DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai hitam. Di depannya, seorang mahasiswa berdiri sembari tersenyum dan menunjuk karya tersebut. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah dokumentasi sederhana. Namun bagi mahasiswa yang terlibat, momen itu adalah bentuk kebanggaan. Karya yang lahir dari proses kreatif akhirnya menemukan ruang untuk dilihat dan dimaknai oleh publik.
Suasana itulah yang terasa dalam Pameran Seni Rupa Tabula Rasa Vol. 3 yang dibuka pada Jumat, 5 Juni 2026. Selama satu pekan, hingga 12 Juni 2026, ruang pamer di Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali menjadi tempat berkumpulnya beragam gagasan, ekspresi, dan kreativitas mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa.
Memasuki area pameran, pengunjung akan disambut dengan berbagai karya. Ada lukisan, gambar, sketsa, hingga karya tiga dimensi yang menampilkan ragam pendekatan artistik. Di sudut lain, berdiri sejumlah karya berbentuk tapel dengan karakter yang kuat dan ekspresif. Sementara pada dinding-dinding galeri, karya-karya mahasiswa tersusun berdampingan, menghadirkan beragam cerita dan interpretasi yang lahir dari pengalaman, pemikiran, serta keberanian para perupa muda dalam mengekspresikan diri.


Pameran ini diikuti oleh hampir seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa dari berbagai semester. Nama-nama seperti Ngurah Agung, Wideheri, Widebagus, De Putra, Risna, De Cakra, Peby, Anggreni, Cokorda Alit, Priskila, Whulan, Meldi, Putu Bali, Dwi, Desri, Jennifer, Dewa Sangging, Setya, Yogix, Nona, Dek Bawa, Komang, Arifin, Aziz, Ayu, De Ari, Nawang Wulan, Tyas, Devina, dan Gotawa turut ambil bagian dalam pameran tersebut.
Bagi para mahasiswa, pameran bukan sekadar tempat memajang hasil karya. Lebih dari itu, pameran menjadi ruang perjumpaan antara karya dan publik, sekaligus wadah pembelajaran untuk memahami bagaimana sebuah gagasan diterima oleh orang lain. Selain pameran, di antara mereka juga menyajikan karya lewat fashion show yang disajikan oleh Nona dan Tyas, serta art performance yang dipentaskan oleh Gotawa.


I Kadek Dwi Agus Laksmana Putra, selaku Ketua Panitia sekaligus peserta pameran, mengaku senang sekaligus bangga dapat terlibat dalam Tabula Rasa Vol. 3.
“Bagi saya, pameran ini sangat bermanfaat karena memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif. Melalui kegiatan seperti ini, kami juga jadi lebih termotivasi untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan yang kami miliki,” ujar mahasiswa Pendidikan Seni Rupa semester empat itu.
Dwi juga menyadari bahwa setiap karya seni selalu membuka ruang tafsir yang berbeda-beda. Tidak semua orang akan melihat sebuah karya dengan cara yang sama. Namun justru di situlah letak menariknya proses berkesenian.
“Banyak yang bilang karya saya vulgar, tetapi maknanya tidak demikian. Namun saya membiarkan setiap orang mengartikannya dengan cara mereka sendiri,” katanya.
Pandangan tersebut mencerminkan salah satu hakikat seni rupa: karya tidak selalu menghadirkan jawaban tunggal. Ia dapat memancing dialog, memunculkan perdebatan, bahkan mengundang rasa penasaran. Dalam ruang pamer, setiap pengunjung membawa pengalaman dan sudut pandangnya masing-masing saat berhadapan dengan karya yang dipajang.


Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Dr. Ni Putu Laras Purnamasari, S.Sn., M.A., menjelaskan bahwa pameran ini merupakan kegiatan kedua dalam rangkaian Tabula Rasa tahun 2026. Sebelumnya, pada Mei lalu, Program Studi Pendidikan Seni Rupa telah mengadakan lomba tapel ogoh-ogoh sebagai pembuka rangkaian kegiatan tersebut.
“Kegiatan Tabula Rasa tahun ini memang kami rancang dengan jeda di tiap bulannya, agar setiap kegiatan bisa lebih fokus dan maksimal dalam pelaksanaannya,” jelasnya.
Dengan pola pelaksanaan yang bertahap, setiap kegiatan diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar memberi pengalaman bermakna bagi mahasiswa. Setelah pameran ini, rangkaian Tabula Rasa masih akan berlanjut pada bulan Juli melalui seminar yang dilaksanakan secara hybrid sebagai ruang diskusi dan pengembangan wawasan.
Lebih jauh, Laras menegaskan bahwa Tabula Rasa dirancang sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa seni rupa.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inkubator dalam berkesenian. Tidak hanya mengasah keterampilan praktik, tetapi juga melatih kemampuan berorganisasi serta mengelola sebuah event secara profesional,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses belajar mahasiswa seni rupa tidak berhenti di ruang kelas maupun studio. Melalui kegiatan seperti pameran, mahasiswa belajar menyusun konsep acara, mengatur tata pamer, berkoordinasi dengan berbagai pihak, hingga berinteraksi dengan pengunjung. Semua pengalaman itu menjadi bekal penting ketika mereka terjun ke dunia profesional nantinya.


Apresiasi juga datang dari Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum. Dalam sambutannya, ia menyoroti semangat mahasiswa Pendidikan Seni Rupa yang terus terjaga meskipun jumlah mereka tidak besar.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan lomba ini. Prodi Seni Rupa memang termasuk salah satu prodi yang paling aktif di Fakultas Bahasa dan Seni. Jumlah mahasiswanya mungkin kecil, tetapi semangat dan daya hidupnya tidak pernah kecil,” ungkapnya.
Ucapan tersebut seolah menjadi penegasan atas suasana yang tampak sepanjang pameran berlangsung. Di balik jumlah yang tidak besar, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa menunjukkan energi kreatif yang terus bergerak. Mereka tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ruang apresiasi, ruang belajar, dan ruang kolaborasi.


Ketika pengunjung berjalan menyusuri setiap sudut galeri, yang terlihat bukan sekadar deretan karya seni. Ada proses panjang yang menyertainya: keberanian menuangkan gagasan, ketekunan menyelesaikan karya, serta kerja sama untuk menghadirkan sebuah pameran yang layak dinikmati publik.
Melalui Tabula Rasa Vol. 3, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali menunjukkan bahwa berkesenian bukan hanya soal menghasilkan karya yang indah. Berkesenian juga tentang membangun keberanian untuk berbicara melalui medium visual, membuka ruang dialog dengan masyarakat, dan terus menjaga semangat untuk tumbuh. Selama satu pekan penyelenggaraan pameran, semangat itulah yang memenuhi ruang galeri ꟷ nyala kreativitas yang terus hidup dan berkembang di tangan para perupa muda.
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























