14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 15, 2026
in Esai
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Made Budhiana

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya justru mengenal namanya dari sebuah puisi.

Itu terjadi sekitar tahun 2001, ketika saya masih duduk di bangku SMA di Negara, Jembrana. Usia belasan adalah masa ketika saya dipenuhi pertanyaan. Saya gemar membaca, tetapi merasa buku-buku pelajaran tidak cukup menjawab kegelisahan tentang hidup, manusia, dan dunia. Saya seperti sedang mencari sebuah pintu, tetapi belum tahu ke mana pintu itu akan membawa saya.

Pintu itu ternyata bernama sastra. Seorang teman, Ida Bagus Eka Darmadi yang dikenal dengan nama pena Ibed Surgana Yuga, mengajak saya berkenalan dengan Nanoq da Kansas. Kami memanggilnya Bli Noq. Tubuhnya kurus, rambutnya gondrong, tutur katanya lembut. Ia seorang penyair, wartawan, pelukis, pemain sekaligus sutradara teater. Di Negara, ia mendirikan Komunitas Kertas Budaya, sebuah ruang yang mempertemukan anak-anak muda yang mencintai buku, seni, dan percakapan.

Saya mulai rutin datang ke rumah kos tempat Bli Noq tinggal. Yang paling memikat saya bukan hanya sosoknya, melainkan rak-rak bukunya. Di sana saya menemukan nama-nama yang sama sekali asing bagi seorang siswa SMA di kota kecil, seperti Friedrich Nietzsche, Søren Kierkegaard, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, hingga para sastrawan Indonesia yang tidak pernah saya jumpai di ruang kelas.

Saya membacanya dengan lahap. Barangkali di sanalah pendidikan saya yang sesungguhnya dimulai. Saya mulai menulis puisi, dan mengirimkannya ke surat kabar lokal. Kebahagiaan saya saat itu sangat sederhana. Melihat nama sendiri tercetak di halaman budaya sudah cukup membuat saya merasa telah menemukan rumah. Hingga hari ini, kliping-kliping puisi itu masih saya simpan.

Di antara puisi-puisi karya Bli Noq, ada satu yang terus tinggal dalam ingatan saya. Judulnya Kolase Waktu. Di bawah judul itu tertulis sebuah persembahan: kepada pelukis Made Budhiana.

Saat itu saya tidak mengenal siapa Made Budhiana. Nama itu hanya lewat sebagai sebuah dedikasi dalam puisi. Saya tidak mencari tahu siapa dirinya. Saya hanya menganggapnya sebagai seseorang yang memiliki hubungan khusus dengan penyair.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui bahwa Made Budhiana adalah salah seorang perupa penting Bali. Ia dikenal sebagai pelukis yang tekun mengeksplorasi alam, spiritualitas, dan pengalaman batin melalui bahasa visual yang khas. Lebih dari itu, banyak orang mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka, dan murah hati berbagi pengetahuan kepada seniman yang lebih muda.

Ketika kabar wafatnya datang beberapa hari lalu, ingatan saya justru kembali kepada puisi itu. Saya membacanya lagi, dan saya menyadari bahwa sebuah puisi ternyata dapat berubah maknanya. Bukan karena kata-katanya berubah, melainkan karena kehidupan telah mengubah cara kita membacanya.

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Dalam kajian antropologi sastra, karya sastra tidak pernah lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari relasi antarmanusia, dari kebudayaan, dari pengalaman hidup, dan dari zaman yang melingkupinya. Karena itu, membaca puisi bukan sekadar mengurai metafora. Membaca puisi juga berarti membaca jaringan hubungan sosial yang melahirkannya.

Kolase Waktu menjadi menarik karena ia bukan puisi tentang Made Budhiana. Ia adalah puisi untuk Made Budhiana. Perbedaan kecil itu justru penting. Nanoq tidak sedang menulis biografi. Ia tidak menjelaskan riwayat hidup, teknik melukis, ataupun pameran yang pernah diikuti sahabatnya. Ia memilih berbicara melalui bahasa yang jauh lebih simbolik.

Larik pertama segera menghadirkan kegelisahan.

“kanvas yang dijahit anak-anak, akankah sempurna menyerap cahaya?”

Kanvas biasanya menjadi ruang bagi pelukis. Namun dalam puisi ini kanvas itu robek. Ia harus dijahit kembali. Yang menjahitnya justru anak-anak. Saya membaca anak-anak sebagai simbol harapan, kepolosan, bahkan masa depan. Dunia memang bisa diperbaiki.

 Tetapi penyair tidak pernah mengatakan bahwa jahitan itu berhasil mengembalikan keadaan seperti semula. Ia justru mengajukan pertanyaan, yakni, apakah kanvas yang pernah robek masih mampu menyerap cahaya? Pertanyaan itu terasa melampaui dunia seni rupa.

Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Kita terus-menerus menjahit hubungan yang retak, memperbaiki luka, menambal kegagalan, memulihkan kepercayaan. Namun tidak semua yang telah diperbaiki akan kembali utuh.

Puisi kemudian bergerak menuju citraan yang lebih getir.

“Sampah-sampah yang kutambalkan di dinding tak cukup menghentikan rembesan nanah.”

