Citta-Vrittis dan Fenomena ‘Sending’
Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending (kegalauan) yang melanda Gen Z Bali saat ini adalah bentuk modern dari gejolak tersebut.
Sebagai Narasumber Kesehatan Mental, saya melihat bahwa tanpa ruang pelepasan, Citta-Vrittis akan menjadi beban mental yang berat. Di sinilah seni memiliki peran vital sebagai media Katarsis atau pembersihan emosi.
Sumber Sastra : Konsep ‘Langu’ dan Janardana
Janardana, melalui single ‘Tresna Ngatos Mati’, membawa kita kembali pada konsep Langu—sebuah pencapaian estetika dalam Sastra Bali di mana rasa kesedihan diolah menjadi keindahan yang menyentuh sukma.
Secara teknis, lirik lagu pop berbahasa Bali yang diperkenalkan Janardana ini adalah manifestasi Geguritan Modern. Jika leluhur kita menggunakan Pupuh Maskumambang untuk menyuarakan lara, Janardana menggunakan frekuensi musik pop-akustik untuk menjangkau jiwa pendengar di era digital.
Teologi Cinta dalam Lontar Smaradahana dan Realitas ‘Tresna Ngatos Mati’
Melalui wawancara mendalam yang saya lakukan bersama Janardana, terungkap bahwa estetika Langu dalam karya ini tidak lahir dari imajinasi tekstual belaka, melainkan sebuah monumen dari kisah nyata hubungan romansa pribadinya terdahulu. Janar mengungkapkan bahwa pemilihan judul ‘Tresna Ngatos Mati’ menjadi penanda betapa sakralnya komitmen rasa berbahasa Bali yang ingin ia abadikan. Namun, kedalaman rasa di balik lagu ini menyimpan cerita getir: proses produksi video klipnya sempat tertunda lama akibat hubungan asmara tersebut telanjur selesai di dunia nyata.
Secara filosofis, fenomena runtuhnya hubungan fisik namun abadi dalam bentuk karya ini sangat selaras dengan teologi cinta dalam Lontar Smaradhana. Dalam teks tersebut, ketika wujud fisik Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih hangus terbakar menjadi abu, roh cinta (Smara) mereka tidak ikut mati, melainkan melebur dan menyusup ke dalam jiwa kosmos manusia.
Begitu pula dengan yang terjadi pada proses kreatif Janar; ketika jalinan romansa fisiknya harus selesai di dunia nyata, esensi cinta tersebut tidak lenyap. Ia bertransformasi, melebur ke dalam bait lirik dan petikan gitar, lalu menyusup ke dalam hati setiap pendengarnya. Musik ini menjadi ruang katarsis tempat sang musisi mengawetkan memori sekaligus merayakan keabadian rasa.
Sumber Kesehatan Mental : Validasi dan ‘Self Healing’
Secara klinis, mendengarkan musik yang selaras dengan suasana hati adalah teknik Self Healing. Ini bukan sekadar ‘galau’, melainkan upaya batin mencari validasi. Berdasarkan penuturan Janar mengenai makna lagunya, karya ini justru berfokus pada kebahagiaan seseorang ketika sang kekasih telah kembali dan akhirnya bisa bersatu.
Pilihan narasi ini menawarkan resolusi emosional yang sehat bagi pendengarnya; memberikan ruang untuk mengakui kerentanan tanpa harus kehilangan harapan akan sebuah akhir yang membahagiakan. Inilah yang saya sebut sebagai Sastra Husada Modern; di mana aksara menjelma menjadi melodi yang didengarkan untuk menyembuhkan luka mental.
Sastra Tan Pawates: Resiliensi Jiwa dan Kemanunggalan Seni
Langkah Janardana mempertegas posisi Sastra Tan Pawates (Sastra Tanpa Batas) dikarenakan lagu ‘Tresna Ngatos Mati’ tersedia di Spotify. Berdasarkan rekam jejak yang digali dalam wawancara, resiliensi jiwanya terbentuk karena ia telah merintis karier musik dari nol sejak bangku Sekolah Dasar (SD) tanpa modal dukungan awal dari orang tua, bergerak murni berbasis hobi dan konsistensi.
Ketika orang lain mempertanyakan mengapa ia tidak melanjutkan ke sekolah musik formal, Janar menegaskan pilihannya sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Bali karena sebuah kesadaran estetis : bahwa Bahasa Bali dan seni musik hampir menyatu, karena keduanya sama-sama seni. Keseimbangan menjadi mahasiswa dan musisi aktif ini kini didukung oleh ekosistem kampus dan para dosen yang memahami potensinya, membuktikan bahwa jalur akademik dan industri kreatif dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
Meruwat Rasa lewat Karya
Pada akhirnya, kolaborasi antara nada Janardana, filosofi Lontar Smaradhana, dan kedalaman Sastra Bali adalah sebuah perlawanan terhadap kedangkalan rasa. Kita belajar bahwa kesehatan mental bukan berarti menghilangkan kesedihan, melainkan meruwat kesedihan tersebut menjadi sesuatu yang bermartabat.
Lewat wawancara dan bedah karya ‘Tresna Ngatos Mati’ ini, Janardana mengingatkan kita bahwa di dalam setiap luka, selalu ada ruang untuk sastra, orisinalitas rekam jejak, dan penyembuhan. [T]
Penulis: Ida Ayu Made Dwi Antari
Editor: Adnyana Ole





























