25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengagumi Mobil Mini

Jaswanto by Jaswanto
June 22, 2026
in Khas
Mengagumi Mobil Mini

Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van's yang dipamerkan di lapak Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (IAM) 2026 di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya, Sabtu, 20 Juni 2026. Beberapa jam sebelumnya kami memang sudah berjanji untuk bertemu. “Ridwan,” katanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah, sebelum ia menawarkan beberapa pilihan tempat untuk melakukan wawancara. Ridwan bernama lengkap Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya. Ia sudah mengemban tanggung jawab itu selama empat tahun. Sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan swasta di industri ekspor-impor kayu.

Sebelum menjawab tawaran Ridwan, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lokasi pameran dan kompetisi modifikasi serta gaya hidup otomotif terbesar di Asia Tenggara—yang kini kian merambah panggung global—itu dipadati pengunjung. Di berbagai sudut, mobil-mobil dengan modifikasi bergaya street racing, JDM, VIP Style, audio ekstrem, hingga show car berkonsep nyentrik memamerkan pesonanya masing-masing.

Namun, perhatian saya justru tertambat pada sebuah meja kayu yang disulap menjadi parkiran mini bergaya urban itu. Di atasnya, puluhan mobil mungil berjajar rapi. Ada Mini GT Nissan Silvia S15 LBWK, Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van, hingga berbagai model Ferrari. Ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan, tetapi benda-benda kecil itu seperti menjadi pusat percakapan yang tak kalah serius dibanding mobil sungguhan yang sama-sama dipamerkan.

Mini-GT Silvia S15 LBWK yang dipamerkan Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lihatlah, di sudut kanan saya, orang-orang itu menunduk, menunjuk detail bodi, warna cat, jenis velg, keaslian kemasan, memperdebatkan kelangkaan seri tertentu. Di hadapan deretan miniatur itu, skala tampaknya mengecil, tetapi gairah para penggemarnya tetap sama besarnya. Sebagian dari mereka sibuk memotretnya dengan latar diorama jalan raya mini. Dan sesekali terdengar tawa riang layaknya kanak-kanak.

“Ini namanya die-cast dan miniscale, Mas,” kata Ridwan, memperkenalkan deretan mobil mungil yang memenuhi meja itu. “Koleksi teman-teman,” sambungnya.

Saya hanya mengangguk. Entah kenapa, di hadapan benda-benda berukuran mini itu, rasa kagum bisa muncul begitu saja. Sulit membayangkan bahwa mobil yang panjangnya hanya beberapa sentimeter ini mampu memikat begitu banyak perhatian―kebanyakan orang dewasa malah. Setiap unit―orang-orang menyebutnya item―tampak dikerjakan dengan ketelitian luar biasa: lekuk bodi, desain velg, warna cat, hingga detail lampu dibuat menyerupai kendaraan aslinya―beberapa replika lampu utama miniatur mobil terbuat dari mika, sementara lainnya cukup dipoles dengan cat warna.

Bagi mata awam seperti saya, ini semua mungkin hanya mainan anak-anak. Namun bagi para kolektornya, benda-benda kecil itu mungkin saja dianggap representasi dari dunia otomotif yang dipadatkan ke dalam genggaman tangan. Pun barang-barang berharga yang memiliki kisahnya sendiri.

***

RIDWAN mengajak saya duduk di deretan kursi di dekat lapaknya. Di tengah riuh pengunjung yang hilir-mudik menikmati pameran dan berbelanja, kami mencari sedikit ruang untuk berbincang lebih dalam. Percakapan itu turut ditemani Mochammad Alifudin Firmansyah, yang akrab dipanggil Alif, salah satu sosok yang selama ini membantu Ridwan mengelola komunitas Pemburu Diecast Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan singkatan PDS.

Mobil-mobil mini berbagai merek koleksi anggota Komunitas Pemburu Diecast di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dari tempat kami duduk, deretan mobil mini yang dipajang anggota komunitas masih terlihat jelas. Sesekali beberapa pengunjung berhenti, mengamati koleksi yang dipamerkan, lalu mengajukan pertanyaan. Ridwan dan Alif tampak sudah terbiasa melayani rasa ingin tahu semacam itu. Bagi mereka, lapak tersebut bukan sekadar tempat memamerkan koleksi, melainkan juga ruang untuk memperkenalkan dunia die-cast dan miniscale―miniatur kendaraan atau diorama yang dibuat dengan tingkat detail, akurasi dimensi, dan presisi yang sangat tinggi―kepada orang-orang yang baru pertama kali bersentuhan dengannya.

