Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana
Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek.
Saya mengetahui kegiatan ini dari informasi yang dibagikan melalui jaringan SCAU. Ketika ada yang bertanya saya mengetahui acara itu dari mana, saya biasa menjawab pelan:
“Diinfo dari dr. Novelya/Lian.”
Jawaban sederhana itu ternyata membawa saya menuju sebuah ruang yang tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan.
Sabtu pagi, 9 Mei 2026, Hotel Pitagiri Jakarta Barat tampak lebih hidup dari biasanya. Orang-orang datang dengan langkah yang berbeda-beda: ada yang ingin donor darah, ada yang ingin memeriksa kesehatannya, ada pula yang ingin mengikuti seminar kesehatan mengenai pengapuran sendi lutut. Tetapi di balik tujuan yang beragam itu, saya merasa ada satu hal yang menyatukan semuanya: keinginan untuk tetap peduli terhadap kehidupan.
Saya datang bukan sebagai anggota SCAU, bukan pula alumni Universitas Tarumanagara. Saya hadir sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana manusia masih menyempatkan diri menjaga manusia lain di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin justru karena saya datang sebagai “orang luar”, saya bisa melihat kegiatan ini dengan mata yang lebih hening.
SCAU: Ketika Komunitas Tidak Sekadar Menjadi Tempat Berkumpul
Awalnya saya mengira SCAU hanyalah komunitas alumni biasa. Namun setelah melihat bagaimana mereka bergerak, saya memahami bahwa SCAU lebih menyerupai rumah sosial yang dibangun dari semangat berbagi lintas profesi, lintas usia, bahkan lintas universitas.
Di dalam komunitas itu ada grup donor darah, telemedicine, otomotif, hukum, bisnis, investasi, hingga komunitas pecinta hewan dan tanaman. Sekilas tampak beragam dan tidak saling berkaitan. Tetapi semakin saya memperhatikan, semakin saya memahami bahwa semuanya dipersatukan oleh satu hal sederhana: menjaga hubungan antarmanusia agar tidak kehilangan makna.
SCAU didirikan dan digerakkan oleh Pdm Ripin Suma SE., MA. Dari tangannya, komunitas ini berkembang bukan hanya sebagai wadah nostalgia alumni Universitas Tarumanagara, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.
Saya melihat bagaimana komunitas ini tidak dibangun dengan suasana eksklusif. Tidak ada kesan membatasi diri hanya untuk kelompok tertentu. Justru sebaliknya, mereka membuka ruang bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh dalam semangat jejaring sosial dan kepedulian kemanusiaan.

Salah satu gerakan yang paling terasa denyut kemanusiaannya adalah SCAU Mitra Donor Darah. Dari dokumentasi grup, kegiatan donor darah ini telah berlangsung berkali-kali sejak tahun 2022 dan terus berjalan hingga sekarang. Ada kesinambungan yang dijaga. Ada kesadaran bahwa membantu manusia lain bukan pekerjaan musiman.
Di grup komunitas itu saya membaca kalimat sederhana:
“Komunitas yang peduli terhadap sesama yang membutuhkan donor darah.”
Kalimat itu tampak biasa. Tetapi di zaman ketika banyak orang sibuk memperbesar dirinya sendiri, kepedulian seperti itu terasa semakin langka.
Donor Darah: Ketika Tubuh Menjadi Jalan Keselamatan bagi Orang Lain
Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam setiap melihat kegiatan donor darah.
Barangkali karena darah bukan benda yang bisa dibuat-buat demi pencitraan. Ia benar-benar keluar dari tubuh seseorang untuk diberikan kepada orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.

