KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. “I love poetry“, tulisnya dalam buku barunya Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity (2026, p.1), diterbitkan Tatkala Sekala Media.
Sejak kecil Sonia menyukai puisi. Bahkan, dalam usia 9 tahun, katanya, dia sudah membaca banyak puisi penyair Indonesia (“I have read many poetry of Indonesian poets“) (p.37). Dalam usia sekanak-kanak itu, kebanyakan insan sebayanya yang mungkin masih jatuh-bangun belajar calistung: baca-tulis-berhitung. Tapi, Sonia adalah warga negara negeri puisi, setiap hari menghirup udara wangi puisi. Darahnya semerah puisi. Kelak, suaminya pun seorang penyair.
Terus Mencintai Puisi
Sebagai warga-negara negeri puisi, Sonia meyakinkan pembaca bukunya bahwa dia terus mencintai puisi. Dia mencintai puisi secara berkelanjutan (sustainable). Makanya, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda (Poetry has been a part of of my life) (p.37). Puisi mendidik kepribadiannya, sesuai dengan target Sustainable Developmetn Goals (SDGs) point ke-4: Quality education.
Setelah tamat dari program sarjana pendidikan bahasa Inggris, Undiksha Singaraja, Sonia mengajar bahasa Inggris di almamaternya. Minatnya pada puisi mengukuhkannya menjadi penyair karena sudah menulis dan menerbitkan beberapa puisi. Katanya bangga: “I am a poet and a lectuer” (p. 1). Dalam mengajar, dia menjadikan puisi sebagai materi kuliah. “Poetry is my subject of teaching” (p. iii). Hobi dan profesinya benar-benar berisi kandungan puisi. Puisi adalah DNA-nya.
Ketika melanjutkan studi doktor, dia meneliti pembelajaran bahasa asing (Inggris) dengan menggunakan puisi sebagai materi. Selulus doktor, disertasinya diterbitkan menjadi buku, yang ditimbang ini. Buku setebal 156 halaman yang terdiri dari 11 bab ini memang fokus pada pembahasan penggunaan pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa Inggris melalui proses penulisa puisi. Bukan cerpen, bukan film, bukan novel, bukan sinetron. Tapi, puisi.
Ada beberapa alasan ilmiah dari sudut pandang pedagogi, antara lain karena pembelajaran bahasa asing (Inggris) lebih bersifat konvensional, kognitif, tanpa melibatkan emosi siswa/mahasiswa dalam proses pembelajaran. Yang terjadi adalah teaching (oleh guru), bukan learning (oleh siswa/ mahasiswa). Dengan menugasi mahasiswa menulis puisi, mereka akan kreatif mengekspresikan perasaan dengan bahasa yang mereka temukan sendiri, yang kelak akan tumbuh menjadi gaya atau identitasnya sendiri.
Seperti tersurat dari judul buku Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity, fokus buku adalah pada mindfullness, puisi, dan identitas bahasa. Kalau materinya teks drama, lagu, film atau sinetro, maka judulnya mungkin menjadi EFL Drama, EFL Song, atau EFL Movie.
Sebagai penulis yang mencintai dan menguasai puisi, Sonia memilih materi yang dikuasai: EFL Poetry. Dia yakin bahwa identitas bahasa akan tercipta lewat kreativitas cipta puisi atau catatan harian pribadi (jurnal). Kebiasaan, kemampuan, dan kesungguhan mengekspresikan rasa dan pikiran lewat puisi adalah proses kreativitas untuk menciptakan bahasa, bahasa yang khas diri.
Kreativitas berbahasa adalah jalan untuk menguasai bahasa. Belajar bahasa menjadi menyenangkan, tanpa beban, kalau dilaksanakan dengan kreatif, tanpa perlu gelisah dalam dikotomi benar-salah. Belajar bahasa tidak perlu menakutkan, tak perlu stres, kelelahan, loyo atau apa yang biasa disebut dengan burnout.
Bagaimana caranya membangun keriangan dalam belajar bahasa asing? Atau, bagaimana mencegah burnout? Jawabannya adalah dengan pendekatan mindfullness. Sebagai karya yang berasal dari disertasi, buku ini menjelaskan apa itu mindlfullness; buku ini melakukan kajian pustaka (literature review) tentang penerapan mindfullness dalam berbagai bidang, mulai dari psikologi sampai pedagogi.
