7 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tengah Malam Rokok Habis                           

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 7, 2026
in Esai
Tengah Malam Rokok Habis                           

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini hari. Perut mungkin tidak lapar, tapi ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan. Sebuah kebutuhan yang remeh sekaligus mendesak.

Dulu, pada jam-jam seperti itu, pilihan hampir tidak ada. Warung tutup. Toko sudah lama mengunci pintu. Jalanan seperti ikut bersekongkol untuk mengatakan bahwa malam memang bukan waktunya membeli apa pun.

Tapi itu dulu. Kini, di banyak sudut Denpasar dan kota-kota lain di Bali, ada cahaya yang tetap menyala saat sebagian besar lampu dipadamkan. Etalase kaca kecil, penuh barang yang ditumpuk rapat, menjadi semacam penanda bahwa malam tidak benar-benar selesai. Di situlah orang-orang datang dengan kebutuhan sederhana. Membeli rokok, air mineral, mie instan, atau sekadar mengobrol sebentar untuk mengusir sepi. Warung Madura, begitu orang-orang menyebutnya, telah menjadi oase kecil yang mengisi celah waktu yang lama dibiarkan kosong.

Fenomena ini menarik perhatian banyak orang. Salah satunya Kadek Bagus Kartika, seorang anak muda Bali yang menuliskan pengamatannya di akun Instagram @klinik.journal. Tulisannya bukan sekadar catatan ringan. Ia membaca gejala ini dengan kacamata ekonomi politik. Dari sesuatu yang tampak sederhana, ia melihat kerja sistem yang rapi, bahkan bisa disebut sebagai sebuah strategi kolektif yang terorganisir dengan baik.

Ia memulai dari pertanyaan yang terasa dekat sekaligus mengusik. Mengapa mereka yang datang dari jauh bisa membangun jaringan usaha yang begitu kuat, sementara warung-warung lokal di Bali justru sering tertinggal di tanah sendiri? Pertanyaan ini bukan soal siapa lebih unggul. Ini soal keberanian melihat diri sendiri dengan jujur.

Dalam pengamatannya, warung-warung yang dikelola oleh perantau Madura bekerja dengan logika yang sederhana tapi konsisten. Mereka memilih komoditas yang pasti dibutuhkan setiap hari. Rokok, bensin eceran, gas LPG, air galon, dan kebutuhan pokok lain yang perputarannya cepat. Tidak ada romantisme berlebihan dalam memilih barang. Semua dihitung berdasarkan kebutuhan pasar. Dari situ, arus kas harian bisa terjaga.

Namun yang lebih penting dari sekadar pilihan barang adalah disiplin waktu. Mereka berani melawan jam. Saat sebagian besar usaha memilih beristirahat, mereka justru membuka peluang. Malam tidak dilihat sebagai jeda, tetapi sebagai ruang yang belum dimanfaatkan. Di situlah letak keunggulan yang sering luput dilihat. Bukan hanya soal kerja keras, tapi soal membaca celah.

Kadek Bagus Kartika juga menyoroti sesuatu yang lebih dalam, yaitu solidaritas. Warung-warung itu tidak berdiri sendiri. Ada jaringan yang bekerja di belakangnya. Informasi harga, suplai barang, hingga strategi bertahan dibagikan di antara mereka. Dalam bahasa akademik, ia menyebutnya sebagai ekonomi sirkular berbasis modal sosial. Sebuah sistem yang tidak hanya mengandalkan modal uang, tetapi juga kepercayaan dan keterikatan antar anggota.

Di titik ini, kita mulai melihat kontras yang menarik. Bali sebenarnya memiliki struktur sosial yang sangat kuat melalui banjar. Ikatan komunal yang tidak dimiliki oleh banyak daerah lain. Orang Bali terbiasa bekerja bersama dalam urusan adat, upacara, dan kehidupan sosial. Ada rasa memiliki yang terjaga, dan kewajiban moral yang tidak tertulis tapi dipatuhi.

Namun ketika masuk ke wilayah ekonomi, kekuatan itu seperti kehilangan arah. Warung-warung lokal berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi yang berarti, atau upaya kolektif untuk memperkuat posisi bersama. Banjar yang begitu solid dalam urusan adat, tiba-tiba menjadi longgar ketika berhadapan dengan pasar. Di sinilah letak ironi yang diam-diam terasa.

Menjadi orang Bali bukan hanya soal identitas, tapi juga soal tanggung jawab sosial. Ada ngayah yang harus dijalankan, upacara yang harus dihadiri, dan keluarga besar yang selalu membutuhkan kehadiran. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa ditawar. Dalam banyak kasus, warung harus tutup karena pemiliknya harus memenuhi kewajiban adat. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan di situlah letak kekayaan budaya Bali.

Tetapi di sisi lain, realitas ekonomi tetap berjalan. Pelanggan yang datang tidak selalu memahami alasan di balik pintu yang tertutup. Mereka hanya mencari kebutuhan yang harus dipenuhi saat itu juga. Dan ketika satu warung tutup, akan selalu ada warung lain yang siap membuka pintu.

