajarkan kejujuran, muncul konten yang mengajarkan bagaimana memperoleh keuntungan dengan jalan pintas. Belum selesai guru menanamkan kesabaran, dunia digital justru menawarkan segala sesuatu serba instan, COD.
Guru mengajarkan karakter selama empat puluh menit. Algoritma media sosial bekerja dua puluh empat jam tanpa mengenal hari libur. Pertanyaannya, siapa yang lebih sering didengar? Ironisnya, ketika terjadi penyimpangan perilaku, sekolah kembali menjadi alamat pertama yang dituju.
Padahal pendidikan karakter adalah urusan bersama. Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama. Lingkungan adalah ruang praktik pertama. Sekolah hanyalah salah satu mata rantai yang bekerja bersama keluarga, rung publik, pemerintah, media, dunia usaha, organisasi keagamaan, dan seluruh elemen bangsa. Kalau salah satu mata rantai itu putus, hasil akhirnya tentu tidak akan sempurna.

Tantangan lain yang dihadapi pendidikan saat ini adalah derasnya arus persepsi publik. Di era media sosial, sebuah video berdurasi lima belas detik kadang lebih dipercaya daripada penjelasan utuh selama satu jam. Potongan peristiwa sering dianggap sebagai keseluruhan cerita. Opini berlari jauh mendahului fakta. Pengadilan media sosial kadang selesai lebih cepat daripada proses hukum yang sebenarnya.
Guru pun berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka dituntut tegas mendidik. Di sisi lain, mereka harus sangat berhati-hati agar ketegasan itu tidak ditafsirkan sebagai pelanggaran.
Akibatnya, ada guru yang mulai berpikir dua kali sebelum menegur. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena khawatir salah dipahami. Padahal, pendidikan tanpa keberanian menegur ibarat mengemudi tanpa rem. Kendaraan mungkin tetap melaju, tetapi semua penumpangnya berdebar.
Tentu kita tidak sedang menginginkan guru kebal kritik. Guru tetap harus profesional, menghormati hak peserta didik, dan menjunjung tinggi etika. Namun rung publik pun perlu memberi ruang agar guru dapat menjalankan fungsi pendidik secara proporsional, bukan sekadar menjadi pengajar yang takut berbicara.
Mungkin sudah saatnya kini kita berhenti mencari siapa yang paling bersalah. Lalu mari mulai bertanya, “Siapa yang paling siap bekerja sama?”
Karakter tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keteladanan. Ia berkembang dari kebiasaan. Ia menguat karena konsistensi. Ia hanya akan berhasil apabila sekolah, keluarga, rung publik, media, pemerintah, serta dunia usaha berjalan pada irama yang sama.
Kalau semua pihak hanya menunjuk sekolah, sementara yang lain sibuk menunjuk layar telepon genggam, jangan heran apabila pendidikan karakter berjalan seperti lomba tarik tambang yang talinya dipegang ke arah yang berbeda-beda.
Pendidikan karakter bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia adalah pekerjaan seluruh bangsa. Karena sejatinya, dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Maka, jangan biarkan satu sekolah memikul beban seluruh kampung.
Di tengah berbagai tantangan itu, sekolah tentu tidak boleh menyerah. Guru tetap harus menjadi pelita yang menerangi jalan anak-anak bangsa. Namun, cahaya itu akan redup apabila rumah memadamkannya, lingkungan meniupnya, dan media sosial justru menyalakan api yang berbeda.
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan sekolah sebagai “kambing hitam” setiap kali karakter bangsa dipersoalkan. Sebaliknya, menjadikan sekolah sebagai mitra utama dalam membangun generasi yang berilmu, beretika, dan berkepribadian luhur. Pendidikan karakter bukan pekerjaan satu lembaga, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa.
Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Pesan sederhana itu tetap relevan hingga hari ini. Sebab, karakter anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga oleh apa yang ia lihat di ruang keluarga, di lingkungan rung publik, dan di ruang-ruang digital yang kini nyaris tanpa batas.
Kalau semua pihak bersedia menjadi guru bagi dirinya sendiri, mungkin sekolah tidak perlu lagi bekerja sendirian mendidik karakter bangsa.
Barangkali kita perlu mengubah satu kebiasaan lama. Setiap kali muncul persoalan perilaku anak, jangan buru-buru bertanya, “Sekolahnya di mana?” Cobalah sesekali bertanya, “Rumahnya seperti apa?”, “Lingkungannya bagaimana?”, atau bahkan, “Apa yang setiap hari ditonton di gawainya?”

Bagi saya, karakter bukanlah hasil belajar selama tujuh jam di sekolah. Karakter adalah akumulasi dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan diteladani setiap hari.
Maka dari itu, seperti pesan bijak yang sering dikaitkan dengan sebuah peribahasa Afrika, “It takes a village to raise a child”—dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Jika seluruh kampung ikut mendidik, sekolah tidak akan kelelahan. Namun jika seluruh kampung hanya pandai menyalahkan sekolah, jangan heran bila karakter bangsa berjalan tertatih-tatih mengejar zaman. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole































