SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang tercium terlalu keras. Pemutaran pertama film dokumenter Ki Ai Nirnur memang bukan untuk publik luas. Terlihat hadir pula di sana Rai Mantra, Jun Bintang, keluarga, dan undangan dekat Marmar Herayukti. Undangan terbatas, suasana intim, tapi yang tersaji di layar terasa jauh melampaui ruang gelap itu.
Film ini diproduksi bersama ST Gemeh Indah dan Mahatma Pictures, merekam perjalanan lahirnya ogoh-ogoh yang pada Nyepi 2025 yang sempat menyita perhatian banyak orang. Bukan hanya karena wujudnya yang kolosal dan detail, tapi karena tema yang diusungnya, kecerdasan buatan dan apa yang diam-diam ia lakukan pada kesadaran manusia.
Bagi yang belum menyaksikannya secara langsung, Ki Ai Nirnur adalah sosok raksasa gundul dengan mata kanan yang tajam menatap dan mata kiri yang kosong, putih polos tanpa titik pusat. Namanya berasal dari bahasa Sansekerta, Nir artinya ketiadaan dan Nur artinya cahaya. Ia adalah matahari tanpa cahaya. Sebuah karya yang bukan kebetulan hanya sebuah artistic belaka, melainkan pembacaan terhadap realitas yang sengaja dirajut oleh Marmar. Dalam film dokumenter itu, penonton diajak mengikuti perjalanan panjang tersebut. Dari proses memilih tema, mendalami isi, hingga keputusan untuk mewujudkannya dalam medium ogoh-ogoh.
“Dari pembuatan film ini saya belajar banyak,” kata Marmar dalam satu wawancara setelah menonton film. “Begitupun dari membuat ogoh-ogoh Ki Ai Nirnur, saya mengalami banyak perjalanan belajar, mulai dari memilih temanya sampai mendalami isinya,” sambungnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi siapa yang mengikuti keseluruhan film, makna di baliknya sangat terasa. Karena Marmar bukan hanya berbicara soal teknis membuat, namun ia berbicara soal pembacaan terhadap sastra dan realitas social hari ini.
Salah satu momen paling berkesan dalam film itu adalah ketika Marmar bicara tentang peristiwa budaya sebagai sesuatu yang berulang, bukan sesuatu yang beku di masa lalu.

Ia menyebut selembar daun lontar biasa yang setelah diisi aksara dan pemikiran, berubah menjadi tuntunan hidup. Ia juga menyebut agem atau pegangan hidup yang diterjemahkan ke dalam gerak tari. Menjadi sebuah pembacaan bagaimana kemudia cara Marmar melihatnya menjadi yang kita wariskan atau ciptakan hari ini adalah jembatan menuju hari depan.
Pandangan ini bukan sekadar romantisisme terhadap tradisi. Saya tertegun setelah mendengar apa yang dikatakan Marmar, ini sebenarnya adalah posisi intelektual. Dimana kebudayaan itu sebenarnya bukan museum, melainkan percakapan panjang antargenerasi yang terus bergerak. Ogoh-ogoh, dalam framing ini, bukan hanya ritual dan tradisi belaka. Tapi ia adalah medium berpikir. Dan Ki Ai Nirnur memilih untuk berpikir tentang AI.
Marmar dalam film itu berhati-hati soal satu hal, ia tidak ingin disalahpahami sebagai pengecam teknologi.
“Saya tidak menuduh bahwa teknologi ini akan menjerumuskan kita,” ia menjelaskan. “Saya hanya berbicara tentang bagaimana jika kesadaran kita perlahan direnggut oleh sebuah rayuan yang sangat memukau, yang sangat memudahkan kita, membuat kita dengan gampangnya membuka pintu rahasia.”
Kalimat pintu rahasia itu menjadi menarik ketika kita mengingat lagi bahawa sebenarnya, ada sesuatu yang dijaga di balik sesuatu dan AI—dengan segala kemudahannya—menawarkan kunci tanpa pernah menjelaskan apa yang ada di dalamnya.
Di luar layar Cinepolis malam itu, realitasnya memang sedang bergerak cepat. AI hari ini bukan lagi wacana futuristic. Ia hadir di meja kerja, di ruang kelas, bahkan di genggaman tangan. Ia menulis, ia menggambar, ia membuat keputusan medis dan hukum, ia menyortir informasi yang kita terima setiap hari.
Yang jarang kita tanyakan adalah, siapa yang memegang kendali atas apa yang disortirnya untuk kita? Dan apakah kita masih tahu bagaimana bertanya tentang hal-hal yang tidak disajikannya?

Inilah yang membuat film dokumenter ini relevan melampaui konteks ogoh-ogoh dan Nyepi. Marmar dan Mahatma Pictures hari ini tidak sekadar merekam proses kreatif sebuah karya seni. Ia merekam momen di mana sebuah komunitas dan kolektif local, Banjar Gemeh, memutuskan bahwa isu global paling mendesak hari ini layak untuk dijawab dengan bahasa tradisi, simbolisme, dan sebuah medium yang diarak lalu dibakar.
Ada keberanian dalam keputusan itu. Karena pada akhirnya, membakar Ki Ai Nirnur bukan berarti isu itu selesai. Ia dilepas ke udara, disebarkan, agar menjadi pertanyaan yang terus hidup.
“Suatu saat makna dan pesan dari cerita Ki Ai Nirnur ini akan dibutuhkan,” kata Marmar. “Makanya dibuatnya film ini, agar kita tidak hanya terkesima pada estetika saat ia muncul di permukaan.”
Marmar tahu bahwa ogoh-ogoh bersifat sementara. Diarak, dibakar dan hilang. Tapi cerita di baliknya tidak harus ikut terbakar. Itulah alasan film ini dibuat.
Layar hitam. Lampu menyala kembali. Dan pertanyaan yang ditinggalkan film itu menggantung di udara Cinepolis, apakah kita sedang memegang kendali, atau kita yang dipegang? [T]






























