— Catatan Sugi Lanus, 15 April 2026
Orang Bali kebanyakan masih sangat polos, berharap Bali terus langgeng bertengger di rangking teratas tujuan wisata idola dunia. Umumnya, orang Bali sangat polos, tidak sadar bahwa destinasi wisata, jika tidak dikelola serius dan dibatasi, akan menggali lubang kuburnya sendiri: Kalau tidak rusak “over-tourism”, ya rusak lingkungan serta amburadul tanpa kendali.
Orang Bali, umumnya, tidak sadar jika Bali sudah bukan lagi sepenuhnya dikuasai orang Bali. Tanah di titik-titik terstrategis seantero Bali telah berpindah ke tangan-tangan kapitalis dunia yang telah menjadikan Bali sebagai barang investasi. Orang Bali, umumnya, tidak menyadari bahwa pulaunya telah disulap dari destinasi wisata menjadikan aset investasi. Umumnya, orang tidak tahu beda keduanya. Dipikirnya sama saja.
Dulu, semasih Bali didudukkan sebagai destinasi wisata, orang lokal Bali duduk sebagai aktor. Sebagai pelaku aktif. Dihargai secara kultural. Sangat berbeda jauh dengan kini ketika Bali telah dikembangkan menjadi “investment playground”: Bali adalah aset atau barang investasi.
Ketika Bali dijual menjadi pulau investasi, maka pulau Bali adalah saham yang diperjualbelikan. Yang diperjualbelikan adalah tanah, air, pohon, pegunungan, pesisir dan pantai, sungai, danau; alam beserta budayanya. Kebudayaan dan manusia Bali termasuk sebagai bonus dari paket barang yang dijualperjualbelikan. Bali adalah aset meroket dan tidak akan pernah lagi bisa dibeli dan tidak terjangkau orang lokal yang umumnya berpendapatan UMR .
Orang Bali, umumnya, masih terlalu polos berpikir jika ada asing datang mereka adalah pelancong, yang datang berkunjung lalu pulang setelah berfoto di tempat elok dan menyimak gelar budaya Bali. Kenyataannya, sekarang, ribuan orang asing datang ke Bali untuk “berburu”. Mereka telah tinggal di Bali. Tidak pulang setelah berkunjung, tapi menjadi penguasa “tanah perburuan”. Berburu tanah dan lokasi untuk mendirikan kerajaan pribadinya masing-masing, untuk mengeruk keuntungan.
Situasi Bali sekarang sama dengan era kolonial awal ketika bangsa Eropa datang untuk menguasai pulau-pulau kaya cengkeh dan rempah lainnya; mereka bukan pelancong, mereka bukan traveller atau tourist biasa, mereka datang dengan niat menguasai. Mereka datang dengan mindset penjajah. Mereka berkumpul dan duduk-duduk di destinasi wisata dan kaki-kaki gunung dan pantai terpencil Bali bukan untuk mengagumi keindahan dan budaya Bali, tapi mempelajari lanskap alam dan kultur Bali agar memiliki pengetahuan untuk promosi penjualan. Mereka berkumpul-kumpul untuk mencari akal dan mengatur siasat bagaimana bisa menjual Bali dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil serta hidup nyaman berkuasa dengan banyak pelayan dan dayang-dayang yang tunduk dan tersenyum penuh hormat.
“Sir how are you?” sapa orang Bali dengan polosnya.
Masih terdengar murni dan polos. Sapaan itu seringkali diarahkan ke para pemburu dan kaki tangan kapitalis yang datang bukan mencari tegur sapa tapi ingin menguasai Bali. Sapaan manis itupun, dahulu, dalam berbagai bahasa lokal Nusantara, sering ditujukan pada para penjajah yang datang, yang akhirnya menguasai perdagangan cengkeh dan rempah serta pulau-pulau di Nusantara selama tiga setengah abad.
Begitulah masa depan Bali yang saya lihat ke depan: Bali perlu tiga setengah abad untuk bisa melepas nominee dan kontrak tanah yang disewa 90 tahun yang bisa diperpanjang berkali-kali. Senasib pulau-pulau nan indah di Nusantara, perlu waktu tiga setengah abad untuk melepas kontrak dagang dengan penjajah yang mengikat keras warga lokal menjadikan budak belian.
Tidak perlu disebut lagi pesisir pantai pulau Serangan yang hancur dan dikuasai paksa, direklamasi dengan angkuh, dipagar untuk tidak dimasuki penduduk desa, kini menjadi Pulau Kura-Kura — tidak akan pernah kembali menjadi “pantai publik” milik Bali. Bentang pesisir-pesisir terindah indah sabuk melingkar Pulau Dewata yang “terbeli” perusahaan asing, tidak perlu disebutkan kawasan Nusa Dua, Geger, Ungasan, Uluwatu, Pecatu, Jimbaran, Seminyak, Canggu, Nyanyi sampai Tanah Lot, Kedungu, dstnya. Ini dalam seribu tahun pun tak akan kembali ke pangkuan orang Bali.
Jika dulu para preman desa, kuncen desa, pamong adat, punggawa, dan raja-raja bawahan, ditundukkan dengan suap, dibawakan gundik dan opium, serta janji promosi kekuasaan oleh Belanda dan para saudagar Eropa — itulah yang menjadi pintu tol menguasai tanah dan kepulauan Nusantara — situasi ini terulang lagi di Bali.[T]





























