LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan lubang lainnya. Semua lubang itu membuat tubuhku terbakar.
Bahkan seringkali, aku tidak membersihkan kotoran setelah buang air besar. Jika terpaksa dibersihkan, aku harus berjuang memadamkan api di area sekitar lubang pantat.
Sejak bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, aku habiskan waktu untuk menghitung jumlah lubang. Dengan menghitungnya, aku menjadi waspada karena semua lubang itu bisa membakar tubuhku.
Guru di sekolah sering mengacau fokus pikiranku.
“Rinto! Kamu dengar tidak penjelasan saya? Coba jelaskan maksud dari hukum Newton.”
“Setan memang, dia mengganggu ketika aku sedang berusaha keras menghitung jumlah lubang di angkot tadi.” Isi kepala menggerutu.
“Sekarang juga, pergi ke ruang Bimbingan Konseling!” tegas Pak Irfan, guru fisika, salah satu dari sekian guru yang sering mengusirku di saat jam belajar.
Aku bersiap menceritakan kepada Bu Sandra tentang jumlah lubang di angkot tadi.
“Kamu kenapa? Hampir semua guru mengusir kamu di kelas, Nak. Coba ceritakan penyebab kamu tidak fokus belajar di kelas.” Bu Sandra bertanya pelan. Ia adalah guru BK yang cukup memahami ketakutanku.
“Bu, pada dasarnya setiap manusia memiliki 9 lubang: 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 2 lubang telinga, 1 lubang pantat, dan 1 lubang penis atau vagina. Seperti yang diajarkan di pelajaran biologi.”
“Ya, coba ungkapkan semua yang ada di pikiran kamu.” Sorot mata Bu Sandra seperti menonton cerita misteri.
“Jumlah lubang di angkot tadi ada 75. Hasil dari 8 orang yang bersamaku di angkot, ditambah 2 lubang pipet dari 2 orang yang sedang minum, dan 1 lubang kunci kontak angkot. Jadi 9 lubang X 8 orang + 2 lubang pipet + 1 lubang kunci kontak angkot = 75 lubang.” Telapak Tanganku basah, aku merasa sudah cukup menjelaskan.
“Nak, sepulang sekolah ibu ke rumah kamu, ya. Kita pulang bareng.” Kabar itu menenangkan. Aku semangat pulang. Namun, setiba di rumah. Ibuku dan Bu Sandra saling menatap seperti ada sesuatu di antara mereka. Ibu mengusir Bu Sandra, menitipkan salam untuk kepala sekolah.
Peristiwa itu membuatku berhenti sekolah tepat di usia 12 tahun, saat masih kelas 1 semester 2 di Sekolah Menengah Pertama.
**
Aku lahir di belakang mal tempat orang kaya menghamburkan uang. Tangis bayi, bau comberan bercampur aroma gorengan. Udara pengap melengkapi kehidupan melarat para penghuni.
Aku masih ingat, setiap malam bersembunyi di balik lubang kecil di kamar yang hanya dibatasi triplek setebal 2 mm. Mengintip dunia perempuan yang aku panggil ibu.
Tubuhnya diperlakukan seperti mainan. Ingatan itu melekat sejak umurku lima tahun. Terlalu kecil untuk mengerti bahwa ibu hanya bertahan hidup dengan cara itu.
Mereka menimpa badan ibu. Di antara mereka juga ada yang memperlakukan ibu dengan sangat kasar. Aku pernah melihat ibu terkulai lemas. Pipinya ditampar, rambutnya ditarik, lalu perutnya ditendang. Ibu memaksa meminta bayaran setelah melayani lelaki yang dikenal sebagai bandar sabu.
Semenjak itu hati meronta. Aku seperti malaikat. Menyaksikan kejahatan tanpa bisa berbuat, selain mengadu kepada tuhan. Malam demi malam terlewati, semakin aku merasa peristiwa itu menyusup masuk ke celah pembuluh darah otak. Meledak di umur 12 tahun, ketika aku harus memutuskan sesuatu demi kebahagiaan ibu.
Aku sudah tidak kuat melihat derita ibu dari balik lubang itu. Namun, aku masih sanggup menerima beban Kampang, asalkan ibu bahagia. Aku adalah anak Kampang, benih Sperma dari mereka yang pernah menimpa badan ibu. Ketika anak seusiaku tumbuh berkembang dari makanan, roti, susu, disertai doa dan kasih sayang orang tua. Sedang aku, tumbuh dari gosip tetangga.
“Memang anak Kampang jadi sial di sini.” Selalu aku dengar dari mulut mereka, setiap membeli jajanan sore di warung lantai satu.
Hidup di dunia dengan kenangan semacam itu. Membuat mengerti. Aku si Kampang memilukan. Meraih cinta di rumah susun. Tempat pengedar sabu, pelacur, pencuri motor, pekerja upah rendah, dan pedagang kaki lima mempertahankan hidup di kota.
