28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 26, 2026
in Esai
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Menot Sukadana dan penulis

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil yang tak habis-habis. Di sudut warung, aroma kopi bercampur suara obrolan pengunjung dan denting sendok mengenai gelas.

Pertemuan saya dengan Menot Sukadana adalah kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Rasanya selalu ada cerita baru setiap kali bertemu. Ia datang dengan penampilan khasnya. Topi capio yang seperti tak pernah absen dari kepalanya, kacamata, juga gaya duduk santai yang membuat suasana cepat cair. Orang yang baru mengenalnya mungkin akan mengira ia sekadar penikmat kopi yang suka mengobrol. Padahal di balik kesederhanaannya, ada pengalaman panjang hampir dua dekade di dunia jurnalistik.

Waktu dua sampai tiga jam berlalu begitu saja setiap kami bertemu. Kadang kami berbicara tentang media, tulisan, atau tentang wartawan muda yang sekarang hidup di tengah derasnya media sosial, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang justru terasa penting ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Bli Menot adalah tipe orang yang tampak menikmati percakapan. Ia tidak bicara tergesa-gesa. Tidak pula berusaha terlihat paling tahu. Namun dari cara ia menjelaskan sesuatu, terlihat bahwa ia menyimpan pengalaman panjang yang ditempa oleh ruang redaksi, tenggat berita, konflik lapangan, hingga dinamika membangun media sendiri.

Di tengah obrolan sore itu, saya sempat berkelakar kepadanya. “Kalau di Jakarta, mentor seperti Bli mungkin sudah dibayar mahal setiap pertemuan.” Ia tertawa kecil mendengarnya. Tawanya pendek, ringan, tanpa kesan sedang dipuji.

Namun justru di situ saya merasa menemukan sesuatu yang menarik. Bli Menot yang orang Bali tetaplah orang Bali. Polos, apa adanya, dan tidak pelit berbagi pengalaman. Ia seperti mewakili satu watak yang diam-diam masih kuat hidup di Bali, meski zaman berubah cepat dan kehidupan semakin kompetitif.

Ada banyak orang yang setelah memiliki pengalaman panjang justru menjadi sulit dijangkau. Ilmu seperti dipagari. Pengalaman terasa mahal. Bahkan sekadar berbincang pun kadang dibuat berjarak. Namun pada diri Bli Menot, saya melihat hal berbeda. Ia tetap menikmati duduk bersama teman-teman yang lebih muda. Tetap antusias berbagi cerita tentang jurnalistik, media, dan menulis.

Padahal perjalanan hidupnya di dunia media tidak pendek. Ia telah hampir dua puluh tahun bekerja sebagai pekerja media. Dari reporter, redaktur, hingga akhirnya sekitar delapan tahun lalu mendirikan media online sendiri, podiumnews.com. Membangun media dari nol bukan pekerjaan sederhana. Apalagi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik digital yang bergerak cepat dan sering kali tidak pasti.

Banyak media tumbang sebelum berkembang. Banyak pula wartawan yang akhirnya menyerah karena dunia media tidak selalu menjanjikan kehidupan mapan. Namun Bli Menot tetap bertahan. Perlahan membangun medianya, membesarkan jejaring, menjaga ritme kerja, hingga Podiumnews kini dikenal luas di Bali.

Yang menarik, meski telah berada pada posisi pemilik media, cara berbicaranya tetap seperti wartawan lapangan yang senang belajar dari banyak orang. Ia masih bersemangat membicarakan tulisan. Masih antusias mendengar cerita orang lain. Bahkan sesekali matanya tampak berbinar ketika membahas ide sederhana tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis dengan lebih manusiawi.

Ia juga bercerita tentang rencananya membangun warung kopi bernuansa jurnalistik di Mengwi, kampung halamannya di Badung. Bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran. Ketika mendengar itu, saya merasa gagasan tersebut sangat “Bali”. Ada semangat kebersamaan di dalamnya, ada keinginan menghadirkan ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang bisnis.

Di banyak kota besar, warung kopi sering berubah menjadi simbol gaya hidup. Tempat orang sibuk bekerja dengan laptop, sibuk membuat konten, sibuk terlihat produktif. Namun di Bali, terutama dalam banyak warung kopi sederhana, saya masih menemukan suasana berbeda. Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk berbincang.

Mungkin karena itulah orang Bali punya hubungan yang khas dengan ruang pertemuan. Dari banjar, bale banjar, warung kopi, hingga pos ronda kecil di pinggir jalan, semuanya menyimpan tradisi percakapan yang panjang.

Beberapa waktu terakhir saya juga mengamati orang-orang Bali yang bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka aktif membuat konten media sosial. Ada yang bekerja di kapal pesiar, hotel, restoran, hingga sektor kreatif di berbagai negara. Namun yang menarik perhatian saya bukan sekadar pekerjaan mereka, melainkan cara mereka tetap membawa “kebalian” ke mana pun pergi.

Dari cara berbicara, bersikap, hingga cara mereka menyapa orang lain, saya merasa ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri mereka. Sesuatu yang tidak hilang meski jarak geografis berubah jauh.

