PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan pendekatan artistik. Perpaduan karya dua dan tiga dimensi menciptakan atmosfer pameran yang dinamis, mempertemukan kemegahan patung dan keramik, kelembutan batik dan wastra, hingga eksplorasi warna serta bentuk dalam karya-karya kontemporer.
Pameran yang dibuka oleh Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Dr. Kun Adnyana, pada 5 Juli 2026 ini merupakan bagian dari perayaan 30 tahun Museum ARMA. Pembukaan turut didampingi Pendiri Museum ARMA, Anak Agung Rai, bersama para kurator Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta. Pameran berlangsung hingga 18 Juli 2026.

Acara pembukaan dihadiri berbagai tokoh, di antaranya perwakilan Dinas Kebudayaan Gianyar, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) serta Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Bali beserta jajarannya, para budayawan, seniman, maestro seni rupa Bali, pemilik museum dan galeri, guru besar ISI Bali, serta para seniman peserta pameran dari dalam maupun luar negeri.
Suasana pembukaan dimeriahkan dengan performance art Menjaga yang Hampir Tenggelam yang merespons karya instalasi Perahu di Ujung Musim sebagai simbol bumi yang tengah berada dalam krisis. Tubuh performer hadir sebagai representasi manusia yang berada di antara rasa bersalah, ketakutan, dan harapan terhadap masa depan semesta. Interaksi performer dengan struktur perahu menghadirkan metafora hubungan manusia dan alam yang saling bergantung.
Ketua Panitia, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dalam laporannya mengatakan, pameran kriya Prakriti–Pustaka–Padma merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. “Museum ARMA berkomitmen penuh menghadirkan berbagai program kegiatan, tidak hanya di bidang seni rupa, tetapi juga seni pertunjukan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,” katanya.
Dalam penyelenggaraan pameran tahun ini, Museum ARMA bekerja sama dengan Program Studi Kriya ISI Bali sebagai pelaksana utama pameran internasional tersebut. Pameran yang menghadirkan keragaman medium dan pendekatan artistik ini memperlihatkan bagaimana seni kriya berkembang pesat melalui kreativitas lintas batas.

Pameran ini sekaligus menjadi ruang eksplorasi estetik kontemporer melalui interaksi lintas budaya yang saling memperkaya kemungkinan penciptaan. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara berpartisipasi, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia.
Selain seniman profesional, pameran ini juga melibatkan akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa dari Surabaya.
Secara keseluruhan, Prakriti–Pustaka–Padma menampilkan 79 karya dua dan tiga dimensi, meliputi 28 karya patung keramik, enam karya terakota, sembilan karya guci keramik, empat karya kriya logam, tiga karya keris, enam karya wastra, tiga karya batik seni, dua karya kriya kayu, empat karya tapestri, enam karya media campuran (mixed media), satu wayang kulit, serta empat karya instalasi.
“Selain seniman profesional, pameran juga melibatkan akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia, menjadikannya ruang pertemuan antara praktik artistik, pendidikan, dan pertukaran gagasan lintas budaya,” ujarnya.
Mempertemukan Pengalaman Penciptaan
Dalam catatan kuratorial, Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta menegaskan bahwa Prakriti–Pustaka–Padma merupakan ikhtiar mempertemukan beragam pengalaman penciptaan, eksplorasi material, dan sistem pengetahuan yang melandasi praktik seni kriya masa kini. Pameran ini menunjukkan bahwa seni kriya telah berkembang melampaui batas disiplin, membuka ruang dialog antara tradisi dan inovasi melalui interaksi lintas budaya.
Tema pameran dirumuskan melalui tiga konsep utama.
Prakriti memaknai alam sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber inspirasi artistik. Alam bukan sekadar latar, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari proses kreatif.

Karya-karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana
Pustaka menegaskan bahwa setiap karya lahir dari akumulasi pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut hidup dalam keterampilan tangan, pengalaman berkarya, eksperimen material, hingga tradisi yang terus berkembang.
Sementara itu, Padma atau bunga teratai menjadi metafora proses penciptaan. Seperti teratai yang tumbuh dari lumpur tetapi mekar indah, karya seni lahir melalui proses panjang yang dipenuhi pencarian, kegagalan, perubahan, dan penemuan baru. Keindahan dipahami sebagai hasil perjalanan kreatif yang terus berlangsung.
Seni Kriya yang Melampaui Fungsi
Pameran ini memperlihatkan bagaimana batas-batas antara keramik, tekstil, batik, kayu, logam, maupun medium tradisional lainnya semakin cair. Medium tidak lagi dipahami sekadar sebagai teknik atau identitas, melainkan ruang dialog tempat berbagai pengetahuan, pengalaman estetik, dan inovasi bertemu.
Fokusnya bukan lagi mempertentangkan tradisi dan modernitas, melainkan menunjukkan bagaimana seni kriya berkembang sebagai praktik kebudayaan yang terus bertransformasi. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya memiliki kualitas estetis, tetapi juga membuka kemungkinan sebagai objek desain yang menghadirkan kebaruan tanpa kehilangan akar budayanya.
Membaca Karya, Membaca Kehidupan
Beragam karya dalam pameran ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan kondisi dunia yang tengah menghadapi berbagai perubahan. Ketegangan geopolitik, konflik kemanusiaan, migrasi, hingga krisis ekologis menjadi latar refleksi yang hadir melalui bahasa rupa.

Karya-karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana
Karya-karya keramik, terakota, logam, batik, wastra, kayu, media campuran, maupun instalasi menunjukkan bahwa setiap karya lahir dari perjumpaan antara pengalaman hidup, tradisi, material, lingkungan, dan kesadaran penciptanya. Seni kriya menjadi medium untuk membangun dialog, menumbuhkan empati, sekaligus mengingatkan posisi manusia sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Material sebagai Bahasa
Tanah menjadi medium yang paling dominan dalam pameran ini. Namun, tanah tidak semata diperlakukan sebagai bahan, melainkan sebagai bahasa visual yang menyimpan makna. Melalui keramik dan terakota, para seniman mengeksplorasi hubungan antara fungsi dan imajinasi, antara benda utilitarian dan karya seni murni.
Proses kreatif dipahami sebagai hubungan timbal balik antara seniman dan material. Seniman tidak hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh karakter material yang diolahnya. Dari sinilah lahir kepekaan artistik yang melampaui sekadar keterampilan teknis.
Gagasan Bernas tentang Alam dan Kemanusiaan
Sebagian besar karya mengangkat alam bukan sebagai panorama romantis, melainkan sebagai ruang refleksi atas perubahan lingkungan dan kehidupan manusia. Isu eksploitasi sumber daya, kerusakan ekosistem, serta relasi manusia dengan bumi hadir melalui bahasa visual yang metaforis, bukan dalam bentuk kritik yang verbal.

Tekstur, warna, deformasi bentuk, hingga ruang kosong menjadi medium penyampaian pesan ekologis yang halus, tetapi kuat. Kepedulian terhadap lingkungan dalam pameran ini pada akhirnya bermuara pada kepedulian terhadap kemanusiaan.
Melalui Prakriti–Pustaka–Padma 2026, Museum ARMA membuktikan bahwa seni kriya bukan sekadar keterampilan mengolah material, melainkan praktik kebudayaan yang terus berkembang, membuka ruang dialog lintas bangsa, serta menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia, alam, tradisi, dan masa depan. Pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas seni kriya semakin melampaui batas geografis maupun disiplin, sekaligus menegaskan bahwa penciptaan merupakan sikap terhadap hidup dan kehidupan.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