Di ruang donor itu saya melihat orang-orang duduk dengan lengan terbuka. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada tepuk tangan panjang. Hanya kursi-kursi sederhana, kantong darah, petugas PMI, dan manusia-manusia yang datang dengan niat diam-diam untuk membantu kehidupan orang lain.
Tetapi justru di situlah kemanusiaan terasa sangat nyata.
Saya membayangkan darah-darah itu nantinya mengalir ke tubuh seseorang yang sedang berjuang di rumah sakit. Mungkin seorang ibu yang kehilangan darah saat melahirkan. Mungkin seorang anak penderita leukemia. Mungkin seseorang yang mengalami kecelakaan di jalan dan sedang mempertahankan hidupnya di ruang operasi.
Kita sering berpikir bahwa menyelamatkan dunia harus dilakukan dengan tindakan besar. Padahal kadang dunia dipertahankan hanya oleh beberapa ratus mililiter darah yang diberikan dengan sukarela.
Hari itu saya ikut mendonorkan darah. Dan anehnya, setiap kali selesai donor darah, saya selalu merasa bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan sedang diingatkan bahwa tubuh ini ternyata masih bisa berguna bagi kehidupan orang lain.


Saya melihat wajah-wajah para pendonor. Ada yang datang sambil bercanda ringan. Ada yang tampak gugup ketika jarum mulai dipasang. Ada yang sudah terbiasa donor berkali-kali. Tetapi semuanya dipersatukan oleh kesediaan untuk memberi.
Di zaman ketika banyak orang takut kehilangan, para pendonor itu justru rela mengurangi sebagian dari dirinya demi memperpanjang kehidupan orang lain.
Mini MCU: Mendengarkan Tubuh Sebelum Ia Berteriak
Selain donor darah, saya juga mengikuti mini medical check up (MCU) yang diadakan di lokasi acara. Pemeriksaan sederhana seperti gula darah, asam urat, dan kolesterol mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tetapi sebenarnya tubuh sering memberi tanda-tanda kecil jauh sebelum sakit datang dengan keras.
Di meja pemeriksaan saya melihat alat-alat kecil dengan angka-angka yang muncul di layar digital. Angka-angka itu tampak sederhana, tetapi diam-diam menyimpan cerita tentang gaya hidup manusia modern: kurang tidur, terlalu banyak gula, terlalu banyak tekanan pikiran, terlalu sedikit istirahat, dan terlalu jarang mendengarkan tubuh sendiri.
Saya melihat kartu pemeriksaan dengan tulisan tangan petugas medis. Ada perhatian kecil di sana. Ada kesabaran. Ada usaha untuk menjaga manusia tetap sehat sebelum semuanya terlambat.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih rajin memeriksa media sosial dibanding memeriksa kesehatannya sendiri. Kita lebih cepat mengetahui kabar orang lain daripada mendengar tubuh kita sendiri yang diam-diam mulai kelelahan.
Padahal tubuh juga punya batas. Ia bisa aus. Ia bisa lelah. Ia bisa meminta pertolongan lewat nyeri, pegal, tekanan darah, atau angka-angka kecil yang perlahan mulai berubah.
Mini MCU itu membuat saya berpikir bahwa menjaga kesehatan bukan bentuk kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.
Sebab sering kali manusia baru menyadari pentingnya tubuh ketika tubuh mulai tidak mampu bekerja seperti biasa.
Seminar Kesehatan: Tubuh yang Diam-Diam Membawa Seluruh Kehidupan
Saya juga mengikuti seminar kesehatan bertema:
“Mitos dan Fakta Pengapuran Sendi Lutut: Bagaimana Mencegah dan Menanganinya”
Seminar ini dibawakan oleh dr. William Chandra, Sp.OT(K), spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut dari Mandaya Royal Hospital Puri.
Awalnya saya mengira seminar kesehatan hanyalah paparan medis yang penuh istilah rumit. Tetapi ternyata saya justru menemukan banyak refleksi tentang kehidupan manusia di dalamnya.

