BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari pembahasannya, apalagi pengaplikasiannya. Sangat berbeda dengan stigma ketidakberuntungan, ayah saya menanamkan bahwa tiga belas adalah satu di antara bilangan yang tidak mamada-mada (upaya menyamai) bilangan keramat 3 dan kelipatannya. Dipercaya, bilangan kelipatan 3 plus 1 adalah bilangan keberuntungan, 13 ada di dalamnya.
Percaya dengan angka keberuntungan tiga belas, tidak saya hindari membahasnya. Secara lengkap bilangan belasan dalam bahasa Bali dimulai dari solas, roras, telulas, patbelas, limolas, nembelas, pitulas, plekutus, hingga siangolas. Hanya bilangan delapan belas (plekutus) yang tidak bersematkan belas atau las.
Solas terbentuk dari sa+welas atau sa+belas. Roras terbentuk dari rwa+welas atau rwa+belas. Telulas terbentuk dari telu+welas atau telu+belas. Patbelas terbentuk dari pat+belas. Limolas terbentuk dari lima+welas atau lima+belas. Nembelas terbentuk dari nem+belas. Pitulas terbentuk dari pitu+welas atau pitu+belas. Siangolas terbentuk dari sia+N+welas atau sia+N+belas. Saya abaikan plekutus, belum tergambar proses terbentuknya.
Dari rwa+welas atau rwa+belas semestinya menjadi rolas. Mengapa tidak robelas sebagaimana terbentuknya patbelas dan nembelas, atau sebagaimana karobelah yang terbentuk dari ka+rwa+belah? Mengapa juga yang semestinya rolas jatuh menjadi roras? Sebagaimana mengucapkan “ular lurus” dengan tempo yang sangat cepat, lafal beralih menjadi “urar rurus”, sangat mungkin rolas menjadi roras.
Bukan hanya bilangan roras yang mengalami perubahan pengucapan. Bilangan pat juga mengalaminya. Pat, patbelas, patlikur, telung dasa pat, lalu petang dasa, seket pat, nem dasa pat. Empat puluh itu petang dasa, bukan patang dasa. Mufakat bahasa tidak penting digugat.
Dalam bahasa Bali, dari bilangan sa (1) sampai dengan sia (9), hanya tiga bilangan mempunyai ragam bahasa Bali natya yaitu 1 (siki), 2 (kalih), dan 3 (tiga). Bilangan 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 tidak mempunyai ragam bahasa Bali natya, walaupun bilangan 8 (kutus) dan 9 (sia) pada keadaan tertentu berubah menjadi ulu dan sanga, semisal kaulu, ulungdasa, ulungatus, kasanga, sangangdasa, atau sangangatus.
Lumrah penutur bahasa Bali membilang 1, 2, dan 3 dengan sa, dua, telu atau siki, kalih, tiga. Tidak demikian halnya dengan solas, roras, dan telulas. Solas ya solas, tidak sikilas. Roras ya roras, tidak kalihlas. Kegamangan timbul ketika membilang 13 dalam ragam bahasa Bali natya. Telulas ya telulas?
Meski kegamangan atas 13 ini sangat menggangu, pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk pertama kalinya mengalihbahasakan bilangan tiga belas menjadi tiga welas pada naskah pengantar rapat paripurna DPRD Kabupaten Karangasem pada tanggal 3 September 2020. Dijatah rentang waktu yang cukup singkat, tertutup kemungkinan saya mendapatkan informasi bilangan 13 ini. Mencari tahu kosakata bahasa Bali, belum terbiasa saya bertanya. Mendengarkan perbincangan atau turut aktif berbincang adalah cara saya memungut kosakata bahasa Bali.
Sebagai orang tua, Ida I Dewa Gde Catra membenarkan alih bahasa 13 saya. Saya masih gamang. Pada suatu kesempatan, saya bertemu seniman dalang Ida Nyoman Sogata (semoga saya tidak salah tulis nama karena saya belum akrab dengan Beliau). Saya tanyakan 13 ini kepada Beliau. “Tigangwelas né beneh,” Beliau menjawab.
Masih gamang juga saya. Mengapa tidak tigalas sebagaimana terbentuknya telulas atau pitulas? Mengapa tidak tigolas sebagaimana terbentuknya limolas? Mengapa tidak tigangolas sebagaimana terbentuknya siangolas? Bisa jadi sudah tepat tigangwelas sebagaimana terbentuknya sangangdasa. Atau cukup dengan telulas. [T]
Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole






























