17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Azwar by Azwar
July 17, 2026
in Ulas Buku
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

“Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini berisi 27 cerpen yang ditulis pada rentang waktu 2004 sampai 2021. Kumpulan cerpen ini seperti monumen atas proses kreatif Ragdi F Daye selama lebih dari 25 tahun dalam menulis karya sastra.

Cerpen-cerpen yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini bukan hanya tentang cerita yang lahir dari imajinasi Ragdi F Daye akan tetapi merupakan memori kolektif masyarakat tentang Solok secara khusus tentang Minangkabau secara umum. Ragdi F Daye mencatat fenomena sosial, budaya, dan agama yang tumbuh dalam masyarakat Minangkabau melalui cerpen-cerpennya.

Ragdi F Daye sendiri tentu bukan nama yang asing bagi pembaca karya sastra di Indonesia. Ragdi F Daye adalah nama pena dari Ade Efdira, seorang sastrawan Minangkabau kelahiran Solok, Sumatera Barat. Mendengar nama Ragdi F Daye ini muncul ingatan tentang ia seorang sastrawan Minang, ia merupakan alumni Fakultas Sastra Unand, ia penggerak literasi, dan belakangan dia juga dikenal sebagai ASN pada Dinas Kebudayaan, Provinsi Sumatera Barat.

Pada karya-karyanya, orang bisa membaca identitas Ragdi F Daye itu seperti pada beberapa kutipan yang sering dia pilih dalam karya-karyanya. Mungkin tidak serta-merta menunjukkan jati dirinya, tapi bisa membuat pembaca menduga-duga begitulah ia mengidentifikasi dirinya. Hal ini seperti dapat dilihat pada kutipan “Lelaki murung yang pemberang” (Hal: 38), “Laki-laki yang menghormati ibunya dan mencintai bumi yang ia pijak” (Hal: 21), dan “Lelaki yang dibuang dan membuang diri” (Hal: 55). Terlepas dari bagaimana orang akan mengenalnya, tentu saja pembaca boleh menginterpretasikan sesuai dengan pembacaan mereka.

Terkait Kumpulan Cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini, ada tiga hal yang menjadi catatan saya. Pertama, membaca cerpen-cerpen ini, pembaca bisa melihat benang merah yang tegas, yaitu bagaimana pengarang menuliskan kehilangan dalam kisah-kisah indah dan megah dalam sebuah karya sastra. Secara umum, cerpen Ragdi F. Daye menceritakan kehilangan sang tokoh di dalam ceritanya. Kehilangan dalam hal ini baik secara tersirat maupun secara tersurat. Kehilangan yang benar-benar hilang, sesuatu yang tidak akan kembali pada tokoh dalam cerita. Kehilangan yang tidak akan didapatkan kembali, karena pilihan sadar untuk meninggalkannya.

Kehilangan yang menjadi tema-tema dalam cerpen Ragdi F Daye ini diantaranya adalah kehilangan anak-anak karena merantau sebagaimana menjadi tradisi masyarakat Minangkabau secara umum. Hal ini seperti dialami Mak Leha tokoh dalam cerpen “Rumah Lumut” di mana Mak Leha kehilangan anak-anaknya satu per satu karena mereka pergi merantau dan tidak kembali ke kampung halaman mereka. Tema yang hampir sama muncul dalam cerpen “Imam” yang menceritakan tentang Gaek Rusin dan Rubana, sepasang lansia yang kehilangan anak-anak mereka karena pergi merantau dan tak kembali. “Imam” menceritakan kerinduan orang tua atas anak-anak mereka yang pergi merantau.

Selain dua cerpen tersebut, kehilangan karena dipisahkan tanah rantau juga muncul dalam cerpen “Jarak”. Dalam cerpen ini, rantau dilihat dari sudut pandang berbeda: tokoh Attar yang kehilangan jalan pulang dan kehilangan kerinduannya pada kampung halaman. Cerita ini tentang rindu dendam pada kampung halaman yang tak terbayar lunas, mewakili kisah-kisah perasaan anak Minang perantauan pada kampung halamannya.

