TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba membongkar kontroversi atau sisi gelapnya. Bohemian Rhapsody tentang Freddie Mercury, misalnya, lebih condong menjadi perayaan ketimbang pengadilan. Begitu pula Bob Marley: One Love yang menghadirkan sosok Bob Marley dalam bingkai yang hangat dan inspiratif, meski tak sepenuhnya menyentuh seluruh sisi kehidupannya.
Di jalur yang sama, Michael—film biografi tentang Michael Jackson—datang dengan pilihan yang serupa: merayakan perjalanan, bukan menguliti kontroversi. Sejak awal, ekspektasi terhadap film ini memang tinggi. Bukan hanya karena besarnya nama Michael Jackson sebagai The King of Pop, tetapi juga karena kompleksitas hidupnya yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan—bahkan setelah ia tiada.
Antusiasme itu pun terasa saat film ini tayang perdana akhir bulan lalu. Saya termasuk yang menantikan, sekaligus penasaran: sejauh mana film ini berani melangkah? Jawabannya ternyata cukup jelas—dan bagi sebagian orang, mungkin mengecewakan. Alih-alih menyusuri seluruh lapisan hidup Michael, film ini memilih satu jalur: karier musiknya. Dari masa awal bersama Jackson 5, hingga fase ketika ia mulai berdiri sendiri sebagai ikon global, film ini berhenti pada titik ketika identitas musikal Michael telah menemukan bentuknya.
Sebuah keputusan yang, di satu sisi, terasa aman; di sisi lain, justru menjadi sumber kritik. Sejumlah pengamat menilai Michael tidak jujur. Mereka menyebut film ini hanya menampilkan satu sisi, yakni sisi gemilang yang penuh prestasi. Sementara itu, berbagai kontroversi yang selama ini melekat pada nama Michael—mulai dari perubahan fisik hingga tuduhan pelecehan—tidak mendapat ruang yang berarti, bahkan nyaris diabaikan.
Kritik semacam ini bisa dipahami. Publik, terutama generasi yang tumbuh bersama arus informasi yang lebih terbuka, cenderung menginginkan gambaran yang utuh—bukan sekadar narasi yang dipoles. Namun di titik ini, penting untuk melihat Michael bukan sebagai dokumen investigatif, melainkan sebagai pilihan naratif.
Film biografi sesungguhnya tak pernah mengemban kewajiban untuk menceritakan segalanya. Ia adalah hasil dari keputusan penulis skenario bahkan lebih kuasa sang sutrafara, apa yang ingin ditampilkan, dan apa yang sengaja ditinggalkan. Dalam hal ini, Antoine Fuqua sebagai sutradara tampaknya memilih pendekatan yang lebih humanis dan selektif. Terlepas dari berbagai spekulasi—termasuk kabar bahwa film ini “terlalu aman”—Michael tetap berdiri sebagai karya yang sadar akan sudut pandangnya. Dan justru di situlah kekuatannya.

Michael tidak terjebak dalam kontroversi yang tak berujung, melainkan mengajak penonton kembali pada satu hal yang membuat Michael Jackson menjadi legenda, yakni musiknya. Lagu-lagu yang mengiringi perjalanan – I’ll Be There, Never Can Say Goodbye, Ben, Don’t Stop ‘Til You Get Enough, Billie Jean, Thriller, dan ditutup Bad — bukan sekadar nostalgia bagi para penggemar (mungkin juga pembencinya?), tetapi juga penanda fase—bagaimana seorang anak yang tumbuh dalam tekanan berubah menjadi ikon yang berupaya mendefinisikan zamannya.
Dalam hal ini. penampilan Jaafar Jackson sebagai Michael Jackson menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Ia tidak sekadar meniru, tetapi menghadirkan kembali gestur, energi, dan bahkan aura yang begitu lekat dengan sosok aslinya. Dalam beberapa momen, batas antara representasi dan realitas terasa menipis. Namun lebih dari itu, sisi paling menarik dari film ini justru terletak pada pendekatannya yang humanis.

Di balik gemerlap panggung dan sorotan dunia, Michael menyelipkan potret seorang anak yang kehilangan masa kecilnya. Seorang anak yang tumbuh dalam disiplin keras, jauh dari kebebasan bermain, bahkan dari kehangatan relasi yang sederhana. Dari sini, sejumlah potongan puzzle kehidupan Michael terasa menemukan konteksnya: kedekatannya dengan anak-anak, ketertarikannya pada dunia fantasi, hingga berbagai pilihan hidup yang kerap dianggap “aneh”. Sekali lagi, film ini tidak menjelaskan semuanya tentang Michael Jackson, dan mungkin memang tidak berniat untuk itu. Tapi ia memberi cukup ruang bagi penonton untuk merasakan, bukan sekadar menilai.
Nah, bagi mereka yang datang dengan harapan menemukan “kebenaran tersembunyi”, Michael barangkali terasa kurang memuaskan. Film ini tidak membongkar suara-suara minor tentang king of pop, tidak menghakimi, dan tidak pula mencoba menyeimbangkan seluruh sisi. Ia memilih berdiri di satu titik, sebagai satu cperayaan.
Ketika karya seni dipahami sebagai hasil interpretasi akan satu hal, jelas ini bukan kelemahan —melainkan sikap pembuatnya. Di tengah arus film biografi yang kerap terjebak antara glorifikasi dan sensasionalisme, Michael mengambil jalan yang lebih sederhana, menghadirkan kembali seorang seniman melalui karyanya. Terlalu naif mengatakan, ia memang tidak lengkap, tetapi cukup untuk mengingatkan mengapa nama Michael Jackson pernah—dan mungkin akan selalu—begitu besar.

Pada akhirnya, seperti kalimat penutup pada layar yang terasa menggantung namun jujur: kisah itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya diceritakan dari sudut yang berbeda. And history continued… [T]
Penulis: Made Adnyana
Editor: Adnyana Ole




























