SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma makanan yang bercampur dengan wangi dupa dari beberapa sudut lapak. Orang-orang datang dan pergi, ada yang sekadar berjalan santai, ada pula yang sibuk memilih jajanan atau kerajinan tangan. Namun di antara riuh rendah itu, ada satu hal yang diam-diam menarik perhatian.
Bukan dari suara pedagang. Bukan pula dari panggung pertunjukan yang biasa. Tapi, dari dentuman musik yang terdengar asing sekaligus terasa sangat akrab.
Awalnya saya kira itu hanya musik DJ seperti biasanya. Beat elektronik yang ritmis, bass yang cukup menghentak, dan tempo yang mengajak tubuh bergerak tanpa perlu berpikir panjang. Tapi beberapa detik kemudian, saya tersadar, ada sesuatu yang berbeda.
Di balik beat itu, terselip melodi yang tidak asing di telinga. Seperti potongan kenangan.
Seperti lagu masa kecil.
Dan benar saja, tak lama kemudian saya mengenalinya. Itu adalah lagu anak-anak dengan bahasa Bali. Lagu yang dulu sangat sering saya dinyanyikan di rumah, di sekolah, atau bahkan saat bermain bersama teman-teman.
Sekarang, lagu itu hadir dalam bentuk yang baru. Di balik semua itu, berdirilah seorang perempuan dengan senyum santai di balik meja DJ. Dialah Diah Krisna, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Diah. Lagunya ada Juru Pencar, Dadong Dauh, Ratu Anom, dan yang lainnya.
Kalau dipikir-pikir, mencampur lagu anak tradisional dengan musik DJ terdengar seperti ide yang cukup nekat. Dua dunia yang tampaknya bertolak belakang. Di satu sisi, ada lagu-lagu dolanan anak yang sederhana, lugu, dan penuh nilai budaya. Lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan tanpa alat musik modern, bahkan sering kali hanya diiringi tepukan tangan seadanya. Di sisi lain, ada musik DJ yang identik dengan klub malam, pesta, lampu sorot, dan teknologi digital.
Tapi justru di tangan Diah, dua dunia ini tidak saling bertabrakan. Mereka malah saling melengkapi. Saya sempat memperhatikan reaksi orang-orang di sekitar. Awalnya, beberapa pengunjung terlihat biasa saja. Mereka mendengar musik itu seperti mendengar musik latar pada umumnya. Tapi perlahan, ekspresi mereka berubah.
Ada yang tiba-tiba tersenyum kecil. Ada yang menoleh ke arah panggung. Ada yang berbisik ke temannya, seolah memastikan, “Eh, ini lagu yang itu gak sih?”

Dan yang paling menarik, beberapa orang mulai bersenandung pelan. Tanpa sadar. Tanpa direncanakan. Kepalanya turut bergoyang-goyang ringan, seolah ingatan masa kecil mereka sedang dipanggil kembali, tapi dengan cara yang berbeda.
Saya kemudian mendekat ke area panggung kecil tempat Diah tampil. Tidak ada kesan panggung besar atau pertunjukan yang megah. Justru sebaliknya, suasananya terasa akrab.
Diah berdiri dengan santai. Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada upaya untuk terlihat wah.
Ia hanya menikmati musiknya. Putar ke kiri, putar ke kanan. Sesekali tersenyum. Sesekali mengangguk mengikuti irama. Dan yang paling terasa, ia seperti benar-benar terhubung dengan apa yang ia mainkan.
Belakangan saya tahu, perjalanan Diah dengan konsep ini tidak langsung mulus. Bahkan ia sendiri sempat ragu. Keraguan itu sebenarnya sangat masuk akal. Bayangkan saja, mengambil lagu anak-anak tradisional, yang sering dianggap kuno atau jadul, lalu membawanya ke ranah musik modern seperti DJ. Risiko ditolak tentu ada.
Apalagi audiens musik DJ biasanya punya ekspektasi tertentu. Mereka datang untuk menikmati musik yang energik, kekinian, dan mungkin global.
Lalu tiba-tiba disuguhi lagu masa kecil? Bisa jadi aneh. Bisa jadi tidak nyambung. Atau bahkan dianggap tidak serius. Tapi di situlah menariknya. Diah justru melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat.
Menurutnya, lagu-lagu anak tradisional punya melodi yang kuat. Mudah diingat. Mudah dinyanyikan. Dan yang paling penting, punya ikatan emosional.
Diah tidak hanya mengambil lagu lalu menempelkannya ke dalam musik DJ. Ia merekam sendiri vokalnya. Ia mengolah suara itu. Ia menyesuaikan tempo, beat, dan suasana. Semua dilakukan dengan pendekatan yang cukup personal.
Saya membayangkan prosesnya seperti merangkai dua dunia yang berbeda menjadi satu kesatuan. Seperti menjahit tradisi dengan modernitas, satu per satu, hingga akhirnya menyatu.
Dan hasilnya? Ya seperti yang saya dengar sore itu. Aneh, tapi enak. Asing, tapi familiar.
Semakin lama musik itu diputar, semakin terasa dampaknya. Anak-anak kecil mulai bergerak mengikuti irama. Remaja terlihat menikmati beat-nya. Orang dewasa tersenyum karena mengenali lagunya. Bahkan beberapa orang tua tampak ikut mengangguk pelan.
Di sisi lain, generasi yang lebih tua bisa merasakan nostalgia, tapi dengan nuansa yang lebih segar. Dan semua itu terjadi secara alami. Tanpa ceramah. Tanpa paksaan. Tanpa harus dibuat formal.
Pasar Intaran sendiri memang punya karakter yang unik. Bukan sekadar pasar biasa, tapi lebih seperti ruang bertemu. Di sana, orang bisa makan, ngobrol, melihat karya, hingga menikmati pertunjukan.
Karena di ruang seperti ini, orang datang dengan pikiran yang lebih terbuka. Saya sempat duduk cukup lama di sana, hanya untuk mengamati.
Dan semakin lama, semakin terasa bahwa apa yang dilakukan Diah bukan sekadar soal musik. Ini soal cara baru melihat tradisi. Selama ini, sering kali kita berpikir bahwa melestarikan budaya harus dilakukan dengan cara yang serius.
Harus sesuai pakem. Harus seperti dulu. Harus tidak berubah. Padahal, zaman terus bergerak. Cara orang menikmati sesuatu juga berubah. Dan mungkin, justru di situlah tantangannya. Bagaimana membuat tradisi tetap hidup, tanpa harus memaksanya tetap sama.
Apa yang dilakukan Diah bisa jadi salah satu jawabannya. Tidak mengubah esensi lagu. Tidak menghilangkan identitasnya. Ia hanya mengemasnya ulang. Dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Menariknya lagi, pendekatan seperti ini juga membuka peluang baru. Bayangkan jika lebih banyak seniman yang melakukan hal serupa. Bukan hanya di musik, tapi juga di bidang lain. Tari, seni rupa, teater, bahkan kuliner.
Diah masih di atas panggung kecilnya. Dan orang-orang masih menikmati. Saya melihat satu momen kecil yang cukup mengena. Seorang anak kecil berdiri di dekat panggung, menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik. Ditemani neneknya yang ikut tersenyum sambil sesekali ikut bernyanyi pelan. Dua generasi. Satu lagu. Versi yang berbeda. Tapi rasa yang sama.[T]
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole





