Selain kehilangan rumah dan kampung halaman karena jarak dan rantau, kisah-kisah dalam cerpen ini juga menceritakan kehilangan yang sebenar-benarnya hilang, seperti tokoh Aku dalam cerpen “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”, yang memilih menjadi istri kedua Tan Mulo daripada menerima pinangan kekasihnya, Lelaki Panyakalan, yang sudah menjadi anak kuliahan di Padang. Atau seperti cinta Kael yang tidak mungkin dilanjutkan karena Ilanur adalah istri orang dalam cerpen “Lekuk Teluk”.

Kehilangan lain dalam kumpulan cerpen ini dapat kita lihat pada cerpen “Pemburu Babi” tentang perempuan kecil yang kehilangan kegadisannya, “Perempuan Bawang” tentang Mak penjual bawang yang kehilangan tempat hidupnya, “Punggung” tentang Ca yang kehilangan laki-laki yang dicintainya, Abrar, ayahnya, dan cucunya Fauzi karena PRRI dan semangat pemberontakan. Selain itu kehilangan juga muncul sebagai makna simbolis seperti dalam cerpen “Seekor Anjing yang Menangis” yang menggambarkan kehilangan simpati para pemimpin pada rakyak kecil, “Kelakar Seekor Sapi’ tentang Capa yang kehilangan sapinya, pada dasarnya menceritakan bagaimana kemiskinan mencekik kehidupan mereka.

Cerpen-cerpen lain menggambarkan dinamika sosial Ranah Minang seperti cerpen “Kucing Tua” tentang relasi budaya hubungan menantu dan mertua, tentang Mak Rasai yang merasa tersisih dari anak dan menantunya. Cerpen “Mungkin Jibril Asyik Berzapin” tentang Soka yang seolah kehilangan Ibrahim suaminya, karena suaminya lebih memilih menjadi pendakwah daripada menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. “Lelaki Kayu” cerpen yang menceritakan bagaimana orang-orang yang sudah kehilangan empati. Maskulinitas kaku yang mematikan rasa. Duda yang kehilangan istri dan anaknya yang berusaha membangun relasi baru, namun terperangkap dalam jalan yang dianggap salah dalam kehidupan sosial.

Kehilangan-kehilangan simbolik juga muncul dalam cerpen “Empat Meter dari Pangkal”, “Barangkali Telah Kau Seka Namaku”, “Takut”, “Cinta Sepasang Malam”, “Mural yang Gemetar” dan beberapa cerpen lainnya. Sementara itu, Ragdi F Daye juga menceritakan tentang kehilangan alam dan lingkungan seperti dalam cerpen “Pelepah Ikan” dan “Bukan Cinta yang Beracun di Dalam”.

Catatan kedua, kumpulan cerpen Singkarak, Riang, dan Sendunya karya Ragdi F Daye ini adalah cerpen-cerpen yang memuat memori kolektif masyarakat Minangkabau. Konsep memori kolektif berakar pada pemikiran Maurice Halbwach yang menegaskan bahwa ingatan tidak pernah sepenuhnya individual. Ingatan selalu dibentuk secara sosial, hidup dalam bahasa, simbol, dan narasi serta diwariskan lintas generasi melalui media budaya. Dalam konteks ini, cerpen berfungsi sebagai arsip kultural nonresmi, ia bukan catatan sejarah negara, melainkan sejarah emosional masyarakat. Cerpen-cerpen Ragdi F Daye tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi menyimpan bekasnya.

Karya Ragdi F Daye berfungsi sebagai media memori kolektif yang merekam paradoks emosional masyarakat Minangkabau, antara keindahan dan kehilangan. Melalui narasi personal yang menyimpan trauma sosial, nostalgia kritis, dan ingatan budaya yang tak tertampung dalam sejarah resmi.

Keseluruhan cerpen dalam buku Singkarak, Riang dan Sendunya ini membentuk satu medan memori kolektif yang memusat pada pengalaman kehilangan. Kehilangan tubuh, rumah, cinta, iman, alam, dan kehilangan identitas yang direpresentasikan melalui ruang lokal Singkarak sebagai arsip emosional masyarakat.

