5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 1, 2026
in Esai
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Bedanya, yang satu dipenuhi tari, tabuh, dan tepuk tangan. Yang satunya lagi dipenuhi doa, deg-degan, dan… grup WhatsApp.

PKB menjadi panggung hiburan masyarakat Bali. Anak-anak yang baru saja menyelesaikan ujian, guru yang akhirnya bisa menarik napas lebih panjang, hingga orang tua yang selama setahun menjadi “guru tambahan” di rumah, semua seolah mendapat hadiah berupa pesta budaya. Di Taman Budaya Art Center Denpasar, ribuan orang datang setiap hari. Ada yang benar-benar menikmati seni, ada pula yang menikmati kuliner, berfoto, atau sekadar memastikan unggahan media sosialnya tidak kalah estetik dari teman-temannya.

Begitulah seni bekerja. Ia mampu membuat orang rela berjalan jauh, berdesak-desakan, bahkan mencari parkir lebih lama daripada menikmati pertunjukannya.

Suasana Pementasan Tari dalam PKB 2026

Namun di saat yang sama, panggung lain sedang dibuka secara luas. Namanya SPMB.

Kalau PKB memiliki panggung terbuka, maka SPMB memiliki panggung digital. Para pemainnya bukan penari, penabuh gamelan atau seniman lainnya, melainkan para calon murid, orang tua, operator sekolah, dan tentu saja… sinyal internet. Semua memainkan perannya masing-masing.

Kalau di PKB orang berebut kursi penonton, di SPMB orang berebut kursi sekolah. Suasananya sama-sama menegangkan. Yang satu menunggu giliran tampil. Yang satu lagi menunggu pengumuman diterima.

Menariknya, setiap musim SPMB tahun-tahun sebelumnya, selalu muncul tokoh legendaris bernama “Yang Dituankan”. Tokoh ini hampir tidak pernah absen dari tahun ke tahun. Ia bisa muncul melalui telepon, pesan singkat, pertemuan tidak sengaja di warung kopi, bahkan melalui jalur silaturahmi yang tiba-tiba menjadi sangat akrab.

“Pak, siapa tahu masih bisa dibantu…”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling populer setiap musim penerimaan murid baru.

Suasana SPMB SMK 2026 yang Ramai Pendaftar

Pada tahun 2026 ini, sistem kini sudah berubah. Penilaian semakin berbasis data, semakin transparan, dan dalam banyak jalur semakin menempatkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu dasar seleksi. Ruang untuk menitipkan harapan semakin sempit. Yang tersisa hanyalah ruang untuk menitipkan doa.

Karena itu, mungkin memang inilah pembelajaran terbesar bagi masyarakat kita. Bahwa sekolah bukan lagi panggung bagi siapa yang paling banyak mengenal orang penting, melainkan siapa yang paling siap menunjukkan kemampuan dirinya. Relasi tetap penting, tetapi kompetensi jauh lebih menentukan. Bukankah ini pelajaran yang sesungguhnya ingin diajarkan oleh pendidikan?

Suasana SPMB SMKN 2026 yang Sepi Pendaftar

Anak-anak belajar bahwa usaha memiliki nilai. Orang tua belajar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan mencari kenalan. Sekolah belajar menjaga integritas. Dan masyarakat belajar mempercayai sistem.

Kalau dipikir-pikir, PKB dan SPMB sebenarnya memiliki filosofi yang sama. Dalam PKB, setiap kelompok seni tampil sebaik-baiknya karena tahu penonton akan menilai kualitas garapannya. Sementara itu, dalam SPMB, setiap calon murid juga berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya karena sistem akan menilai kompetensinya. Yang membedakan hanyalah tepuk tangannya. Di PKB, tepuk tangan terdengar di akhir pertunjukan. Di SPMB, tepuk tangan baru terdengar ketika nama anak muncul pada daftar yang dinyatakan diterima.

Semoga, seiring semakin baiknya sistem pendidikan kita, musim SPMB tidak lagi identik dengan drama mencari jalan belakang. Terkhusus SPMB 2026 mesti menjadi musim lahirnya kepercayaan bahwa prestasi memang layak menjadi pintu utama.

