22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 3, 2026
in Esai
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran

TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang saya rasakan ketika seorang sahabat mengirmkan presentasi Prof. Dewa Palguna bertajuk “Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi yang Akan Datang.” Di salah satu slide, beliau menampilkan kutipan Ariel Durant:

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”

“Sebuah peradaban besar tidak dapat ditaklukkan dari luar sampai ia menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.”

Kalimat itu mengguncang pikiran saya. Selama ini banyak orang menyalahkan investor, wisatawan, globalisasi, bahkan pemerintah pusat sebagai penyebab berbagai persoalan Bali. Namun kutipan tersebut mengajak melihat ke dalam. Mungkinkah ancaman terbesar terhadap Bali justru berasal dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang Bali sendiri?

Pertanyaan itu tidak lahir dari pesimisme, tetapi dari kecintaan. Sebab mencintai Bali bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, melainkan berani melihat masalah agar dapat diperbaiki.

Ketika Pembangunan Kehilangan Arah

Refleksi tersebut semakin menguat setelah Pansus TRAP mengungkapkan bahwa pembangunan di Bali sudah dikategorikan sebagai kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai data menunjukkan telah terjadi alih fungsi lahan pertanian, pelanggaran tata ruang, tekanan terhadap sumber daya air, dan semakin berkurangnya ruang hidup masyarakat Bali.

Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh Prof. Rumawan Salain yang mengingatkan pentingnya menjaga daya dukung ekologis Bali. Bahkan Ketua Pansus RTRWP Bali, Made Supartha, menggunakan ungkapan yang sangat keras: pembangunan di Bali telah berlangsung secara “brutal dan ugal-ugalan.”

Ungkapan tersebut tentu dapat diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan adanya kekhawatiran serius terhadap arah pembangunan. Sawah berubah menjadi vila, ruang terbuka menjadi kawasan komersial, kawasan suci semakin terdesak, kemacetan meningkat, sementara krisis air mulai dirasakan di berbagai wilayah.

Pembangunan memang diperlukan. Namun pembangunan kehilangan makna ketika pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Peradaban Runtuh dari Dalam

Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, melainkan karena kelemahan dari dalam. Korupsi, keserakahan, konflik elite, lemahnya hukum, dan hilangnya moral menjadi penyebab utama kehancuran.

Bali tentu bukan kekaisaran Romawi. Namun hukum sejarah sering kali memiliki pola yang sama. Ancaman terbesar bukanlah wisatawan asing atau investor, melainkan apabila masyarakat kehilangan kemampuan mengendalikan arah pembangunannya sendiri.

Investor hanya dapat membangun apabila diberi izin. Pelanggaran tata ruang hanya dapat terjadi apabila hukum tidak ditegakkan. Korupsi hanya berkembang apabila integritas melemah. Dengan kata lain, faktor eksternal sering kali memperoleh ruang karena adanya kelemahan internal.

Di sinilah kutipan Ariel Durant menjadi relevan. Peradaban tidak hancur dalam semalam. Ia mengalami erosi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan fondasinya.

Krisis Kesadaran di Balik Krisis Lingkungan

Dalam perspektif yang saya gunakan dalam penelitian mengenai kesehatan holistik, akar persoalan sesungguhnya bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis kesadaran.

Ketika keserakahan menjadi dasar pengambilan keputusan, maka alam berubah menjadi komoditas. Ketika jabatan dipandang sebagai sarana memperkaya diri, maka hukum mudah diperjualbelikan. Ketika keuntungan jangka pendek menjadi ukuran utama, maka kepentingan generasi mendatang diabaikan.

Dalam konsep Pancamaya Kosha, manusia yang terlalu terikat pada lapisan fisik dan material akan kehilangan keseimbangan batin. Sementara menurut Peta Kesadaran David Hawkins, perilaku yang didominasi rasa takut, nafsu, dan keserakahan berada pada tingkat kesadaran yang rendah. Sebaliknya, pembangunan berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kesadaran yang didasarkan pada keberanian, integritas, kasih, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, penyelamatan Bali bukan hanya persoalan merevisi tata ruang atau memperketat perizinan. Yang lebih mendasar adalah membangun kualitas kesadaran manusia yang mengambil keputusan.

Menjaga Tanah dan Manusia Bali

Pesan Prof. Dwa Palgun tentang menjaga tanah dan manusia Bali sesungguhnya jauh melampaui isu lingkungan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan peradaban. Manusia Bali bukan sekadar tenaga kerja, melainkan pewaris budaya dan spiritualitas yang telah bertahan berabad-abad.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Bali boleh berkembang, melainkan berkembang untuk siapa dan dengan cara seperti apa?

Apabila pembangunan terus mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan identitas budaya, maka generasi mendatang mungkin hanya mewarisi nama “Bali”, tetapi kehilangan ruhnya.

Namun refleksi ini bukan ajakan untuk pesimis. Justru sebaliknya, ia adalah panggilan untuk melakukan koreksi sebelum terlambat. Bali masih memiliki modal yang sangat besar: keindahan alam, hamparan sawah dengan sistem subak, nilai Tri Hita Karana, gotong royong, dan ribuan orang yang masih bekerja dengan tulus menjaga alam dan budayanya.

Kutipan Ariel Durant seharusnya menjadi peringatan, bukan vonis. Masa depan Bali belum ditentukan. Ia bergantung pada pilihan yang diambil hari ini. Bila masyarakat, pemimpin, akademisi, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, Bali bukan hanya akan bertahan, tetapi dapat menjadi contoh bagaimana sebuah peradaban menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia.

Pada akhirnya, menyelamatkan Bali bukan berarti melawan dunia luar. Yang jauh lebih penting adalah menyelamatkan Bali dari kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, seperti diingatkan Ariel Durant, sebuah peradaban besar tidak runtuh karena musuh di luar temboknya, melainkan ketika fondasi di dalam tembok itu mulai rapuh. Dan selama fondasi itu masih dapat diperkuat dengan integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran yang lebih tinggi, harapan bagi Bali akan selalu tetap ada.

Memang sudah terlambat, tetapi Better Late Than Never. Ketika tangan tidak mampu mengepal, setidaknya biarkan mulut tetap bersuara. [T]

Tags: balikesadaranPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Next Post

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co