Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan kebisingan dari perangkat audio panggung. Saya juga bosan mendengar cerita masa sekolah yang terus diulang.
Suatu ketika seorang kawan seangkatan di SMPN 12 Surabaya mengirim pesan WA. Dia menanyakan apakah saya bisa datang pada acara deklarasi komunitas sepeda alumni. Saya langsung mengiyakan. Karena saya suka bersepeda.
Sebagai bentuk dukungan kepada komunitas tersebut, saya bersepeda dari rumah saya di Desa Maron, Kecamatan Srengat, Blitar, menuju Surabaya. Jarak yang saya tempuh 207,5 kilometer, dengan kenaikan elevasi 1.782 m
Perjalanan ke Surabaya saya tempuh dalam dua hari, karena melalui Pujon. Selain jarak tempuh lebih jauh, jalur ini tidak semudah rute Wates-Mojokerto, yang bisa saya tempuh dalam sehari.
Tidak ada yang istimewa dari aktivitas saya. Pun pada aktivitas serupa yang pernah saya lakukan sebelumnya.
Seperti halnya tidak ada keistimewaan dari seseorang yang memancing di sungai, belanja ke pasar, main karambol di pos ronda, atau menyanyi di kamar mandi.
Saya memang tak hendak bergabung dengan komunitas tersebut. Saya hanya ingin memberikan dukungan kepada teman-teman pesepeda sesama alumni. Sampai kemudian saya berkenalan dengan salah satu anggota Lazzer, komunitas sepeda yang juga dibentuk oleh alumni SMPN 12.
Dari satu anggota, saya dikenalkan oleh anggota yang lain. Ketika mereka tahu saya tinggal di Blitar, mereka berniat untuk berkunjung ke rumah saya.
“Sekalian mampir, karena Lazzer akan merayakan Bulan Bung Karno di Blitar. Kami akan berkunjung ke Makam Bung Karno dan Istana Gebang,” kata Djundari, Ketua Lazzer.
Djundari menyampaikan, mereka di Blitar selama dua hari. Pada hari pertama, 20 Juni, mereka bersepeda malam (night ride) di dalam kota. Pada esoknya, tanggal 21 Juni, dilanjutkan bersepeda dari Kota Blitar ke Srengat, melewati rute pedesaan. Jarak yang mereka tempuh 42 kilometer pergi-pulang.
Komunitas sepeda yang dibentuk pada 27 April 2025 dengan 62 anggota itu, memang memiliki agenda ke luar kota dua kali dalam setahun.
“Selebihnya kami rutin bersepeda seminggu sekali pada hari Minggu, dan melakukan night ride sebulan dua kali, tiap Rabu malam,” jelasnya.
Retno Wulandari, Humas Lazzer, mengatakan, kali ini ada 30 anggota ikut bersepeda ke Blitar. Satu orang bersepeda dari Surabaya lewat Wates.
“Sedangkan peserta yang lain dan sepeda mereka diangkut menggunakan mobil,” jelasnya.
Tidak banyak komunitas sepeda di luar Blitar Raya yang merayakan Bulan Bung Karno dengan bersepeda. Saya mengapresiasi aktivitas komunitas tersebut.
Saya tidak bisa menemani mereka bersepeda selama di Blitar. Karena lutut kanan saya cedera, dan disarankan oleh dokter untuk istirahat selama 2 bulan.
Agar perjalanan mereka lancar, saya minta tolong teman-teman Fedblitz, komunitas sepeda Blitar Raya, untuk mengawal.
Begitu puluhan pesepeda itu datang, rumah saya yang sehari-hari sunyi menjadi riuh. Empat orang membuka bagasi mobil pendukung. Mereka segera menggelar tikar, membentangkan banner dan memasang perangkat audio. Sementara yang lain menyiapkan konsumsi, dibantu dua warga lokal.
Sebagai tuan rumah, saya hanya duduk diam. Saya takjub dengan kemandirian mereka. Acara selesai menjelang pukul setengah sebelas. Mereka segera berkemas, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan. Rumah saya kembali sunyi. [T]






