Ketika dokter menjelaskan tentang pengapuran sendi lutut, saya tiba-tiba menyadari bahwa lutut bukan sekadar sendi. Ia adalah bagian tubuh yang diam-diam membawa seluruh perjalanan hidup kita.
Lutut membawa seseorang bekerja setiap hari.
Membawa ibu berdiri lama di dapur.
Membawa ayah mencari nafkah.
Membawa manusia mengejar mimpi, naik tangga kehidupan, bahkan berjalan menuju tempat ibadah.
Dan ketika lutut mulai sakit, manusia baru sadar betapa selama ini tubuh bekerja tanpa banyak keluhan.
Saya mendengarkan penjelasan tentang fisioterapi, olahraga low-impact, artroskopi, hingga teknologi robotic surgery. Dunia kedokteran berkembang begitu cepat. Tetapi di balik seluruh teknologi itu, saya merasa inti terdalamnya tetap sama: manusia ingin mengurangi rasa sakit manusia lain.
Ada sesuatu yang menenangkan ketika ilmu pengetahuan digunakan bukan untuk menunjukkan kecanggihan semata, tetapi untuk membantu seseorang kembali berjalan tanpa nyeri, kembali bekerja, kembali hidup lebih layak.
SCAU dan Ruang Kemanusiaan yang Sunyi
Yang paling saya rasakan dari kegiatan ini bukan sekadar acara kesehatan. Melainkan suasana kepedulian yang berjalan tanpa banyak keributan.
SCAU menghadirkan ruang di mana kesehatan tidak dibicarakan dengan menakut-nakuti, melainkan dengan mengajak orang lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.
Saya melihat panitia yang sibuk membantu peserta sejak pagi. Saya melihat tenaga medis yang tetap ramah meski bekerja berjam-jam. Saya melihat orang-orang yang datang bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk ikut berpartisipasi.
Dan mungkin hari ini kita memang membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.
Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, kompetisi, dan pencitraan, kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan seminar medis seperti ini terasa seperti pengingat sederhana bahwa manusia masih bisa saling menjaga.
Kadang kemanusiaan tidak hadir dalam pidato besar. Kadang ia hadir dalam antrean donor darah, dalam tangan petugas medis yang sabar, dalam seseorang yang rela datang pagi-pagi hanya untuk memeriksa kesehatannya, atau dalam komunitas yang terus bergerak diam-diam menjaga kepedulian agar tidak mati.
Epilog: Tubuh, Kepedulian, dan Cara Kita Bertahan Sebagai Manusia
Saya pulang dari kegiatan itu dengan pikiran yang panjang.
Barangkali kesehatan memang bukan hanya urusan medis. Ia juga urusan kemanusiaan. Sebab tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap bekerja, tetap memeluk keluarganya, tetap berjalan, tetap berharap, dan tetap hidup dengan layak.
Dan saya merasa, di ruang sederhana Hotel Pitagiri itu, saya menyaksikan satu hal penting:
bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam pidato besar.
Kadang ia hadir lewat donor darah.
Lewat cek kesehatan kecil.
Lewat seminar yang mengingatkan orang agar menjaga tubuhnya sebelum terlambat.
Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah salah satu cara manusia berkata kepada manusia lain:
“Aku ingin kau tetap ada di dunia ini.”
Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari kegiatan ini.
Bukan hanya karena saya mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan, mengikuti mini MCU, dan donor darah, tetapi karena saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa kepedulian masih hidup di tengah manusia-manusia yang mau bergerak bersama.

Terima kasih kepada SCAU, kepada Pdm Ripin Suma SE., MA selaku Founder SCAU, kepada dr. Novelya/Lian yang telah membagikan informasi kegiatan ini, kepada para tenaga medis, panitia, PMI, dan semua pihak yang bekerja dengan tulus sejak pagi hingga acara selesai.
Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk saling menjaga. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan sering kehilangan waktu untuk peduli, kegiatan seperti ini terasa sangat berarti.
Acara ini bukan sekadar donor darah atau seminar kesehatan. Ia menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dijaga, kesehatan perlu diperhatikan, dan manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup.
Saya merasa beruntung bisa hadir dan belajar banyak dari kegiatan ini. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini terus hidup, terus bertumbuh, dan terus menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.
Karena kadang hal paling sederhana setetes darah, sebuah pemeriksaan kesehatan, atau pengetahuan yang dibagikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang tetap memiliki harapan untuk hidup. [T]
Cengkareng, 10 Mei 2026





























