6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Ni Luh Putu Nathania Utami by Ni Luh Putu Nathania Utami
April 12, 2026
in Esai
Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Ilustrasi Fenomena Rojali Rohana, Source: https://id.pinterest.com/

PERNAHKAH Anda melihat sekelompok orang datang ke kafe, duduk lama, memesan sedikit, lalu pergi? Atau pengunjung yang bertanya banyak hal, tetapi akhirnya tidak membeli apa pun? Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya). Istilah ini dengan cepat menyebar di media sosial dan percakapan sehari-hari, seolah menggambarkan realitas baru perilaku konsumen. Banyak orang merasa fenomena ini nyata dan terjadi di mana-mana. Maksud dari “nyata” disini masih bersifat subjektif sebagai pandangan seseorang terkait fenomena Rojali dan Rohana ini. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah “apakah fenomena atau realitas yang sering dianggap umum itu benar-benar representatif atau hanya konstruksi persepsi kolektif?”

Dalam praktiknya, banyak orang memahami fenomena ini melalui cara berpikir yang tidak sepenuhnya ilmiah. Salah satunya adalah melalui penalaran induktif, yaitu menarik kesimpulan umum dari beberapa kasus yang diamati. Penggunaan penalaran induktif yang disalah tafsirkan, ketika seseorang melihat beberapa kelompok pelanggan yang tidak membeli, ia kemudian menyimpulkan bahwa perilaku tersebut merupakan tren yang dominan. Di sinilah letak permasalahannya, bukan pada pemilihan induksi sebagai metode, tetapi pada keterbatasan sampel dan tidak adanya generalisasi yang sah secara metodologis. Sehingga pengamatan yang terbatas digunakan untuk menggambarkan realitas yang luas.

Penalaran induktif seperti ini pada dasarnya sah dalam logika, tetapi menjadi bermasalah ketika tidak didukung oleh data yang cukup. Dalam konteks fenomena Rojali dan Rohana, pengamatan yang bersifat situasional, misalnya hanya terjadi pada waktu atau tempat tertentu dengan cepat dianggap sebagai pola umum. Proses ini kemudian berkembang menjadi Hasty Generalization, yaitu kesimpulan yang diambil terlalu cepat dari jumlah kasus yang terbatas. Dapat kita tarik hubungan, bahwa keterbatasan dalam mengobservasi suatu fenomena dapat memunculkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

Ketika Hasty Generalization terjadi, batas antara fakta dan persepsi menjadi kabur. Adanya bias kognitif seperti kecenderungan manusia mengingat kasus-kasus yang menonjol dianggap mewakili keseluruhan kondisi, padahal belum tentu demikian. Bias kognitif ini dapat menyebabkan permasalahan signifikan, yaitu distorsi persepsi. Distorsi persepsi adalah suatu ketidaksesuaian atau penyimpangan antara rangsangan nyata (realitas) dengan bagimana cara individu menginterpretasikannya. Akibatnya, istilah Rojali dan Rohana yang awalnya hanya menggambarkan sebagian perilaku, berubah menjadi seolah-olah mencerminkan realitas mayoritas. Di titik ini, yang terjadi bukan lagi analisis, melainkan penyederhanaan realitas yang kompleks.

Masalah menjadi semakin serius ketika proses berpikir berhenti pada tahap generalisasi awal. Kesimpulan yang seharusnya masih bersifat sementara justru diperlakukan sebagai kebenaran final, tanpa melalui pengujian data yang sistematis. Banyak orang merasa telah memahami fenomena tersebut, padahal yang terjadi hanyalah penguatan asumsi melalui pengulangan contoh yang serupa. Dalam logika penyelidikan ilmiah, kondisi ini belum dapat disebut sebagai pembuktian. Tanpa adanya pembuktian dan melibatkan pengujian yang sistematis dan objektif maka suatu klaim tidak dapat disebut sebagai pengetahuan berdasarkan hakikat pengetahuan, epistemologis.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih tepat melalui proses penyelidikan ilmiah. Saat ini, masyarakat dimanjakan oleh berbagai kemudahan yang ditawarkan seperti kemudahan dalam mengakses informasi maupun kebiasaan dalam berpikir instan dan cenderung intuitif. Fenomena seperti Rojali dan Rohana seharusnya tidak hanya diamati, tetapi juga diuji melalui langkah-langkah yang jelas, mulai dari merumuskan masalah, mengumpulkan data yang representatif, menganalisis secara kritis, hingga menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Pertanyaan yang diajukan pun harus lebih spesifik, seperti “seberapa sering fenomena ini terjadi?”, “dalam konteks apa muncul?”, dan “faktor apa yang mempengaruhinya?”. Melalui cara ini, kita tidak lagi berhenti pada asumsi atau opini, tetapi bergerak menuju pemahaman yang lebih valid. Karena permasalahannya bukan bersumber dari ketidaktahuan, tetapi ketidakbiasaan dalam melatih kinerja otak untuk berpikir secara objektif dan sistematis.

