13 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
May 29, 2026
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang nyata. Di era digital, kanal informasi semakin terbuka dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat.

Media sosial memungkinkan berbagai kebijakan pemerintah dipantau dan dikritik dalam waktu cepat. Sebuah isu dapat menjadi perhatian publik nasional hanya dalam hitungan jam, sementara perdebatan politik berkembang hampir setiap hari di berbagai platform. Sekilas, situasi ini menunjukkan menguatnya kesadaran kritis masyarakat. Namun di tengah derasnya kritik tersebut, perubahan politik mendasar tidak selalu mengikuti.

Menurut pandangan penulis – yang juga berkecimpung di dunia gerakan – salah satu akar dari permasalahan tersebut adalah pengorganisasian yang melemah. Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai bentuk aksi kolektif yang bergantung pada kapasitas mobilisasi: kemampuan membangun jaringan, menjaga solidaritas, dan mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.

Saul Alinsky dalam Rules for Radicals menambahkan, bahwa kekuatan semacam itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja pengorganisasian yang dekat dengan masyarakat. Kritik yang tersebar luas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik. Ia membutuhkan hubungan sosial yang nyata, basis yang hidup, dan kemampuan menghubungkan banyak kepentingan ke dalam agenda bersama.

Penulis curiga bahwa masalah pengorganisasian ini berkaitan langsung dengan minimnya keterlibatan akar rumput. Kritik memang semakin mudah disuarakan dan ruang ekspresi semakin terbuka, tetapi ketika masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sehari-hari belum terlibat secara kuat, kritik kerap berhenti di tingkat wacana dan belum berkembang menjadi kekuatan kolektif yang mampu memberi tekanan politik secara nyata.

Persoalannya bukan karena masyarakat di tingkat akar rumput seperti buruh, petani kecil, nelayan, pedagang kecil, miskin kota, atau masyarakat adat tidak memiliki kepentingan atau tidak menyadari masalah. Sebaliknya, merekalah yang justru berhadapan paling dekat dengan berbagai persoalan yang sangat konkret dan mendesak: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang mahal, persoalan tanah, sulitnya akses kerja, layanan kesehatan, hingga ancaman terhadap ruang hidup. Sehingga tantangannya bukan pada ada atau tidaknya persoalan, melainkan pada bagaimana persoalan-persoalan konkret tersebut belum cukup diorganisir dan dihubungkan menjadi kekuatan kolektif yang lebih luas.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kerja pengorganisasian itu belum berjalan cukup kuat. Penulis menduga, bahwa kerja-kerja aktivisme hari ini sering lebih dekat dengan ruang diskusi dan perdebatan publik daripada dengan kerja sosial yang lebih mendalam di tengah masyarakat.

                                                                        ***

Perkembangan media digital memang memperluas ruang kritik, tetapi juga mendorong energi gerakan banyak terserap ke produksi opini, respons cepat terhadap isu, dan perdebatan yang terus berganti. Ketika ruang kritik lebih ramai daripada ruang pengorganisasian, muncul jarak antara suara yang nyaring di ruang publik dan persoalan konkret yang hidup di tengah masyarakat.

Selain itu, penulis juga menaruh kecurigaan bahwa sebagian kerja-kerja aktivisme hari ini masih berisiko menempatkan masyarakat lebih sebagai penerima agenda daripada sebagai pelaku utama perubahan. Dalam konteks ini, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pembebasan tidak lahir dari satu pihak yang datang sebagai penyelamat, melainkan dari dialog dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek perubahan.

Bagi Freire, perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui hubungan yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek yang diarahkan. Mereka yang mengalami persoalan harus ikut membaca realitasnya sendiri, membentuk kesadaran bersama, dan terlibat aktif dalam menentukan arah perubahan. Dalam pengertian ini, kerja pengorganisasian tidak cukup hadir sebagai representasi atas nama masyarakat, tetapi perlu tumbuh bersama masyarakat itu sendiri.

Terinspirasi dari Freire, pemikiran Mansour Fakih dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik menawarkan arah yang penting dalam konteks Indonesia. Mansour Fakih menekankan bahwa perubahan sosial tidak cukup dibangun dari kritik yang berputar di ruang intelektual atau diskusi di lingkaran terbatas.

Perubahan harus tumbuh melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dan berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Kerja-kerja sosial tidak cukup berhenti sebagai penyampai gagasan atau kritik dari kejauhan, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan konkret yang dihadapi sehari-hari, membangun hubungan yang nyata, dan menghubungkan persoalan-persoalan tersebut ke dalam kesadaran bersama.

Oleh karena itu, apresiasi sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka yang tetap bergerak di tengah berbagai keterbatasan, mereka yang bekerja di tempat-tempat yang tak selalu terlihat, di ruang-ruang yang sunyi: mendampingi warga, mengadvokasi kebijakan, membangun pendidikan komunitas, atau menjaga solidaritas tetap hidup di banyak tempat.

Penulis menyadari bahwa perubahan sosial tidak pernah berlangsung secara instan. Ia sering bergerak perlahan, bertahap, dan membutuhkan waktu yang panjang. Seperti yang dikatakan Saul Alinsky, perubahan tidak selalu dimulai dari sasaran besar yang langsung mengguncang pusat kekuasaan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru tumbuh dari kemenangan-kemenangan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan mampu membangun rasa percaya diri bersama. Dari sana kepercayaan tumbuh, solidaritas menguat, dan organisasi perlahan menemukan pijakannya.

Sebagai penutup, penulis ingin menyegarkan ingatan kita kembali dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kritik yang melimpah menunjukkan bahwa kesadaran publik terus tumbuh, tetapi tanpa kerja pengorganisasian yang mampu menghimpun persoalan konkret masyarakat akar rumput menjadi agenda bersama, kritik mudah berhenti sebagai wacana. Karena itu, perhatian terhadap akar rumput dan kesabaran membangun organisasi tetap menjadi bagian penting agar suara kritis tidak hanya terdengar, tetapi juga perlahan mampu menjadi kekuatan sosial yang nyata. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

by Dede Putra Wiguna
June 8, 2026
0
Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber...

Read moreDetails
Next Post
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

'Magnifica Humanitas' sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional
Lingkungan

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng
Tualang

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
Tempe dan Ekonomi yang Teriris
Esai

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
Fiksi

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat...

by Chusmeru
June 11, 2026
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan
Esai

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

by Chandra Manikan
June 10, 2026
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan
Panggung

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co