12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marina Rospitasari by Marina Rospitasari
May 12, 2026
in Esai
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marina Rospitasari

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak yang lahir dan tumbuh di tengah teknologi digital akan menyerap kefasihan digital secara alami, seperti penutur asli yang tidak perlu belajar tata bahasa untuk berbicara dengan lancar. Selama dua dekade, gagasan itu diterima luas, menjadi fondasi kebijakan pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Dua puluh empat tahun kemudian, generasi yang Prensky maksud kini bisa membuat laporan riset lengkap dengan AI (Artificial Intelligence) dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi sebagian besar dari mereka tidak tahu bahwa referensi yang dikutip mesin itu kadang tidak benar-benar ada. Prensky tidak salah soal kecepatannya. Ia hanya tidak memperhitungkan kedalamannya atau ketidakadaannya.

Inilah kontradiksi yang kini kita hadapi: generasi dengan akses digital tertinggi dalam sejarah, hidup di tengah ledakan kecerdasan buatan generatif, namun belum tentu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan apa yang diberikan mesin kepada mereka.

Mitos yang Bertahan Terlalu Lama

Konsep digital native bertahan bukan karena bukti empirisnya kuat, melainkan karena terdengar masuk akal secara intuitif. Siapa pun yang melihat anak usia sepuluh tahun mengoperasikan ponsel lebih cepat dari orang tuanya akan tergoda menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang “bawaan” di sana. Namun Neil Selwyn, profesor pendidikan dari Monash University, dalam kajiannya tahun 2009 menyebut istilah ini sebagai salah satu mitos paling berpengaruh—sekaligus paling berbahaya—dalam kebijakan pendidikan kontemporer.

Eszter Hargittai dari Northwestern University memperkuat kritik itu dengan data. Dalam penelitiannya pada 2010, ia menemukan bahwa kemampuan digital anak muda sangat bervariasi—bukan berdasarkan tahun kelahiran, melainkan berdasarkan kelas sosial, kualitas sekolah, dan seberapa sering mereka didorong untuk menggunakan teknologi secara kritis. Lahir di era internet tidak menjamin seseorang paham cara kerjanya, sama seperti lahir di era antibiotik tidak menjamin seseorang bisa membedakan mana obat dan mana plasebo.

Data dari Indonesia mempertegas hal ini. Survei penetrasi internet APJII tahun 2024 mencatat 221,5 juta pengguna aktif, setara 79,5% dari total penduduk dengan Generasi Z sebagai kelompok kontributor terbesar, mencapai 34,4% dari seluruh pengguna. Namun, Indeks Literasi Digital Indonesia (ILDI) yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center menunjukkan skor nasional hanya 3,49 dari skala 5, masuk kategori sedang.

Yang lebih mengkhawatirkan: pilar keamanan digital, kemampuan mengenali risiko, manipulasi, dan jejak data di ruang daring; menjadi pilar dengan skor paling rendah di antara empat indikator yang diukur. Kita memiliki lebih banyak pengguna internet dari sebelumnya. Kita belum tentu memiliki lebih banyak pengguna yang waspada.

Ketika Algoritma Duduk di Kursi Editor

Dalam teori komunikasi, konsep gatekeeper—yang dikembangkan Kurt Lewin pada 1947 dan kemudian dipopulerkan David Manning White dalam konteks jurnalisme, menggambarkan figur atau institusi yang memutuskan informasi mana yang layak sampai kepada publik. Selama puluhan tahun, kursi itu diduduki editor, redaktur, dan produser. Mereka bisa ditanya. Mereka bisa dikritik. Mereka punya nama.

Kini, algoritma AI telah mengambil alih kursi itu—tanpa nama, tanpa akuntabilitas yang mudah diakses publik, dan tanpa standar etis yang seragam. Sistem ini bekerja dalam apa yang para peneliti sebut sebagai black box: outputnya bisa dilihat, tapi logika di balik pilihannya sulit ditelusuri. Bagi pengguna yang tidak terlatih untuk mempertanyakan sumber, mesin yang menjawab dengan percaya diri dan kalimat yang mengalir akan terasa lebih otoritatif dari ensiklopedia mana pun.

Dampak nyatanya bisa kita lihat dalam konteks Indonesia. Selama Pemilu 2024, konten bermuatan disinformasi yang sebagian menggunakan teknologi AI, dari manipulasi suara hingga deepfake visual, menyebar masif lewat WhatsApp, platform yang penetrasinya di Indonesia jauh melampaui media sosial berbasis teks. Di grup keluarga dan komunitas, informasi palsu yang dikemas rapi oleh mesin mendapat kepercayaan lebih tinggi justru karena tampilannya meyakinkan. Mereka yang menyebarkannya, sebagian besar, bukan berniat jahat. Mereka hanya tidak punya alat untuk membedakan.

Inilah yang membuat mitos digital native menjadi berbahaya secara sistemik: ketika kepercayaan diri teknis tidak disertai kemampuan berpikir kritis, seseorang tidak menjadi lebih kebal terhadap manipulasi—ia justru menjadi lebih rentan, karena merasa sudah tahu.

