23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 22, 2026
in Esai
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manifestasi ilahi yang menopang seluruh kehidupan. Dalam Atharva Veda tertulis: Mātā Bhūmiḥ Putro’ham Pṛthivyāḥ—bumi adalah ibu, manusia adalah anaknya.

Ungkapan “Ibu Pertiwi” yang hidup dalam budaya Nusantara bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi kesadaran spiritual yang mendalam. Kata Pertiwi sendiri berakar dari Prithvi, yang berarti bumi sebagai entitas yang menopang kehidupan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi utilitarian, tetapi relasi eksistensial—relasi anak dan ibu.

Namun pertanyaannya: jika bumi adalah ibu, mengapa manusia justru merusaknya?

Paradoks Modern: Anak yang Melukai Ibu

Peradaban modern ditandai oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kerusakan ekologis yang masif. Deforestasi, pencemaran, krisis iklim—semuanya menunjukkan adanya keterputusan antara manusia dan alam. Kita hidup di era di mana bumi diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai ibu.

Di sinilah relevansi pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Melalui konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran rendah menghasilkan tindakan destruktif, sementara kesadaran tinggi melahirkan harmoni.

Eksploitasi alam bukan semata masalah ekonomi atau politik, tetapi cerminan dari tingkat kesadaran manusia.

Peta Kesadaran Hawkins: Membaca Krisis Ekologis

Dalam peta kesadaran Hawkins, terdapat spektrum dari level terendah seperti shame (malu) dan guilt (rasa bersalah), hingga level tertinggi seperti love, joy, dan enlightenment.

Jika kita refleksikan, eksploitasi terhadap bumi sering lahir dari kesadaran di bawah level 200—wilayah force. Di sini manusia digerakkan oleh ketakutan, keserakahan, dan keinginan menguasai. Alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, pada level di atas 200—wilayah power—muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan. Pada level love (500), bumi tidak lagi dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai ibu yang harus dicintai. Pada level enlightenment, tidak ada lagi dualitas antara manusia dan alam—keduanya adalah satu kesatuan kesadaran.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis kesadaran.

Dari Force ke Power: Transformasi Kesadaran

Perubahan kebijakan lingkungan penting, tetapi tidak cukup. Transformasi sejati harus dimulai dari kesadaran individu. Dalam perspektif Hawkins, perubahan dunia tidak terjadi melalui paksaan (force), tetapi melalui peningkatan kesadaran (power).

Sanātana Dharma telah lama mengajarkan prinsip ini melalui konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan dharma (kebenaran kosmis). Merusak bumi berarti melanggar dharma. Sebaliknya, menjaga alam adalah bentuk keselarasan dengan hukum semesta.

Ketika seseorang mulai melihat bumi sebagai ibu, secara alami perilakunya berubah. Ia tidak lagi membuang sampah sembarangan, tidak mengeksploitasi berlebihan, dan mulai hidup selaras dengan alam. Ini bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran.

Spiritualitas Ekologis: Jalan ke Dalam

Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk yang diajarkan oleh tokoh seperti Guruji Anand Krishna, perjalanan sejati adalah perjalanan ke dalam diri. Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal keterhubungannya dengan alam.

Kesadaran ekologis bukan sekadar aktivisme luar, tetapi buah dari transformasi batin. Ketika batin penuh dengan kedamaian, ia tidak akan merusak. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan melindungi.

Di sinilah konsep “Ibu Pertiwi” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Refleksi untuk Indonesia: Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam memandang alam. Dari Tri Hita Karana di Bali hingga berbagai tradisi adat di Nusantara, semuanya menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun, modernisasi sering kali mengikis kesadaran ini. Kita mengadopsi sistem ekonomi global tanpa sepenuhnya menyaring nilai-nilainya. Akibatnya, kita terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.

Jika dikaitkan dengan peta Hawkins, ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kesadaran lama (berbasis harmoni) dan kesadaran baru (berbasis dominasi). Tantangan kita adalah menaikkan level kesadaran kolektif tanpa kehilangan akar budaya.

Hari Bumi: Ritual atau Kesadaran?

Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sering kali menjadi seremonial. Penanaman pohon, kampanye lingkungan, dan slogan-slogan hijau bermunculan. Namun tanpa perubahan kesadaran, semua itu berisiko menjadi simbol tanpa substansi.

Sanātana Dharma mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi kesadaran. Menanam satu pohon dengan cinta lebih bermakna daripada seribu pohon tanpa kesadaran.

Dalam kerangka Hawkins, kualitas kesadaran menentukan dampak tindakan. Tindakan kecil yang lahir dari cinta memiliki energi yang lebih besar daripada tindakan besar yang lahir dari ego.

Menuju Kesadaran Ilahi: Bumi sebagai Guru

Pada akhirnya, bumi bukan hanya ibu, tetapi juga guru. Ia mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Ia memberi tanpa pamrih, tetapi juga memiliki hukum yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Ketika manusia naik ke level kesadaran yang lebih tinggi, ia tidak lagi melihat bumi sebagai “yang lain”. Ia melihat dirinya dalam bumi, dan bumi dalam dirinya.

Inilah yang dalam Sanātana Dharma disebut sebagai kesadaran non-dualitas—kesadaran bahwa semua adalah satu.

Kembali Menjadi Anak

Mungkin solusi terbesar bagi krisis ekologis bukanlah teknologi canggih, tetapi kesederhanaan kesadaran: kembali menjadi anak yang mencintai ibunya.

“Ibu Pertiwi” bukan sekadar istilah. Ia adalah panggilan untuk mengingat kembali siapa kita. Dalam bahasa David R. Hawkins, ini adalah perjalanan dari force menuju power, dari ego menuju cinta, dari keterpisahan menuju kesatuan.

Dan dalam bahasa Sanātana Dharma, ini adalah perjalanan Back to Dharma—kembali kepada dharma, kembali kepada ibu, kembali kepada kesadaran ilahi. [T]

Tags: bumiibusanatana dharma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Next Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

by Stebby Julionatan
April 19, 2026
0
Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Apa yang bisa dilakukan sastra? Sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia setiap tahun pertanyaan tersebut selalu mengganggu benak saya....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co