Pemburu Diecast Surabaya, Ridwan bercerita, berawal dari kelompok kecil yang lahir pada 17 Desember 2019. Awalnya merupakan bagian dari jaringan komunitas di Jakarta sebelum kemudian berdiri mandiri sekitar tahun 2020. “Awalnya cuma lima sampai enam orang,” kata Ridwan. Tetapi kini, jumlah anggota grup telah melampaui 200 orang, dengan sekitar 60 hingga 70 anggota aktif yang rutin mengikuti kegiatan komunitas. Mereka datang dari berbagai latar belakang pekerjaan dan usia, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap mobil mini berbahan logam itu.

“PDS tidak sekadar menjadi tempat jual-beli atau pamer koleksi saja, Mas,” kata Ridwan kepada saya, “komunitas ini juga berfungsi sebagai ‘rumah bersama’ bagi para pecinta die-cast dan miniscale di Surabaya.” Ya, saya meyaksikannya sendiri bagaimana para anggota PDS saling bertukar informasi mengenai produk baru, berbagi pengetahuan tentang keaslian barang, hingga belajar menghindari berbagai modus penipuan yang kerap muncul dalam dunia koleksi.

Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ridwan sendiri masuk ke dunia die-cast pada dekade 2018 secara tidak sengaja. Awalnya, anaknya mendapatkan hadiah sekardus Hot Wheels dari teman yang datang dari Bali. Dari satu mobil kecil itulah rasa penasarannya tumbuh. Ia mulai belajar melalui grup Facebook, mengenali berbagai merek, memahami kondisi barang, hingga mengenal dunia jual-beli koleksi. Kini ia mengoleksi berbagai merek seperti Mini GT, Tarmac Works, Inno64, Tomica, Kyosho, dan tentu saja Hot Wheels. Menurutnya, perkembangan industri die-cast terus menghadirkan inovasi baru dengan detail kendaraan semakin realistis, kualitas produksi yang meningkat, dan variasi model semakin beragam.

“Kalau miniscale lebih detail desainnya daripada die-cast,” kata Ridwan. Perbedaan itulah yang membuat sebagian kolektor kemudian beralih dari sekadar mengoleksi mainan menuju koleksi miniscale yang lebih serius. Jika Hot Wheels sering dianggap pintu masuk karena harganya relatif terjangkau, maka miniscale menawarkan reproduksi kendaraan dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi.

Die-cast―atau sebut saja mobil-mobilan untuk anak-anak tiga tahun ke atas―memiliki sejarah yang panjang daripada yang dibayangkan banyak orang. Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, salah satu pelopor mobil mini berbahan logam yang paling populer adalah Tootsietoy, sebuah perusahaan mainan asal Chicago yang didirikan Theodore S. Dowst. Produk-produknya berupa miniatur kendaraan cor logam yang meniru berbagai jenama otomotif ternama pada masanya, mulai dari La Salle, Ford coupe dan sedan, Graham coupe, hingga truk Mack.

Bagi anak-anak era itu, Tootsietoy merupakan mainan yang sangat digemari. Namun seiring berjalannya waktu, benda-benda kecil tersebut bertransformasi menjadi barang koleksi yang diburu para penggemar otomotif dan sejarah mainan. Kehadiran Tootsietoy menandai salah satu babak awal perkembangan die-cast, jauh sebelum mobil-mobil mini menjadi bagian dari budaya koleksi global seperti yang dikenal saat ini.

Koleksi anggota komunitas Pemburu Diecast Surabaya yang dipamerkan di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada awal abad 20, mobil mini berbahan logam juga populer di Eropa. Salah satu pelopornya adalah perusahaan mainan asal Inggris bernama Meccano Ltd yang mengeluarkan merek mainan Dinky Toys, yang sejak dekade 1930-an memproduksi kendaraan mini dengan teknik die-cas zamak—yakni proses pembuatan komponen atau miniatur dengan cara melelehkan paduan logam zamak (campuran seng, aluminium, magnesium, dan tembaga), lalu menyuntikkannya ke dalam cetakan baja bertekanan tinggi.

Setelah Perang Dunia II, industri ini berkembang pesat. Nama-nama seperti Matchbox, Corgi, dan kemudian Hot Wheels menjadi ikon global. Pada akhir 1960-an, Hot Wheels hadir dengan desain lebih sporty, warna mencolok, dan roda cepat bernama “Redline Wheels”. Mobil-mobilnya dibuat lebih liar dan futuristik (imajinatif) dibanding Matchbox yang cenderung realistis. Sejak saat itu, Hot Wheels berkembang menjadi salah satu brand diecast paling populer di dunia dengan ribuan casting yang terus dirilis setiap tahun.

Mochammad Alifudin Firmansyah, admin Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Indonesia, die-cast mulai dikenal luas melalui produk Matchbox dan Hot Wheels yang masuk sejak dekade 1980-an dan 2000-an. Pada 2002, Hot Wheels masuk ke Indonesia dengan cara yang sensasional. Jenama yang diproduksi oleh Mattel dari Amerika Serikat itu, membuat lintasan permainan mobil mini terpanjang se-Asia, yakni 200 meter.