Lalu, mengapa Pemerintah Provinsi Bali menjadikan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai salah satu basis dalam SPMB? Jawabannya tentu bukan sekadar agar murid yang pintar berkumpul di sekolah favorit. Lebih dari itu, TKA diharapkan menjadi instrumen yang lebih objektif untuk memetakan kemampuan akademik calon murid. Dengan sistem yang semakin terukur, peluang praktik “siapa kenal siapa” diharapkan semakin mengecil bahkan nihil. Yang berbicara adalah kompetensi, bukan koneksi.

Di sisi lain, kebijakan ini sesungguhnya juga mengandung pesan bahwa semua sekolah berhak memperoleh kesempatan berkembang. Sekolah swasta bukan pelengkap penderita dalam sistem pendidikan. Banyak sekolah swasta di Bali yang memiliki guru-guru berkualitas, fasilitas yang lengkap, jejaring industri yang luas, bahkan prestasi yang tidak kalah membanggakan dibandingkan sekolah negeri. Mereka juga memiliki hak untuk tumbuh dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, isu pemerataan peserta didik memang sering menjadi bahan diskusi. Sekolah swasta kerap merasa menjadi pilihan terakhir setelah kursi sekolah negeri penuh. Perasaan seperti ini tentu dapat dipahami. Namun, apabila kita melihat lebih luas, persoalannya ternyata tidak sesederhana dikotomi negeri dan swasta.

Ironisnya, sekolah negeri pun tidak semuanya “kebanjiran” murid. Di sejumlah SMK Negeri misalnya, masih ada program keahlian yang setiap tahun harus bekerja ekstra keras mencari peserta didik. Program seperti pertanian, peternakan, perikanan, seni, bahkan beberapa bidang keahlian lainnya, masih menghadapi tantangan besar untuk menarik minat generasi muda.

Kalau begitu, salah siapa?

Mudah sekali menjawab, “branding sekolahnya kurang.” Jawaban itu memang tidak sepenuhnya keliru. Di era media sosial, citra sering kali lebih cepat menyebar daripada prestasi. Sekolah yang pandai membangun reputasi digital kadang lebih mudah menarik perhatian masyarakat. Namun, rasanya terlalu sederhana jika semua kesalahan dibebankan kepada sekolah.

Bisa jadi akar persoalannya justru berada pada cara kita memandang masa depan. Banyak calon murid memilih sekolah bukan karena memahami potensi dirinya atau prospek bidang yang akan dipelajari, melainkan karena mengikuti pilihan teman, mengejar jurusan yang sedang viral, atau sekadar takut dianggap “kurang keren”. Fenomena FOMO (fear of missing out) ternyata bukan hanya urusan media sosial, tetapi juga sudah merambah hingga pemilihan sekolah. Akibatnya, satu sekolah atau jurusan dibanjirii pendaftar, sementara sekolah atau jurusan lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan dunia kerja justru kekurangan peminat.

Padahal, dunia kerja tidak pernah bertanya, “Dulu kamu sekolah di jurusan yang sedang tren, ya?” Dunia kerja lebih sering bertanya, “Apa yang bisa kamu kerjakan?”

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang pendidikan. Memilih sekolah bukan sedang memilih tempat nongkrong tiga tahun ke depan, melainkan sedang memilih bekal untuk tiga puluh atau empat puluh tahun kehidupan berikutnya. Tren bisa berganti setiap musim, tetapi kompetensi akan tetap dicari sepanjang zaman.

Nah, saya akhiri dulu pergunjingan SPMB yang masih berproses ini. Mari kembali menikmati PKB. Karena setelah sekian hari berjibaku dengan angka, nilai, dan peringkat, sesekali kita memang perlu diingatkan oleh seni bahwa hidup tidak selalu soal siapa yang diterima di sekolah mana. Kadang-kadang, hidup juga tentang menikmati tabuh yang merdu, tarian yang indah, dan tertawa bersama di tengah riuhnya Bali yang selalu punya cerita.[T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliPendidikanPesta Kesenian BaliSPMB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails
Next Post

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co