2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 3, 2026
in Esai
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran

TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang saya rasakan ketika seorang sahabat mengirmkan presentasi Prof. Dewa Palguna bertajuk “Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi yang Akan Datang.” Di salah satu slide, beliau menampilkan kutipan Ariel Durant:

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”

“Sebuah peradaban besar tidak dapat ditaklukkan dari luar sampai ia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.”

Kalimat itu mengguncang pikiran saya. Selama ini banyak orang menyalahkan investor, wisatawan, globalisasi, bahkan pemerintah pusat sebagai penyebab berbagai persoalan Bali. Namun kutipan tersebut mengajak melihat ke dalam. Mungkinkah ancaman terbesar terhadap Bali justru berasal dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang Bali sendiri?

Pertanyaan itu tidak lahir dari pesimisme, tetapi dari kecintaan. Sebab mencintai Bali bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, melainkan berani melihat masalah agar dapat diperbaiki.

Ketika Pembangunan Kehilangan Arah

Refleksi tersebut semakin menguat setelah Pansus TRAP mengungkapkan bahwa pembangunan di Bali sudah dikategorikan sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai data menunjukkan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian, pelanggaran tata ruang, tekanan terhadap sumber daya air, dan semakin berkurangnya ruang hidup masyarakat Bali.

Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Prof. Rumawan Salain yang mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung ekologis Bali. Bahkan Ketua Pansus RTRWP Bali, Made Supartha, menggunakan ungkapan yang sangat keras: pembangunan di Bali telah berlangsung secara “brutal dan ugal-ugalan.”

Ungkapan tersebut tentu dapat diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan adanya kekhawatiran serius terhadap arah pembangunan. Sawah berubah menjadi vila, ruang terbuka menjadi kawasan komersial, kawasan suci semakin terdesak, kemacetan meningkat, sementara krisis air mulai dirasakan di berbagai wilayah.

Pembangunan memang diperlukan. Namun pembangunan kehilangan makna ketika pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Peradaban Runtuh dari Dalam

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, melainkan karena kelemahan dari dalam. Korupsi, keserakahan, konflik elite, lemahnya hukum, dan hilangnya moral menjadi penyebab utama kehancuran.

Bali tentu bukan kekaisaran Romawi. Namun hukum sejarah sering kali memiliki pola yang sama. Ancaman terbesar bukanlah wisatawan asing atau investor, melainkan apabila masyarakat kehilangan kemampuan mengendalikan arah pembangunannya sendiri.

Investor hanya dapat membangun apabila diberi izin. Pelanggaran tata ruang hanya dapat terjadi apabila hukum tidak ditegakkan. Korupsi hanya berkembang apabila integritas melemah. Dengan kata lain, faktor eksternal sering kali memperoleh ruang karena adanya kelemahan internal.

Di sinilah kutipan Ariel Durant menjadi relevan. Peradaban tidak hancur dalam semalam. Ia mengalami erosi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan fondasinya.

Krisis Kesadaran di Balik Krisis Lingkungan

Dalam perspektif yang saya gunakan dalam penelitian mengenai kesehatan holistik, akar persoalan sesungguhnya bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran.

Ketika keserakahan menjadi dasar pengambilan keputusan, maka alam berubah menjadi komoditas. Ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, maka hukum mudah diperjualbelikan. Ketika keuntungan jangka pendek menjadi ukuran utama, maka kepentingan generasi mendatang diabaikan.

Dalam konsep Pancamaya Kosha, manusia yang terlalu terikat pada lapisan fisik dan material akan kehilangan keseimbangan batin. Sementara menurut Peta Kesadaran David Hawkins, perilaku yang didominasi rasa takut, nafsu, dan keserakahan berada pada tingkat kesadaran yang rendah. Sebaliknya, pembangunan berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kesadaran yang didasarkan pada keberanian, integritas, kasih, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, penyelamatan Bali bukan hanya persoalan merevisi tata ruang atau memperketat perizinan. Yang lebih mendasar adalah membangun kualitas kesadaran manusia yang mengambil keputusan.

Menjaga Tanah dan Manusia Bali

Pesan Prof. Dwa Palgun tentang menjaga tanah dan manusia Bali sesungguhnya jauh melampaui isu lingkungan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan peradaban. Manusia Bali bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pewaris budaya dan spiritualitas yang telah bertahan berabad-abad.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Bali boleh berkembang, melainkan berkembang untuk siapa dan dengan cara seperti apa?

Apabila pembangunan terus mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan identitas budaya, maka generasi mendatang mungkin hanya mewarisi nama “Bali”, tetapi kehilangan ruhnya.

Namun refleksi ini bukan ajakan untuk pesimis. Justru sebaliknya, ia adalah panggilan untuk melakukan koreksi sebelum terlambat. Bali masih memiliki modal yang sangat besar: keindahan alam, hamparan sawah dengan sistem subak, nilai Tri Hita Karana, gotong royong, dan ribuan orang yang masih bekerja dengan tulus menjaga alam dan budayanya.

Kutipan Ariel Durant seharusnya menjadi peringatan, bukan vonis. Masa depan Bali belum ditentukan. Ia bergantung pada pilihan yang diambil hari ini. Bila masyarakat, pemimpin, akademisi, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Bali bukan hanya akan bertahan, tetapi dapat menjadi contoh bagaimana sebuah peradaban menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia.

Pada akhirnya, menyelamatkan Bali bukan berarti melawan dunia luar. Yang jauh lebih penting adalah menyelamatkan Bali dari kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, seperti diingatkan Ariel Durant, sebuah peradaban besar tidak runtuh karena musuh di luar temboknya, melainkan ketika fondasi di dalam tembok itu mulai rapuh. Dan selama fondasi itu masih dapat diperkuat dengan integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran yang lebih tinggi, harapan bagi Bali akan selalu tetap ada.

Memang sudah terlambat, tetapi Better Late Than Never. Ketika tangan tidak mampu mengepal, setidaknya biarkan mulut tetap bersuara. [T]

Tags: balikesadaranPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Next Post

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co