Namun ledakan komunitas kolektor baru benar-benar terjadi pada era internet dan media sosial. Forum daring, Facebook, Instagram, hingga marketplace memungkinkan para penggemar bertemu, bertukar informasi, dan berburu barang langka lintas kota bahkan lintas negara. Dari sinilah muncul istilah-istilah yang hanya dipahami para kolektor: reguler, premium, chase, treasure hunt, hingga super treasure hunt—varian langka yang sering menjadi incaran dan memiliki nilai jual tinggi.

Dan di balik dunia yang tampak seperti “mainan kecil”, ada pasar koleksi global yang nilainya terus tumbuh. Industri die-cast kini menjadi bagian dari pasar “collectible toys” bernilai miliaran dolar, didorong oleh fenomena “kidult”—orang dewasa yang kembali membeli mainan sebagai bentuk nostalgia dan koleksi serius. Tren ini makin menguat sejak era media sosial, ketika komunitas kolektor tumbuh melalui Instagram, Facebook, hingga marketplace global.

Dalam dunia lelang, beberapa unit diecast bahkan mencapai harga yang mengejutkan. Hot Wheels “Beach Bomb Rear-Loader” prototipe keluaran 1969, misalnya, pernah dilaporkan terjual hingga lebih dari 100.000 dolar AS karena kelangkaannya. Beberapa model pre-pro dan prototype dari era Redline juga kerap mencapai puluhan ribu dolar. Di kelas miniscale, produk high-end seperti Autoart, GMP, hingga Kyosho Ferrari atau Porsche bisa diperdagangkan ratusan hingga ribuan dolar, tergantung edisi dan kelangkaannya. Bahkan, Corgi Toys edisi James Bond Aston Martin DB5 original keluaran 1960-an kini menjadi buruan kolektor dengan harga yang terus meroket di pasar sekunder.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa die-cast bukan lagi sekadar benda nostalgia, tetapi juga aset koleksi dengan nilai ekonomi yang nyata—terutama pada varian langka, produksi terbatas, atau edisi khusus pameran.

***

BAGI para kolektor, berburu die-cast sering kali menyerupai perburuan harta karun. Tidak semua model tersedia dalam jumlah yang sama. Beberapa diproduksi terbatas. Sebagian hanya beredar di negara tertentu. Ada pula yang sengaja disisipkan sebagai varian langka di antara produk reguler. “Karena itu, unsur keberuntungan juga menjadi bagian penting dari hobi ini,” kata Alif sambil tersenyum ketika saya tanya tentang pengalamannya berburu koleksi.

Pria berusia 27 tahun itu mulai menekuni dunia die-cast pada 2017. Awalnya ia mengoleksi secara acak, sebelum akhirnya menemukan tema yang benar-benar disukai. “Pertama ya ngawur, Mas. Apa saja dibeli. Tapi sekarang hanya ngoleksi die-cast khusus mobil-mobil dalam film Fast and Furious dan JDM―mobil-mobil khusus Jepang gitulah,” ujar pemuda yang bekerja di bidang IT dan desainer program itu. Saya menduga, ketertarikannya pada mobil-mobil Jepang berakar dari budaya populer, terutama film dan dunia modifikasi. Dari sana koleksinya berkembang menjadi representasi kecintaan terhadap otomotif Jepang.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Fenomena semacam ini umum ditemukan di kalangan kolektor. Sebagian mengoleksi berdasarkan merek mobil, sebagian berdasarkan film, sebagian lagi berdasarkan era tertentu. Koleksi akhirnya menjadi cara untuk menceritakan identitas dan minat pribadi. Lantas, mengapa begitu banyak orang dewasa rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang untuk mengoleksi mobil mini?

Menurut Alif, bagi sebagian orang, diecast bukan sekadar benda koleksi, melainkan mesin waktu yang mampu membawa mereka kembali ke masa kanak-kanak. Banyak kolektor dewasa pernah bermain mobil-mobilan ketika kecil, lalu menemukan kembali kegembiraan yang sama saat mereka telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

“Kalau aku sendiri berkaitan dengan inner child, sih, Mas. Dulu kan agak susah beli mainan, sedangkan sekarang sudah punya kerjaan sendiri. Jadi menyisihkan beberapa untuk memenuhi inner child itu tadi,” terang Alif sembari tertawa.