Saya membacanya sebagai kritik terhadap cara manusia menyelesaikan persoalan. Sampah dipakai untuk menambal. Solusi yang dipilih ternyata sama rapuhnya dengan masalah yang dihadapi. Nanah bukan sekadar luka, ia adalah tanda bahwa luka telah lama dibiarkan.

Lalu hadir larik yang sangat pendek, tetapi terasa menghantam.

“Ruang di mana-mana membusuk.”

Dalam antropologi, ruang tidak hanya berarti bangunan atau bentang alam. Ruang adalah tempat manusia membangun makna. Rumah, jalan, pantai, pasar, galeri seni, bahkan hubungan antarmanusia adalah ruang kebudayaan.

Ketika ruang dikatakan membusuk, penyair sesungguhnya sedang berbicara tentang kehidupan sosial yang kehilangan kehangatan.

Sesudahnya, puisi menyebut mawar, danau, pantai, gunung, dan trotoar. Alam dan kota hadir berdampingan. Seolah-olah penyair ingin mengatakan bahwa keretakan itu tidak hanya terjadi di pusat-pusat kehidupan modern. Bahkan alam yang selama ini dianggap suci pun ikut merasakannya.

Larik berikutnya membuat saya berhenti lebih lama.

“kirimi aku segaris kisah tanpa warna kelam!”

Permintaan itu terdengar sederhana. Namun saya membayangkannya sebagai percakapan seorang penyair kepada seorang pelukis. Penyair bekerja dengan kata, sedangkan pelukis bekerja dengan warna. Keduanya sama-sama sedang mencari kemungkinan agar dunia tidak seluruhnya tenggelam dalam kegelapan.

Namun harapan itu segera dipatahkan.

“parfum yasmin atau seonggok sesaji tak tercium aromanya.”

Bagi masyarakat Bali, sesaji bukan sekadar rangkaian bunga dan daun. Ia adalah bagian dari hubungan manusia dengan yang sakral. Ketika sesaji kehilangan aroma, mungkin bukan sesajinya yang berubah. Barangkali manusialah yang perlahan kehilangan kepekaan.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Di titik ini saya merasa Nanoq sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada seorang pelukis. Ia sedang berbicara tentang zaman.

Puisi itu kemudian kembali kepada kanvas.

“Angin memotong nafasku. Menyangkutkannya pada kanvas robek yang dijahit anak-anak.”

Larik ini seperti membawa kita kembali ke awal. Struktur puisi membentuk lingkaran. Persoalan belum selesai. Luka belum sembuh. Kanvas masih robek.

Lalu hadir penutup yang menurut saya menjadi inti seluruh puisi.

“O, waktu, betapa tambal sulamnya.”

Barangkali inilah kalimat yang paling saya ingat sejak pertama kali membaca puisi tersebut dua puluh lima tahun lalu.

Waktu ternyata bukan perjalanan yang lurus. Ia penuh jahitan, tambalan, penuh bekas luka.

Kini, setelah Made Budhiana berpulang, saya membaca puisi itu dengan perasaan yang berbeda. Dedikasi kepada seorang pelukis yang dahulu saya anggap sekadar catatan kecil kini terasa seperti penanda persahabatan yang melampaui usia.

Saya membayangkan hubungan penyair dan pelukis bukan hanya sebagai hubungan dua seniman, melainkan hubungan dua manusia yang sama-sama sedang berusaha memahami zaman melalui medium yang berbeda. Yang satu menggunakan kata, yang lain menggunakan warna.

Keduanya mungkin tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang menjaga pertanyaan agar tetap hidup. Saya bersyukur mengenal nama Made Budhiana melalui sebuah puisi. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seni tidak selalu memperkenalkan dirinya secara langsung. Kadang-kadang seorang pelukis datang kepada kita melalui larik-larik puisi. Kadang-kadang seorang penyair membuat kita ingin melihat lukisan. Seni saling membuka jalan bagi seni yang lain.

Saya juga bersyukur pernah menjadi bagian kecil dari Komunitas Kertas Budaya. Di ruang sederhana itulah saya belajar bahwa membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memperluas cara memandang manusia. Di sana saya belajar bahwa percakapan dapat mengubah hidup seseorang. Bahwa sebuah puisi dapat memperkenalkan seorang pelukis. Bahwa sebuah nama yang lewat sepintas dalam larik puisi dapat menetap puluhan tahun di dalam ingatan.

  • BACA JUGA:
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana telah berpulang. Namun saya kira seorang seniman tidak benar-benar pergi ketika percakapan tentang dirinya masih terus berlangsung. Lukisan-lukisannya tetap berbicara melalui warna. Puisi Nanoq da Kansas tetap berbicara melalui kata. Dan kita, para pembaca yang datang belakangan, melanjutkan percakapan itu dengan cara kita sendiri. Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah kolase waktu. Fragmen-fragmen kehidupan yang tampak terpisah akhirnya saling menemukan tempatnya. Seorang penyair, seorang pelukis, sebuah komunitas kecil di Negara, dan seorang remaja yang sedang mencari jalan pulang kepada sastra, ternyata dipertemukan oleh ingatan yang tak pernah selesai dijahit oleh waktu. [T]

Tags: Made BudhianaPuisiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Next Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam ---Membaca "The Sacred Text of Padma" karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co