Dengan mengutip beberapa pendapat dari seorang Profesor Psikologi dari Harvard University, Ellen J. Langer yang dikenal sebagai “Mother of Mindfulness”, Sonia menekankan bahwa mindfullness adalah proses aktif untuk memperhatikan hal-hal baru di sekitar kita, bahkan pada objek atau rutinitas yang sudah sangat kita kenal. Pentingnya menyuburkan kepekaan akan konteks baru dan perspektif baru (p. 13). Tidak ada fakta absolut, hanya perspektif. Orang yang mindful tidak pernah kaku, tidak kaku pada satu kebenaran, tapi multiple dan fleksibel. Kepekaan akan konteks dan perspektif baru adalah ciri mindfullness yang cocok untuk pembelajaran bahasa melalui penciptaan puisi.
Dalam temuan studinya yang tertuang dalam buku, Sonia melatih siswa menulis puisi dengan cara aktif melihat sesuatu secara baru dan multi-perspektif. Karena ini dilaksanakan dalam bahasa Inggris, maka ada dampak ganda: tumbuhnya benih penguasaan bahasa Inggris dan bakat menulis puisi. Sonia menyusun bukunya dengan praktik pengajaran bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness melalui menulis puisi.
Memberi Contoh dan Menjadi Contoh
Guru atau dosen yang baik tak cukup hanya memberi contoh, tetapi idealnya juga ‘menjadi contoh’, atau keduanya Dalam praktik pengajaran penulisan puisi berbasi-mindfullness (kesadaran, kepekaan, kreativitas pikir, keterbukaan), Sonia memberi dan menjadi contoh. Dia membuka Bab 6 dari bukunya dengan puisi karyanya sendiri “When Times Comes” ( p. 37).
When Time Comes
The only choice we make, is to flow
To bow and to go as thinking makes it so
As voice and choice must show
Yourself and the shadow
Of the real promise of tomorrows
Yet, this is not a battle of the shallows
The vow of the crow
To go or to let go
Jika judul puisi diterjemahkan, kiranya tak ada terjemahan yang lebih tepat secara konten-tual dan konteks-tual selain “tatkala”, situs yang memuat opini, cerita, dan berita yang dikelola Adnyana Ole (suami Sonia). Kata ‘tatkala’ juga menjadi nama penerbit “Tatkala Sekala Media”, penerbit buku ini. Otoritas, kompetensi, dan keterampilan atas materi yang diajarkan oleh Sonia akan menimbulkan keyakinan besar pada mahasiswa.
Saya yakin Sonia tidak saja menjadi dosen yang kompeten, tapi juga idola, teladan, role model. Posisi ini menguntungkan karena proses belajar-mengajar menjadi produktif dan penuh keriangan. Dengan puisi ‘mudah’ itu, mahasiswa akan diam-diam berkata optimistik dalam dirinya “kalau puisi segini, saya juga bisa”. Sonia dan puisinya menjadi motivator.
Bukti-bukti puisi mahasiswa diuraikan di dalam buku sebagai bukti betapa bermanfaatnya pembelajaran bahasa berbasis mindfullness. Mahasiswa menemukan potensi diri mengartikulasikan perasaan dan respon mereka terhadap kontesk dan situasi dengan perspektif diri (self-perspective).
Ada lusinan puisi mahasiswa yang baik ditampilkan dan dikaji proses penulisannya dan gaya-gaya bahasanya seperti metafora, imajinasi, dan personifikasi. Selain puisi, mahasiswa juga diberikan keleluasaan menciptakan ‘jurnal’, catatan personal, sebagai ruang untuk menciptakan bahasa ucap diri atas situasi atau moment. Sayang sekali, puisi sebagai data itu, tidak diisi nomor urut, sehingga pembaca tidak tahu total puisi yang dikaji, dan penulis tidak bisa melakukan cross-reference jika hendak mengacu puisi A atau puisi C; mengulang adalah repetisi, tabu dalam karya ilmiah.
Dari mahasiswa yang dijadikan objek riset, 60% setuju bahwa jika mereka melihat kesempatan baru, terbuka peluang untuk menciptakan kemungkinan baru, menciptakan makna baru, dan proses belajar baru, sesuatu yang sejalan dengan dalil Langer.
Kekuatan dan Kelemahan
Dari buku ini, kita diyakinkan oleh Sonia bahwa pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa melalui penulisan puisi atau catatan harian diri memiliki beberapa kekuatan berikut.