Pendekatan ini menjadi lebih kuat ketika dikaitkan dengan prinsip Falsifikasi dari Karl Popper, yaitu menguji suatu klaim dengan mencari kemungkinan bahwa klaim tersebut salah melalui pengujian yang empiris. Alih-alih hanya mencari bukti yang mendukung fenomena Rojali dan Rohana, kita juga perlu untuk mempertanyakan hal yang sebaliknya. Dibutuhkan keberanian untuk menguji kemungkinan bahwa asumsi kita salah. Artinya, kita tidak hanya mencari bukti yang mendukung, tetapi juga membuka ruang bagi data yang mungkin menunjukkan hal sebaliknya. Akibatnya, fenomena Rojali dan Rohana tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang “terlihat benar”, tetapi benar-benar diuji ulang kebenarannya secara ilmiah.

Setelah melalui proses penyelidikan ilmiah, barulah fenomena ini dapat dijelaskan secara lebih komprehensif. Proses peralihan dari asumtif menuju analisis empiris ini penting untuk memastikan bahwa penjelasan yang dibangun tidak hanya bersifat kontekstual, tetapi

juga didukung oleh indikasi faktual yang terukur, seperti perbandingan antara tren peningkatan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan dengan data transaksi atau tingkat konversi pembelian. Dalam konteks sosial-ekonomi, meningkatnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tidak selalu diikuti oleh peningkatan transaksi. Banyak orang datang ke mal bukan untuk berbelanja, melainkan untuk rekreasi atau bersosialisasi. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena Rojali dan Rohana tidak sekadar perilaku individu, tetapi berkaitan dengan kondisi daya beli dan dinamika kelas menengah di perkotaan.

Lebih jauh, jika ditanjau dari sisi psikologis, terdapat suatu tindakan individu untuk mengontrol, membentuk, dan memodifikasi kesan yang dimiliki orang lain terhadap mereka dalam suatu lingkungan tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Teori Goffman (1959) terkait Self Presentation (presentasi diri). Dalam fenomena Rojali dan Rohana terdapat dorongan untuk menunjukkan status melalui gaya hidup konsumtif. Aktivitas seperti nongkrong di kafe atau mengunjungi pusat perbelanjaan menjadi sarana untuk membangun identitas dan memperoleh pengakuan sosial. Tekanan dari lingkungan pertemanan maupun sosial juga memperkuat kecenderungan ini, karena individu terdorong untuk mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal.

Selain itu, peran media sosial dan sistem digital turut memperbesar fenomena ini. Algoritma cenderung menampilkan gaya hidup yang menarik secara visual, sehingga menciptakan standar sosial tertentu yang seolah harus diikuti. Melalui personalisasi dan pengulangan konten, sistem digital membuat gaya hidup konsumtif terus muncul dan tampak sebagai hal yang umum, sehingga memperkuat persepsi bahwa perilaku konsumtif merupakan standar sosial yang perlu diikuti. Praktik pemasaran digital melalui influencer juga membentuk persepsi bahwa konsumsi adalah bagian dari kesuksesan dan nilai diri. Dalam konteks ini, konsumsi tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi menjadi alat untuk membangun citra sosial.

Pada kesimpulannya, fenomena Rojali dan Rohana tidak dapat dipahami hanya dari pengamatan sepintas. Ia merupakan hasil dari interaksi multidimensional antara faktor logika, ekonomi, sosial, dan digital yang kompleks. Tanpa disadari, kita sering kali menganggap apa yang sering kita lihat sebagai kebenaran. Padahal, dalam logika penyelidikan ilmiah, kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering suatu fenomena muncul, melainkan oleh seberapa kuat ia dapat dibuktikan secara sistematis. Disinilah peran penyelidikan ilmiah diperlukan dalam mengurangi risiko menyederhanakan fenomena menjadi suatu label untuk mengkategorisasikan seseorang, padahal realitasnya jauh lebih luas dan kompleks. Besar harapan penulis untuk tidak berhenti pada asumsi, tetapi bergerak menuju pembuktian.

REFERENSI

Adhi, Y. T. (2022). Sesat pikir dalam tuturan warganet di Facebook. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 12(2), 264–275.

Humbertus, P., Jayanti, L. G. L. E., Cuo, F. O., Laumanto, F., & Pradnya D, P. C. M. (2022). Kecenderungan pembentukan inauthentic self-presentation pengguna Instagram. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(5).

Kamilah, I. F., Khanifah, N., & Faizin, M. (2023). Teknik berpikir tingkat tinggi melalui logika induktif dan deduktif perspektif Aristoteles. Journal Genta Mulia, 15(1), 131–145.

Mudjiyanto, B., Yanuar, F., Nursyamsi, L., Lusianawati, H., Rahma, A. A., & Launa. (2025). Mal sebagai arena pembentukan identitas sosial: Dinamika perilaku konsumtif ‘Rojali-Rohana’ di panggung sosial masyarakat urban. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(1), 2081–2096.

Riski, M. A. (2021). Teori falsifikasi Karl Raimund Popper: Urgensi pemikirannya dalam dunia akademik. Jurnal Filsafat Indonesia, 4(3).

Tags: ekonomiPendidikanPsikologisosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Next Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Ni Luh Putu Nathania Utami

Ni Luh Putu Nathania Utami

Lahir di Singaraja. Mahasiswa S1 Psikologi, Universitas Brawijaya

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co