Pengakuan itu terdengar biasa saja, tetapi barangkali mewakili pengalaman banyak kolektor. Mobil-mobil mini yang kini tersimpan rapi di rak pajangan sering kali bukan sekadar miniatur kendaraan semata, bisa saja itu adalah kepingan kenangan—tentang masa ketika sebuah mainan menjadi barang yang diidam-idamkan, tetapi belum tentu dapat dimiliki. Ketika kesempatan itu akhirnya datang di usia dewasa, membeli sebuah die-cast bukan hanya soal memperoleh benda, melainkan juga cara berdamai dengan kerinduan yang lama tersimpan.

Selain berkaitan dengan inner child seperti yang dialami Alif, ada pula mereka yang memandang diecast sebagai bentuk apresiasi terhadap desain otomotif. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengendarai, apalagi memiliki, Ferrari, Porsche, atau Nissan GT-R asli. Namun, melalui miniatur yang dibuat dengan tingkat presisi tinggi, nyaris menyerupai aslinya—mulai dari lekuk bodi, detail interior, hingga warna cat—mereka tetap dapat menikmati keindahan kendaraan-kendaraan impian itu dari jarak yang sangat dekat.

Sebagian kolektor lainnya justru menikmati sensasi perburuan. Dalam dunia die-cast, menemukan model yang sudah lama diincar, terlebih yang diproduksi terbatas atau telah lama habis di pasaran, menghadirkan kepuasan tersendiri. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan ketika pencarian berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, akhirnya berujung pada sebuah kotak kecil yang berhasil dibawa pulang. Perasaan itu tidak jauh berbeda dengan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya menemukan target yang selama ini ia kejar.

Namun, muara daya tarik die-cast tidak selalu terletak pada benda yang dikoleksi. Sering kali yang membuat seseorang bertahan dalam hobi ini justru orang-orang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Dari sebuah mobil mini berukuran beberapa sentimeter, lahir ruang pertemanan yang melampaui profesi, usia, dan latar belakang sosial. Di dalam komunitas, seorang mahasiswa dapat berbincang akrab dengan pengusaha, pegawai kantor bertukar cerita dengan mekanik, sementara kolektor senior dan pemula duduk berdampingan membahas model yang sama dengan antusiasme yang setara.

Die-cast mungkin menjadi alasan mereka berkumpul, tetapi kebersamaanlah yang membuat mereka terus kembali. Seperti di PDS, misalnya, yang rutin mengadakan kopi darat atau kopdar setiap bulan. Pada momen-momen tertentu mereka juga menyelenggarakan perayaan ulang tahun komunitas, lomba fotografi die-cast, kompetisi modifikasi (custom), balapan die-cast, hingga acara bakti sosial. “Semua merek boleh join komunitas,” kata Alif, menegaskan bahwa komunitas mereka terbuka bagi siapa saja.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tengah dunia yang semakin digital dan serba cepat, aktivitas mengoleksi benda fisik justru menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada kesenangan ketika membuka kemasan baru, merasakan berat logam di telapak tangan, menata koleksi di rak, atau memotretnya di atas diorama buatan sendiri. Barangkali karena itulah die-cast tetap bertahan, bahkan terus berkembang, di tengah gempuran gim video dan hiburan digital.

Benda kecil itu memang tidak bisa dikendarai. Mesinnya tidak menyala. Rodanya hanya berputar beberapa sentimeter di atas meja. Namun di tangan para kolektor, mobil-mobil mini tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada ukurannya: cerita tentang kenangan masa kecil, kegembiraan berburu, kecintaan pada otomotif, dan persaudaraan yang tumbuh dari hobi yang sama. Di rak-rak koleksi para anggota Pemburu Diecast Surabaya, setiap mobil mungil sesungguhnya adalah sebuah kisah yang diparkir dengan rapi.

Menjelang malam, saya berpamitan. Sebelum berpisah, Ridwan menyelipkan sebuah oleh-oleh ke tangan saya—hadiah perkenalan yang tak saya duga. Sebuah Matchbox 1984 Toyota MR2, lengkap dengan detail eksterior retro khas mobil sport Jepang era 1980-an dan lampu depan pop-up dalam posisi terbuka, seolah siap membelah jalanan seperti dalam sebuah film lawas.

Mobil mini itu saya pajang di dekat rak buku. Ukurannya kecil, nyaris tenggelam di antara deretan buku yang lebih besar. Namun entah mengapa, mata saya berkali-kali kembali kepadanya. Lalu, tanpa disadari, saya merasakan sesuatu yang akrab. Bukan sekadar rasa senang karena menerima hadiah, melainkan perasaan yang pernah saya kenal jauh sebelum mengenal istilah tenggat pekerjaan, tagihan, dan cicilan bulanan. Perasaan ketika sebuah benda kecil mampu menghadirkan kegembiraan yang utuh, tanpa syarat, dan tanpa perhitungan.

Saya kembali menatap Toyota MR2 mungil itu beberapa saat. Ah, apakah ini yang dinamakan inner child? [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: otomotifSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Next Post

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co