Warung Madura, dalam konteks ini, hadir bukan sebagai pesaing yang agresif semata, tetapi sebagai pihak yang konsisten mengisi ruang kosong. Mereka tidak terbebani oleh kewajiban adat lokal. Waktu mereka sepenuhnya didedikasikan untuk usaha. Ini bukan soal lebih baik atau lebih buruk, melainkan soal perbedaan kondisi yang menghasilkan strategi berbeda.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih kompleks. Apakah model seperti itu bisa diterapkan oleh orang Bali? Secara teknis, jawabannya tentu bisa. Tidak ada yang menghalangi seseorang untuk membuka warung hingga 24 jam. Tidak ada larangan untuk menjual komoditas yang sama. Bahkan dari sisi jaringan sosial, Bali memiliki modal yang jauh lebih kuat.

Namun pertanyaan yang lebih jujur bukan bisa atau tidak bisa. Pertanyaannya adalah mau atau tidak.  Kemauan sering kali tidak datang dari kekurangan kemampuan, tetapi dari cara pandang. Banyak orang Bali masih melihat usaha kecil sebagai sesuatu yang dijalankan seadanya. Tidak ada perencanaan jangka panjang, atau upaya untuk membangun sistem. Semuanya berjalan mengikuti kebiasaan. Sementara di sisi lain, para perantau datang dengan kesadaran bahwa bertahan hidup membutuhkan strategi.

Tulisan Kadek Bagus Kartika seperti mengingatkan bahwa di balik etalase kecil itu, ada kerja yang tidak sederhana. Ada keberanian mengambil risiko, disiplin yang dijaga setiap hari, dan jaringan yang terus dipelihara. Semua itu tidak terjadi secara kebetulan.

Jika kita tarik lebih jauh, fenomena ini sebenarnya membuka cermin yang cukup besar bagi masyarakat Bali. Selama ini, banyak potensi yang belum digali secara maksimal. Bukan karena tidak ada, tetapi karena belum dianggap penting. Kita terlalu nyaman dengan apa yang sudah ada. Pariwisata menjadi sandaran utama. Tanah menjadi aset yang perlahan berubah fungsi. Sementara usaha kecil sering kali dibiarkan berjalan tanpa arah yang jelas.

Padahal, jika dilihat dengan jujur, kekuatan orang Bali tidak hanya terletak pada budaya dan pariwisata. Ada kecerdasan sosial yang tinggi. Juga, kemampuan beradaptasi yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Selain itu, kreativitas orang Bali  tidak pernah habis. Semua itu adalah modal yang seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam kekuatan ekonomi.

Bayangkan jika banjar tidak hanya menjadi ruang sosial, tetapi juga ruang ekonomi. Jika para pedagang kecil di satu wilayah mulai berkoordinasi. Melakukan pembelian barang secara bersama agar harga lebih murah. Berbagi informasi tentang pemasok. Menentukan strategi agar tidak saling mematikan. Hal-hal sederhana seperti ini sebenarnya tidak sulit dilakukan.

Masalahnya, kita belum terbiasa berpikir ke arah sana. Ada semacam sekat tak terlihat antara kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi. Padahal keduanya bisa saling menguatkan. Kedekatan emosional yang sudah ada bisa menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dalam bisnis. Dan kepercayaan adalah hal yang paling mahal dalam ekonomi.

Di tengah semua ini, warung kecil di sudut jalan menjadi simbol yang menarik. Ia bukan hanya tempat membeli barang, tapi juga adalah titik pertemuan antara kebutuhan sehari-hari dan sistem yang bekerja di belakangnya. Ia menunjukkan bahwa skala kecil tidak berarti lemah. Justru dari ruang sempit itulah lahir efisiensi yang luar biasa.

Kembali ke tengah malam dan rokok yang habis. Situasi kecil itu ternyata menyimpan cerita yang lebih besar. Tentang perubahan pola konsumsi, strategi bertahan hidup dan pertemuan antara budaya lokal dan logika pasar. Juga, pilihan-pilihan yang kita ambil atau tidak kita ambil.

Tulisan Kadek Bagus Kartika tidak sedang menyuruh orang Bali untuk menjadi seperti orang Madura. Ia hanya membuka kemungkinan bahwa ada hal-hal yang bisa dipelajari. Bahwa keberhasilan orang lain tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman. Bisa jadi itu adalah pelajaran yang datang dalam bentuk yang tidak kita duga.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada kesadaran. Apakah kita mau melihat potensi yang ada di sekitar kita, dan mau keluar dari kebiasaan yang membuat kita merasa aman. Terpenting, mencoba cara baru tanpa kehilangan jati diri. Karena yang sering terjadi, kita tidak kalah karena tidak mampu. Kita kalah karena terlalu lama ragu. Dan di luar sana, di bawah lampu yang tetap menyala saat malam, ada orang-orang yang tidak menunggu sampai yakin. Mereka hanya mulai, lalu belajar sambil berjalan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomirokokwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co