3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2026
in Esai
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari tempat. Dunia penerbitan tampak sibuk. Rak buku terus bertambah. Linimasa media sosial tidak pernah sepi dari kabar terbitnya buku. Kita seperti sedang berada di tengah musim panen.

Semua tampak menggembirakan. Tapi seperti banyak hal lain yang terlihat ramai, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil.

Setiap buku yang terbit sekarang hampir selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Selebrasi; foto sampul yang rapi, video singkat yang estetik. Kutipan-kutipan yang dipilih dengan hati-hati. Caption yang terdengar dalam, puitis, kadang sok akrab dengan kegelisahan.

Semua terlihat baik-baik saja. Tapi pertanyaannya sederhana, siapa yang benar-benar membaca buku itu sampai selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak sopan. Tapi justru di situlah letak masalahnya. Kita mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita lebih nyaman berada di wilayah yang aman. Memberi selamat, memberi pujian, atau juga membagikan ulang.

Selebihnya, selesai. Buku tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dibaca dengan serius. Ia cukup hadir,  terlihat, dan mendapatkan respons. Di titik ini, buku kehilangan sesuatu yang paling mendasar. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar objek untuk dipamerkan.

Media sosial punya cara kerja yang sederhana. Ia menyukai yang cepat, menarik, dan mudah dicerna. Buku, yang seharusnya mengajak orang untuk berhenti sejenak dan masuk lebih dalam, dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme itu.

Akhirnya, yang ditampilkan bukan isi, melainkan kemasan. Yang dibicarakan bukan gagasan, melainkan tampilan. Dan kita menerimanya tanpa banyak bertanya.

Ada kecenderungan yang makin jelas. Buku dipuji sebelum dibaca, direkomendasikan sebelum dipahami. Bahkan kadang dirayakan sebelum benar-benar disentuh secara utuh.

Ini bukan lagi soal malas membaca. Ini soal kebiasaan baru yang perlahan kita anggap wajar. Kita ingin terlihat membaca, tanpa benar-benar membaca. Atau, ingin terrlibat dalam percakapan, tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Dan media sosial memberi ruang yang sangat luas untuk itu.

Tidak berhenti di situ, ada satu hal lain yang juga layak dipertanyakan. Kecenderungan menghadirkan nama besar di halaman awal buku. Kata pengantar dari penulis yang sudah dikenal. Nama yang bisa langsung memberi kesan bahwa buku ini penting. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk penghormatan.

Tapi dalam banyak kasus, ia lebih menyerupai strategi. Nama besar bekerja sebagai jaminan. Ia menggantikan proses pembacaan. Ia membuat orang percaya tanpa perlu memeriksa lebih jauh. Dan yang lebih problematis, kita jarang mempertanyakannya.

Seolah-olah, dengan adanya satu nama yang kita hormati, buku itu otomatis selesai dinilai. Padahal, buku tidak pernah selesai hanya karena ada satu orang yang memujinya.

Buku hidup dari pembacaan yang berulang, dari tafsir yang berbeda-beda, dari kritik yang kadang tidak nyaman. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi benda yang rapi, tapi kosong.

Penulis, dalam banyak hal, juga tidak sepenuhnya bebas dari situasi ini. Ada dorongan untuk terus hadir, terus terlihat atau  aktif. Buku tidak cukup hanya ditulis, ia harus dipromosikan, dirawat, dan dijaga eksistensinya di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang sering terjadi, energi habis di sana. Alih-alih membuka percakapan tentang isi buku, penulis justru sibuk merawat citra. Mengatur unggahan, menyusun kata-kata yang terdengar menarik. Tapi jarang benar-benar menjelaskan apa yang mereka tulis.

Buku hadir tanpa konteks. Pembaca dibiarkan menebak-nebak. Atau lebih buruk, tidak merasa perlu tahu. Padahal, sebuah buku selalu lahir dari sesuatu. Dari kegelisahan, pengalaman, atau pertanyaan yang tidak selesai. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi produk.

Dan kita memperlakukannya seperti produk. Dibeli, dipamerkan, lalu dilupakan. Kritik, dalam situasi seperti ini, menjadi sesuatu yang semakin jarang. Bukan karena tidak ada yang mampu, tapi karena tidak ada yang benar-benar ingin mengambil risiko.

Mengkritik buku teman bisa dianggap tidak etis. Memberi catatan bisa dianggap tidak mendukung. Lebih aman untuk diam, atau sekadar memuji. Kita menjadi terlalu ramah. Dan di saat yang sama, kehilangan kejujuran.

Padahal, tanpa kritik, tidak ada pertumbuhan. Tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh. Tidak ada alasan bagi sebuah buku untuk dibaca lebih dari sekali. Semua berhenti di permukaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua buku seperti itu. Tidak juga bahwa semua pembaca seperti itu. Masih ada yang membaca dengan serius, yang menulis dengan sungguh-sungguh. Juga, diskusi yang benar-benar hidup.

Tapi suara mereka sering tenggelam. Tertutup oleh riuhnya selebrasi. Oleh unggahan yang rapi, pujian yang berulang. Oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Di titik tertentu, mungkin kita perlu cukup jujur untuk menyebutnya apa adanya.

Bahwa sebagian dari apa yang kita lakukan hari ini tidak lebih dari “wawa-wewe” (baca: selebrasi). Ramai, tapi kosong. Atau, kalau mau lebih terus terang, masturbasi intelektual.

Kita merasa sedang berada dalam aktivitas yang serius, padahal yang kita lakukan hanyalah memuaskan diri sendiri. Tidak ada risiko, pertaruhan, dan  kedalaman. Hanya ilusi.

Tentu saja, istilah ini bisa dianggap berlebihan. Bahkan mungkin ofensif. Tapi kadang, kita memang membutuhkan kata yang cukup keras untuk mengguncang kebiasaan yang sudah terlalu nyaman.

Karena kalau tidak, kita akan terus mengulang hal yang sama. Buku terbit, dirayakan, dan dipamerkan. Lalu hilang begitu saja. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak selebrasi, tapi lebih banyak percakapan yang jujur.

Diskusi yang benar-benar membuka ruang. Pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Pembacaan yang tidak terburu-buru. Hal-hal seperti itu mungkin tidak menarik untuk diunggah. Tidak selalu menghasilkan respons. Tapi di situlah buku menemukan hidupnya. Bukan di foto, di caption, tapi di kepala pembacanya. Dan kalau itu tidak terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? [T]

Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Next Post

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co