DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua kuping tanpa malu-malu.
Ya, selamat. Kamu sudah berada di dalam stasiun imajinasi milik mas-mas kediri, Aka Ilham Gusti Syahadat, seorang arsitek yang merawat anomali berpikirnya lewat karya-karya nakal nan eksperimental.
Di dalam sebuah ruang gelap lantai dua milik sebuah kafe bernama The Ruum, ia membangkitkan bentuk dan rupa-rupa makhluk imajinatifnya dalam sebuah presentasi instalatif yang sayangnya hanya berlangsung dalam dua hari saja.
Tapi tak apa, seperti dendam, kegilaan juga harus dibayar tuntas. Dengan cara inilah Ilham yang sehari-hari berkutat dalam berbagai proyek arsitektur, menjaga kewarasannya dengan proyek solo presentasi berjudul “Ruang Kepala” ini.
Tak tanggung-tanggung, tempat yang sangat kosong sebelumnya, ia retas, modifikasi lalu rancang sebagai ruang intim, yang menampilkan berbagai endapan visual yang telah lama tertidur dalam bentuk aset digital.
Dalam satu karya yang cukup masif, ia menembak kain yang membentang lengkung dengan sebuah proyektor mini, untuk menampilkan berbagai aset video imajinatif yang telah lama ia kumpulkan satu persatu.

Dalam salah satu video yang me-looping dirinya terus menerus, ia menampilkan salah satu arsitektur rekaan yang Ilham sebut sebagai Stasiun Buraq, sebuah makhluk sufistik yang hadir dalam cerita-cerita tradisi keislaman tentang peristiwa “Isra Mi’raj”.
Sebagai seorang muslim yang lahir di salah satu daerah penting kerajaan besar nusantara, pria Kediri ini paham betul, bagaimana memori, cerapan, kebiasaan dan lingkungan begitu menubuh dalam sensibilitas kognitifnya.
Maka wajar, karyanya seringkali berjalan di antara praktik arsitektur dan tradisi sufistik yang begitu kental. Potongan tubuh yang kemudian bercampur dengan kepala-kepala hewan, hamparan ruang lapang tak berujung, serta sosok di antara objek-objek arsitektur yang saling berjejalan.
Mungkin pada aplikasi SketchUp, atau 3D blender inilah, ia memuntahkan sebagian dari isi kepalanya yang begitu liar, mentah, dan kadang sedikit usil.
Beranjak dari sana, di balik kain tersebut muncul siluet-siluet hitam yang meneror dengan wujud-wujud bersayap kesukaannya. Namun entah mengapa, wujud-wujud tersebut—dengan kesederhanaan bentuknya—berhasil menampilkan kesan-kesan keilahian, mistik, dan spirituil yang berhasil menyentuh persepsi penonton, terutama saya sendiri yang langsung menyaksikannya.

Hal itu dipertebal oleh hamparan kain sajadah yang menghadap cahaya merah, yang ternyata berasal dari properti interior café dan berpendar syahdu layaknya bulan di kala adzan Isya berkumandang.
Di balik sosok-sosok yang ia tampilkan, ternyata baru masuk akal, setelah ia memberitahu bahwa kegandrungannya pada sayap-sayap itu muncul dari buku-buku milik Danarto, seorang penulis revolusioner melalui tulisan-tulisannya yang melampaui batas realisme konvensional.
Cover buku Asmaraloka milik Danarto ternyata menjadi keseharian dalam pengalaman visual yang ia konsumsi sehari-hari. Larik kata yang aneh dan komposisi kalimat yang jauh dari konteks sastra pada umumnya. Membawa pengaruh besar dalam karya-karya Ilham, terutama pada presentasi solonya kali ini.
Ia dengan sadar mengakui, sebagian besar dari bentuk dan visual-visual yang ia hadirkan, tumbuh dari keisengan dan sensibilitas yang sangat impulsif. Tanpa mengurangi konteks, wujud-wujud itu melebur dalam pengalaman dan memorinya tentang rumah, tradisi dan keterhubungannya dengan Bali sebagai tempatnya menetap sekarang.

