22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengagumi Mobil Mini

Jaswanto by Jaswanto
June 22, 2026
in Khas
Mengagumi Mobil Mini

Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van's yang dipamerkan di lapak Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (IAM) 2026 di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya, Sabtu, 20 Juni 2026. Beberapa jam sebelumnya kami memang sudah berjanji untuk bertemu. “Ridwan,” katanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah, sebelum ia menawarkan beberapa pilihan tempat untuk melakukan wawancara. Ridwan bernama lengkap Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya. Ia sudah mengemban tanggung jawab itu selama empat tahun. Sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan swasta di industri ekspor-impor kayu.

Sebelum menjawab tawaran Ridwan, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lokasi pameran dan kompetisi modifikasi serta gaya hidup otomotif terbesar di Asia Tenggara—yang kini kian merambah panggung global—itu dipadati pengunjung. Di berbagai sudut, mobil-mobil dengan modifikasi bergaya street racing, JDM, VIP Style, audio ekstrem, hingga show car berkonsep nyentrik memamerkan pesonanya masing-masing.

Namun, perhatian saya justru tertambat pada sebuah meja kayu yang disulap menjadi parkiran mini bergaya urban itu. Di atasnya, puluhan mobil mungil berjajar rapi. Ada Mini GT Nissan Silvia S15 LBWK, Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van, hingga berbagai model Ferrari. Ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan, tetapi benda-benda kecil itu seperti menjadi pusat percakapan yang tak kalah serius dibanding mobil sungguhan yang sama-sama dipamerkan.

Mini-GT Silvia S15 LBWK yang dipamerkan Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lihatlah, di sudut kanan saya, orang-orang itu menunduk, menunjuk detail bodi, warna cat, jenis velg, keaslian kemasan, memperdebatkan kelangkaan seri tertentu. Di hadapan deretan miniatur itu, skala tampaknya mengecil, tetapi gairah para penggemarnya tetap sama besarnya. Sebagian dari mereka sibuk memotretnya dengan latar diorama jalan raya mini. Dan sesekali terdengar tawa riang layaknya kanak-kanak.

“Ini namanya die-cast dan miniscale, Mas,” kata Ridwan, memperkenalkan deretan mobil mungil yang memenuhi meja itu. “Koleksi teman-teman,” sambungnya.

Saya hanya mengangguk. Entah kenapa, di hadapan benda-benda berukuran mini itu, rasa kagum bisa muncul begitu saja. Sulit membayangkan bahwa mobil yang panjangnya hanya beberapa sentimeter ini mampu memikat begitu banyak perhatian―kebanyakan orang dewasa malah. Setiap unit―orang-orang menyebutnya item―tampak dikerjakan dengan ketelitian luar biasa: lekuk bodi, desain velg, warna cat, hingga detail lampu dibuat menyerupai kendaraan aslinya―beberapa replika lampu utama miniatur mobil terbuat dari mika, sementara lainnya cukup dipoles dengan cat warna.

Bagi mata awam seperti saya, ini semua mungkin hanya mainan anak-anak. Namun bagi para kolektornya, benda-benda kecil itu mungkin saja dianggap representasi dari dunia otomotif yang dipadatkan ke dalam genggaman tangan. Pun barang-barang berharga yang memiliki kisahnya sendiri.

***

RIDWAN mengajak saya duduk di deretan kursi di dekat lapaknya. Di tengah riuh pengunjung yang hilir-mudik menikmati pameran dan berbelanja, kami mencari sedikit ruang untuk berbincang lebih dalam. Percakapan itu turut ditemani Mochammad Alifudin Firmansyah, yang akrab dipanggil Alif, salah satu sosok yang selama ini membantu Ridwan mengelola komunitas Pemburu Diecast Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan singkatan PDS.

Mobil-mobil mini berbagai merek koleksi anggota Komunitas Pemburu Diecast di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dari tempat kami duduk, deretan mobil mini yang dipajang anggota komunitas masih terlihat jelas. Sesekali beberapa pengunjung berhenti, mengamati koleksi yang dipamerkan, lalu mengajukan pertanyaan. Ridwan dan Alif tampak sudah terbiasa melayani rasa ingin tahu semacam itu. Bagi mereka, lapak tersebut bukan sekadar tempat memamerkan koleksi, melainkan juga ruang untuk memperkenalkan dunia die-cast dan miniscale―miniatur kendaraan atau diorama yang dibuat dengan tingkat detail, akurasi dimensi, dan presisi yang sangat tinggi―kepada orang-orang yang baru pertama kali bersentuhan dengannya.

