RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026 di kediaman almarhum I Nyoman Suma Argawa, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng, orang-orang datang membawa kenangan. Mereka duduk melingkar, membuka kembali kisah, karya, dan jejak seorang seniman yang sepanjang hidupnya memilih menjaga rupa Bali Utara.
Pertemuan itu dikemas dalam forum grup diskusi (FGD) sebagai bagian dari penyusunan buku biografi Penjaga Rupa Utara. Forum ini merangkai kembali cara berpikir, proses berkarya, dan kegelisahan yang menghidupi karya-karya I Nyoman Suma Argawa, sehingga perjalanan hidupnya dapat dipahami melalui jejak kreatif yang ia tinggalkan.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Iskandar Eko Priyotomo, mengingatkan bahwa merawat kebudayaan tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang atau satu lembaga saja. Menurutnya, penyusunan buku biografi merupakan salah satu bentuk kolaborasi untuk membangun ekosistem pelestarian budaya.
“Budaya harus dikerjakan bersama. Buku ini menjadi salah satu cara membangun ekosistem agar generasi muda mengenal tokoh-tokoh besar yang lahir dari daerahnya sendiri,” ujarnya.
Baginya, yang paling berharga dari seorang maestro bukan hanya karya yang telah selesai dipajang, melainkan proses panjang di baliknya. Bagaimana sebuah gagasan muncul, bagaimana pengalaman hidup diolah menjadi bentuk, hingga akhirnya menjadi karya yang dapat diwariskan.
“Buku ini tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang bisa membaca proses kreatif seorang maestro,” katanya.
Paparan pula disampaikan I Ketut Supir yang membaca karya-karya I Nyoman Suma Argawa sebagai sebuah bahasa visual. Ia melihat lukisan-lukisan sang maestro memadukan gaya dekoratif, ekspresionisme, dan kubisme, namun tetap berpijak pada tema-tema lokal seperti Barong, Rangda, Trimurti, Dewata Nawa Sanga, hingga berbagai figur mitologi Bali. Hal menarik baginya adalah keberanian menggunakan warna-warna cerah dan kontras yang jarang ditemui dalam tradisi seni rupa Bali Selatan.
“Suma pernah mengatakan, kita boleh belajar teknik ke Bali Selatan, tetapi jangan membawa rohnya. Roh Buleleng harus tetap dijaga,” kata Supir.
Kenangan personal datang dari Kadek Abdhi Yasa, dosen Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu Institut Mpu Kuturan. Ia pertama kali mengenal almarhum bukan di panggung pertunjukan, melainkan lewat video-video tari topeng yang diunggah di media sosial.

Pertemuan langsung baru terjadi pada 2020 ketika ia mendampingi mahasiswanya mewawancarai I Nyoman Suma Argawa untuk mata kuliah Seni Sakral.
“Saya datang ingin belajar topeng. Ternyata saya menemukan sosok yang menguasai begitu banyak bidang seni,” kenangnya.
Abdhi juga melihat bagaimana I Nyoman Suma Argawa mengeksplorasi berbagai medium berkesenian. Di rumahnya tersimpan topeng, lukisan, ukiran, hingga karya-karya bertema spiritual yang menunjukkan keluasan praktik artistiknya. Menurutnya, setiap karya yang dibuat almarhum selalu berangkat dari rasa agar memiliki taksu.
Ia juga mengenang bahwa pada masa itu I Nyoman Suma Argawa memilih memusatkan hidupnya pada tiga bidang, yakni melukis, membuat topeng, dan menarikan topeng. Bagi Abdhi, pilihan tersebut memperlihatkan kemandirian sekaligus totalitas seorang seniman dalam menjalani proses kreatifnya.
“Karya saya pertama-tama adalah untuk saya sendiri,” kenang Abdhi mengutip pesan almarhum. Baginya, ucapan yang dilontarkan itu menunjukkan bahwa seorang seniman terlebih dahulu berdamai dengan proses dan karyanya sendiri, sebelum menunggu penilaian dari orang lain.
Cerita lain datang dari murid sekaligus pengukir gaya Buleleng, I Gusti Bagus Nyoman Sura Adnyana. Ia mengenang I Nyoman Suma Argawa sebagai guru yang mengenalkannya pada dunia tari dan seni ukir sejak duduk di bangku SMP.
Menurut Sura Adnyana, almarhum termasuk orang yang melihat potensi batu apung sebagai media seni. Material yang sebelumnya hanya dianggap sebagai tanah urug itu diolah menjadi karya ukir yang bernilai artistik tinggi. Kini ia meneruskan penggunaan batu apung sebagai media berkarya dalam ukiran gaya Buleleng.

Ia juga menjelaskan karakter ukiran Bali Utara yang berbeda dengan daerah lain. Ukiran pada candi-candi di Buleleng, katanya, cenderung asimetris, dinamis, dan tidak menggunakan karang gajah seperti yang lazim ditemukan di Bali Selatan. Sebagai gantinya, muncul figur yaksa atau raksasa yang memberi kesan seolah-olah bergerak dan saling berkomunikasi.
“Semua daerah memiliki keunggulannya masing-masing. Tetapi Bali Utara punya karakter yang khas dan perlu terus dijaga,” ujarnya.
Penjaga rupa utara lahir dari perjalanan hidup I Nyoman Suma Argawa. Setiap karyanya penanda kesetiaannya merawat wajah Bali Utara dengan keyakinan yang nyaris fanatik. Kesetiaan itu tumbuh dari kecintaannya pada Buleleng dan terus hidup melalui orang-orang yang memilih melanjutkan jejaknya. [T]
Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Jaswanto































