14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 3, 2026
in Esai
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran

TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang saya rasakan ketika seorang sahabat mengirmkan presentasi Prof. Dewa Palguna bertajuk “Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi yang Akan Datang.” Di salah satu slide, beliau menampilkan kutipan Ariel Durant:

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”

“Sebuah peradaban besar tidak dapat ditaklukkan dari luar sampai ia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.”

Kalimat itu mengguncang pikiran saya. Selama ini banyak orang menyalahkan investor, wisatawan, globalisasi, bahkan pemerintah pusat sebagai penyebab berbagai persoalan Bali. Namun kutipan tersebut mengajak melihat ke dalam. Mungkinkah ancaman terbesar terhadap Bali justru berasal dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang Bali sendiri?

Pertanyaan itu tidak lahir dari pesimisme, tetapi dari kecintaan. Sebab mencintai Bali bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, melainkan berani melihat masalah agar dapat diperbaiki.

Ketika Pembangunan Kehilangan Arah

Refleksi tersebut semakin menguat setelah Pansus TRAP mengungkapkan bahwa pembangunan di Bali sudah dikategorikan sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai data menunjukkan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian, pelanggaran tata ruang, tekanan terhadap sumber daya air, dan semakin berkurangnya ruang hidup masyarakat Bali.

Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Prof. Rumawan Salain yang mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung ekologis Bali. Bahkan Ketua Pansus RTRWP Bali, Made Supartha, menggunakan ungkapan yang sangat keras: pembangunan di Bali telah berlangsung secara “brutal dan ugal-ugalan.”

Ungkapan tersebut tentu dapat diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan adanya kekhawatiran serius terhadap arah pembangunan. Sawah berubah menjadi vila, ruang terbuka menjadi kawasan komersial, kawasan suci semakin terdesak, kemacetan meningkat, sementara krisis air mulai dirasakan di berbagai wilayah.

Pembangunan memang diperlukan. Namun pembangunan kehilangan makna ketika pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Peradaban Runtuh dari Dalam

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, melainkan karena kelemahan dari dalam. Korupsi, keserakahan, konflik elite, lemahnya hukum, dan hilangnya moral menjadi penyebab utama kehancuran.

Bali tentu bukan kekaisaran Romawi. Namun hukum sejarah sering kali memiliki pola yang sama. Ancaman terbesar bukanlah wisatawan asing atau investor, melainkan apabila masyarakat kehilangan kemampuan mengendalikan arah pembangunannya sendiri.

Investor hanya dapat membangun apabila diberi izin. Pelanggaran tata ruang hanya dapat terjadi apabila hukum tidak ditegakkan. Korupsi hanya berkembang apabila integritas melemah. Dengan kata lain, faktor eksternal sering kali memperoleh ruang karena adanya kelemahan internal.

Di sinilah kutipan Ariel Durant menjadi relevan. Peradaban tidak hancur dalam semalam. Ia mengalami erosi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan fondasinya.

Krisis Kesadaran di Balik Krisis Lingkungan

Dalam perspektif yang saya gunakan dalam penelitian mengenai kesehatan holistik, akar persoalan sesungguhnya bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran.

Ketika keserakahan menjadi dasar pengambilan keputusan, maka alam berubah menjadi komoditas. Ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, maka hukum mudah diperjualbelikan. Ketika keuntungan jangka pendek menjadi ukuran utama, maka kepentingan generasi mendatang diabaikan.

Dalam konsep Pancamaya Kosha, manusia yang terlalu terikat pada lapisan fisik dan material akan kehilangan keseimbangan batin. Sementara menurut Peta Kesadaran David Hawkins, perilaku yang didominasi rasa takut, nafsu, dan keserakahan berada pada tingkat kesadaran yang rendah. Sebaliknya, pembangunan berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kesadaran yang didasarkan pada keberanian, integritas, kasih, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, penyelamatan Bali bukan hanya persoalan merevisi tata ruang atau memperketat perizinan. Yang lebih mendasar adalah membangun kualitas kesadaran manusia yang mengambil keputusan.

Menjaga Tanah dan Manusia Bali

Pesan Prof. Dwa Palgun tentang menjaga tanah dan manusia Bali sesungguhnya jauh melampaui isu lingkungan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan peradaban. Manusia Bali bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pewaris budaya dan spiritualitas yang telah bertahan berabad-abad.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Bali boleh berkembang, melainkan berkembang untuk siapa dan dengan cara seperti apa?

Apabila pembangunan terus mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan identitas budaya, maka generasi mendatang mungkin hanya mewarisi nama “Bali”, tetapi kehilangan ruhnya.

Namun refleksi ini bukan ajakan untuk pesimis. Justru sebaliknya, ia adalah panggilan untuk melakukan koreksi sebelum terlambat. Bali masih memiliki modal yang sangat besar: keindahan alam, hamparan sawah dengan sistem subak, nilai Tri Hita Karana, gotong royong, dan ribuan orang yang masih bekerja dengan tulus menjaga alam dan budayanya.

Kutipan Ariel Durant seharusnya menjadi peringatan, bukan vonis. Masa depan Bali belum ditentukan. Ia bergantung pada pilihan yang diambil hari ini. Bila masyarakat, pemimpin, akademisi, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Bali bukan hanya akan bertahan, tetapi dapat menjadi contoh bagaimana sebuah peradaban menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia.

Pada akhirnya, menyelamatkan Bali bukan berarti melawan dunia luar. Yang jauh lebih penting adalah menyelamatkan Bali dari kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, seperti diingatkan Ariel Durant, sebuah peradaban besar tidak runtuh karena musuh di luar temboknya, melainkan ketika fondasi di dalam tembok itu mulai rapuh. Dan selama fondasi itu masih dapat diperkuat dengan integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran yang lebih tinggi, harapan bagi Bali akan selalu tetap ada.

Memang sudah terlambat, tetapi Better Late Than Never. Ketika tangan tidak mampu mengepal, setidaknya biarkan mulut tetap bersuara. [T]

Tags: balikesadaranPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Next Post

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails
Next Post
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co