Pertama, merangsang kreativitas dan orisinalitas, dengan mengubah kepekaan indrawi menjadi karya kreatif, dasar dari identitas bahasa diri. Kedua, menurunkan kecemasan [burnout] dalam belajar bahasa asing karena dilakukan dengan mindfull. Ketiga, membangun identitas bahasa diri, lebih dari sekadar belajar grammar dan agreement dalam bahasa Inggris.
Tak ada gading yang tak retak. Pendekatan mindfullness ini juga memiliki kelemahan atau tantangan sebagai berikut.
Pertama, pendekatan ini membutuhkan guru yang memiliki bakat di bidangnya (puisi, film, atau drama). Kedua, prosesnya tidak instan tetapi memerlukan waktu berproses, karena membangun kesadaran, kepekaan, kreativitas memperlukan latihan bersungguh. Ketiga, kurang tepat bagi mahasiswa yang memiliki mindset matematis benar salah, yang lebih senang dengan formula, rumus, daripada latihan kebebasan berekspresi dalam lapis-lapis sensitivitas.
Tentu saja bukan kelemahan itu tidak menjadi tujuan dari buku Sonia. Kalau pun ada keretakan dari pendekatan mindfullness, gading yang retak bukanlah kayu bakar tetapi tetaplah gading.
Buku Tiada Tanding
Bagi saya, buku ini sungguh tiada tanding, karena ditulis dengan bahasa diri yang lugas, logis, dan indah berlapis. Dengan kosa kata biasa, Sonia bisa menguraikan gagasannya dengan fokus, mengalir, dan enak. Struktur kalimat sederhana, tapi bisa menyampaikan gagasan lapis demi lapis, well connected dari satu halaman ke halaman berikutnya. Tulisannya seperti mengebor sukma (meminjam istilah sastrawan hebat Budi Darma). Bab buku dibuat pendek, tapi substansinya representatif dalam alur pembahasan.
Buku Sonia ini adalah suatu bukti bahwa orang yang membangun identitas bahasa diri lewat puisi adalah penulis esai atau karya ilmiah yang sukses. Buku ini tetaplah gading walau pembaca menjumpai paragraf repetitif di halaman 142 dan 144 (dimulai dengan: It can be said that poetry…). Dalam puisi, repetisi adalah gaya bahasa penguat irama, tidak dalam karya ilmiah. Saat cetak ulang untuk memenuhi kepentingan buku sebagai referensi atau buku ajar, repetisi itu tentu bisa dicopot.
Jalan Lain ke Roma
Saya ingat pepatah “Banyak jalan menuju Roma”. Untuk belajar bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness dilakukan lewat penulisan puisi. Dari sini yang akan terasah adalah kemampuan menulis (aspek writing) siswa/mahasiswa.
Jalan lain tentu ada, misalnya dengan memakai drama (pentas) atau menonton film, yang kemudian ditirukan. Jika materi ini diambil, kepekaan siswa yang terasah adalah speaking (keterampilan berbicara), mereka bisa menjadi lebih komunikatif. Kiranya Sonia dan sarjana yang menekuni mindfullness untuk pedagogi belajar bahasa bisa mengeskplorasi materi lain untuk memperkaya cahaya-cahaya jalan lain menuju Roma.
Apa Bahasa Bali ‘Mindfullness’?
Kalau mindfullness bisa diartikan kesadaran, kepekaan, keterbukaan, kreatif, kecerdasan, kerelaan menerima (hal-hal baru), maka dalam bahasa Bali istilah yang paling cocok untuk itu adalah “adnyana”. Kata “adnyana” berasal dari bahasa Sansekerta “Jnyāna” yang artinya “pengetahuan”, lalu diserap ke dalam bahas Jawa Kuno menjadi adnyana yang berarti ‘memiliki pengetahuan”.
Makna lain, ‘adnyana’ adalah ‘pikiran’. Sastrawan dan kolumnis Aryantha Soethama menulis bahwa “Adnyana” itu berarti pintar, cerdas, punya wawasan luas, dan bermoral (Nusa Bali, 17 November 2019). Dengan kata lain, orang yang berpengetahuan luas, orang yang berpikir, menggunakan pikiran, thoughtfull. Jika sinonim itu diterima, maka judul induk buku Mindfulness-Based Learning ini bisa diindonesiakan menjadi: Belajar Berbasis-Adnyana, kebetulan Adnyana nama suami Sonia, yang juga seorang penyair, alias warga negeri puisi.[T]
Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto






























