21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
June 21, 2026
in Cerpen
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.

Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan lubang lainnya. Semua lubang itu membuat tubuhku terbakar.

Bahkan seringkali, aku tidak membersihkan kotoran setelah buang air besar. Jika terpaksa dibersihkan, aku harus berjuang memadamkan api di area sekitar lubang pantat.

Sejak bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama, aku habiskan waktu untuk menghitung jumlah lubang. Dengan menghitungnya, aku menjadi waspada karena semua lubang itu bisa membakar tubuhku.

Guru di sekolah sering mengacau fokus pikiranku.

“Rinto! Kamu dengar tidak penjelasan saya? Coba jelaskan maksud dari hukum Newton.”

“Setan memang, dia mengganggu ketika aku sedang berusaha keras menghitung jumlah lubang di angkot tadi.” Isi kepala menggerutu.

“Sekarang juga, pergi ke ruang Bimbingan Konseling!” tegas Pak Irfan, guru fisika, salah satu dari sekian guru yang sering mengusirku di saat jam belajar.

Aku bersiap menceritakan kepada Bu Sandra tentang jumlah lubang di angkot tadi.

“Kamu kenapa? Hampir semua guru mengusir kamu di kelas, Nak. Coba ceritakan penyebab kamu tidak fokus belajar di kelas.” Bu Sandra bertanya pelan. Ia adalah guru BK yang cukup memahami ketakutanku.

“Bu, pada dasarnya setiap manusia memiliki 9 lubang: 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 2 lubang telinga, 1 lubang pantat, dan 1 lubang penis atau vagina. Seperti yang diajarkan di pelajaran biologi.”

“Ya, coba ungkapkan semua yang ada di pikiran kamu.” Sorot mata Bu Sandra seperti menonton cerita misteri.

“Jumlah lubang di angkot tadi ada 75. Hasil dari 8 orang yang bersamaku di angkot, ditambah 2 lubang pipet dari 2 orang yang sedang minum, dan 1 lubang kunci kontak angkot. Jadi 9 lubang X 8 orang + 2 lubang pipet + 1 lubang kunci kontak angkot =  75 lubang.” Telapak Tanganku basah, aku merasa sudah cukup menjelaskan.

“Nak, sepulang sekolah ibu ke rumah kamu, ya. Kita pulang bareng.” Kabar itu menenangkan. Aku semangat pulang. Namun, setiba di rumah. Ibuku dan Bu Sandra saling menatap seperti ada sesuatu di antara mereka. Ibu mengusir Bu Sandra, menitipkan salam untuk kepala sekolah.

Peristiwa itu membuatku berhenti sekolah tepat di usia 12 tahun, saat masih kelas 1 semester 2 di Sekolah Menengah Pertama.

**

Aku lahir di belakang mal tempat orang kaya menghamburkan uang. Tangis bayi, bau comberan bercampur aroma gorengan. Udara pengap melengkapi kehidupan melarat para penghuni.

Aku masih ingat, setiap malam bersembunyi di balik lubang kecil di kamar yang hanya dibatasi triplek setebal 2 mm. Mengintip dunia perempuan yang aku panggil ibu.

Tubuhnya diperlakukan seperti mainan. Ingatan itu melekat sejak umurku lima tahun. Terlalu kecil untuk mengerti bahwa ibu hanya bertahan hidup dengan cara itu.

Mereka menimpa badan ibu. Di antara mereka juga ada yang memperlakukan ibu dengan sangat kasar. Aku pernah melihat ibu terkulai lemas. Pipinya ditampar, rambutnya ditarik, lalu perutnya ditendang. Ibu memaksa meminta bayaran setelah melayani lelaki yang dikenal sebagai bandar sabu.

Semenjak itu hati meronta. Aku seperti malaikat. Menyaksikan kejahatan tanpa bisa berbuat, selain mengadu kepada tuhan. Malam demi malam terlewati, semakin aku merasa peristiwa itu menyusup masuk ke celah pembuluh darah otak. Meledak di umur 12 tahun, ketika aku harus memutuskan sesuatu demi kebahagiaan ibu.

Aku sudah tidak kuat melihat derita ibu dari balik lubang itu. Namun, aku masih sanggup menerima beban Kampang, asalkan ibu bahagia. Aku adalah anak Kampang, benih Sperma dari mereka yang pernah menimpa badan ibu. Ketika anak seusiaku tumbuh berkembang dari makanan, roti, susu, disertai doa dan kasih sayang orang tua. Sedang aku, tumbuh dari gosip tetangga.

“Memang anak Kampang jadi sial di sini.” Selalu aku dengar dari mulut mereka, setiap membeli jajanan sore di warung lantai satu.

