14 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

Jaswanto by Jaswanto
June 14, 2026
in Panggung
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB | Dok. Taufik Mawardi

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara percakapan warga, lalu larut menjadi kenangan yang nyaris tak lagi didengar. Bunyi rombong Gula Gending adalah salah satunya. Selama puluhan tahun ia menjadi penanda ruang sosial masyarakat Lombok, tetapi justru karena kedekatannya, ia kerap luput dari perhatian.

Pertunjukan Gula Gending 2.0 yang dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Jumat (12/6/2026) malam, menghadirkan upaya menarik untuk mengembalikan bunyi itu ke tengah-tengah khalayak Lombok. Pertunjukan tersebut diinisiasi dan diproduseri langsung oleh Yuga Anggana, musisi dari Bandung yang kini menetap di Lombok, dan disutradarai Taufik Mawardi―akademisi cum sutradara muda yang banyak mengangkat kesenian dan budaya lokal Lombok ke panggung teater modern.

Menurut Taufik, pilihan untuk mengangkat Gula Gending ke dalam format teater yang berkolaborasi dengan musik, tari, dan seni visual merupakan langkah yang tepat dalam upaya menghidupkan Warisan Budaya Takbenda.

Namun, tentu saja, pertunjukan ini tidak sekadar menghadirkan nostalgia terhadap sebuah warisan budaya takbenda semata. Lebih daripada itu, sutradara berusaha melakukan sesuatu yang lebih dalam, yakni usaha mengubah suara keseharian menjadi bahan renungan tentang identitas, perubahan sosial, dan nasib tradisi di tengah arus modernitas. Untuk itulah ia menjadi penting.

Gula Gending 2.0 berani mengangkat sesuatu yang tampak remeh menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang menarik. Sebagaimana diakui Taufik Mawardi, daya tarik proyek ini muncul dari kesederhanaan gagasan yang dibawa oleh Yuga Anggana sebagai penggagas.

“Ketika pertama kali mendengar gagasan Yuga, saya merasa ini menarik sekali. Kita berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana dan membudaya dalam kehidupan masyarakat. Bunyi rombong Gula Gending adalah hal yang selama ini kita dengar begitu saja. Namun ternyata di dalamnya ada sejarah, ada kehidupan sosial, ada identitas budaya yang bisa diolah menjadi seni pertunjukan,” terang Taufik.

Pernyataan tersebut sesungguhnya menjadi kunci pembacaan terhadap keseluruhan pertunjukan. Gula Gending 2.0 bekerja dengan asumsi bahwa kebudayaan tidak hanya tersimpan dalam artefak besar, bangunan monumental, atau kisah-kisah kepahlawanan. Kebudayaan juga bersembunyi dalam bunyi-bunyi kecil yang dianggap biasa. Dengan kata lain, pertunjukan ini mengajak penonton menyadari bahwa yang sehari-hari kadangkala lebih penting daripada yang spektakuler. Dalam konteks itu, Gula Gending 2.0 dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap kecenderungan zaman yang lebih menghargai hal-hal baru dibandingkan yang akrab.

Meruangkan Tradisi

Modernitas sering menciptakan hirarki budaya yang menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang usang, sementara teknologi dan inovasi dianggap lebih bernilai. Pertunjukan ini mencoba membalik logika tersebut dengan menunjukkan bahwa tradisi bukan benda mati yang disimpan dalam lemari museum, melainkan sesuatu yang cair (tidak statis) dan dapat terus bertransformasi.

Foto bersama usai pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB | Dok. Taufik Mawardi

Taufik menyebut bahwa tradisi perlu menemukan ruang baru agar dapat terus hidup. Dan ia mencontohkan bagaimana tradisi yang berasal dari Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur itu hadir di Kota Mataram dan disaksikan oleh penonton dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat. Baginya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sebuah tradisi lokal dapat memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas ketika diterjemahkan melalui bahasa seni pertunjukan.

“Ketika Gula Gending dipentaskan, ia menjadi lebih terbuka. Ia diruang-kan. Yang terlibat bukan hanya pelaku tradisinya, tetapi juga seniman dari berbagai bidang. Yang menonton bukan hanya masyarakat asal tradisi itu, tetapi juga orang-orang dari berbagai daerah, berbagai profesi, dan berbagai generasi,” katanya.

Pernyataan ini penting karena menyentuh persoalan mendasar dalam praktik pelestarian budaya. Selama ini, banyak upaya pelestarian berhenti pada dokumentasi dan pencatatan administratif. Tradisi diperlakukan sebagai benda yang harus diamankan dari kepunahan, tetapi jarang diberi kesempatan untuk berkembang. Gula Gending 2.0 menawarkan model berbeda: tradisi dipertahankan justru melalui perubahan.

Namun, sampai sejauh mana tradisi dapat diubah tanpa kehilangan dirinya? Pertunjukan ini tidak memberikan jawaban pasti, tetapi mencoba merundingkannya melalui bentuk artistik yang dipilih. Pengembangan instrumen rombong dari dua lubang bunyi menjadi lima lubang, misalnya, memperlihatkan usaha memperluas kemungkinan musikal tanpa memutus hubungan dengan bentuk asalnya.

“Kami berangkat dari bentuk aslinya yang memiliki dua lubang bunyi, lalu mengembangkannya menjadi lima lubang untuk membuka kemungkinan musikal yang lebih luas. Itu bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga bagian dari upaya membaca ulang tradisi tanpa menghilangkan akar budayanya,” Taufik menerangkan.

