Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan bertajuk “Unity in Harmony”, kolaborasi Sanggar Griya Musika Sukawati (Crescendo) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menghadirkan pengalaman musikal yang berbeda dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026.
Sejak nada pertama dimainkan, penonton langsung disambut harmoni yang kaya melalui perpaduan puluhan instrumen brass, saksofon, sousafon, gitar listrik, hingga drum. Aransemen yang memadukan karakter orkestra dengan energi band modern melahirkan pertunjukan yang megah, dinamis, sekaligus elegan.
Dentuman ritmis drum dan distorsi gitar listrik berpadu kontras dengan tiupan instrumen brass yang kuat. Di sisi lain, suara bass dari sousafon menjadi fondasi musikal yang kokoh, sementara belasan saksofon membangun lapisan melodi yang kaya sehingga menghasilkan komposisi yang penuh warna dan berenergi.
Direktur Pertunjukan, Guntur Prasetyo, mengatakan penampilan ini menjadi debut Crescendo di Festival Seni Bali Jani sekaligus momentum memperkenalkan perkembangan musik brass band di Bali.
“Ini penampilan perdana kami di Festival Seni Bali Jani. Kami ingin menampilkan musik-musik orkestra karena brass band di Bali saat ini sedang berkembang dan mulai mendapat tempat dalam industri musik,” ujarnya.

Sepanjang pertunjukan, sekitar 20 lagu dibawakan dengan aransemen baru yang memadukan musik populer Indonesia, lagu-lagu internasional, serta sentuhan tangga nada Bali. Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana musik orkestra mampu berdialog dengan berbagai genre tanpa kehilangan karakter utamanya.
Pertunjukan dibagi ke dalam tiga segmen. Pada segmen pertama, format full brass band membawakan sejumlah karya jazz dunia, antara lain Filthy McNasty, Take Five, Moanin’, Just Squeeze Me, Boogie Stop Shuffle, dan Manteca.
Suasana kemudian berubah lebih akrab pada segmen kedua ketika band dan vokalis tampil membawakan lagu-lagu populer, seperti Senja Teduh Pelita, Fall in Love, Status Palsu, I’ll Always Remember Us This Way, Every Summertime, Harus Bahagia, Slow It Down, Cintaku, hingga Love Never Felt So Good. Penonton tampak menikmati perubahan warna musik yang lebih ringan dan komunikatif.
Sebagai penutup, brass band dan para vokalis kembali bersatu dalam lagu So Much in Love, Badai Telah Berlalu, dan Satu-Satunya. Kolaborasi tersebut menjadi klimaks pertunjukan sekaligus menegaskan tema “Unity in Harmony”, yakni menyatukan beragam warna musik dalam satu harmoni.
Menurut Guntur, konsep pertunjukan seperti ini masih tergolong baru di Bali. Hingga kini belum banyak kelompok musik yang mampu menghadirkan formasi brass band dengan jumlah pemain sebesar yang ditampilkan malam itu.
Secara keseluruhan, pertunjukan melibatkan sekitar 76 orang dengan sekitar 30 musisi tampil di atas panggung. Di antaranya terdapat 16 pemain saksofon, jumlah yang relatif besar dan menjadi kekuatan utama pertunjukan. Kehadiran mahasiswa ISI Bali yang menekuni instrumen tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan konsep musikal ini.
“Saksofon merupakan instrumen yang membutuhkan proses belajar cukup panjang. Untuk menguasai teknik meniup dan memainkannya dengan baik diperlukan latihan hingga dua tahun atau lebih. Karena itu, kami bangga bisa menghadirkan begitu banyak pemain saksofon dalam satu panggung,” jelasnya.
Melalui kolaborasi ini, Guntur berharap musik orkestra dan brass band semakin dikenal masyarakat serta memperoleh ruang yang lebih luas dalam ekosistem seni pertunjukan di Bali.

“Kami ingin menunjukkan bahwa musik Barat dan musik orkestra juga berkembang di Bali. Semoga kolaborasi antara ISI Bali dan Sanggar Crescendo dapat mendorong lahirnya lebih banyak kelompok brass band di masa mendatang,“ katanya.
Ia menambahkan, Festival Seni Bali Jani merupakan wadah yang tepat bagi seniman modern dan generasi muda untuk bereksperimen, berkolaborasi, sekaligus memperluas pengalaman dalam industri musik.
“Semoga pada penyelenggaraan berikutnya akan semakin banyak kelompok brass band yang tampil dan memperkaya wajah seni modern serta kontemporer di Bali,” harapnya.
Apresiasi juga datang dari Kurator Festival Seni Bali Jani, Made Adnyana. Menurutnya, pertunjukan brass band berskala besar seperti ini masih sangat jarang ditemui di Bali sehingga menjadi pengalaman yang istimewa bagi publik.
Ia menilai kolaborasi Sanggar Crescendo dan ISI Bali menghadirkan alternatif yang segar dalam lanskap pertunjukan musik di Pulau Dewata. Bahkan, formasi brass band dengan belasan pemain alat tiup seperti ini umumnya hanya dijumpai pada festival musik berskala besar, seperti Java Jazz.
Lebih jauh, dominasi mahasiswa ISI Bali dalam formasi pemain menunjukkan besarnya potensi generasi muda dalam melahirkan karya-karya yang kreatif, inovatif, dan mampu menjawab perkembangan seni pertunjukan kontemporer.
“Unity in Harmony memperlihatkan betapa beragamnya wajah musik di Bali. Pertunjukan ini sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai pulau budaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus membuka ruang bagi lahirnya ekspresi seni modern,” ujar Made Adnyana.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































