3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Hartanto by Hartanto
July 4, 2026
in Ulas Rupa
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani manusia melalui ‘pengalaman batin’, ‘emosi’, dan ‘spiritualitas’.

Pameran yang digelar di Sudakara Art Space Sanur dan bertemakan Unconditional Love ini menghadirkan karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana sebagai sebuah ‘perjalanan visual’ yang menyingkap banyak makna, tentang ‘cinta tanpa syarat’.

Pameran yang digelar hingga 31 Agustus 2026 ini mengingatkan saya pada ajaran Yesus. Ia mengajarkan dan mempraktikkan ‘cinta kasih’ (agape) yang melampaui batas ‘suku’, ‘status sosial’, dan ‘agama’. Ia mengasihi semua orang, termasuk mereka yang tersingkirkan dan dianggap berdosa oleh masyarakat. 

Hal yang sama juga bisa kita simak dalam ajaran Buddha yang juga mengajarkan cinta kasih murni (Metta). Sementara itu, agama Hindu mengajarkan Tat Twam Asi (‘aku adalah kamu’) yang bisa dipahami sebagai rasa persaudaraan sesama dalam ‘cinta kasih’. Dalam agama Islam bisa kita pahami ‘kasih sayang’ antarsesama manusia (Rahmah),  cinta kepada Allah SWT (Mahabbah), dan terhadap alam semesta (khalifah). Begitulah sifat cinta, ‘universal’. Ada  di tiap agama, sebagai ajaran.

Yang menarik bagi saya, Sutariyani menghadirkan karya-karya ‘figuratif-abstrak’ yang tidak hanya menampilkan ‘keindahan visual’, tetapi juga mengundang penikmatnya untuk masuk ke ruang ‘refleksi’ yang ‘sublim’. ‘Sublim’ yang saya maksud adalah mekanisme pertahanan ‘psikologis’ di mana seseorang menyalurkan dorongan, ‘emosi’, dan daya ‘insting’ menjadi tindakan atau berkarya—yang lebih ‘genial’, dapat diterima secara ‘sosial’, dan bermanfaat bagi penikmat yang ‘berinteraksi’ dengan karya tersebut.

Lebih lanjut, ketika menelisik karya-karya Sutaryani, dapat kita rasakan, setiap sapuan warna dan bentuk dalam karyanya adalah perayaan ‘cinta tanpa syarat’, ‘keluarga’, ‘relejiusitas’, ‘kebebasan jiwa’, dan ‘harapan’.

Figur-figur ‘abstrak’ yang ia hadirkan bukan sekadar bentuk ‘estetis’, melainkan ‘ruang batin’ yang mengundang penikmat untuk merasakan ‘energi estetik’ yang penuh makna ketika ‘dicerna’ dengan ‘kebeningan jiwa’.

Sebagai seniman dengan latar pendidikan sastra Inggris, interior design, dan art therapy, Sutariyani mengolah disiplin ‘lintas bidang’ menjadi ‘bahasa visual’ yang ‘unik’.  Sutaryani juga menjadikan seni sebagai ‘doa visual’, sebagai ‘ungkapan syukur’, dan sebagai ‘jembatan empati’ serta ‘refleksi spiritual’ yang mendalam.

Dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan seni internasional, ia menegaskan bahwa seni mampu melintasi ‘batas geografi’, menghadirkan ‘resonansi universal’ dan jembatan ‘lintas budaya.’

Dalam konteks pelaku seni perempuan, menurut saya, karya Sutariyani dapat ‘dibaca’ dalam dialog dengan ‘Frida Kahlo’ yang menekankan ‘tubuh’ dan pengalaman ‘personal’ sebagai medan ‘ekspresi’.

Filosofi Kahlo adalah menjadikan rasa sakit fisik dan emosional sebagai ‘pemicu’ proses kreatifnya. Seperti yang ia tegaskan: “I never paint dreams or nightmares. I paint my own reality”. (Aku tidak pernah melukis mimpi atau mimpi buruk. Aku melukis realitasku sendiri.) Kahlo melukis ‘luka’, ‘cinta’, dan ‘spiritualitas’ dengan ‘intensitas emosional’ yang mendalam, sementara Sutariyani menghadirkan ‘cinta tanpa syarat’ dan ‘harapan’ melalui simbol-simbol yang ‘lembut’ dan ‘kontemplatif’.

Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan pernyataan ‘eksistensial’ yang lahir dari pengalaman hidup dan spiritualitas.

Selain itu, juga bisa saya padankan dengan Georgia O’Keeffe yang merayakan ‘simbol alam’ sebagai ‘bahasa spiritual’. Sutariyani dengan kredonya: “Melalui warna dan bentuk, saya merayakan cinta, harapan, iman, dan keindahan hubungan antarmanusia”. ia menegaskan bahwa seni adalah praktik ‘spiritual’ sekaligus ‘sosial’.

Menurut saya, ‘kredo’ Sutariyani tersebut ‘paralel’ dengan penegasan O’Keeffe: “I found I could say things with color and shapes that I couldn’t say any other way,” (“Saya menemukan bahwa saya bisa mengungkapkan sesuatu melalui warna dan bentuk yang tidak bisa saya ungkapkan dengan cara lain”).

Dengan menempatkan Sutariyani dalam dialog dengan Kahlo dan O’Keeffe, kita melihat bagaimana ia juga memperkuat ‘konteks gender’ dan ‘spiritualitas’ dalam seni ‘kontemporer’.

