29 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 29, 2026
in Esai
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih kaku karena belum sempat dicuci berkali-kali. Ada sepatu yang masih putih bersih, Ada pula orang tua yang tiba-tiba berubah menjadi fotografer profesional demi mengabadikan hari pertama sekolah anaknya. Media sosial pun mendadak dipenuhi unggahan bertagar back to school. Rasanya, negeri ini seperti baru saja menggelar pesta pendidikan.

Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) pun telah usai. Tahun ini, pemerintah mengusung tema MPLS Ramah. Sebuah tema yang sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat mendalam. Sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan rumah kedua yang menyenangkan bagi setiap peserta didik.

Namun, setelah gema tepuk tangan MPLS berakhir dan spanduk penyambutan mulai diturunkan, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai. Sekolah kembali mengemban tugas yang tidak ringan: membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter.

Persoalannya, membangun karakter ternyata jauh lebih rumit daripada membangun gedung sekolah. Gedung cukup membutuhkan gambar, semen, batu, dan tukang. Karakter membutuhkan keteladanan, kesabaran, konsistensi, dan… doa yang tidak putus-putus.

Hari ini hampir semua pihak sepakat bahwa dunia usaha dan dunia industri tidak hanya mencari lulusan yang pintar. Nilai rapor memang penting, tetapi sikap jauh lebih menentukan. Perusahaan dapat melatih seseorang mengoperasikan mesin dalam beberapa minggu. Namun melatih kejujuran, disiplin, tanggung jawab, atau kemampuan menghargai orang lain, sering kali membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Penguatan karakter SMKN 1 Petang di Sumitra Luxury Villas & Resort Sanur

Maka dari itu, muncullah istilah yang kini akrab di telinga kita: soft skills dan hard skills. Anehnya, ketika terjadi persoalan di rung publik, yang sering ditanyakan bukan lagi, “Mengapa ini bisa terjadi?” melainkan, “Sekolahnya dulu di mana?”

Kalau ada remaja tawuran, sekolah disorot. Kalau anak melakukan perundungan, sekolah dipanggil. Kalau orang dewasa korupsi, entah bagaimana logikanya, ada juga yang bertanya, “Dulu waktu sekolah dia diajari apa?” Boleh jadi, kalau ada tetangga lupa mengembalikan wadah sayur, jangan-jangan sekolahnya juga ikut dimintai klarifikasi.

Bahkan, ketika muncul kasus kriminal yang sedang ramai, misalnya pencurian ayam yang kemudian berujung pada aksi persekusi, jagat maya seketika berubah menjadi ruang sidang terbuka. Perang opini pun tak terelakkan. Ada yang membela korban pencurian, ada yang mengecam tindakan persekusi, sementara sebagian lainnya sibuk mencari siapa yang paling layak disalahkan.

Dari itu, pandangan insan pendidikan pun tidak selalu seirama. Dalam situasi seperti ini, sekolah sering berada pada posisi yang serba sulit. Diam dianggap tidak peduli, bersuara dikhawatirkan ditafsirkan memihak. Tugas utama sekolah bukan menjadi hakim atas setiap peristiwa sosial. Sekolah wajib untuk terus menanamkan nilai-nilai kejujuran, empati, penghormatan terhadap hukum, dan kemanusiaan. Hal ini sangat penting agar peserta didik kelak mampu menyikapi persoalan dengan akal sehat, hati nurani, dan karakter yang baik.

Sekolah memang sering menjadi “tersangka favorit”. Padahal, kalau kita jujur, karakter manusia tidak dibentuk hanya selama enam atau tujuh jam di sekolah. Masih ada sekitar delapan belas jam lainnya yang dihabiskan di rumah, di lingkungan pergaulan, di media sosial, di dunia digital, bahkan di kolom komentar yang kadang memanaskan musim dingin di bulan Juli. Di sinilah persoalan pendidikan karakter menjadi semakin kompleks.

Dulu, guru cukup berhadapan dengan papan tulis. Sekarang guru harus berhadapan dengan papan tulis, gawai, media sosial, algoritma, influencer, konten viral, bahkan komentar netizen yang datang lebih cepat daripada bel masuk sekolah.

Belum selesai guru menjelaskan pentingnya berkata sopan, peserta didik sudah membuka media sosial yang mempertontonkan orang terkenal saling menghina demi jumlah penonton. Belum selesai guru mengajarkan kejujuran, muncul konten yang mengajarkan bagaimana memperoleh keuntungan dengan jalan pintas. Belum selesai guru menanamkan kesabaran, dunia digital justru menawarkan segala sesuatu serba instan, COD.

Guru mengajarkan karakter selama empat puluh menit. Algoritma media sosial bekerja dua puluh empat jam tanpa mengenal hari libur. Pertanyaannya, siapa yang lebih sering didengar? Ironisnya, ketika terjadi penyimpangan perilaku, sekolah kembali menjadi alamat pertama yang dituju.

