INI bukan sekadar konser musik. “Sang Surya Sampun Metangi” hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir menuju tembang berikutnya, membentuk jalinan kisah yang utuh dan sarat makna. Meski tanpa menghadirkan tokoh dengan rias dan busana layaknya pertunjukan fragmentari, sajian ini tetap memancarkan nuansa teatrikal yang kuat. Penonton pun larut dalam alurnya, seakan enggan beranjak karena khawatir kehilangan kepingan cerita yang tengah dirangkai di atas panggung.
Atmosfer itulah yang terasa dalam Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” bertema Menyongsong Indahnya Permata Khatulistiwa, salah satu sajian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Pertunjukan persembahan Sanggar Eka Mahardika Putra itu digelar di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Selasa (14/7/2026).
Sanggar yang bermarkas di Kota Denpasar tersebut berhasil memadukan musik pop modern dengan kekuatan gamelan Bali dalam sebuah komposisi yang harmonis. Hasilnya bukan hanya pertunjukan yang enak didengar, tetapi juga sebuah narasi musikal yang menyampaikan pesan tentang kehidupan, alam, budaya, serta harapan bagi generasi penerus.
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut hadir menyaksikan penampilan para seniman muda itu. Raut bangga tampak jelas ketika melihat anak-anak dan remaja Bali mampu menghadirkan karya yang segar tanpa tercerabut dari akar budaya daerahnya.

“Baru tiga lagu saya menonton, tetapi luar biasa. Saya senang sekali melihat talenta-talenta muda Bali yang terus diasah melalui kegiatan seperti Bali Jani,” ujar Putri Koster.
Musik Etnik dalam Balutan Modern
Pergelaran ini didominasi penyanyi anak-anak dan remaja. Mereka tidak hanya menunjukkan kualitas vokal, tetapi juga menghadirkan ekspresi tari yang penuh penghayatan dengan dukungan properti seperti kipas dan bunga. Penampilan mereka berkali-kali disambut tepuk tangan meriah dari penonton yang memenuhi arena pertunjukan.
Pendiri Sanggar Eka Mahardika Putra sekaligus penata vokal, penata musik, penata tabuh, pencipta lagu, dan arranger, Drs. I Gede Eka Putra, menjelaskan bahwa karya tersebut dirancang sebagai kolaborasi musik etnik yang tetap berpijak pada tradisi Bali, namun dikemas melalui pendekatan modern.
“Kami menampilkan kolaborasi etnik dengan tetap berakar pada kesenian tradisional, tetapi digarap secara modern. Ini bukan pop band biasa, melainkan perpaduan musik diatonis, pentatonis, slendro, pelog, hingga nada kromatis yang kami satukan,” jelasnya.
Selama hampir dua jam, sebanyak 19 seniman muda, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, membawakan sepuluh lagu yang disusun menjadi satu kesatuan cerita. Instrumen modern berpadu dengan gamelan slendro dan pelog, menciptakan warna baru dalam musik pop Bali tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.
Sepuluh Lagu, Satu Perjalanan Kehidupan
Filosofi “Sang Surya Sampun Metangi” dimaknai sebagai lahirnya semangat baru dalam menjalani kehidupan. Matahari yang terbit menjadi simbol awal perjalanan manusia sekaligus menggambarkan Indonesia sebagai Permata Khatulistiwa yang kaya akan alam, budaya, dan keberagaman.

Melalui sepuluh lagu yang tersusun layaknya babak-babak dalam sebuah kisah, penonton diajak mengikuti perjalanan tersebut.
Pertunjukan dibuka dengan Gita Swara Alit Mahardika dan Sang Surya Sampun Metangi yang menggambarkan hadirnya cahaya kehidupan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju pengenalan keindahan alam melalui Damar di Langit. Kepedulian terhadap lingkungan disampaikan lewat Sampah Sampah Lulu Lulu dan Bali Ning Bali, yang mengajak masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap alam sekitarnya.
Memasuki bagian akhir, Putri Cening Ayu menghadirkan harapan melalui sosok generasi penerus, sementara Juru Pencar mengisahkan kehidupan masyarakat pesisir. Pertunjukan mencapai klimaks melalui Permata Khatulistiwa, Gita Permata Khatulistiwa, dan Eka Mahardika, yang mengajak masyarakat mencintai alam, menjaga budaya, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Menurut Eka Putra, seluruh lagu memang dirancang saling terhubung agar membentuk satu alur cerita yang utuh.
“Dimulai dari matahari terbit sebagai awal kehidupan, kemudian mengenal alam, masuk pada persoalan sampah, melihat kondisi Bali, lalu muncul harapan melalui generasi muda hingga akhirnya mengajak masyarakat mencintai Permata Khatulistiwa,” ungkapnya.
Menjaga Budaya melalui Generasi Muda
Persiapan pertunjukan dilakukan selama sekitar tiga bulan sejak awal Mei 2026. Hampir seluruh lagu yang dibawakan merupakan karya Eka Putra sendiri. Hanya Putri Cening Ayu dan Juru Pencar, yang merupakan lagu rakyat Bali, diaransemen ulang agar selaras dengan konsep pertunjukan.
Selain menyuguhkan perpaduan musik etnik dan modern, pertunjukan ini juga menyisipkan pesan pelestarian lingkungan melalui ajakan memilah sampah berdasarkan sumber dan jenisnya.

“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keberlanjutan seni budaya Bali melalui tiga pilar, yakni pelestarian, pengembangan, dan pembinaan generasi muda,” ujarnya.
Ia menilai antusiasme anak-anak terhadap musik kolaborasi etnik masih sangat tinggi. Karena itu, ruang-ruang kreatif seperti Festival Seni Bali Jani menjadi wadah penting untuk menumbuhkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Bali.
Setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19, Festival Seni Bali Jani, menurutnya, telah menjadi ruang baru bagi para seniman untuk kembali menghadirkan karya-karya kreatif.
“Dulu kami sering tampil di Pesta Kesenian Bali. Setelah pandemi sempat berhenti. Sekarang Bali Jani menjadi ruang baru untuk menampilkan kolaborasi etnik yang menjadi ciri khas kami,” katanya.
Ruang Ekspresi di Tengah Era Digital
Putri Suastini Koster menilai pertunjukan tersebut membuktikan bahwa musik pop Bali mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas budayanya. Unsur gamelan dan musik etnik yang tetap dipertahankan justru menjadi kekuatan utama yang membedakan musik pop Bali dengan genre lain.
“Musiknya memang pop modern, tetapi akar budayanya tetap terasa. Nuansa gamelan Bali tetap terdengar sehingga menjadi sesuatu yang unik,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan ruang ekspresi bagi generasi muda agar tetap aktif berkesenian di tengah derasnya arus teknologi digital.
“Di tengah gempuran gawai, anak-anak kita tetap memiliki ruang untuk beraktivitas. Keilmuannya terasah, talentanya juga berkembang. Itulah pentingnya Bali Jani,” tuturnya.
Melihat potensi besar yang dimiliki generasi muda Bali, Putri Suastini berharap pertunjukan musik kolaborasi etnik semacam ini dapat dikembangkan menjadi festival di tingkat kabupaten dan kota sehingga semakin banyak ruang bagi lahirnya kreativitas baru.
Pada akhirnya, “Sang Surya Sampun Metangi” bukan sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi pengingat bahwa tradisi dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk bertransformasi. Di tangan generasi muda, budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui kreativitas yang mampu menjembatani akar tradisi dengan semangat zaman. Dengan cara itulah warisan Bali akan terus bersinar, seterang matahari yang menjadi inspirasi pertunjukan ini.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































