INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil kerajinan rumahan ditata apik dengan sebuah stand kreatif. Kain-kain klasik, petanda kegiatan tradisi mempercantik tempat pentas tergolong elit itu. Lagu-lagu klasik bernuansa Timor, mengalun mengundang pengunjung untuk menyaksikan seni pertunjukan yang segera dimulai.
Suasana itu tampak dalam Rekasadana (pergelaran) Timor Leste Classical Dance, Konsulat Jendral Timor Leste Bali World Culture Cellebration (BWCC) serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 di Gedung Ksirarnawa, Minggu 14 Juni 2026. Pentas seni yang dimulai 17.00 Wita itu memang tak memenuhi gedung pertunjukan dua lantai itu, tetapi penonton yang hadir justru lebih banyak pecinta seni luar negeri dan masyarakak lokal untuk sebuah inspirasi.
Suasana malam pesta seni itu tampak akrab. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, S.Ag., M.Si yang mewakili Gubernur Bali didampingi Consul Jenderal Republik Demokratik Timor-Leste, Carolina Maria membuka pementasan dengan memukul gong sebagai diplomasi seremonial. “Kami merasa senang bisa ikut berpartisipasi dalam festival budaya Bali tahun 2026,” kata Carolina Maria.

Selain menyajikan seni tari dan music, partisipan luar negri ini juga menyajikan lagu-lagu khas negera tersebut. Penampilan seniman asing dalam ajang PKB tak hanya meriah, tetapi juga memadukan akulturasi budaya yang unik, sorak sorai penonton yang antusias, serta keindahan latar panggung megah itu.
Penampilan grup luar negeri panggung megah berskala internasional, sebagai kesempatan pertukaran budaya global, dan akses langsung ke apresiasi seniman serta ribuan pasang mata audiens yang mencintai seni tradisi. “Tim kesenian luar negeri turut berpartisipasi di BWCC Pesta Kesenian Bali ini suatu kehormatan dan kehadirannya akan menjadi ruang perjumpaan seni. Partisipasi tari, musik dan beragam tradisi momentum penting untuk keragaman seni di Asia,” ucap Kadis Alit Suryana.
Sebagai tampilan pertama, partisipan Timor Leste menamilkan Tarian Bangsa. Suara jimbe yang renyah mengawali tarian itu. Sebanyak 6 penari laki-laki menarikan tombak lengkap dengan perisai. Kepalanya ditutup kain putih lalu dihisai bulu ayam, hiasan kaki yang memperjelas hentakan kaki serta mengenakan kain khas Timor Leste. Selanjutnya muncul 8 penari wanita menggunakan kain, selendang dan hiasan kepala.
Tarian yang berasal dari Kabupaten Ainaro dan berakar pada sejarah perjuangan rakyat setempat pada masa peperangan yang dipimpin oleh Raja Boaventura dalam melawan penjajahan pada awal abad ke-19. Tarian ini menjadi simbol semangat perjuangan yang bertujuan menumbuhkan rasa nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air. Maka, tak heran gerak tarinya enerjik, penuh semangat yang memukau penonton.


Tari Likurai juga memikat penonton petang itu. Penari laki-laki menari gagah dengan senjata keris. Mereka menari bersama 8 perempuan yang memainkan jimbe kecil dengan sukacita. Gerak tarinya lebih banyak menyajikan hentakan laki yang menjadi khasnya. Iringannya jimbe yang mengeduplak-duplak keras berjiwa. Tari Likurai untuk menyambut para pahlawan yang kembali dari medan pertempuran. Para pahlawan tersebut membawa pedang mereka dan terkadang juga membawa kepala musuh yang telah mereka kalahkan. Para perempuan menabuhkan irama yang kuat dan bernuansa militer saat arak-arakan para pahlawan bergerak kembali menuju desa.
Legenda Tari Likurai, menyerupai gerakan seekor ular yang sedang menari. Dahulu, tarian ini dibawakan oleh 7 orang perempuan yang melambangkan 7 kepala seekor ular. Legenda tersebut menjadi salah satu unsur yang memperkaya makna simbolis dan nilai budaya yang terkandung dalam Tari Likurai.
Sajian seni yang membuat penonton terkesima, ketika Tarian Dahur Lese itu disajikan oleh pemuda dengan penuh sukacita. Tarian tradisional berasal dari Kabupaten Bobonaro dan berkembang di kalangan suku Bunak itu memang dipantaskan di berbagai upacara adat maupun ritual tradisional. Para penari melakukan gerakan tari yang diiringi dengan nyanyian secara bersamaan sebagai simbol persahabatan, persatuan, kasih sayang, serta kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Ketika Tarian Esquadrilhas atau Valsa Manatuto (Palikatri) itu tampil, penonton khususnya anak-anak muda tampak hanyut dalam setiap geraknya. Sebab, tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Manatuto dibawakan oleh para pemuda dan pemudi sebagai sarana untuk saling mengenal dan menjalin hubungan sosial, sebelum terbentuknya hubungan yang lebih dekat atau hubungan kasih sayang. Tari ini dibawakan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempuan dengan gerakan yang harmonis dan teratur.
Tarian Esquadrilhas atau Valsa Manatuto mencerminkan hasil akulturasi budaya antara Timor dan Portugis. Tarian ini terdiri atas beberapa ragam tarian, yaitu Valsa, Soran Kaki, Soruboek, Tarian Mars, dan Tarian Sintidu. Tari ini juga menjadi salah satu warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, kesopanan, serta pengaruh budaya Portugis yang telah berasimilasi dengan budaya lokal masyarakat Timor-Leste.

Disela-sela pergelaran tersebut, partisipan Timor Leste juga memeriahkan BWCC dengan penampilan Traditional Costume Fashion Show (Kain Tais Tradisional) dan Traditional Custum Fashion Show (Kain Tais Modern). Penampilan fashion show tergolong unik, karena masih kental dengan tradisi yang ada. Para model menyajikan berbagai berbagai busana dengan berbagai jenis kain tradisional yang khas.
Demikian pula sajian Tarian Likur, dan Tarian Soru Boek yang menyampaikan nilai-nilai yang kuat. Termasuk sajian Lagu Rai Timor Lorosae dan Lagu Cidade Dili yang selalu mengingatkan untuk menjaga tradisi dan budaya. Suasana menjadi lebih akrab, ketika sampai pada acara Door Prize dan Penyerahan Sertifikat. Pergelaran kemudian ditutup dengan foto bersama dan Tari Dahur/Tebe-Tebe.[T}
Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole





