Pemburu Diecast Surabaya, Ridwan bercerita, berawal dari kelompok kecil yang lahir pada 17 Desember 2019. Awalnya merupakan bagian dari jaringan komunitas di Jakarta sebelum kemudian berdiri mandiri sekitar tahun 2020. “Awalnya cuma lima sampai enam orang,” kata Ridwan. Tetapi kini, jumlah anggota grup telah melampaui 200 orang, dengan sekitar 60 hingga 70 anggota aktif yang rutin mengikuti kegiatan komunitas. Mereka datang dari berbagai latar belakang pekerjaan dan usia, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap mobil mini berbahan logam itu.

“PDS tidak sekadar menjadi tempat jual-beli atau pamer koleksi saja, Mas,” kata Ridwan kepada saya, “komunitas ini juga berfungsi sebagai ‘rumah bersama’ bagi para pecinta die-cast dan miniscale di Surabaya.” Ya, saya meyaksikannya sendiri bagaimana para anggota PDS saling bertukar informasi mengenai produk baru, berbagi pengetahuan tentang keaslian barang, hingga belajar menghindari berbagai modus penipuan yang kerap muncul dalam dunia koleksi.

Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ridwan sendiri masuk ke dunia die-cast pada dekade 2018 secara tidak sengaja. Awalnya, anaknya mendapatkan hadiah sekardus Hot Wheels dari teman yang datang dari Bali. Dari satu mobil kecil itulah rasa penasarannya tumbuh. Ia mulai belajar melalui grup Facebook, mengenali berbagai merek, memahami kondisi barang, hingga mengenal dunia jual-beli koleksi. Kini ia mengoleksi berbagai merek seperti Mini GT, Tarmac Works, Inno64, Tomica, Kyosho, dan tentu saja Hot Wheels. Menurutnya, perkembangan industri die-cast terus menghadirkan inovasi baru dengan detail kendaraan semakin realistis, kualitas produksi yang meningkat, dan variasi model semakin beragam.

“Kalau miniscale lebih detail desainnya daripada die-cast,” kata Ridwan. Perbedaan itulah yang membuat sebagian kolektor kemudian beralih dari sekadar mengoleksi mainan menuju koleksi miniscale yang lebih serius. Jika Hot Wheels sering dianggap pintu masuk karena harganya relatif terjangkau, maka miniscale menawarkan reproduksi kendaraan dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi.

Die-cast―atau sebut saja mobil-mobilan untuk anak-anak tiga tahun ke atas―memiliki sejarah yang panjang daripada yang dibayangkan banyak orang. Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, salah satu pelopor mobil mini berbahan logam yang paling populer adalah Tootsietoy, sebuah perusahaan mainan asal Chicago yang didirikan Theodore S. Dowst. Produk-produknya berupa miniatur kendaraan cor logam yang meniru berbagai jenama otomotif ternama pada masanya, mulai dari La Salle, Ford coupe dan sedan, Graham coupe, hingga truk Mack.

Bagi anak-anak era itu, Tootsietoy merupakan mainan yang sangat digemari. Namun seiring berjalannya waktu, benda-benda kecil tersebut bertransformasi menjadi barang koleksi yang diburu para penggemar otomotif dan sejarah mainan. Kehadiran Tootsietoy menandai salah satu babak awal perkembangan die-cast, jauh sebelum mobil-mobil mini menjadi bagian dari budaya koleksi global seperti yang dikenal saat ini.

Koleksi anggota komunitas Pemburu Diecast Surabaya yang dipamerkan di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada awal abad 20, mobil mini berbahan logam juga populer di Eropa. Salah satu pelopornya adalah perusahaan mainan asal Inggris bernama Meccano Ltd yang mengeluarkan merek mainan Dinky Toys, yang sejak dekade 1930-an memproduksi kendaraan mini dengan teknik die-cas zamak—yakni proses pembuatan komponen atau miniatur dengan cara melelehkan paduan logam zamak (campuran seng, aluminium, magnesium, dan tembaga), lalu menyuntikkannya ke dalam cetakan baja bertekanan tinggi.

Setelah Perang Dunia II, industri ini berkembang pesat. Nama-nama seperti Matchbox, Corgi, dan kemudian Hot Wheels menjadi ikon global. Pada akhir 1960-an, Hot Wheels hadir dengan desain lebih sporty, warna mencolok, dan roda cepat bernama “Redline Wheels”. Mobil-mobilnya dibuat lebih liar dan futuristik (imajinatif) dibanding Matchbox yang cenderung realistis. Sejak saat itu, Hot Wheels berkembang menjadi salah satu brand diecast paling populer di dunia dengan ribuan casting yang terus dirilis setiap tahun.

Mochammad Alifudin Firmansyah, admin Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Indonesia, die-cast mulai dikenal luas melalui produk Matchbox dan Hot Wheels yang masuk sejak dekade 1980-an dan 2000-an. Pada 2002, Hot Wheels masuk ke Indonesia dengan cara yang sensasional. Jenama yang diproduksi oleh Mattel dari Amerika Serikat itu, membuat lintasan permainan mobil mini terpanjang se-Asia, yakni 200 meter.