Dari sanalah kita mulai sedikit paham, mengapa ruang kosong dalam kepalanya, justru dipenuhi ingatan visual yang begitu liar dan ajaib. Dengan cara inilah gagasan dan stimulasi impulsif itu sampai pada bentuk fisiknya.
Arsitektur dan kolase
Sebagai seseorang yang berangkat dari latar belakang arsitektur, tidak menjadikan Ilham larut dalam hiruk-pikuk produksi industri semata. Ia orang yang bisa melebur dengan praktik-praktik di luar lingkup profesinya.
Salah satunya adalah aktivitas potong-memotong yang sering disebut sebagai Kolase. Dalam pameran ini pun ia menggandeng komunitas yang telah membersamai praktik tersebut sejak lama. Yaitu Ejakolase, sebuah perkumpulan para pegiat kreatif yang menaruh perhatian lebih pada kerjaan tempel-menempel ini.

Selain aktivasi ruang berupa presentasi. Di ruangan sebelahnya, ia bersama Ejakolase, mengajak para pengunjung untuk menciptakan karya kolase mereka sendiri. Dengan bantuan gunting dan lem, gambar-gambar dalam majalah dipindah kontekskan sebagai bentuk baru dalam bidang yang telah disediakan.
Pada praktik kolase ini juga, Ilham mendapat intensi untuk memanipulasi, memotong, dan menyatukan berbagai elemen visual yang sesungguhnya tak punya kedekatan satu dengan yang lainnya.
Justru di sinilah, imajinasi dan mimpi-mimpi fantastis seorang Ilham, mendapatkan bentuknya melalui entitas dan ruang yang terwujud dari gabungan-gabungan elemen yang muncul dari ingatan dan kesehariannya sebagai seorang penikmat budaya visual.
Desain dan pengalaman keruangan

Satu hal yang sungguh terasa dalam presentasi solonya kali ini adalah pengalaman ruang dan bagaimana ia mendefinisikan idenya melalui komposisi alur yang begitu sukses menguasai area kosong nan gelap ini.
Sekali lagi, bahwa pengalaman pada desain arsitektur begitu menyelamatkan eksekusinya kali ini. Persoalan teknis display dan bagaimana karya betul-betul memanfaatkan ruangan dengan maksimal tentu menjadi hal yang patut diapresiasi di sini.
Tak banyak seniman yang mau bersusah payah untuk memikirkan kerja-kerja belakang layar, tentang bagaimana karyanya tampil dalam sebuah ruangan dan dengan cara apa ia ditampilkan. Di sinilah Ilham mematahkan stigma usang tersebut, dengan menunjukkan sikap profesionalnya lewat keputusan-keputusan instalasi yang vital.

Dibantu oleh Unsual studio, ia merancang sebuah pementasan karya yang begitu dinamis. Dengan hanya sebuah senter kecil, potongan kertas serta klip yang dijepitkan secara sederhana. Ia berhasil menciptakan nuansa magis, misterius serta mistikal dengan bayangan-bayangan sufistiknya. Ditambah lagi cahaya merah dari properti café, semakin mendramatisir suasana yang telah terbangun secara bersamaan.
Hasil ini menunjukkan kecakapan Ilham dalam merangkai komposisi karya dalam satu ruangan yang sesungguhnya cukup luas sebagai sebuah ruang presentasi solo. Serta bagaimana ia berhasil menciptakan dan membawa agenda langka ini di tengah jantung skena Kodya Denpasar.

Dan pada akhirnya, apa yang ditawarkan oleh Ilham bukan sekedar muntahan visual yang asal jiplak. Ia dibentuk, dan dipikirkan dengan sangat amat matang, dengan segala pertimbangan artistik dan desain yang saling bernegosiasi satu sama lain.
Menjelma ruang kepala yang menerjemahkan isi kekosongan atau kekosongan dalam isi pikiran seorang Ilham. [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole






