Saya menyebutnya sebagai kebalian. Kebalian bukan semata soal pakaian adat, upacara, atau kemampuan berbahasa Bali. Kebalian adalah nilai hidup yang melekat diam-diam dalam cara seseorang memandang dunia. Ia tampak dalam keramahan kecil, dalam senyum yang tidak dibuat-buat, dalam kebiasaan menyapa lebih dulu, juga dalam kecenderungan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Bali mungkin bisa tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Bisa bekerja di kapal pesiar yang mengelilingi dunia. Bisa pula menjadi profesional di kota besar dengan ritme hidup modern. Namun sering kali mereka tetap membawa semacam kehangatan khas Bali.

Saya beberapa kali melihat video orang Bali di luar negeri yang tetap berbicara dengan logat hangatnya. Tetap tertawa dengan gaya sederhana, dan menunjukkan kerendahan hati meski telah hidup jauh dari kampung halaman. Bahkan ketika mereka sukses sekalipun, sering kali masih ada kesan tidak ingin terlalu meninggi. Tentu tidak semua orang Bali sama. Generalisasi selalu punya risiko. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, ada watak sosial tertentu yang masih kuat bertahan.

Mungkin itu pula yang saya lihat pada diri Bli Menot. Ia sudah lama berkecimpung di dunia media. Sudah bertemu banyak orang penting. Sudah mengalami berbagai dinamika pekerjaan jurnalistik. Namun ia tetap tampak sederhana. Bahkan ketika bercerita tentang capaian medianya, nada bicaranya lebih terdengar seperti orang yang masih belajar daripada orang yang sedang memamerkan keberhasilan.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama soal kegemarannya menulis esai. Pengakuan itu terasa menarik bagi saya. Sebab tidak semua orang yang sudah berpengalaman panjang masih memiliki kerendahan hati untuk mengatakan bahwa dirinya masih belajar.

Barangkali justru di situ letak pentingnya. Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba terlihat paling tahu. Media sosial membuat semua orang mudah menjadi pengamat, komentator, bahkan “ahli” dalam banyak hal. Orang cepat sekali memberi pendapat, tetapi sering lupa mendengar. Cepat merasa paling benar, tetapi lambat belajar.

Di tengah situasi seperti itu, sikap rendah hati menjadi terasa mahal. Dan mungkin karena itulah saya merasa pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi bersama Bli Menot bukan sekadar obrolan biasa. Ada nilai yang pelan-pelan saya pelajari di sana. Tentang bagaimana pengalaman panjang tidak selalu harus membuat seseorang menjadi berjarak, bagaimana pengetahuan bisa dibagikan tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Saya jadi teringat pada banyak orang tua di Bali yang dulu saya kenal semasa kecil. Mereka mungkin tidak sekolah tinggi. Tidak pula terkenal. Namun mereka senang berbagi cerita dan pengalaman hidup kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ada semacam tradisi berbagi pengetahuan secara informal yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.

Pengetahuan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia muncul di bale banjar, di sawah, di warung kopi, atau di percakapan panjang menjelang malam. Mungkin itu sebabnya obrolan sederhana sering terasa penting di Bali.

Kita bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa sedang digurui. Bisa tertawa sambil membahas hal-hal serius. Atau, berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Dalam banyak situasi, hubungan sosial terasa lebih penting daripada keinginan memenangkan perdebatan.

Tentu Bali hari ini juga berubah. Pariwisata, media sosial, arus investasi, dan budaya global perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Anak-anak muda Bali kini tumbuh di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pula yang mulai meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota besar atau luar negeri.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bertahan. Kebalian itu sendiri. Ia mungkin tidak selalu tampak besar. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara seseorang tersenyum. Dalam kebiasaan menawarkan kopi. Dalam kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Dalam kerendahan hati untuk tetap belajar.

Karena itulah saya percaya, orang Bali tetaplah orang Bali. Mereka bisa pergi jauh, tetapi tetap membawa pulang nilai-nilai tertentu dalam dirinya. Mereka bisa hidup modern, tetapi masih menyimpan cara pandang yang hangat terhadap sesama. Mereka bisa sukses di banyak tempat, tetapi tetap menikmati obrolan panjang sederhana di warung kopi.

Siang di Dalung mulai berubah sore ketika obrolan kami hampir selesai. Gelas kopi sudah lama kosong. Orang-orang di warung datang dan pergi silih berganti. Jalanan di luar semakin ramai oleh deru kendaraan. Namun Bli Menot masih tampak bersemangat membicarakan tulisan, media, dan rencana-rencana kecil yang ingin ia bangun ke depan. Saya mendengarkannya sambil berpikir bahwa mungkin memang begitulah orang Bali menjaga dirinya. Tidak selalu lewat pidato besar tentang budaya. Tidak pula lewat slogan-slogan identitas yang ramai diteriakkan. Kadang cukup lewat cara hidup sehari-hari, kesederhanaan, keramahan, kesediaan berbagi, dan lewat keyakinan bahwa belajar tidak pernah selesai.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balimedia massamedia onlineorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

Next Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co