DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 10.00 WITA, dalam usia 67 tahun. Sebelum mengembuskan napas terakhir, beliau sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (dahulu RSUP Sanglah) akibat kanker usus yang dideritanya. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni, sekaligus menjadi kehilangan besar bagi perjalanan seni rupa Indonesia.
Lahir di Denpasar pada 27 Maret 1959, Made Budhiana merupakan alumnus Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI “ASRI”) Yogyakarta, yang kemudian menjadi bagian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pada masa studinya, ia tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI), komunitas seniman Bali di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Lingkungan kreatif tersebut membentuk pemikiran artistiknya yang kemudian berkembang menjadi salah satu bahasa visual paling khas dalam seni rupa Bali kontemporer.

Made Budhiana dikenal sebagai perupa yang konsisten mengembangkan abstraksi melalui penyederhanaan bentuk-bentuk alam. Pegunungan, pantai, pepohonan, persawahan, serta kehidupan ritual masyarakat Bali menjadi sumber inspirasi yang diolah menjadi komposisi garis, bidang, warna, dan tekstur yang kuat. Baginya, melukis bukan sekadar merekam alam, melainkan menangkap roh, energi, dan makna kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Selain melukis di atas kanvas, ia juga mengeksplorasi berbagai medium, termasuk mixed media dan seni instalasi. Berbagai karya yang lahir dari tangan kreatifnya memperlihatkan keberanian bereksperimen tanpa meninggalkan akar budaya Bali. Konsistensi itulah yang menempatkan Made Budhiana sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.



Perjalanan berkesenian membawanya berpameran di berbagai galeri dan museum di Indonesia maupun mancanegara, di antaranya Cemeti Modern Art Gallery Yogyakarta, The Northern Territory Museum of Arts and Sciences di Darwin, Australia, Ganesha Gallery Jimbaran, Sika Gallery Ubud, Maha Art Gallery, dan Bentara Budaya Bali. Karya-karyanya juga dipamerkan di Prancis, Belanda, Swiss, Jerman, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, serta berbagai kota di Indonesia.
Di balik reputasinya sebagai maestro, Made Budhiana dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan terbuka. Studio yang ia bangun di Bali bukan hanya menjadi tempat berkarya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi para pelukis, sastrawan, pekerja teater, musisi, mahasiswa seni, dan para pencinta budaya. Studio tersebut menjadi ruang yang hidup untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta menjelajahi berbagai kemungkinan dalam proses kreatif.
Penulis berkesempatan mengunjungi studio tersebut ketika pulang ke Bali pada masa liburan kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Made Budhiana dengan antusias menceritakan proses kreatifnya. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh karya yang diciptakannya berangkat dari pengamatan terhadap alam, kehidupan sosial masyarakat, serta realitas kehidupan urban. Semua itu kemudian disederhanakan menjadi esensi bentuk melalui garis, warna, tekstur, dan simbol-simbol ritual, hingga melahirkan bahasa visual yang menjadi identitas kuat dalam karya-karyanya.

Studio itu juga menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan, termasuk Suardika dan Umu Landu Paranggi, bersama para pegiat teater, musisi, serta seniman lintas disiplin. Ruang tersebut mencerminkan keyakinan Made Budhiana bahwa kreativitas tumbuh melalui dialog, keterbukaan, dan kebebasan berekspresi. Sejumlah seniman, di antaranya Putu Sutawijaya, I Made Sumadiyasa, dan Nyoman Sukari, pernah belajar, berdiskusi, dan memperoleh inspirasi di studionya sebelum melanjutkan pendidikan seni di Yogyakarta.
Made Budhiana tidak hanya meninggalkan ribuan karya, tetapi juga meninggalkan cara berpikir tentang seni. Ia mengajarkan bahwa berkesenian adalah proses memahami alam, budaya, dan kehidupan secara utuh. Warisan pemikiran itulah yang akan terus hidup dan menginspirasi generasi seniman Indonesia di masa mendatang.
Upacara Pitra Yadnya (Ngaben) almarhum akan dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026, sebagai penghormatan terakhir atas perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada seni, budaya, dan masyarakat.

Selamat jalan, Maestro Made Budhiana. Kepergianmu meninggalkan duka yang mendalam, namun karya, pemikiran, dan semangatmu akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, menjadi cahaya dan inspirasi bagi generasi yang akan datang.[T]
Lovina, 10 Juli 2026






