Artistik yang Sederhana

Dalam pertunjukan ini, sebagai sutradara, Taufik memilih  pendekatan artistik yang sederhana―dan itu justru menjadi salah satu hal yang penting. Taufik tampaknya sadar bahwa tema besar tidak selalu membutuhkan panggung yang megah. Baginya, kesederhanaan justru membuat penonton lebih dekat dengan cerita. “Karena itu kami menggunakan banyak elemen yang sederhana, tetapi tetap memberi ruang bagi simbol-simbol yang bisa ditafsirkan lebih dalam.”

Benar. Kesederhanaan itu memungkinkan perhatian penonton tertuju pada tubuh para pemain, bunyi, dan relasi antartokoh. Dalam situasi ketika banyak pertunjukan berlomba menghadirkan efek visual yang spektakuler, pendekatan ini terasa segar. Ia mengingatkan bahwa teater pada dasarnya tetap bertumpu pada kemampuan menciptakan pengalaman manusiawi yang hidup di hadapan penonton.

Dan di atas panggung, pertunjukan bergerak dalam wilayah realisme yang cukup mudah dikenali penonton. Kehidupan masyarakat sehari-hari hadir melalui situasi-situasi yang dekat dengan pengalaman sosial masyarakat Lombok. Akan tetapi, lapisan realisme tersebut tidak berdiri sendirian. Di baliknya, sekali lagi, tersimpan sejumlah simbol yang berusaha memperluas tafsir.

Meski pertentangan antara tradisi dan modernitas menjadi tema yang terus berulang sepanjang pertunjukan; tetapi, konflik itu tidak tampil sebagai benturan hitam-putih antara masa lalu dan masa depan, melainkan sebagai negosiasi yang terus berlangsung. Tradisi tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya suci, begitu pula modernitas tidak sepenuhnya dianggap ancaman. Keduanya hadir sebagai kekuatan yang saling memengaruhi.

Sementara itu, kontras antara tokoh Salman dan Rawi membuka pembacaan lain mengenai stratifikasi sosial. Pertunjukan menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak pernah berlangsung dalam ruang kosong; ia selalu terkait dengan relasi kuasa dan posisi ekonomi. Tradisi sering kali dirayakan sebagai milik bersama, tetapi akses terhadap perubahan dan manfaat kebudayaan tidak selalu dibagi secara merata.

Jembatan Antargenerasi

Namun, di balik keberhasilan itu, Taufik mengakui proses produksi menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Ya, pertunjukan ini melibatkan pemain dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Di dalam satu panggung terdapat anak-anak, generasi Z, milenial, hingga pemain dewasa yang memiliki pengalaman seni yang berbeda-beda.

Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB | Dok. Taufik Mawardi

“Cara berkomunikasi dengan mereka tentu berbeda. Karena itu saya harus mencari pendekatan yang berbeda pula agar seluruh proses tetap nyaman dan kondusif,” ujarnya. Menurut Taufik, membangun rasa saling percaya menjadi salah satu kunci utama selama masa latihan yang berlangsung berbulan-bulan.

Kehadiran anak-anak, generasi Z, milenial, hingga pemain dewasa ini menciptakan lanskap sosial yang mencerminkan kenyataan masyarakat itu sendiri. Proses kreatif yang melibatkan kelompok-kelompok berbeda ini bukan hanya persoalan teknis produksi, melainkan juga metafora mengenai bagaimana tradisi diwariskan dan dinegosiasikan lintas generasi. Barangkali karena itulah resonansi pertunjukan terasa cukup kuat di kalangan penonton.

Egi Gerhani, seorang videografer yang hadir malam itu, mengungkapkan kesannya: “Luar biasa keren. Saya rasa ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Lombok karena hampir semua orang akrab dengan Gula Gending. Tapi pertunjukan ini membuat kita melihatnya dari sudut yang berbeda.”

Lebih jauh lagi, ia mengaku terdorong untuk menerjemahkan cerita tersebut ke medium lain. “Saya jadi terpancing untuk membuat sesuatu yang lain dari cerita ini. Mungkin film, mungkin bentuk karya visual lainnya. Karena ternyata Gula Gending menyimpan begitu banyak cerita yang menarik untuk dieksplorasi,” tambahnya.

Reaksi semacam ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya diukur dari tepuk tangan yang diterimanya, tetapi juga dari kemampuannya memunculkan percakapan baru setelah lampu panggung padam.

Sampai di sini, sekali lagi, Gula Gending 2.0 bukan sekadar pertunjukan tentang seorang penjual gula rambut nenek atau tentang bunyi rombong yang mengiringinya. Ia adalah refleksi tentang cara masyarakat memandang warisan budayanya sendiri. Pertunjukan ini mengingatkan bahwa tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk yang agung dan sakral. Kadang-kadang ia bersembunyi dalam bunyi sederhana yang melintas di depan rumah, menunggu seseorang mendengarkannya kembali. Dan ketika bunyi itu akhirnya dipanggungkan, yang sesungguhnya dipertontonkan bukan hanya sebuah tradisi, melainkan hubungan manusia dengan ingatannya sendiri.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: NTBseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Next Post

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

Read moreDetails

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
0
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

Read moreDetails

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
0
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

Read moreDetails

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co