WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC FSP PAR–SPSI) Kabupaten Badung pagi itu tampak ceria. Maklum, saat itu, Sabtu, 25 Juli 2026, mereka tengah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 organisasi yang digelar di 100 Sunset Kuta Hotel dalam suasana penuh kebersamaan dan keakraban. Perayaan diawali dengan lomba paduan suara, dilanjutkan dengan menyanyi bersama, makan bersama, hingga diakhiri pembagian door prize.
“Peringatan HUT ke-30 ini menjadi momentum introspeksi atas perjalanan organisasi selama tiga dekade sekaligus memikirkan langkah ke depan. Kami sangat bangga karena selama 30 tahun anggota-anggota kami telah menjalankan tugas dengan baik. Usia 30 tahun merupakan usia yang cukup dewasa bagi organisasi, tetapi pekerjaan rumah kami masih banyak,” kata Ketua PC FSP PAR–SPSI Kabupaten Badung, Slamet Suranto.
Sejak pagi, ballroom tempat acara berlangsung dipenuhi alunan lagu-lagu lawas yang dibawakan dua penyanyi perempuan bersuara merdu. Para pekerja pariwisata berdatangan dan menempati kursi-kursi bernuansa putih yang telah disiapkan. Sebagian menikmati aneka camilan, kopi, maupun teh sesuai selera. Setelah para tamu undangan menempati tempat duduk masing-masing, acara pun dimulai. Sebelumnya, setiap PUK menampilkan ucapan selamat ulang tahun melalui tayangan video.

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Rai Yuda Darma, yang hadir mewakili Bupati Badung, menyampaikan apresiasi atas konsistensi FSP PAR dalam mendukung tenaga kerja pariwisata sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun kepada organisasi tersebut.
“Ini merupakan perjalanan panjang yang penuh dedikasi dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan para pekerja, khususnya di sektor pariwisata,” ujarnya.
Menurutnya, Kabupaten Badung sangat membutuhkan hubungan industrial yang harmonis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Selama ini, FSP PAR dinilai menjadi mitra strategis dalam menciptakan pekerja yang produktif. Ia berharap, memasuki usia ke-30 tahun, FSP PAR semakin profesional, solid, dan mampu menghadapi perkembangan zaman. Pasalnya, tantangan dunia kerja ke depan membutuhkan keterampilan dan kolaborasi yang semakin kuat.
“Keinginan kami di Badung adalah terus membangun kemitraan yang terbuka demi mewujudkan kesejahteraan para pekerja sekaligus mendukung pariwisata yang berkelanjutan,” harapnya.
Slamet Suranto menjelaskan, PC FSP PAR–SPSI Kabupaten Badung berdiri sekitar 30 tahun lalu setelah diberlakukannya regulasi yang memungkinkan pembentukan federasi serikat pekerja. Sebelumnya, organisasi pekerja masih bersifat unitaris dan berada dalam satu wadah SPSI. Dengan adanya aturan tersebut, para pekerja sektor pariwisata, khususnya di hotel-hotel, kemudian membentuk Serikat Pekerja Pariwisata yang tetap berada di bawah naungan SPSI.

“Mulai saat itulah kami mendirikan Serikat Pekerja Pariwisata sendiri,” katanya.
Pada masa awal berdiri, jumlah anggota mencapai sekitar 17.000 orang. Namun, kini jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 4.000 anggota. Penurunan itu terjadi karena munculnya berbagai serikat pekerja lain, seperti SP Mandiri, SP Bali, dan organisasi pekerja lainnya.
Menurut Slamet, usia ke-30 tahun merupakan usia yang cukup dewasa bagi organisasi. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait persoalan ketenagakerjaan di Kabupaten Badung. Karena itu, pihaknya terus memberikan pembekalan kepada anggota maupun pengurus mengenai berbagai aspek ketenagakerjaan, khususnya di lingkungan internal organisasi.
“Ke depan bukan hanya tantangan, tetapi juga harapan yang harus kami wujudkan bersama,” ujarnya.
Salah satu harapan tersebut adalah agar Upah Minimum Kabupaten (UMK) Badung semakin mendekati Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Bali yang mencapai Rp5.200.000.
“Tahun ini baru sekitar 74 persen. Saya berharap bisa mendekati 85 hingga 90 persen, tentu bergantung pada ketentuan pemerintah mengenai penetapan UMK. Saat ini kami masih menunggu regulasi dari pemerintah,” imbuhnya.

Tantangan lainnya adalah masih maraknya wisatawan asing yang bekerja, bahkan mendirikan perusahaan di Bali, secara tidak sesuai ketentuan. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan praktik-praktik ilegal yang merugikan berbagai pihak. Persoalan ini telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah dan menjadi tanggung jawab bersama.
“Saya berharap pemerintah, aparat, dan seluruh pihak terkait dapat lebih serius menangani persoalan ini. Ini berbahaya dan sudah berlangsung cukup lama, tetapi belum juga tuntas,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan perusahaan ilegal yang didirikan oleh wisatawan asing juga berdampak pada para pekerja. Ketika terjadi persoalan ketenagakerjaan, pemilik usaha kerap sulit dimintai pertanggungjawaban karena telah meninggalkan Indonesia. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi pendapatan daerah.
“Harapan saya ada dua, yaitu peningkatan UMK dan penanganan wisatawan asing yang bekerja atau berusaha secara ilegal. Kami berharap pemerintah lebih bersungguh-sungguh dalam memberantas persoalan tersebut,” tegasnya.
Sebelum puncak peringatan HUT ke-30, PC FSP PAR–SPSI Kabupaten Badung juga menyelenggarakan lomba paduan suara Mars SPSI. Dalam perlombaan tersebut, Paradisus by Meliá berhasil meraih predikat Juara Terbaik. Sementara itu, Juara I, II, dan III masing-masing diraih oleh Sol by Meliá Benoa, Ayodya Resort Bali, dan Hilton Bali.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