Melek AI Bukan Sekadar Bisa Prompting

Jika digital literacy mengacu pada kemampuan menggunakan teknologi digital secara fungsional, maka AI literacy—literasi kecerdasan buatan—menuntut lapisan yang lebih dalam. UNESCO dalam Kerangka Kompetensi AI-nya (2023) mendefinisikannya mencakup tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan: memahami bagaimana sistem AI bekerja secara konseptual, mengevaluasi dampak sosial dan etisnya secara kritis, serta menggunakannya secara bertanggung jawab dan reflektif. Ketiga dimensi ini adalah keterampilan yang harus diajarkan dan dilatih, bukan diasumsikan hadir secara otomatis.

Ada dimensi lain yang jarang masuk ke dalam diskusi kebijakan: risiko apa yang oleh para kognitivis disebut sebagai cognitive offloading yang berlebihan. Ketika seseorang secara konsisten menyerahkan tugas-tugas berpikir—merumuskan argumen, mengevaluasi informasi, menyusun narasi—kepada sistem eksternal, kapasitas untuk melakukan hal itu secara mandiri berisiko melemah. Otak, seperti kemampuan fisik lainnya, membutuhkan latihan. Teknologi yang terlalu memudahkan tanpa disertai refleksi yang cukup dapat, paradoksnya, membuat penggunanya kurang cakap—bukan lebih.

Ini bukan argumen untuk menolak AI. Sebaliknya: teknologi ini, jika digunakan dengan kesadaran kritis, berpotensi menjadi alat bantu kognitif yang luar biasa. Masalahnya terletak pada jarak antara potensi itu dan kondisi penggunaan yang paling umum terjadi saat ini di mana kecepatan mendapat jawaban lebih dihargai daripada kedalaman mempertanyakannya.

Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Didelegasikan ke Mesin

Institusi pendidikan berada di persimpangan yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi, mengabaikan AI dalam kurikulum berarti menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi dunia kerja yang sudah berubah. Di sisi lain, mengintegrasikan AI tanpa kerangka kritis berarti mempercepat ketergantungan yang kita sendiri belum pahami konsekuensinya.

Jalan tengahnya tidak sederhana, tapi arahnya bisa dirumuskan. Pertama, literasi AI perlu masuk ke dalam kurikulum yang sudah ada; bukan sebagai mata kuliah tambahan yang menunggu anggaran baru, melainkan sebagai perspektif yang menyusup ke dalam cara dosen merancang tugas, mendiskusikan sumber, dan mengevaluasi argumen mahasiswa.

Kedua, desain asesmen perlu bergeser dari mengukur hasil menuju mengukur proses: bukan hanya apa yang dihasilkan mahasiswa, tapi bagaimana mereka sampai pada kesimpulan itu. Ketiga; dan ini yang paling sering terlewat, dosen sendiri perlu menjadi pengguna AI yang kritis, bukan sekadar pengawas penggunaannya oleh mahasiswa.

Di tingkat kebijakan, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar program pelatihan digital yang berfokus pada kecakapan teknis. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 mencatat skor 43,34 dari 100; angka yang menunjukkan pertumbuhan, sekaligus mengingatkan betapa jauh jarak yang masih harus ditempuh. Pemerataan kualitas literasi—bukan hanya akses koneksi, harus menjadi prioritas, terutama di daerah yang infrastruktur digitalnya baru tumbuh dan karenanya lebih rentan terhadap informasi yang tidak diverifikasi.

Keberanian untuk Meragukan

Prensky menulis tentang generasi yang akan mengubah cara dunia belajar. Ia tidak salah sepenuhnya. Yang ia lewatkan adalah bahwa kefasihan tanpa kedalaman bukan hanya tidak cukup dalam konteks AI generatif yang mampu memproduksi kebohongan dengan tata bahasa yang sempurna, kefasihan tanpa kritisisme bisa menjadi kerentanan.

Di era ketika mesin dapat menghasilkan esai, analisis, bahkan karya seni dalam hitungan detik, kecerdasan manusia yang paling relevan bukan lagi kemampuan memproduksi. Ia adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, meragukan jawaban yang sudah tersedia, dan bertanya: dari mana ini berasal, dan mengapa saya harus mempercayainya?

Itu bukan keterampilan yang datang bersama koneksi internet. Itu keterampilan yang harus diajarkan dengan sabar, berulang, dan dimulai dari ruang kelas. [T]

Referensi

Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On The Horizon, 9(5), 1–6. MCB University Press.

Selwyn, N. (2009). The digital native: myth and reality. Aslib Proceedings, 61(4), 364–379.

Hargittai, E. (2010). Digital Na(t)ives? Variation in Internet Skills and Uses among Members of the ‘Net Generation’. Sociological Inquiry, 80(1), 92–113.

Lewin, K. (1947). Frontiers in Group Dynamics II: Channels of Group Life. Human Relations, 1(2), 143–153.

UNESCO. (2023). AI Competency Framework for Students. UNESCO Publishing, Paris.

APJII. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Kominfo & Katadata Insight Center. (2022). Status Literasi Digital Indonesia 2022. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2024). Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024. Puslitbang Aptika IKP.

Tags: AIGenerasi Zkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Next Post

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Marina Rospitasari

Marina Rospitasari

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Menulis 'Sunyi' Jauh Sebelum Ada AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co