Cerpen Ragdi F Daye menggambarkan puitika kehilangan di mana ia memperlihatkan bagaimana trauma sosial pascakolonial bekerja bukan melalui peristiwa spektakuler, melainkan melalui kehilangan perlahan atas tubuh, ruang hidup, relasi sosial, dan harapan yang dialami oleh subjek-subjek tanpa mekanisme pemulihan.

Ketiga, catatan atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini adalah tentang bahasa Minang, bahasa lokal yang menjadi medium memori kolektif masyarakat Minangkabau. Cerpen-cerpen ini lahir dari bahasa yang tumbuh pada lidah penduduknya, bahkan bahasa-bahasa yang berisi kekeraskepalaan romantik khas Kubuang Tigo Baleh. Pada beberapa cerpen Ragdi F Daye bertebaran bahasa-bahasa Minang seperti labuah, bungo lado, puro, kodek, lapau, taragak, litak, menggedudu, parak, kuduk, badaceh, menegah, bersobok, lampu togok dan banyak kosakata lainnya.

Kehadiran bahasa lokal dalam sebuah cerpen bisa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia memberi keunggulan pada sebuah karya sastra; di sisi lain, dia memberikan nilai kurang untuk karya sastra tersebut. Bagi Ragdi F Daye, bumbu-bumbu kosakata Minang dalam cerpennya bisa saja cara mengungkapkan sesuatu yang tidak tergantikan, mungkin pengarang berharap bahasa lokal untuk karya yang global itu menjadi pelengkap indahnya karya sastra. Namun, di sisi lain, bahasa lokal membuat cita rasa bahasa berkurang bagi pembaca yang tidak berasal dari bahasa yang sama. Walaupun ada catatan kaki, hal ini akan membuat pembaca terganggu karena harus merujuk ke bagian kaki tulisan untuk memahami kata-kata yang ganjil tersebut.

Selain bermunculannya bahasa-bahasa Minang dalam kumpulan cerpen ini, ciri khas bahasa yang digunakan Ragdi F Daye adalah bahasa-bahasa yang tumbuh dari pengalaman bersentuhan dengan kehidupan sosial dan alam Minangkabau. Pada beberapa cerpennya, Ragdi F Daye sering menggambarkan betapa perihnya kaki ketika menginjak tunas ilalang. Saya yakin pembaca tidak akan paham bagaimana sakitnya terinjak tunas ilalang ini kalau pembaca tidak pernah merasakan bersentuhan dengan ladang-ladang ilalang, di tempat tumbuhnya, tunas ilalang yang tajam membuat kaki telanjang akan kesakitan jika menginjaknya.

Ragdi F Daye sebagai seorang anak ladang, tahu persis bagaimana sakit dan perihnya kaki telanjang yang menginjak tunas ilalang ini. Oleh sebab itu, persentuhannya dengan peristiwa alam itu dia rasakan sangat membekas dalam dirinya. Berbeda rasa bahasa yang dia tuliskan itu dengan pembaca yang tidak pernah merasakan atau tidak pernah tahu bagaimana bentuk tunas ilalang itu.

Begitulah pembacaan saya atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini. Jika merujuk pada Roland Barthes (1967) yang menulis “The Death of The Author”, tentu ini adalah pembacaan yang sah-sah saja. Secara umum, dalam cerpen ini saya melihat Ragdi F Daye menuliskan luka-luka dalam cerpennya. Baginya, luka adalah mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang patah (seperti ditulis pada halaman pembuka kumpulan cerpen). Ragdi F Daye mengubah kepahitan dan luka-luka menjadi keindahan dalam karya sastra yang lahir dari jemarinya. [T]

Jakarta, 12 Juli 2026

Tags: buku kumpulan cerpenDanau Singkarakkumpulan cerpenRagdi F Dayesastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

Azwar

Azwar

Penulis dan akademisi. Saat ini ia menjadi dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, UPN Veteran Jakarta. Beberapa karyanya adalah novel Bunian Musnahnya Sebuah Peradaban (2009), novel Hidup adalah Perjuangan (2012), novel Cindaku (2014) dan novel Cinta Seribu Nyawa (2018). Ia juga menulis buku Membaca Sastra Membaca Dunia (Basa Basi, 2016), Teori Kritis dalam Studi Komunikasi (Prenada Media, 2024).

Related Posts

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co