Bisa kita simak, karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana bukan hanya berakar pada ‘piritualitas’, tetapi juga ‘beresonansi’ dengan tradisi global ‘seni kontemporer’. Ia menghadirkan seni sebagai ‘manifesto cinta’, dan sebagai ruang penyembuhan yang menegaskan bahwa pengalaman perempuan memiliki kekuatan ‘universal’ untuk ‘menyatukan manusia’ dalam ‘resonansi batin’.

Selanjutnya, saya cukup tertarik dengan gaya ‘kubisme’ yang melengkapi beberapa penggayaan karya visual Sutariyani. Khususnya, karyanya yang berjudul ‘Last Supper 3’. Dalam konteks sejarah seni dunia, karya Sutariyani juga dapat dibaca dalam dialog dengan tradisi ‘modernisme’—yang diperkenalkan oleh Pablo Picasso.

Seperti Picasso yang melalui ‘kubisme’ berusaha membongkar ‘realitas’ menjadi bentuk-bentuk ‘geometris’ untuk menemukan kebenaran baru dalam ‘representasi’, Sutariyani, pada karya Last Supper 3 juga mengolah figur manusia dan ‘simbol universal’ menjadi bahasa ‘visual’ yang lebih ‘intim’, ‘genial’ dan ‘spiritual’.

Jika Picasso menekankan ‘fragmentasi’ bentuk sebagai cara memahami kompleksitas dunia modern, maka Sutariyani menekankan ‘integrasi; warna, bentuk, dan simbol sebagai cara menandai kemanusiaan dalam ‘energi cinta’ dan harapan.

Keterhubungan ini menunjukkan bahwa seni ‘figuratif-abstrak’ tidak hanya berfungsi sebagai ‘eksperimen formal’, tetapi juga sebagai ‘ruang batin’ yang menyatukan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’.

Tentu, menikmati karya ‘kubisme’ tak bisa terlepas dari ‘eksistensi’ kekaryaan Picasso. Terutama karyanya yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini merupakan sintesis Kubisme dan Surrealisme dengan muatan politik. Itu menjadikannya salah satu karya seni modern paling berpengaruh abad ke-20. Ia bukan sekadar lukisan bergaya ‘kubisme’, melainkan manifesto visual anti-perang berlatar cinta kasih universal yang menggabungkan ‘eksperimen formal’ dengan pesan ‘moral global/universal’.

Menurut saya, ‘Guernica’ adalah mahakarya monumental berupa lukisan minyak di atas kanvas berskala besar karya Pablo Picasso. Selesai pada tahun 1937, lukisan ini dibuat sebagai respons atas tragedi pengeboman kota Basque, Guernica, oleh Nazi Jerman dan Italia Fasis atas perintah ‘Jenderal Franco’.

Pengeboman Guernica terjadi pada 26 April 1937. Peristiwa kelam ini menjadi bagian dari Perang Saudara Spanyol, di mana kota Guernica dibombardir oleh pasukan udara Jerman (Legiun Condor) dan Italia. Tragedi ini kemudian diabadikan oleh Picasso.

Dilukis dalam palet monokrom (hitam, putih, dan abu-abu), karya ini menjadi simbol universal dan salah satu lukisan anti-perang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Elemen-elemen yang tergambar menampilkan kengerian, penderitaan, dan kekacauan manusia serta hewan yang menjadi korban keganasan perang.

Namun, ada catatan sejarah tentang solidaritas 2 orang pemuda keturunan Tionghoa asal Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang punya kontribusi pada sejarah Guernika. Mereka menjadi sukarelawan dan bertempur sebagai pilot dan dokter di perang tersebut.

Tokoh tersebut adalah Hoo Chi Sui, lahir di Surabaya pada 1912. Ia merantau ke Eropa pada tahun 1935 dan ketika Perang Saudara Spanyol meletus (1936-1938), ia mendaftar sebagai sukarelawan kontrak sebagai pilot pesawat perang untuk International Volunteer Brigade (Brigade Internasional).

Ia memihak kaum Republik melawan kaum fasis Jerman dan Itali yang berpihak pada kaum ‘Nasionalis’. Selama menjadi pilot, ia mengawaki pesawat buatan Uni Soviet dan kabarnya pernah menjatuhkan pesawat Jerman. Kisah perjuangannya ini pernah dimuat di surat kabar Sin Po pada tahun 1938.

Tokoh satunya lagi adalah Dr. Tio Oen Bik. Ia tergerak menuju Spanyol setelah melihat foto-foto yang dipublikasikan di media massa mengenai pengeboman mematikan kota Guernica pada tanggal 26 April 1937 oleh pasukan Nazi Jerman.

Selanjutnya, ia bergabung dengan ‘Brigade Internasional’ sebagai salah satu dokter untuk merawat pejuang dan korban sipil yang menentang fasisme. Pria kelahiran Surabaya 1906 ini merantau ke Eropa (Belanda) untuk kuliah kedokteran sebelum akhirnya mendedikasikan dirinya di medan konflik Spanyol.

Jadi, dalam karya besar dan monumental karya Pablo Picasso yang bertajuk Guernica, di antara garis bidang, dan warna, ada dua titik penting dari Indonesia, Hoo Chi Sui dan Tio Oen Bik—berlatar kemanusiaan.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Ni Wayan Sutariyani AdnyanaUnconditional Love
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

Next Post

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

"Mindfulness-Based Learning" alias Belajar Berbasis-Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co