14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
in Esai
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

I Gusti Made Darma Putra

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang tak pernah tidur. Kuta modern dikonstruksikan sebagai ruang konsumsi yang tercerabut dari akar spritualnya. Namun, jika kita mengupas lapisan-lapisan artifisial pariwisata tersebut, kita akan menemukan bahwa jauh sebelum wilayah ini diidentifikasi sebagai pusat pelancongan global, pesisir ini adalah ruang kebudayaan yang melahirkan salah satu pencapaian estetika paling radikal dalam sejarah Bali.

Kuta bukan sekadar wilayah geografis daerah ini adalah rahim peradaban seni. Di tanah pesisir inilah, Peradaban Palegongan lahir, tumbuh, dan memancarkan pengaruhnya yang secara fundamental mengubah arah estetika seni pertunjukan Bali modern. Membaca Kuta melalui kacamata Peradaban Palegongan berarti menolak cara pandang hegemonik yang melihat kesenian tradisional sekadar sebagai produk hiburan masa lalu atau pelengkap ritus yang statis.

PALEGONGAN SEBAGAI SISTEM BERPIKIR DAN OTONOMI ESTETIKA

Palegongan di Kuta, di bawah kejeniusan maestro I Wayan Lotring, adalah sebuah sistem berpikir. Sebelum era Gong Kebyar mendominasi lanskap musikal Bali dengan karakternya yang meledak-ledak, Palegongan adalah puncak dari kecerdasan karawitan Bali yang paling rumit, transparan, dan membutuhkan disiplin mental yang tinggi. Gamelan Palegongan, dengan keterbatasan bilahnya, justru menuntut komposer untuk melahirkan kreativitas yang melampaui batas fisik instrumen.

Di tengah masyarakat Bali awal abad ke-20 yang menempatkan kesenian dalam sekat-sekat sakralitas ritual murni (ngayah), Kuta menawarkan antitesisnya yang revolusioner. Melalui Palegongan, Kuta merumuskan ulang hubungan antara manusia, ruang, dan bunyi. Musik tidak lagi dipandang semata-mata sebagai fungsionalisme upacara keagamaan, melainkan diangkat derajatnya menjadi sebuah kesadaran artistik yang otonom. Lotring datang membawa kedewasaan kompositoris, sebuah kesadaran bahwa bunyi memiliki haknya sendiri untuk dinikmati, diapresiasi, dan ditafsirkan sebagai struktur estetika yang mandiri. Ini adalah benih pertama dari apa yang kita sebut sebagai modernisme musik di Bali.

KARAKTER PESISIR: ANTARA PRESISI MATEMATIKA DAN WATAK CAIR

Keberanian melakukan pembaruan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bentukan dari ekologi spasial Kuta itu sendiri. Karakter pesisir yang terbuka, dinamis, dan terbiasa berhadapan dengan ufuk yang luas membentuk watak peradaban yang berani mendobrak kemapanan pedalaman. Melodi-melodi Palegongan gaya Kuta seperti yang abadi dalam mahakarya Layar Samah adalah manifestasi visual yang ditransformasikan ke dalam sebuah karya.

Gending Layar Samah bukan sekadar representasi jukung nelayan yang diterpa angin senja, melainkan sebuah struktur musikal yang cair, dinamis, penuh kejutan ritmis yang tak terduga, namun diikat oleh presisi kotekan (jalinan nada) yang sangat ketat. Ada paradoks estetika yang jenius di sini, kelenturan rasa pesisir yang dipadukan dengan ketepatan matematika yang rigid. Julukan “Jarum Emas Murni” dari para etnomusikolog dunia untuk Lotring bukanlah sekadar pujian atas kemahiran teknis jemarinya, melainkan pengakuan filosofis terhadap sebuah lompatan cara berpikir kontemporer yang melampaui zamannya.

KOSMOPOLITANISME ORGANIK: DIALOG YANG SETARA

Melalui Peradaban Palegongan ini pula, Kuta menjelma menjadi ruang kosmopolitan budaya yang organik jauh sebelum istilah globalisasi diarsiteki oleh industri modern. Ketika Lotring terlibat dalam dialog intelektual dan musikal yang intens dengan komposer Barat seperti Colin McPhee pada dekade 1930-an, Kuta tidak sedang memposisikan diri sebagai objek eksotisme yang pasif. Kuta adalah subjek penentu arah diskusi.

Di Kuta, struktur musik Barat yang berbasis pada partitur dan linearitas bertemu dengan struktur musik Timur yang berbasis pada kelisanan (orality) dan siklus (cyclic). Pertemuan ini bukan untuk saling mengubur atau mengasimilasi secara murahan, melainkan untuk saling menguji kedalaman estetika masing-masing. Palegongan Kuta menjadi bukti otentik bahwa modernitas Bali tidak harus lahir dari imitasi buta terhadap Barat, melainkan dari radikalisasi tradisi lokal itu sendiri. Kuta membuktikan bahwa menjadi universal bisa dicapai dengan menjadi sangat lokal yang sublim.

MENGEMBALIKAN AKAR ASAL KUTA

Oleh karena itu, mereduksi Kuta hanya sebagai narasi sejarah perkembangan pariwisata atau sekadar titik pendaratan wisatawan adalah sebuah kecacatan epistemologis yang fatal. Kuta harus dikembalikan ke akar asalnya sebagai episentrum peradaban seni yang pernah melahirkan cetak biru (blueprint) bagi estetika Bali kontemporer.

Warisan Lotring dan Peradaban Palegongan Kuta memberikan kita sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana sebuah kebudayaan merawat daya hidupnya. Tradisi tidak dijaga dengan cara membeku dalam museum ingatan, melainkan dengan cara ditantang melalui hal-hal baru yang berani. Di tanah pesisir ini, melalui gending Palegongan, Bali pernah menemukan keberanian paling intim untuk bergerak maju tanpa pernah kehilangan jangkar kulturalnya.

Kuta adalah sebuah manifesto kebudayaan, sebuah ruang di mana Palegongan tidak sekadar dipentaskan di atas panggung, melainkan dihidupi sebagai sebuah peradaban berpikir yang melintasi batas waktu. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutalegongpalegongan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Next Post

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co