27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 26, 2026
in Esai
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

Menot Sukadana dan penulis

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar sepi. Motor hilir mudik seperti arus kecil yang tak habis-habis. Di sudut warung, aroma kopi bercampur suara obrolan pengunjung dan denting sendok mengenai gelas.

Pertemuan saya dengan Menot Sukadana adalah kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Rasanya selalu ada cerita baru setiap kali bertemu. Ia datang dengan penampilan khasnya. Topi capio yang seperti tak pernah absen dari kepalanya, kacamata, juga gaya duduk santai yang membuat suasana cepat cair. Orang yang baru mengenalnya mungkin akan mengira ia sekadar penikmat kopi yang suka mengobrol. Padahal di balik kesederhanaannya, ada pengalaman panjang hampir dua dekade di dunia jurnalistik.

Waktu dua sampai tiga jam berlalu begitu saja setiap kami bertemu. Kadang kami berbicara tentang media, tulisan, atau tentang wartawan muda yang sekarang hidup di tengah derasnya media sosial, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang justru terasa penting ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Bli Menot adalah tipe orang yang tampak menikmati percakapan. Ia tidak bicara tergesa-gesa. Tidak pula berusaha terlihat paling tahu. Namun dari cara ia menjelaskan sesuatu, terlihat bahwa ia menyimpan pengalaman panjang yang ditempa oleh ruang redaksi, tenggat berita, konflik lapangan, hingga dinamika membangun media sendiri.

Di tengah obrolan sore itu, saya sempat berkelakar kepadanya. “Kalau di Jakarta, mentor seperti Bli mungkin sudah dibayar mahal setiap pertemuan.” Ia tertawa kecil mendengarnya. Tawanya pendek, ringan, tanpa kesan sedang dipuji.

Namun justru di situ saya merasa menemukan sesuatu yang menarik. Bli Menot yang orang Bali tetaplah orang Bali. Polos, apa adanya, dan tidak pelit berbagi pengalaman. Ia seperti mewakili satu watak yang diam-diam masih kuat hidup di Bali, meski zaman berubah cepat dan kehidupan semakin kompetitif.

Ada banyak orang yang setelah memiliki pengalaman panjang justru menjadi sulit dijangkau. Ilmu seperti dipagari. Pengalaman terasa mahal. Bahkan sekadar berbincang pun kadang dibuat berjarak. Namun pada diri Bli Menot, saya melihat hal berbeda. Ia tetap menikmati duduk bersama teman-teman yang lebih muda. Tetap antusias berbagi cerita tentang jurnalistik, media, dan menulis.

Padahal perjalanan hidupnya di dunia media tidak pendek. Ia telah hampir dua puluh tahun bekerja sebagai pekerja media. Dari reporter, redaktur, hingga akhirnya sekitar delapan tahun lalu mendirikan media online sendiri, podiumnews.com. Membangun media dari nol bukan pekerjaan sederhana. Apalagi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik digital yang bergerak cepat dan sering kali tidak pasti.

Banyak media tumbang sebelum berkembang. Banyak pula wartawan yang akhirnya menyerah karena dunia media tidak selalu menjanjikan kehidupan mapan. Namun Bli Menot tetap bertahan. Perlahan membangun medianya, membesarkan jejaring, menjaga ritme kerja, hingga Podiumnews kini dikenal luas di Bali.

Yang menarik, meski telah berada pada posisi pemilik media, cara berbicaranya tetap seperti wartawan lapangan yang senang belajar dari banyak orang. Ia masih bersemangat membicarakan tulisan. Masih antusias mendengar cerita orang lain. Bahkan sesekali matanya tampak berbinar ketika membahas ide sederhana tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis dengan lebih manusiawi.

Ia juga bercerita tentang rencananya membangun warung kopi bernuansa jurnalistik di Mengwi, kampung halamannya di Badung. Bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi ruang bertemu, berbincang, dan bertukar pikiran. Ketika mendengar itu, saya merasa gagasan tersebut sangat “Bali”. Ada semangat kebersamaan di dalamnya, ada keinginan menghadirkan ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang bisnis.

Di banyak kota besar, warung kopi sering berubah menjadi simbol gaya hidup. Tempat orang sibuk bekerja dengan laptop, sibuk membuat konten, sibuk terlihat produktif. Namun di Bali, terutama dalam banyak warung kopi sederhana, saya masih menemukan suasana berbeda. Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk berbincang.

Mungkin karena itulah orang Bali punya hubungan yang khas dengan ruang pertemuan. Dari banjar, bale banjar, warung kopi, hingga pos ronda kecil di pinggir jalan, semuanya menyimpan tradisi percakapan yang panjang.

Beberapa waktu terakhir saya juga mengamati orang-orang Bali yang bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka aktif membuat konten media sosial. Ada yang bekerja di kapal pesiar, hotel, restoran, hingga sektor kreatif di berbagai negara. Namun yang menarik perhatian saya bukan sekadar pekerjaan mereka, melainkan cara mereka tetap membawa “kebalian” ke mana pun pergi.

Dari cara berbicara, bersikap, hingga cara mereka menyapa orang lain, saya merasa ada sesuatu yang tetap tinggal dalam diri mereka. Sesuatu yang tidak hilang meski jarak geografis berubah jauh.