***
23 tahun berlalu. Sekarang aku menikahi wanita baik hati. Namun, setiap kali mencoba mencintainya di puncak asmara, penisku loyo. Penisku panas terbakar, seperti masuk ke dalam neraka. Otak langsung mengingat kenangan dari lubang triplek itu.
“Tinggalkan saja suami lemah syahwat itu,” ucap mertua kepada istriku melalui pesan Whatsapp yang tidak sengaja terbaca.
“Bagaimana mau punya keturunan, kalau anu suami kamu bermasalah!” Pesan itu membuat istriku depresi.
Dia setia menemani berobat, namun solusi tak pernah ada karena aku tidak pernah jujur menjawab pertanyaan dokter. Aku menyembunyikan ketakutan dari lubang itu.
Pada suatu pagi, aku akhirnya memutuskan sikap. Aku pergi ke psikiater.
Aku bercerita tentang lubang itu.
“Trauma yang kamu alami bukan hanya tentang apa yang kamu lihat, tetapi tentang bagaimana pikiranmu terhubung dengan pengalaman itu. Pengalaman kelam itu memanipulasi kerja otak yang membuat panas seperti api. Kalau kamu mau serius sembuh, kita akan bekerja sama.”
Kata-katanya mencuci otak. Hari demi hari, aku kembali ke ruangannya. Setiap sesi pertemuan membuka lapisan ketakutan. Setiap kata yang diucapkan, memotivasi supaya semangat untuk sembuh dari ingatan tentang lubang itu.
Kenyataan yang tak pernah kuduga. Istriku, ternyata selingkuh dengan psikiater perempuan itu. Aku tak bisa membiarkan pengkhianatan ini berlalu begitu saja.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil sesuatu yang ada di dekatku. Sebuah benda berat. Dalam sekejap, mereka berdua tergeletak mati. Tak ada ampun. Tak ada penyesalan. Hanya kebencian menguasai hatiku.
Aku menggali lubang di halaman belakang rumah. Mereka dikubur, di lubang tanah yang tak akan pernah ditemukan.
Saat pikiran semakin kacau, ada kabar kerinduan.
“Rinto, waktunya minum obat. Setelah itu, kamu ke ruang depan. Ada tamu.” Suara perawat itu membuatku tidak sabar berjumpa Bu Sandra. Perempuan yang mengurusku sejak ibu tiada.
****
“Saudara Rinto sudah 23 tahun di sini. Kawannya sudah pulang semua, tetapi dia belum bisa pulang. Dia mengalami trauma berat yang menyebabkan Skizofrenia kronis. Ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Di luar sana, ia menjadi ancaman. Rinto tidak segan membunuh kalau sedang berhalusinasi menghadapi situasi bahaya,” kata dokter spesialis kejiwaan yang sudah menangani Rinto selama 23 tahun.
Ucapan psikiater itu, selaras dengan perilaku Rinto setiap aku berkunjung ke sini. Tadi saja ia mengatakan, baru membunuh istrinya yang lesbian dengan psikiater. Setiap mengunjungi Rinto, selalu saja ada cerita. Semua cerita itu disebabkan Skizofrenia Rinto sudah di level kronis.
Aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Setidaknya di tempat ini Rinto tidak membunuh lagi, seperti 23 tahun lalu ia membunuh ibunya di rumah susun lantai empat. Melubangi leher, dada, dan perut ibunya dengan membabi buta menggunakan pisau dapur. Proses hukum Rinto tidak dilanjutkan, ia tidak bisa dijebloskan ke dalam penjara karena divonis sakit jiwa oleh dokter pengadilan.
Aku mengenal ibunya, pelacur yang sering menolongku di rumah susun. Aku bisa saja bernasib seperti Rinto. Menjadi gila setelah ibu dan ayah dihukum mati. Mereka ditangkap di Boom Baru,hendak berangkat menuju Bangka Belitung menggunakan Speedboat menyelundupkan narkotika jenis sabu sebanyak 100 kilogram.
Setelah peristiwa itu. Ibu Rinto sering mengantarkan makanan, memberi uang untuk membayar iuran bulanan sekolah. Petak hunian kami berdampingan di lantai empat rumah susun. Tanpa pertolongan ibunya, sudah dipastikan saat itu aku tidak bisa menamatkan Sekolah Dasar. Dan tidak mungkin aku seperti sekarang, menjadi guru Pegawai Negeri Sipil. [T]
Glosarium:
*Kampang, kata makian kasar di Palembang, yang artinya anak tanpa bapak alias anak haram.
*Boom Baru, pelabuhan yang sudah ada sejak 1924 di Kota palembang.
Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole






