Hidup di dunia dengan kenangan semacam itu. Membuat mengerti. Aku si Kampang memilukan. Meraih cinta di rumah susun. Tempat pengedar sabu, pelacur, pencuri motor, pekerja upah rendah, dan pedagang kaki lima mempertahankan hidup di kota.

***

23 tahun berlalu. Sekarang aku menikahi wanita baik hati. Namun, setiap kali mencoba mencintainya di puncak asmara, penisku loyo. Penisku panas terbakar, seperti masuk ke dalam neraka. Otak langsung mengingat kenangan dari lubang triplek itu.

“Tinggalkan saja suami lemah syahwat itu,” ucap mertua kepada istriku melalui pesan Whatsapp yang tidak sengaja terbaca.

“Bagaimana mau punya keturunan, kalau anu suami kamu bermasalah!” Pesan itu membuat istriku depresi.

Dia setia menemani berobat, namun solusi tak pernah ada karena aku tidak pernah jujur menjawab pertanyaan dokter. Aku menyembunyikan ketakutan dari lubang itu.

Pada suatu pagi, aku akhirnya memutuskan sikap. Aku pergi ke psikiater.

Aku bercerita tentang lubang itu.

“Trauma yang kamu alami bukan hanya tentang apa yang kamu lihat, tetapi tentang bagaimana pikiranmu terhubung dengan pengalaman itu. Pengalaman kelam itu memanipulasi kerja otak yang membuat panas seperti api. Kalau kamu mau serius sembuh, kita akan bekerja sama.”

Kata-katanya mencuci otak. Hari demi hari, aku kembali ke ruangannya. Setiap sesi pertemuan membuka lapisan ketakutan. Setiap kata yang diucapkan, memotivasi supaya semangat untuk sembuh dari ingatan tentang lubang itu.

Kenyataan yang tak pernah kuduga. Istriku, ternyata selingkuh dengan psikiater perempuan itu. Aku tak bisa membiarkan pengkhianatan ini berlalu begitu saja.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil sesuatu yang ada di dekatku. Sebuah benda berat. Dalam sekejap, mereka berdua tergeletak mati. Tak ada ampun. Tak ada penyesalan. Hanya kebencian menguasai hatiku.

Aku menggali lubang di halaman belakang rumah. Mereka dikubur, di lubang tanah yang tak akan pernah ditemukan.

Saat pikiran semakin kacau, ada kabar kerinduan.

“Rinto, waktunya minum obat. Setelah itu, kamu ke ruang depan. Ada tamu.” Suara perawat itu membuatku tidak sabar berjumpa Bu Sandra. Perempuan yang mengurusku sejak ibu tiada.

****

“Saudara Rinto sudah 23 tahun di sini. Kawannya sudah pulang semua, tetapi dia belum bisa pulang. Dia mengalami trauma berat yang menyebabkan Skizofrenia kronis. Ia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Di luar sana, ia menjadi ancaman. Rinto tidak segan membunuh kalau sedang berhalusinasi menghadapi situasi bahaya,” kata dokter spesialis kejiwaan yang sudah menangani Rinto selama 23 tahun.

Ucapan psikiater itu, selaras dengan perilaku Rinto setiap aku berkunjung ke sini. Tadi saja ia mengatakan, baru membunuh istrinya yang lesbian dengan psikiater. Setiap mengunjungi Rinto, selalu saja ada cerita. Semua cerita itu disebabkan Skizofrenia Rinto sudah di level kronis.

Aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Setidaknya di tempat ini Rinto tidak membunuh lagi, seperti 23 tahun lalu ia membunuh ibunya di rumah susun lantai empat. Melubangi leher, dada, dan perut ibunya dengan membabi buta menggunakan pisau dapur. Proses hukum Rinto tidak dilanjutkan, ia tidak bisa dijebloskan ke dalam penjara karena divonis sakit jiwa oleh dokter pengadilan.

Aku mengenal ibunya, pelacur yang sering menolongku di rumah susun. Aku bisa saja bernasib seperti Rinto. Menjadi gila setelah ibu dan ayah dihukum mati. Mereka ditangkap di Boom Baru,hendak berangkat menuju Bangka Belitung menggunakan Speedboat menyelundupkan narkotika jenis sabu sebanyak 100 kilogram.

Setelah peristiwa itu. Ibu Rinto sering mengantarkan makanan, memberi uang untuk membayar iuran bulanan sekolah. Petak hunian kami berdampingan di lantai empat rumah susun. Tanpa pertolongan ibunya, sudah dipastikan saat itu aku tidak bisa menamatkan Sekolah Dasar. Dan tidak mungkin aku seperti sekarang, menjadi guru Pegawai Negeri Sipil. [T]

Glosarium:

*Kampang, kata makian kasar di Palembang, yang artinya anak tanpa bapak alias anak haram.

*Boom Baru, pelabuhan yang sudah ada sejak 1924 di Kota palembang.

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Next Post

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co