Saya menyebutnya sebagai kebalian. Kebalian bukan semata soal pakaian adat, upacara, atau kemampuan berbahasa Bali. Kebalian adalah nilai hidup yang melekat diam-diam dalam cara seseorang memandang dunia. Ia tampak dalam keramahan kecil, dalam senyum yang tidak dibuat-buat, dalam kebiasaan menyapa lebih dulu, juga dalam kecenderungan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Orang Bali mungkin bisa tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Bisa bekerja di kapal pesiar yang mengelilingi dunia. Bisa pula menjadi profesional di kota besar dengan ritme hidup modern. Namun sering kali mereka tetap membawa semacam kehangatan khas Bali.

Saya beberapa kali melihat video orang Bali di luar negeri yang tetap berbicara dengan logat hangatnya. Tetap tertawa dengan gaya sederhana, dan menunjukkan kerendahan hati meski telah hidup jauh dari kampung halaman. Bahkan ketika mereka sukses sekalipun, sering kali masih ada kesan tidak ingin terlalu meninggi. Tentu tidak semua orang Bali sama. Generalisasi selalu punya risiko. Namun setidaknya, dari pengamatan saya, ada watak sosial tertentu yang masih kuat bertahan.

Mungkin itu pula yang saya lihat pada diri Bli Menot. Ia sudah lama berkecimpung di dunia media. Sudah bertemu banyak orang penting. Sudah mengalami berbagai dinamika pekerjaan jurnalistik. Namun ia tetap tampak sederhana. Bahkan ketika bercerita tentang capaian medianya, nada bicaranya lebih terdengar seperti orang yang masih belajar daripada orang yang sedang memamerkan keberhasilan.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama soal kegemarannya menulis esai. Pengakuan itu terasa menarik bagi saya. Sebab tidak semua orang yang sudah berpengalaman panjang masih memiliki kerendahan hati untuk mengatakan bahwa dirinya masih belajar.

Barangkali justru di situ letak pentingnya. Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba terlihat paling tahu. Media sosial membuat semua orang mudah menjadi pengamat, komentator, bahkan “ahli” dalam banyak hal. Orang cepat sekali memberi pendapat, tetapi sering lupa mendengar. Cepat merasa paling benar, tetapi lambat belajar.

Di tengah situasi seperti itu, sikap rendah hati menjadi terasa mahal. Dan mungkin karena itulah saya merasa pertemuan-pertemuan kecil di warung kopi bersama Bli Menot bukan sekadar obrolan biasa. Ada nilai yang pelan-pelan saya pelajari di sana. Tentang bagaimana pengalaman panjang tidak selalu harus membuat seseorang menjadi berjarak, bagaimana pengetahuan bisa dibagikan tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Saya jadi teringat pada banyak orang tua di Bali yang dulu saya kenal semasa kecil. Mereka mungkin tidak sekolah tinggi. Tidak pula terkenal. Namun mereka senang berbagi cerita dan pengalaman hidup kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ada semacam tradisi berbagi pengetahuan secara informal yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.

Pengetahuan tidak selalu hadir di ruang kelas. Kadang ia muncul di bale banjar, di sawah, di warung kopi, atau di percakapan panjang menjelang malam. Mungkin itu sebabnya obrolan sederhana sering terasa penting di Bali.

Kita bisa berbicara berjam-jam tanpa merasa sedang digurui. Bisa tertawa sambil membahas hal-hal serius. Atau, berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Dalam banyak situasi, hubungan sosial terasa lebih penting daripada keinginan memenangkan perdebatan.

Tentu Bali hari ini juga berubah. Pariwisata, media sosial, arus investasi, dan budaya global perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Anak-anak muda Bali kini tumbuh di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak pula yang mulai meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota besar atau luar negeri.

Namun di tengah semua perubahan itu, saya merasa ada sesuatu yang masih bertahan. Kebalian itu sendiri. Ia mungkin tidak selalu tampak besar. Kadang justru hadir dalam hal-hal kecil. Dalam cara seseorang tersenyum. Dalam kebiasaan menawarkan kopi. Dalam kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Dalam kerendahan hati untuk tetap belajar.

Karena itulah saya percaya, orang Bali tetaplah orang Bali. Mereka bisa pergi jauh, tetapi tetap membawa pulang nilai-nilai tertentu dalam dirinya. Mereka bisa hidup modern, tetapi masih menyimpan cara pandang yang hangat terhadap sesama. Mereka bisa sukses di banyak tempat, tetapi tetap menikmati obrolan panjang sederhana di warung kopi.

Siang di Dalung mulai berubah sore ketika obrolan kami hampir selesai. Gelas kopi sudah lama kosong. Orang-orang di warung datang dan pergi silih berganti. Jalanan di luar semakin ramai oleh deru kendaraan. Namun Bli Menot masih tampak bersemangat membicarakan tulisan, media, dan rencana-rencana kecil yang ingin ia bangun ke depan. Saya mendengarkannya sambil berpikir bahwa mungkin memang begitulah orang Bali menjaga dirinya. Tidak selalu lewat pidato besar tentang budaya. Tidak pula lewat slogan-slogan identitas yang ramai diteriakkan. Kadang cukup lewat cara hidup sehari-hari, kesederhanaan, keramahan, kesediaan berbagi, dan lewat keyakinan bahwa belajar tidak pernah selesai.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balimedia massamedia onlineorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

Next Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co