BICARA dan membicarakan “Seba Baduy”, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Alasan mendasar yang sulit untuk dibantah bahwa Seba adalah ritual adat suku Baduy yang berkategori wajib dilaksanakan setiap tahun dan teragendakan secara resmi di dalam Kalender Penanggalan Adat Baduy. Yaitu di setiap minggu pertama bulan Safar awal tahun baru Suku Baduy.
Seba dalam tatanan adat Baduy merupakan puncak acara tahunan setelah melewati kegiatan Kawalu selama tiga bulan (Kasa, Karo, Katiga) dan Ngalaksa selama 7 hari dari tanggal 21 sampai 27 di bulan Katiga kalendernya adat suku Baduy.
Berbagai ulasan serta penjelasan tentang apa, siapa Seba itu, dan bagaimana pelaksanaan Seba sudah banyak ditulis dan dirilis secara apik oleh berbagai kalangan, baik ahli budaya, jurnalis, peneliti, penulis dadakan, youtuber, kontener serta para tik-toker. Sehingga kejelasan serta keutuhan informasi tentang seputar dan sekitar Seba Baduy makin terasa terlengkapi dari berbagai sisi dan sudut pandang.
Namun bukan berarti sudah sempurna dan paripurna, karena tiap tahun terjadi dinamisasi situasi dan kondisi antara yang mau melaksanakan Seba ( masyarakat Baduy) dengan penerima Seba. Dan celah inilah yang membuat para pencari berita tetap memburu informasi kekinian Seba Baduy termasuk penulis.
Pergeseran Nilai Seba
Konon menurut kesejarahan ala pinutur, sejak lahir Suku Baduy ke muka bumi ini, maka sejak itulah Seba dilaksanakan sebagai salah satu tugas dan kewajiban pokok kesukuan mereka yaitu: “ngasuh ratu ngajayak menak” (membimbing para pemimpin negara) yang secara rutin dilaksanakan setahun sekali pada awal tahun penanggalan adat mereka. Kesakralannya sangat dan wajib dijamin oleh seluruh peserta sehingga syarat dan rukunnya pun dibuat sedemikian ketat.
Sampai saat ini kisah perjalanan kesakralan ritual Seba tidak dapat dibuktikan secara akurat dan cermat, Sepengetahuan penulis, belum ada literatur sahih yang mampu menjelaskan secara runut dan ilmiah. Kisah yang tertulis dan atau sudah ditulis masih selalu ada rasa keterpenggalan. Hal ini sangat dimaklumi karena di Suku Baduy tidak ada dokumentasi tertulis, mereka hanya lengket dengan budaya lisan sehingga pelacakan informasi menjadi tersendat. Seperti ucapan Jaro Sepuh Tanggungan 12 ( Ayah Saidi): “di Baduy aya lisan di negara aya tulisan, di Baduy aya kabar di negara aya gambar” (di Baduy ada lisan, di negara ada tulisan, di Baduy ada kabar, di negara ada gambar).
Walaupun berbagai penjelasan yang sudah sering dimuat di media cetak dan media sosial namun tetap belum cukup untuk menyimpulkan tentang pengertian Seba yang utuh serta akurat, di sana-sini masih terjadi redefinisi atau pergeseran pengertian bahkan terjadi penghalusan istilah dari tuduhan pengertian Seba yang diartikan sebagai ritual adat penyerahan upeti; kemudian diluruskan bahwa Seba itu sebagai salah satu tugas pokok keadatan suku Baduy untuk mendoakan, membimbing para pemimpin negara, dan sekarang mulai meminjam diksi yang lebih halus di mana Seba diartikan atau disetarakan dengan istilah “silaturahmi” (peminjaman kata dari bahasa Arab).
Dengan semakin terjalin kerjasama yang erat antara pihak pemerintah daerah terutama dinas pariwisata sebagai motoris yang menangani pelaksanaan Seba, maka makin terasa telah terjadi pergeseran ruh Seba Baduy dari sekadar rutinitas dan kesakralan ritual adat mulai bergeser menjadi sebuah event gebyar dengan berbagai sisipan dan susupan acara tambahan pengiring Seba, baik sebelum dan atau sesudah Seba. Kini Seba tidak lagi berdiri sendiri, Seba sudah dinobatkan sebagai aset budaya unggulan Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten untuk menggiring masuknya wisatawan lokal maupun manca negara untuk datang.
Seba tahun 2026 yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 24 -26 April 2026, Pemda Lebak secara khusus menargetkan 46 ribu wisatawan datang ke Bumi Multatuli dengan perkiraan peserta Seba sekitar 1500 orang. Pun demikian Pemda provinsi Banten telah mempersiapkan tingkat kegebyaran Seba untuk tahun ini.
Aneka RagamTema Gebyarisasi Seba Baduy
Di atas telah dipaparkan sekilas bahwa Seba telah dan sedang mengalami pergeseran dari sekadar rutunitas dan sudah tidak bisa berdiri sendiri. Untuk membuktikan itu tentunya harus berdasarkan fakta dan data agar diksi “pergeseran Seba” bisa diterima secara logis dan realistis. Salah satu yang bisa menjadi argumentasi kuat dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah adalah bisa dilihat dari munculnya tema-tema Event Gebyar Seba Baduy dari tahun ke tahun. Karena tema Seba selalu disesuaikan dengan kondisi kebatinan masyarakat Baduy dengan situasi pemerintahan saat itu. Kalimat singkatnya, disesuaikan dengan kekinian situasi politik.
Tema Seba tahun 2025 adalah : ” Ngajaga Tradisi, Ngaraksa Harmoni Pikeun Indonesia Maju”; dan mari kita simak tema Seba Baduy 2026 adalah “ Warisan Karuhun, Inspirasi Kiwari, Ngahiji Dina Tradisi ”. Tema ini menekankan kesinambungan tradisi leluhur (karuhun) sebagai inspirasi masa kini (kiwari) dan bersatunya berbagai elemen dalam tradisi. Acara ini kembali masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 sebagai acara budaya unggulan.
Tema itu berfokus pada bagaimana menghadirkan nilai, tradisi, dan harmoni, serta menjalin silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah (“Bapak Gede”). Menurut estimasi gebyarisasi Seba Baduy 2026 diperkirakan akan tetap menjadi momen budaya terbesar di Lebak, Banten, yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara dan tentunya akan tetap menjadi primadona aset budaya Banten. [T]
- Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Suku Baduy, 6 April 2026
Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole





