Namun ledakan komunitas kolektor baru benar-benar terjadi pada era internet dan media sosial. Forum daring, Facebook, Instagram, hingga marketplace memungkinkan para penggemar bertemu, bertukar informasi, dan berburu barang langka lintas kota bahkan lintas negara. Dari sinilah muncul istilah-istilah yang hanya dipahami para kolektor: reguler, premium, chase, treasure hunt, hingga super treasure hunt—varian langka yang sering menjadi incaran dan memiliki nilai jual tinggi.

Dan di balik dunia yang tampak seperti “mainan kecil”, ada pasar koleksi global yang nilainya terus tumbuh. Industri die-cast kini menjadi bagian dari pasar “collectible toys” bernilai miliaran dolar, didorong oleh fenomena “kidult”—orang dewasa yang kembali membeli mainan sebagai bentuk nostalgia dan koleksi serius. Tren ini makin menguat sejak era media sosial, ketika komunitas kolektor tumbuh melalui Instagram, Facebook, hingga marketplace global.

Dalam dunia lelang, beberapa unit diecast bahkan mencapai harga yang mengejutkan. Hot Wheels “Beach Bomb Rear-Loader” prototipe keluaran 1969, misalnya, pernah dilaporkan terjual hingga lebih dari 100.000 dolar AS karena kelangkaannya. Beberapa model pre-pro dan prototype dari era Redline juga kerap mencapai puluhan ribu dolar. Di kelas miniscale, produk high-end seperti Autoart, GMP, hingga Kyosho Ferrari atau Porsche bisa diperdagangkan ratusan hingga ribuan dolar, tergantung edisi dan kelangkaannya. Bahkan, Corgi Toys edisi James Bond Aston Martin DB5 original keluaran 1960-an kini menjadi buruan kolektor dengan harga yang terus meroket di pasar sekunder.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa die-cast bukan lagi sekadar benda nostalgia, tetapi juga aset koleksi dengan nilai ekonomi yang nyata—terutama pada varian langka, produksi terbatas, atau edisi khusus pameran.

***

BAGI para kolektor, berburu die-cast sering kali menyerupai perburuan harta karun. Tidak semua model tersedia dalam jumlah yang sama. Beberapa diproduksi terbatas. Sebagian hanya beredar di negara tertentu. Ada pula yang sengaja disisipkan sebagai varian langka di antara produk reguler. “Karena itu, unsur keberuntungan juga menjadi bagian penting dari hobi ini,” kata Alif sambil tersenyum ketika saya tanya tentang pengalamannya berburu koleksi.

Pria berusia 27 tahun itu mulai menekuni dunia die-cast pada 2017. Awalnya ia mengoleksi secara acak, sebelum akhirnya menemukan tema yang benar-benar disukai. “Pertama ya ngawur, Mas. Apa saja dibeli. Tapi sekarang hanya ngoleksi die-cast khusus mobil-mobil dalam film Fast and Furious dan JDM―mobil-mobil khusus Jepang gitulah,” ujar pemuda yang bekerja di bidang IT dan desainer program itu. Saya menduga, ketertarikannya pada mobil-mobil Jepang berakar dari budaya populer, terutama film dan dunia modifikasi. Dari sana koleksinya berkembang menjadi representasi kecintaan terhadap otomotif Jepang.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Fenomena semacam ini umum ditemukan di kalangan kolektor. Sebagian mengoleksi berdasarkan merek mobil, sebagian berdasarkan film, sebagian lagi berdasarkan era tertentu. Koleksi akhirnya menjadi cara untuk menceritakan identitas dan minat pribadi. Lantas, mengapa begitu banyak orang dewasa rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang untuk mengoleksi mobil mini?

Menurut Alif, bagi sebagian orang, diecast bukan sekadar benda koleksi, melainkan mesin waktu yang mampu membawa mereka kembali ke masa kanak-kanak. Banyak kolektor dewasa pernah bermain mobil-mobilan ketika kecil, lalu menemukan kembali kegembiraan yang sama saat mereka telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

“Kalau aku sendiri berkaitan dengan inner child, sih, Mas. Dulu kan agak susah beli mainan, sedangkan sekarang sudah punya kerjaan sendiri. Jadi menyisihkan beberapa untuk memenuhi inner child itu tadi,” terang Alif sembari tertawa.

Pengakuan itu terdengar biasa saja, tetapi barangkali mewakili pengalaman banyak kolektor. Mobil-mobil mini yang kini tersimpan rapi di rak pajangan sering kali bukan sekadar miniatur kendaraan semata, bisa saja itu adalah kepingan kenangan—tentang masa ketika sebuah mainan menjadi barang yang diidam-idamkan, tetapi belum tentu dapat dimiliki. Ketika kesempatan itu akhirnya datang di usia dewasa, membeli sebuah die-cast bukan hanya soal memperoleh benda, melainkan juga cara berdamai dengan kerinduan yang lama tersimpan.

