AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Di sudut inilah sastra tidak berhenti ketika sesi diskusi usai. Ia justru menemukan ruang baru untuk terus hidup, di antara secangkir kopi, sepiring kuliner khas Bali Utara, dan percakapan yang mengalir tanpa batas.
Suasana semacam itulah yang menjadi salah satu daya tarik SLF 2026 yang dibuka Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra. Pembukaan festival, Jumat, 3 Juli 2026, juga dihadiri Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Nissa Rengganis serta Direktur Bidang SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Syukur Asih Suprojo.
Selama tiga hari penyelenggaraan festival, kawasan kuliner menjadi salah satu titik yang paling ramai dikunjungi. Bukan hanya oleh mereka yang ingin mengisi perut, tetapi juga para penulis, seniman, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memilih duduk berlama-lama menikmati suasana akrab yang tercipta.
Berbeda dengan area kuliner pada umumnya, stan-stan di SLF 2026 ditata menyerupai bar terbuka dengan dominasi bambu dan dekorasi ramah lingkungan. Konsep sederhana tersebut menghadirkan kehangatan yang mengundang siapa saja untuk singgah. Bangku-bangku kayu yang tersusun memanjang menciptakan ruang akrab bagi mereka yang baru saling mengenal maupun yang telah lama bersahabat.

Di tempat inilah percakapan tentang sastra kerap berkembang menjadi diskusi mengenai budaya, pendidikan, lingkungan, hingga masa depan Bali Utara.
Menu yang disajikan pun tidak kalah menarik. Pengunjung dapat menikmati beragam kuliner khas Buleleng, seperti siobak, bubuh Bali, tipat santok, hingga nasi campur ikan laut khas Desa Les. Hidangan-hidangan itu bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan representasi kekayaan kuliner yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Bali Utara.
Manager Teknis SLF 2026, Kardian Narayana, mengatakan kawasan kuliner sejak awal memang dirancang bukan hanya sebagai tempat berjualan, melainkan ruang interaksi antarpengunjung.
“Pengunjung SLF identik dengan orang-orang yang suka berdiskusi. Karena itu, kami ingin menyediakan tempat yang nyaman agar percakapan bisa terus berlanjut setelah acara selesai. Sambil menikmati makanan khas Buleleng, mereka benar-benar bisa merasakan atmosfer Bali Utara,” ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Cotek itu, penyelenggara juga ingin memberi ruang bagi pelaku usaha kuliner lokal untuk berkembang. Tahun ini, kawasan kuliner diisi Warung Mbok Indri, Warung Nongki, Kopi Dekakiang, serta satu stan kopi asal Desa Banyuatis yang hadir sebagai sponsor.
Menariknya, seluruh tenant tidak dikenai biaya sewa. Mereka hanya berbagi keuntungan sebesar 10 persen dari hasil penjualan sebagai bentuk kemitraan dengan penyelenggara.

“Kami ingin festival ini memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal, bukan sekadar menjadi ajang pertunjukan seni dan sastra,” ujar Cotek.
Salah satu stan yang nyaris tak pernah sepi adalah Kopi Dekakiang. Kedai kopi lokal ini menyajikan kopi hitam khas Dekakiang, teh Dekakiang, kopi susu, susu gula Pedawa, hingga roti bakar yang menjadi teman sempurna menikmati secangkir kopi hangat. Namun, yang membuat stan ini selalu dipenuhi pengunjung bukan semata cita rasa kopinya, melainkan suasana hangat yang tercipta di sekelilingnya.
Di setiap meja, percakapan berlangsung tanpa jeda. Ada yang mendiskusikan buku yang baru diluncurkan, membahas puisi yang baru dibacakan, bertukar pengalaman berkesenian, hingga merancang kolaborasi baru. Suasana seperti ini membuat batas antara panggung festival dan ruang nongkrong seakan menghilang.
Owner Kopi Dekakiang, Ida Bagus Mahadi, mengaku selalu menantikan momentum SLF setiap tahunnya. Sejak festival pertama digelar sekitar empat tahun lalu, Kopi Dekakiang hampir selalu menjadi bagian dari perhelatan sastra terbesar di Bali Utara tersebut.
“Ini adalah bentuk dukungan kami kepada Mahima yang selama ini konsisten menggerakkan dunia sastra di Bali Utara. Kami senang bisa menjadi bagian dari festival ini karena selalu bertemu orang-orang baru dengan gagasan yang beragam,” ujarnya.
Bagi Mahadi, kopi hanyalah awal dari sebuah perjumpaan. Yang jauh lebih penting adalah percakapan yang lahir setelahnya.
“Harapan kami, Kopi Dekakiang bisa menjadi ruang komunitas selama festival berlangsung. Orang datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga berbagi ide, berdiskusi, dan membangun jejaring baru,” harapnya.
Kawasan kuliner di SLF 2026 menjadi bukti bahwa festival sastra tidak hanya hidup di atas panggung. Ia juga tumbuh di ruang-ruang sederhana tempat orang duduk bersama, menikmati kuliner lokal, menyeruput kopi, lalu membiarkan gagasan mengalir tanpa batas. Di balik panggung utama, Bali Utara memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya: hangat, terbuka, dan selalu menyambut siapa saja untuk berbincang.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