Padahal pendidikan karakter adalah urusan bersama. Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama. Lingkungan adalah ruang praktik pertama. Sekolah hanyalah salah satu mata rantai yang bekerja bersama keluarga, rung publik, pemerintah, media, dunia usaha, organisasi keagamaan, dan seluruh elemen bangsa. Kalau salah satu mata rantai itu putus, hasil akhirnya tentu tidak akan sempurna.

Rapat Koordinasi Penguatan Karakter antar-Orang tua-SMKN 1 Petang

Tantangan lain yang dihadapi pendidikan saat ini adalah derasnya arus persepsi publik. Di era media sosial, sebuah video berdurasi lima belas detik kadang lebih dipercaya daripada penjelasan utuh selama satu jam. Potongan peristiwa sering dianggap sebagai keseluruhan cerita. Opini berlari jauh mendahului fakta. Pengadilan media sosial kadang selesai lebih cepat daripada proses hukum yang sebenarnya.

Guru pun berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka dituntut tegas mendidik. Di sisi lain, mereka harus sangat berhati-hati agar ketegasan itu tidak ditafsirkan sebagai pelanggaran.

Akibatnya, ada guru yang mulai berpikir dua kali sebelum menegur. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena khawatir salah dipahami. Padahal, pendidikan tanpa keberanian menegur ibarat mengemudi tanpa rem. Kendaraan mungkin tetap melaju, tetapi semua penumpangnya berdebar.

Tentu kita tidak sedang menginginkan guru kebal kritik. Guru tetap harus profesional, menghormati hak peserta didik, dan menjunjung tinggi etika. Namun rung publik pun perlu memberi ruang agar guru dapat menjalankan fungsi pendidik secara proporsional, bukan sekadar menjadi pengajar yang takut berbicara.

Mungkin sudah saatnya kini kita berhenti mencari siapa yang paling bersalah. Lalu mari mulai bertanya, “Siapa yang paling siap bekerja sama?”

Karakter tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keteladanan. Ia berkembang dari kebiasaan. Ia menguat karena konsistensi. Ia hanya akan berhasil apabila sekolah, keluarga, rung publik, media, pemerintah, serta dunia usaha berjalan pada irama yang sama.

Kalau semua pihak hanya menunjuk sekolah, sementara yang lain sibuk menunjuk layar telepon genggam, jangan heran apabila pendidikan karakter berjalan seperti lomba tarik tambang yang talinya dipegang ke arah yang berbeda-beda.

Pendidikan karakter bukanlah pekerjaan satu institusi. Ia adalah pekerjaan seluruh bangsa. Karena sejatinya, dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Maka, jangan biarkan satu sekolah memikul beban seluruh kampung.

Di tengah berbagai tantangan itu, sekolah tentu tidak boleh menyerah. Guru tetap harus menjadi pelita yang menerangi jalan anak-anak bangsa. Namun, cahaya itu akan redup apabila rumah memadamkannya, lingkungan meniupnya, dan media sosial justru menyalakan api yang berbeda.

Sudah saatnya kita berhenti menjadikan sekolah sebagai “kambing hitam” setiap kali karakter bangsa dipersoalkan. Sebaliknya, menjadikan sekolah sebagai mitra utama dalam membangun generasi yang berilmu, beretika, dan berkepribadian luhur. Pendidikan karakter bukan pekerjaan satu lembaga, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa.

Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Pesan sederhana itu tetap relevan hingga hari ini. Sebab, karakter anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga oleh apa yang ia lihat di ruang keluarga, di lingkungan rung publik, dan di ruang-ruang digital yang kini nyaris tanpa batas.

Kalau semua pihak bersedia menjadi guru bagi dirinya sendiri, mungkin sekolah tidak perlu lagi bekerja sendirian mendidik karakter bangsa.

Barangkali kita perlu mengubah satu kebiasaan lama. Setiap kali muncul persoalan perilaku anak, jangan buru-buru bertanya, “Sekolahnya di mana?” Cobalah sesekali bertanya, “Rumahnya seperti apa?”, “Lingkungannya bagaimana?”, atau bahkan, “Apa yang setiap hari ditonton di gawainya?”

Penguatan karakter industri SMKN 1 Petang di The Apurva Kempinsky Bali

Bagi saya, karakter bukanlah hasil belajar selama tujuh jam di sekolah. Karakter adalah akumulasi dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan diteladani setiap hari.

Maka dari itu, seperti pesan bijak yang sering dikaitkan dengan sebuah peribahasa Afrika, “It takes a village to raise a child”—dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Jika seluruh kampung ikut mendidik, sekolah tidak akan kelelahan. Namun jika seluruh kampung hanya pandai menyalahkan sekolah, jangan heran bila karakter bangsa berjalan tertatih-tatih mengejar zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: pendidikan karakterSMKSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

Next Post

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails
Next Post
Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ------Dari FGD ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co