Selain berkaitan dengan inner child seperti yang dialami Alif, ada pula mereka yang memandang diecast sebagai bentuk apresiasi terhadap desain otomotif. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengendarai, apalagi memiliki, Ferrari, Porsche, atau Nissan GT-R asli. Namun, melalui miniatur yang dibuat dengan tingkat presisi tinggi, nyaris menyerupai aslinya—mulai dari lekuk bodi, detail interior, hingga warna cat—mereka tetap dapat menikmati keindahan kendaraan-kendaraan impian itu dari jarak yang sangat dekat.

Sebagian kolektor lainnya justru menikmati sensasi perburuan. Dalam dunia die-cast, menemukan model yang sudah lama diincar, terlebih yang diproduksi terbatas atau telah lama habis di pasaran, menghadirkan kepuasan tersendiri. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan ketika pencarian berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, akhirnya berujung pada sebuah kotak kecil yang berhasil dibawa pulang. Perasaan itu tidak jauh berbeda dengan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya menemukan target yang selama ini ia kejar.

Namun, muara daya tarik die-cast tidak selalu terletak pada benda yang dikoleksi. Sering kali yang membuat seseorang bertahan dalam hobi ini justru orang-orang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Dari sebuah mobil mini berukuran beberapa sentimeter, lahir ruang pertemanan yang melampaui profesi, usia, dan latar belakang sosial. Di dalam komunitas, seorang mahasiswa dapat berbincang akrab dengan pengusaha, pegawai kantor bertukar cerita dengan mekanik, sementara kolektor senior dan pemula duduk berdampingan membahas model yang sama dengan antusiasme yang setara.

Die-cast mungkin menjadi alasan mereka berkumpul, tetapi kebersamaanlah yang membuat mereka terus kembali. Seperti di PDS, misalnya, yang rutin mengadakan kopi darat atau kopdar setiap bulan. Pada momen-momen tertentu mereka juga menyelenggarakan perayaan ulang tahun komunitas, lomba fotografi die-cast, kompetisi modifikasi (custom), balapan die-cast, hingga acara bakti sosial. “Semua merek boleh join komunitas,” kata Alif, menegaskan bahwa komunitas mereka terbuka bagi siapa saja.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tengah dunia yang semakin digital dan serba cepat, aktivitas mengoleksi benda fisik justru menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada kesenangan ketika membuka kemasan baru, merasakan berat logam di telapak tangan, menata koleksi di rak, atau memotretnya di atas diorama buatan sendiri. Barangkali karena itulah die-cast tetap bertahan, bahkan terus berkembang, di tengah gempuran gim video dan hiburan digital.

Benda kecil itu memang tidak bisa dikendarai. Mesinnya tidak menyala. Rodanya hanya berputar beberapa sentimeter di atas meja. Namun di tangan para kolektor, mobil-mobil mini tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada ukurannya: cerita tentang kenangan masa kecil, kegembiraan berburu, kecintaan pada otomotif, dan persaudaraan yang tumbuh dari hobi yang sama. Di rak-rak koleksi para anggota Pemburu Diecast Surabaya, setiap mobil mungil sesungguhnya adalah sebuah kisah yang diparkir dengan rapi.

Menjelang malam, saya berpamitan. Sebelum berpisah, Ridwan menyelipkan sebuah oleh-oleh ke tangan saya—hadiah perkenalan yang tak saya duga. Sebuah Matchbox 1984 Toyota MR2, lengkap dengan detail eksterior retro khas mobil sport Jepang era 1980-an dan lampu depan pop-up dalam posisi terbuka, seolah siap membelah jalanan seperti dalam sebuah film lawas.

Mobil mini itu saya pajang di dekat rak buku. Ukurannya kecil, nyaris tenggelam di antara deretan buku yang lebih besar. Namun entah mengapa, mata saya berkali-kali kembali kepadanya. Lalu, tanpa disadari, saya merasakan sesuatu yang akrab. Bukan sekadar rasa senang karena menerima hadiah, melainkan perasaan yang pernah saya kenal jauh sebelum mengenal istilah tenggat pekerjaan, tagihan, dan cicilan bulanan. Perasaan ketika sebuah benda kecil mampu menghadirkan kegembiraan yang utuh, tanpa syarat, dan tanpa perhitungan.

Saya kembali menatap Toyota MR2 mungil itu beberapa saat. Ah, apakah ini yang dinamakan inner child? [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: otomotifSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Next Post

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails
Next Post
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co